Blog

  • Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart (Bagian 2)

    Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart (Bagian 2)

    Bagian I klik disini.

    Keluar dari ruang kaktus, sekarang menuju yang berwarna-warni, yakni ruangan yang penuh bunga warna-warni. Kami masuk ke ruangan tanaman tropis. Ada Bromelia, anggrek berbagai macam warna dan beragam jenisnya, bahkan ada anggrek asal Malaysia yang namanya Medinilla Magnifica, yang hasil nguping saya dari dua pengunjung katanya harganya mahal. Kantung semar, lalu tanaman apa lagi ya, silakan lihat langsung foto-foto yang saya buat deh πŸ˜‰ .

    Perhatian buat sahabat pecinta Anggrek, apakah kalian mempunyai anggrek cantik dibawah ini :?::

    Medinilla Magnifica. Asal Filipina dikenal juga dengan nama anggrek Malaysia, Bunga Mutiara dan Asian Grape plant. @Wilhelma Stuttgart
    Medinilla Magnifica. Asal Filipina dikenal juga dengan nama anggrek Malaysia, Bunga Mutiara dan Asian Grape plant. @Wilhelma Stuttgart

    Namanya Medinilla Magnifica, kira-kira dimana saya bisa mendapatkannya, dan berapa harganya?, kalau ada yang punya, bolehkah saya minta anaknnya :mrgreen: .

    Foto-foto berikut ini saya dedikasikan untuk Chitra di Medan yang menceritakan kalau tanaman hydrageanya hingga saat ini belum berbunga.

    Foto-foto berikut saya dedikasikan untuk pak Roy di Salatiga.
    Musim semi di rumah Azalea

    Foto-foto berikut saya dedikasikan untuk Wany di Medan

    Ruang Bunga Kamelia

    Foto Campuran

    “All gardeners live in beautiful places because they make them so” -Joseph Joubert-

    Video Bunga-bunga di Wilhelma Stuttgart

    Sahabat pecinta tanaman, berhubung banyak foto-foto yang ingin saya perlihatkan, ceritanya bersambung lagi aja yaa πŸ˜†

    Oh iya dari semua foto-foto diatas adakah tanaman yang kalian punyai juga? Kalau iya yang mana?. Bunga favorit saya adalah Medinilla Magnifica & bunga Azalea, semoga bibit Azalea yang ku semai akan seindah yang di Wilhelma. Favorit kalian yang mana?.

     

    Lanjut Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart Bagian 3

  • Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart

    Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart

    Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart. Akhir pekan lalu suami tercinta dan saya mengunjungi kebun raya sekaligus kebun binatang Wilhelma di Stuttgart. Kebun Binatang Wilhelma di Stuttgart adalah satu-satunya kebun binatang di Jerman dan kebun raya yang lokasinya berada disatu tempat.

    Wilhelma adalah lokasi rekreasi paling populer di Stuttgart. Setiap tahun lebih dari 2 juta pengunjung mendatangi lokasi ini. Taman ini buka setiap hari sepanjang tahun dari jam 8.15. Jam tutupnya tergantung musim, misal pada musim dingin, dimana gelap datang lebih cepat, maka akan tutup lebih awal. Untuk bulan April ini pintu utama dibuka dari jam 8:15 hingga jam 17:30. Pintu masuk dari Taman Mawar buka mulai jam 9:00 hingga jam 16:30.

    Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart. Gambar di Sebelah Loket Tiket. Sayang lupa potret gambar lainnya
    Gambar di Sebelah Loket Tiket. Sayang lupa potret gambar lainnya

     

    Tiket masuk 14 Euro/orang (sekitar Rp.175.000)
    Tiket anak 7 Euro (mulai usia 6 hingga 17 tahun, pelajar & mahasiswa hingga usia 28 tahun)
    Tiket keluarga 21 Euro (untuk 1 orang tua dan anak-anak) dan ada 35 Euro untuk orangtua dan anak-anak.
    Biaya parkir 1 Euro/jam.

    Berhubung suami malas nyetir dengan alasan di Stuttgart macet, jadi kami naik kereta menuju lokasi. Kami gunakan tiket Baden WΓΌrttemberg seharga 26 Euro. Tiket berlaku untuk 4 orang untuk penggunaan dari jam 9 pagi hingga 3 dini hari hari berikutnya, tiket kami hanya gunakan berdua saja. Tiket bisa dibeli dan digunakan hanya di hari Sabtu atau Minggu.

    Sudah pada tahu belum ya kalau tiket kereta di Jerman amit-amit mahalnya. Contohnya kalau pergi hari biasa ke Wilhelma tiket satu kali naik kereta perorang adalah 18,60 EURO (Rp.232.000) kalau pergi dan pulang tinggal kali dua, pergi berdua tinggal kali lagi, bikin tongpes! (kantong kempes) :neutral:. Padahal jarak dekat loh 86 KM. Makanya kalau akhir pekan puas-puasinlah jalan-jalan naik kereta, mumpung ada promo.

    Balik lagi ke cerita Wilhelma ya. Ada sekitar 9.000 hewan di lebih dari 1.000 spesies berada di kebun binatang Wilhelma, dan sekitar 6.000 spesies tanaman berada di taman dan rumah kaca Wilhema, menjadikannya taman yang unik, tidak hanya di Jerman, namun juga di dunia.

    Setelah Beli Tiket Nyetor dulu ya ke Toilet
    Setelah Beli Tiket Nyetor dulu ya ke Toilet

     

    Pertama kali kami memasuki ruangan tempat koleksi kaktus, sekaligus menghangatkan badan karena di luar dingin lagi dan gerimis, suhunya hari itu 10 derajat C.

    Ada dua ruangan koleksi kaktus. Yang pertama lebih banyak jenis kaktus dan juga sukkulen. Ruang kedua lebih kecil. Saya berdecak kagum, karena banyak kaktus-kaktus raksasa :lol:.

     

    Di rumah saya juga punya banyak kaktus, jadi saya coba cari seperti yang saya punya. Saya juga bisa belajar lebih banyak nama-nama dan jenis kaktus di lokasi ini ;).

     

    Video koleksi Kaktus Wilhelma Stuttgart

     

    Keluar dari ruang kaktus, sekarang menuju yang berwarna-warni, yakni ruangan yang penuh bunga warna-warni. Kami masuk ke ruangan tanaman tropis. Ada Bromelia, anggrek berbagai macam warna dan beragam jenisnya, bahkan ada anggrek asal Malysia yang namanya Medinilla Magnifica, yang hasil nguping saya dari dua pengunjung katanya harganya mahal, kantung semar lalu tanaman apa lagi ya agak lupa hehehe.

    Nah sahabat pecinta tanaman, setelah melihat foto-foto dan video koleksi kaktus Wilhelma Suttgart, adakah kalian lihat jenis kaktus yang sama yang kalian punyai?.

    Lanjutannya berikut ini:
    Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart (Bagian 2)
    Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart Bagian 3

  • My 1st Wedding Anniversary

    My 1st Wedding Anniversary

    My 1st Wedding Anniversary. Horayy! today is my 1st Wedding Anniversary πŸ™‚ . I always thanks my Lord Jesus that finally I have someone who loved me so much. I thanks to God for every tears in the past, and I thanks God for happiness with my love one.

    Met online April 1st 2010
    Met in Real Life June 26th 2010
    Official Proposal November 26th 2010
    Civil Marriage July 20th 2011
    Holy-matrimonial April 20th 2012
    We made it Frank.
    I love you,
    -Nella-

     

    Two are better than one, because they have a good return for their work: If one falls down, his friend can help him up. But pity the man who falls and has no one to help him up!. Ecclesiastes 4

    Thank you for being my husband, my partner, my lover and my best friend. Happy Anniversary!.

    Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

    Baca juga:
    Kumpulan Postingan Mixed Marriage – Pernikahan beda bangsa
    8 Good Things About My German Husband

  • Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5). Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (7)

    Aku Hanya Alat Reproduksi

    Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5). freecodesource.com
    Broken Heart

    LOOSDRECHT – Belanda adalah sebuah negeri yang terletak di bawah permukaan laut. Contohnya, Bandara Internasional Schiphol terletak 4,5 meter di bawah permukaan laut. Di bidang pengaturan air, tak ada negara yang dapat menandingi Belanda. Di Belanda, air mempunyai fungsi sosial yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Rekreasi air berkembang dengan baik.

    Loosdrecht adalah salah satu kota yang terkenal dengan wisata air. Kota ini terletak di pinggir Danau Loosdrecht yang cukup besar untuk ukuran Belanda. Walaupun tidak sebesar Danau Toba di Sumatera Utara atau Danau Tondano di Minahasa, Sulawesi Utara, Danau Loosdrecht sangat terkenal di Belanda. Di kota ini terdapat vila-vila dari aktor dan aktris dunia. Aktor Marlon Brando, Telly Savalas, semasa hidupnya sering berminggu-minggu berlibur di vila mereka di kota ini. Aktris Jean Seymour “Medicine Woman” yang keturunan Belanda sering nampak di kota ini. Vila-vila di kota ini dibangun dengan arsitektur yang menyatu dengan alam sekeliling danau.

    Pada musim panas (Juni-Agustus) danau ini dipenuhi oleh perahu-perahu bermotor yang berseliweran dengan penumpangnya perempuan-perempuan bule berbikini yang mencari panasnya matahari. Tetapi bagi Ningsih, ibu muda beranak satu, semua keindahan yang ditawarkan oleh kota Danau Loosdrecht adalah semu. Beberapa tahun lalu perempuan ini disunting oleh Jansen, duda setengah baya. Dari luar saja, kita sudah dapat melihat bahwa pasangan ini “jomplang”.

    Tulisan Terkini

    Jansen seperti layaknya pria-pria asing berkulit putih dengan wajah mirip bintang film Harrison Ford. Sementara Ningsih masih polos seperti ABG kampung, tidak bermake-up, rambut lurus sebatas bahu. Rumah bagus di daerah yang berkelas di kota Loosdrecht adalah ukuran kesuksesan materi keluarga ini. Tetapi ada apa di balik itu?.

    Suatu sore aku kedatangan tamu seorang ibu kenalan keluarga kami. Ibu ini membawa kiriman dari Indonesia buat Ningsih. Dia memintaku supaya mengantarnya ke rumah Ningsih di Loosdrecht yang letaknya dekat dengan Hilversum. Rumah Ningsih dengan rumahku hanya dipisahkan oleh lapangan bola.

    Berdua kami berjalan kaki ke rumah Ningsih. Pagar besi rumah bagus itu tertutup rapat. Bel rumah beberapa kali kami tekan tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah. Kemudian seorang ibu tetangga Ningsih keluar dan menemui kami. “Mungkin keluarga Jansen sedang keluar,” ujarnya.

    Menurut ibu (mevrouw) itu, keluarga Jansen agak lain dibandingkan keluarga-keluarga di wijk (lingkungan) itu. Mereka tidak bergaul dengan para tetangga. Ada kesan hidupnya eksklusif, atau sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan. Kehidupan orang Belanda terkesan individualistis.

    Tetapi untuk bertegur sapa, itu hal yang lazim di kalangan mereka. Namun keluarga Jansen tidak pernah bertegur sapa dengan tetangganya. Bagaikan Pembantu Sore itu kami kembali lagi ke rumah Ningsih. Kali ini kami beruntung. Bel rumah yang kami tekan mendapat reaksi. Pintu rumah terbuka, sosok laki-laki Belanda berjalan ke luar dan menuju pagar. Pintu pagar dibuka dan lelaki itu dengan ramah mempersilakan kami berdua masuk.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Memasuki rumah menuju ke ruang tamu kami harus melewati dapur. Di ruang tamu, seperti layaknya keluarga-keluarga Belanda, pasti ada kursi “raja”, yang ukurannya lebih besar dari kursi-kursi lainnya. Kursi itu dikhususkan untuk sang suami. Jansen, suami Ningsih, langsung duduk di kursi “raja”, menunjukkan dialah kepala rumah tangga di keluarga itu.

    Keadaan di Indonesia mendominasi percakapan sore hari itu. Jansen mengutak-atik kebobrokan Indonesia. Dia mengemukakan argumen dan analisis sebagai orang Barat. Arogan, sok tahu dan menggurui. Kepalaku menjadi pening. Percakapan kami berubah menjadi debat. Adu argumentasi.

    Ningsih tidak mengikuti percakapan kami. Dia sibuk di dapur membuka kiriman yang dibawa oleh ibu temanku itu. Tak lama Ningsih muncul dengan nampan membawa cangkir-cangkir kopi. Ada penganan khas Belanda kue speculaas, kue kering cokelat berbumbu. Ningsih berjalan terbungkuk-bungkuk seperti gaya seorang batur (pembantu). Dia kelihatan gugup ketika meletakkan mangkuk besar milik Jansen di atas meja, kemudian mempersilakan mengambil cangkir berisi teh.

    Ningsih kemudian masuk ke dapur. Lama dia tidak ke ruang tamu untuk bergabung bersama kami. Setelah Jansen memanggil, barulah Ningsih keluar dari dapur dan duduk di pojok ruang tamu sambil mengawasi bayinya. Dari seluruh pembicaraan kami mengenai masalah yang terjadi di Indonesia, Jansen selalu mengaitkan sosok Ningsih di dalamnya. Seolah Ningsih adalah Indonesia yang patut dikasihani. Dia dibawa ke Belanda supaya lebih maju dan modern.

    Ningsih diam tidak bereaksi atau berkomentar atas ucapan-ucapan Jansen. Ada kesan Ningsih takut pada Jansen. Ketakutan seorang pembantu pada tuannya. Ningsih berasal dari keluarga kurang mampu di pinggiran kota Bogor. Bisa lulus SMA saja sudah suatu berkat yang harus disyukuri. Lewat sebuah biro jodoh amatir Ningsih berkenalan dengan Jansen. Jansen kemudian datang ke Bogor, ingin melihat Ningsih secara langsung.

    “Setelah Thailand, aku ke Indonesia. Aku punya banyak koleksi foto dan riwayat hidup perempuan-perempuan Asia,” ujar Jansen dengan gaya arogan, menceriterakan pada kami kisah perjumpaannya dengan Ningsih. Dari segi materi Jansen beruntung. Pekerjaannya sebagai akuntan di perusahaan jasa yang besar di Belanda, menyebabkan dia dapat memiliki mobil BMW seri terbaru, rumah bagus di kawasan elite di kota Loosdrecht, pakaiannya bermerek. Dengan gaji yang bagus Jansen bisa berlibur tiap tahun.

    Hanya karena Iba

    Jansen berjumpa dengan Ningsih di Bogor. Menurut Jansen, Ningsih bukan tipenya. Tetapi setelah melihat keadaan keluarga Ningsih timbul rasa ibanya, ingin mengangkat kehidupan ABG kampung ini. Tetapi sebenarnya keluarga Ningsih kurang berkenan anaknya kawin dengan Jansen. Ada beberapa kejadian yang membuat keluarga ini tawar hati.

    Pernah kejadian, ice cream yang dibeli oleh Jansen dimakan oleh salah seorang keponakan Ningsih yang berusia 7 tahun. Jansen marah luar biasa. Ada juga beberapa peristiwa lain yang menunjukkan Jansen adalah manusia yang penuh perhitungan. Ningsih belum lagi berusia 20 tahun ketika dia harus menerima lamaran Jansen yang berusia 54 tahun. Mereka akhirnya menikah. Ningsih pun diboyong ke Negeri Belanda. Negeri yang rata dan selalu dingin.

    Ningsih menjadi warga negara Belanda. Waktu itu siapa pun yang menikah dengan warga Belanda boleh menjadi warga negara Belanda. Namun akibat berbagai ulah teroris, Pemerintah Belanda memperketat peraturan menyangkut izin tinggal dan kewarganegaraan.

    Beberapa hari setelah bertamu ke rumah Ningsih, aku bertemu dengan Ningsih bersama bayinya di winkel centrum (pusat pertokoan) Kerkelanden dekat rumah. Usai berbelanja, Ningsih dengan setengah memaksa ingin mampir ke rumahku. Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang kiri kanannya dirimbuni pokok mawar hutan berwarna merah muda. Pemandangan yang indah. Tetapi seindah itukah perasaan Ningsih? Karena aku melihat “pelangi” di bola matanya. Tiba di rumah, tangis Ningsih pecah.

    “Mbak, ada hal yang ingin aku ceriterakan”, Ningsih membuka percakapan. Perkawinanku sebenarnya adalah sebuah perbudakan dalam bentuk lain. Aku setiap malam harus melayani permintaan Jansen. Dia ingin punya anak banyak dari rahimku. Tetapi Mbak sendiri tahu kehidupan di Belanda kan sulit. Semua harus dikerjakan sendiri. Menggaji pembantu? Kita bisa bangkrut.

    Bayiku belum lagi setahun, Jansen sudah ingin aku hamil lagi. Jansen memang cinta anak-anak, tetapi dia tidak mencintaiku. Aku hanya dipakai sebagai alat reproduksi untuk menghasilkan anak baginya. Dia mengharuskan aku makan makanan yang bergizi tinggi agar melahirkan bayi yang sehat. Tetapi lihatlah, Mbak, tubuhku tetap saja kurus. Sebab biarpun aku makan tiap hari tetapi kalau hatiku selalu terluka, tidak tenang, tetap saja kurus. Jansen orangnya kasar, suka menghina dan menekan harga diriku sebagai seorang perempuan yang hidup miskin yang berasal dari Indonesia.

    Hatiku berontak tetapi aku harus menerima keadaan ini karena di kandunganku saat ini sudah ada janin. Aku harus menunggu hingga anakku lahir dan cukup besar, barulah aku akan mengambil langkah-langkah yang tegas. Kekasaran Jansen tidak saja di dalam rumah, tetapi juga saat bertamu ke rumah orang lain. Pernah dia mengempiskan ban mobil suami temanku sesama orang Indonesia. Aku dipermalukan saat itu. Dan kejadian lain yang memalukan sering terjadi. Jansen sering membentak aku di muka teman-teman.

    Dan yang paling tidak aku sukai bila dia sudah mulai membicarakan masalah yang terjadi di Indonesia. Walaupun sekarang aku sudah warga negara Belanda, tetapi jiwaku masih Indonesia. Aku tetap merah putih. Sore itu aku hanya bisa menasihati Ningsih supaya jangan terlalu memikirkan hal-hal yang bisa mengganggu kandungannya. Tak lama sesudah pertemuan itu aku dengar Ningsih keguguran.

    *****

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (8)

    Jadi Objek Jiwa yang Sakit

    untuk ke halaman berikutnya klik β‡’ Next/Lanjut

  • Menanam Bibit Bunga Musim Panas (Bagian 2)

    Menanam Bibit Bunga Musim Panas (Bagian 2)

    Menanam Bibit Bunga Musim Panas (Bagian 2). Hai sobat berkebun, saya akan melanjutkan cerita saya mengenai menanam aneka bibit bunga musim panas, kalau kamu mau lihat bagian 1 nya apa saja yang saya tanaman silakan klik disini.

    4. Menanam Bunga Gladiol

    Tulisan Terkini

    Tahun lalu saya sudah menanam bibit bunga-bunga gladiol, sayang bunganya belum keluar, hanya daun-daunnya saja yang banyak. Sepertinya karena tanahnya terlalu kering dan kurang maksimal terkena sinar matahari, jadi tahun ini saya coba tanam kembali dan akan berikan air lebih banyak ke tanaman ini.

    Hingga saat ini saya menanam 4 macam warna bunga gladiol:

    • Gladiol Warna Campuran

    Ukuran 10/12 cm

    Perkiraan tinggi tanaman 110 cm.

    • Gladiol Blue Isle

    Ukuran bibit 10/12 cm

    Perkiraan tinggi tanaman 110 cm

    Di etiketnya ditulis namanya β€œBlue Isle” lihat gambar pada etiket, bunganya berwarna ungu tua. Kita lihat saja nantinya :wink:.

    • Gladiol Far West

    Ukuran bibit 12/14 cm

    Perkiraan tinggi tanaman 110 cm

    Saya suka lihat gambarnya, cantik ya nantinya duo color.

    • Gladiol Green Star
    Menanam Bibit Bunga Musim Panas (Bagian 2). Gladiol Green Star
    Gladiol Green Star

    Ukuran bibit 12/14 cm

    Perkiraan tinggi tanaman 110 cm

    Warna hijauu πŸ™‚ . Hingga saat ini, belum tumbuh, mungkin karena saya tanam agak dalam.

    Tips Menanam umbi bunga gladiol:

    • Rendam bibitnya 24 jam sebelum penanaman.
    • Kedalaman penanaman disarankan 8-10 cm.
    • Bunga gladiol menyukai tanah yang lembab jadi jangan sampai tanahnya kering, jangan juga berlebihan karena umbi bisa busuk.
    • Gladiol suka matahari langsung panas terik. Siram lebih banyak ketika cuaca panas.
    • Jika daun sudah berjumlah 7 akan muncul bunga nya.

    5. Bunga Liatris Spicata

    Liatris Spicata. Warna Ungu
    Nanam umbi bunga Liatris Spicata. Warna Ungu

    Liatris spicata atau Blazing Star, merupakan tumbuhan perdu abadi asli dari Amerika Utara bagian timur. Umumnya tumbuh di kebun dengan warna bunga mencolok ungu (merah muda atau putih dan beberapa kultivar lainnya). Rendam umbinya beberapa jam sebelum penanaman.

    Tumbuh subur di bawah sinar matahari penuh. Tanaman ini menarik datangnya burung Hummingbird dan kupu-kupu.

    Hingga saat ini belum tumbuh 😐 kasih lihat foto tahun lalu lah :).

    Liatris spicata milik saya tahun lalu 19 Juli 2012
    Liatris spicata milik saya tahun lalu 19 Juli 2012

    Dua hari lalu ke retail tanaman, wahhh ada yang warna putih, sudah berupa tanaman, jadi tidak susah menumbuhkan umbinya.

    Liatris spicata warna Putih. Bunga ini menarik datangnya burung Hummingbird dan kupu-kupu
    Liatris spicata warna Putih. Bunga ini menarik datangnya burung Hummingbird dan kupu-kupu

    6. Macam-macam Tanaman Bunga Berumbi

    • Gypsophila Paniculata
    Gypsophila Paniculata. Foto Kiri kemasan umbinya, dalamnya ada tanahnya. Lihat Gambarnya Bunganya Cantik
    Gypsophila Paniculata. Foto Kiri kemasan umbinya, dalamnya ada tanahnya. Lihat Gambarnya Bunganya Cantik

    Gypsophila paniculata (baby’s breath) adalah spesies tanaman berbunga dalam keluarga Caryophyllaceae, asli Eropa Tengah dan Timur. Tinggi tanaman kira-kira hingga 100 cm. Warna bunga putih. Bunganya biasanya digunakan untu kombinasi buket bunga.

    Video Menanam Bunga Baby Breath dari Bare Root | Gypsophila Paniculata

    Umbinya unik seperti bentuk wortel. Satu kemasan isi 3 umbi, saya tanam pada 23 Maret 2013. Saat itu umbinya sudah mulai tumbuh. Hari ini bentuknya sudah seperti dibawah ini:

    Gypsophila Paniculata 18 April 2013
    Gypsophila Paniculata 18 April 2013
    • Hosta
    Hosta
    Hosta

    Hosta adalah genus dari sekitar 23–40 spesies tanaman yang mirip dengan lili dan merupakan tanaman asli wilayah Asia Timur Laut. Hosta dulu diklasifikasikan ke dalam keluarga Liliaceae namun sekarang dimasukkan ke dalam keluarga Agavaceae.

    Nama Hosta diberikan untuk menghormati ahli botani Austria Nicholas Thomas Host. Nama Jepangnya adalah Giboshi

    Satu kemasan isi 2 umbi, saya tanam pada 23 Maret 2013. Saat itu umbinya sudah tumbuh besar, tanaman tetap terjaga baik, karena dalam kemasannya bercampur tanah berpupuk. Hari ini bentuknya sudah seperti dibawah ini:

    Hosta makin besar pada 18 April 2013
    Hosta makin besar pada 18 April 2013
    • Kniphofia Tritoma
    Umbi Kniphofia Tritoma. Gambar Bunganya Cantik ya
    Umbi Kniphofia Tritoma. Gambar Bunganya Cantik ya

    Satu kemasan isi 2 umbi, saya tanam pada 15 April 2013. Ketika akan tanam umbinya sudah mulai tumbuh, namun tanaman tetap terjaga baik.

    Genus Kniphofia diambil dari nama Johann Hieronymus Kniphof seorang dokter dan ahli botani asal Jerman. Sumber wikipedia.

    Kniphofia Tritoma 18 April 2013
    Kniphofia Tritoma 18 April 2013

    Tanaman ini menarik lebah, burung Kolibri dan burung Icterus. Tinggi tanaman mencapai 160 cm.

    β€œFlowers always make people better, happier, and more helpful; they are sunshine, food and medicine for the soul.” – Luther Burbank-

     

    Baca juga: Klik disini semua postingan kebun emaknya Benjamin

    Demikianlah cerita saya mengenai Menanam Bibit Bunga Musim Panas (Bagian 2). Kalau kamu baru pertama kali berkunjung ke blog saya dan suka tulisan ini silakan subscribe follow blog saya, supaya tidak ketinggalan postingan berkebun berikutnya, kolom berlangganan mengikuti blog ada dibagian kanan atas postingan.

     

  • Jangan Biarkan Tanaman Hias Berdebu

    Jangan Biarkan Tanaman Hias Berdebu

    Jangan Biarkan Tanaman Hias Berdebu. Sahabat pecinta tanaman, apakah tanaman-tanaman hias Anda sering berdebu? Sudah disiram (disemprot) air, ketika kering malah meninggalkan bercak-bercak putih. Sungguh mengesalkan bukan kalau debu menempel pada tanaman akan merusak keindahan tanaman tersebut.

    Jangan Biarkan Tanaman Hias Berdebu. Tanaman Hias disiram malah jadi Muncul bercak Putih
    Tanaman Hias disiram malah jadi Muncul bercak Putih

    Saya semprot koleksi tanaman-tanaman hias saya dengan air keran, ya mungkin karena terlalu banyak kandungan kapurnya. Setelah kering muncul bercak-bercak putih pada daun-daun tanaman. Tanaman hiasnya jadi tidak cantik lagi kalau begini πŸ™ .

    Hey kini saya tahu rahasianya loh. πŸ’‘ Gunakan air suling (destilasi) untuk menyemprot daun-daun tanaman kita.

    Gunakan Air Destilasi Untuk Menyemprot Tanaman Hias
    Gunakan Air Destilasi Untuk Menyemprot Tanaman Hias

    Beberapa waktu lalu, saya membaca tips merawat bunga anggrek, si penulis bilang supaya gunakan air kemasan dari supermarket, karena air keran banyak kapurnya. Saya mikir β€œah mahal juga air minum dipakai untuk siram tanaman?” lalu saya mikir dan mikir lagi, ah yaa gunakan air suling saja :cool:.

    Saya selalu gunakan air suling untuk setrika pakaian, dan selama hampir dua tahun ini, saya tidak pernah sekalipun membaca etiket pada botol air sulingnya. Ternyata air suling bisa digunakan untuk mengisi air setrikaan, air akuarium dan untuk menyemprot tanaman hias. Ada keteranganya di etiket air sulingnya :wink:.

    1 Botol air suling isi 5 liter harganya 1,99 Euro sekitar Rp.25.500. Kalau ditempat Anda berapa harganya ya?.

    Tanaman Hias Spider Plant ku setelah disemprot air destilasi. Segarr. Chlorophytum comosum
    Tanaman Hias Spider Plant ku setelah disemprot air destilasi. Segarr. Chlorophytum comosum

    Kini saya happy, tanaman-tanaman hias saya tentu saja juga happy dong ya :mrgreen:.

    Oh ya ada yang bisa kasih tahu saya, bagaiamana membuat air suling sendiri?

     

    Semoga tips Jangan Biarkan Tanaman Hias Berdebu ini berguna buat kamu πŸ™‚ .

     

    Berkebun-Pursuingmydreams on youtube:

     

    Baca juga:

  • Kisah Kawin Campur yang Berakhir Tragis (Bagian 4)

    Kisah Kawin Campur yang Berakhir Tragis (Bagian 4)

    Kisah Kawin Campur (Bagian 4).

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (5)

    Aku Jadi Bank “ATM” Simon

    Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    freecodesource.com
    Broken Heart

    HILVERSUM – Sekitar 30 kilometer dari Amsterdam ke arah tenggara kita akan jumpai kota kecil Hilversum. Kota ini mendapat julukan “Media Stad”-Kota Media, sebab di sini terdapat sekitar 11 studio televisi dan Pusat Siaran Radio Internasional Belanda atau Radio Nederland Wereldomroep. Salah satu bagian dari Radio Nederland Wereldomroep adalah seksi Siaran Bahasa Indonesia yang sudah ada sejak lembaga radio ini didirikan tahun 1947.

    Orang Indonesia tidak terlalu banyak di kota ini, tidak seperti di Den Haag atau Amsterdam. Hubungan antar sesama orang Indonesia cukup terpelihara dengan baik. Orang Indonesia saling kenal satu dengan yang lain. Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan Naning, perempuan Indonesia asal Tangerang, ketika kami sedang menawar barang yang sama di pasar loak di Loosdrecht, kota wisata danau tak jauh dari Hilversum.

    “Eh, Mbak dari Indonesia ya,” kata Naning. “Ya, ya aku dari Indonesia”, jawabku. “Aduh senang ketemu orang setanah air”, sambung Naning. Dia kemudian memperkenalkan Simon, laki-laki indo berbadan tinggi besar. Pokoknya, pada kesan pertama semua orang akan mengatakan Simon ini laki-laki ganteng.

    Dari perkenalan di pasar loak itu, hubungan kekeluargaan kami bersambung. Naning sering datang ke rumahku untuk membantu bila aku mengadakan acara rame-rame. Sebulan sekali dia juga datang untuk menggunting rambutku dan anak-anakku. Menurut Naning, perkenalannya dengan Simon lewat budi baik salah seorang keluarga Simon yang berkunjung ke Indonesia. Selang setahun setelah mereka berhubungan lewat surat, Simon datang ke Indonesia, tepatnya di Tangerang, untuk melamar Naning. Mereka kemudian menikah di Jakarta.

    Setelah itu karena harus pindah ke Belanda, Naning menjual salonnya yang selama ini menghidupinya. Naning mengatakan sangat mencintai Simon, walaupun selama perkawinan mereka yang belum satu tahun Naning sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan. Dia pernah ditempeleng oleh Simon dan sering dimaki, dihina dan selalu dipojokkan dengan kalimat-kalimat yang menekan. Simon selalu membanggakan diri dengan mengatakan kalau bukan karena dirinya, Naning tidak dapat ke Belanda untuk mengubah nasib.

    Tetapi setelah hampir tiap hari mendapat perlakuan kurang menyenangkan, akhirnya Naning mulai goyah. Rasa cintanya kepada Simon mulai pupus. “Aku sadar sekarang, Mbak, bahwa aku saat ini sudah tidak punya apa-apa lagi. Harga diri dan harta bendaku habis karena ulah laki-laki ini. Aku adalah bank hidup Simon. Aku harus bekerja dan penghasilan seluruhnya harus kuserahkan pada Simon. Sudah kepalang basah, aku harus pintar-pintar membawa diri. Aku coba menunggu hingga tiga tahun tinggal di Belanda sampai izin tinggalku keluar,” kata Naning.

    Bisa dibayangkan, penderitaan perempuan ini. Dia bekerja tiga shift dalam satu hari. Jam 08.00-10.00 menjadi petugas cleaning service di sebuah rumah jompo di Laren, kota kecil dekat Hilversum. Jam 11.00-12.00 ia menghabiskan waktu untuk makan siang dimana saja karena tidak sempat pulang ke rumah. Jam 13.00-18.00 Naning berkeliling kota Hilversum dan sekitarnya untuk menjual jasa sebagai penggunting rambut, cream bath, facial, manicure/pedicure kepada pelanggannya yang kebanyakan orang Indonesia. Dalam sehari Naning bisa melayani empat pelanggan.

    Usai istirahat makan malam, dia melanjutkan mencari nafkah di sebuah afhal centrum (toko makanan) untuk menggulung lumpia atau risoles. Naning baru bisa pulang ke rumah pada pukul 23.00. Di musim dingin Naning akan lebih menderita lagi. Udara dingin menggigit, atau salju yang turun tebal, bukan alasan bagi Naning untuk tidak bekerja. Bila udara sudah 10 derajat di bawah titik beku, dimana salju dan air sudah berubah menjadi es batu, Naning harus ekstra hati-hati setiap kali berjalan keluar rumah, karena bisa-bisa dia akan meluncur jatuh seperti orang bermain ice skatting.

    Naning menguras tenaganya bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk membayar utang mantan istri Simon yang gemar berjudi. Kalau Naning bermalas-malasan, maka tangan Simon akan mendarat di tubuhnya. “Apa kamu sudah lapor polisi?” aku bertanya pada Naning. “Enggak berani, Mbak. Nanti aku disuruh pulang ke Indonesia. Izin tinggalku kan dijamin oleh Simon. Aku baru bisa menjadi warga negara Belanda dua tahun lagi”, jawabnya. Kala itu, seseorang baru boleh mendapat izin tinggal tetap bila sudah tiga tahun tinggal di Belanda. Sedangkan untuk menjadi warga negara Belanda, seseorang harus lima tahun menjadi penduduk tetap Belanda.

     

    Kalung Terputus Tiga

    Pagi itu, bel rumah kami berbunyi. Pintu dibuka dan Naning berdiri di depan pintu. Matanya sembab. Pipinya biru kehijau-hijau. “Aku sudah tidak tahan, Mbak. Aku harus pergi dari rumah itu. Simon memukul aku lagi. Bank pasku diambil,” tangis Naning pecah sambil memelukku. Di genggaman tangannya ada seuntai kalung yang sudah terputus menjadi tiga. Menurut Naning, pagi itu terjadi “perang”. Simon meminjam bank pas (kartu ATM) milik Naning untuk mengambil uang di bank, namun Naning menyembunyikannya. Simon marah besar. Dia merusak sepeda bekas yang baru saja dibeli Naning. Kursi dan meja makan diobrak-abrik. Naning juga ditampar dan didorong hingga jatuh. Kalung emas di lehernya ditarik Simon hingga putus tiga.

    Walaupun sudah mendapat perlakuan demikian, Naning tetap saja tidak mau melapor ke polisi. Dia takut, polisi akan mengirimnya pulang ke Indonesia. Kemudian aku berusaha menemui Simon sekadar untuk memberi nasihat bahwa Naning adalah istrinya yang harus disayangi dan dicintai. Simon menjawab dengan sikap arogan, “Seharusnya Naning bersyukur aku kawini, karena dengan demikian dia bisa tinggal di Belanda”.

    Saat itu batinku berontak, aku tidak dapat menerima kaumku diperlakukan demikian. Kasus Naning bak buah simalakama, yaitu menerima siksaan Simon atau harus mau dipulangkan ke Indonesia padahal Naning sudah tidak punya apa-apa lagi. Harta dan harga dirinya telah digadaikan untuk seteguk cinta bagi laki-laki ganteng bernama Simon dan sekadar mencari hidup yang lebih baik di tanah orang.

    Aku tak dapat berbuat apa-apa, karena di Belanda hukum dan hak asasi manusia saling berkaitan, tetapi mereka memperlakukan hak seseorang berdasarkan hukum yang berlaku. Dalam kasus Naning, haknya akan dibela, tetapi keputusan hukum, dia harus kembali ke Indonesia. Naning bersikap teguh, apapun yang terjadi tidak mau pulang ke Indonesia.

    *****

    untuk ke halaman berikutnya klik β‡’ Next/Lanjut

  • Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4) – Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat

    Bagian 1 klik disini

    Bagian 2 klik disini

    Aku Kesengsem pada Lelaki Itu

    Oleh Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    UTRECHT – Kisah lain dialami oleh temanku, Amiatun. Setamat SMA di Pontianak, Kalimatan Barat, gadis cantik itu melanjutkan pendidikan ke sekolah tari di Bandung, Jawa Barat. Menjadi penari dan guru tari merupakan cita-cita gadis bertubuh semampai ini.

    Di Bandung, Amiatun kos di rumah ibu Supinah, janda seorang Belanda pegawai perkebunan teh. Memang, janda ini hidup dari menyewakan kamar-kamar di rumahnya yang tergolong besar dan terletak di jalan kelas satu di Kota Bandung. Selain menerima kos, ibu Supinah juga menerima turis-turis dari manca negara. Tetapi karena ibu Supinah fasih berbahasa Belanda, maka kebanyakan turis yang menginap adalah orang-orang Belanda. Di suatu sore yang sejuk sepulang dari sekolah,

    Amiatun melihat ada sebuah minibus di halaman rumah kosnya. Beberapa turis berkulit putih turun dari minibus dan berjalan memasuki rumah disambut ibu Supinah. Oleh ibu Supinah, Amiatun diperkenalkan dengan tamu-tamu asing itu. Mereka akan menginap selama tiga hari. Saat itu jantung Amiatun bergetar tatkala berjabat tangan dengan salah seorang laki-laki dari rombongan turis tersebut. “Gerard…,” kata lelaki itu.

    Aduh Mbak, aku hampir pingsan“, ungkap Amiatun, melukiskan perasaannya ketika itu. Berikut ini ceritanya: Laki-laki seperti Gerard selalu ada dalam angan-anganku. Beberapa tahun yang silam, keluarga kami tinggal di salah satu kota dimana banyak orang asing. Tetangga kami adalah pasangan muda asal Prancis yang hidup begitu harmonis. Sang suami begitu romantis memperlakukan istrinya. Aku yang saat itu masih gadis kecil merekam di dalam benakku, semua yang kulihat semasa kecil.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Aku juga bermimpi kelak ingin bersuamikan laki-laki seperti laki-laki Prancis tetanggaku itu. Dan mimpi itu terbawa hingga saat aku berkenalan dengan Gerard. Mimpi-mimpiku seakan menjadi kenyataan. Laki-laki Prancis tetanggaku itu seakan-akan hidup di depanku. Aku kesengsem pada lelaki. Dan ternyata gayung bersambut. Gerard juga menyenangi aku. Maka kami berdua menjadi dekat. Dia begitu galant dan sopan. Namun tak terasa, rombongan Gerard akan berangkat ke Yogyakarta, lalu Bali dan langsung kembali ke Belanda. Maka hubungan kami dilanjutkan lewat surat dan kartu pos, juga lewat telepon. Perkenalan kami terjadi di bulan Agustus 1991, lalu aku dilamar dan langsung kawin pada bulan November tahun itu juga. Gerard mengikuti semua persyaratan yang diajukan keluargaku. Kami menikah dalam adat Jawa. Mungkin inilah pesta yang besar dan mewah yang pernah diadakan di kampungku.

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

    Dua minggu usai perhelatan, Gerard harus segera kembali ke Belanda, karena dia hanya boleh cuti dua minggu. Sedangkan aku, baru menyusul dua bulan kemudian, karena harus mengurus surat-surat kepindahan ke Negeri Belanda. Bulan Januari 1992, saat musim dingin mencapai puncaknya, aku berangkat menyusul Gerard ke Negeri Belanda. Untuk itu, dua minggu sebelumnya aku sudah mengirimkan surat dengan pos kilat. Sebab hubungan telepon di rumah Gerard terputus sejak pernikahan kami, entah mengapa. Sehingga satu-satunya caraku untuk menghubungi Gerard hanyalah lewat surat.

    Tiba di Schiphol Pagi-pagi buta pesawat KLM yang aku tumpangi mendarat di Bandara Schiphol. Hatiku berbunga-bunga membayangkan tak lama lagi akan bertemu dengan suami tercinta. Dari balik dinding kaca tembus pandang, aku melihat keluar. Di luar hari masih gelap. Aku baru tahu bahwa pada musim dingin matahari di belahan bumi Eropa menampakkan diri lebih lambat dari musim panas. Menurut ibu asal Ambon yang duduk di sebelahku dalam pesawat, matahari pada musim dingin muncul kira-kira jam 8 pagi.

    Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan pabean, aku berjalan menuju pintu keluar dengan ditemani ibu yang baik itu. Tetapi di ruangan penjemput aku tidak melihat sosok Gerard. Aku melayangkan pandangan ke seluruh penjuru, namun Gerard tidak ada. Jantung tersentak, aku mulai panik. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Apakah surat kilat itu belum diterima. Tetapi itu tidak mungkin, karena sudah dua minggu surat aku kirimkan. Ibu Ambon yang baik hati itu menenangkan aku, karena kami sudah dua jam menunggu namun Gerard tak kunjung datang. Aku pun kemudian mampir ke rumah ibu Ambon di Amsterdam. Siang harinya dengan bantuan anak-anak ibu itu, aku berhasil menemukan nomor telepon baru milik Gerard.

    Tulisan Terkini

    Ternyata Gerard tidak begitu terkejut mengetahui istrinya sudah ada di Amsterdam, sebab dia pada pagi itu sudah menerima surat yang aku kirimkan. Cuma, dia bingung dimana aku berada. Lantas, aku dan Gerard pulang ke flat yang terletak di dekat kota Utrecht. Aku kembali terkejut untuk kedua kalinya, ketika memasuki flatnya yang hanya sebuah ruangan, tempat dimana Gerard makan, tidur dan menerima tamu.

    Aku sulit dihadapkan dengan kondisi ini. Sebab di rumah orang tuaku di Kalimantan, walaupun sederhana, setiap kegiatan dilakukan di ruangan tersendiri. Rumah kami seperti lazimnya rumah-rumah di Indonesia. Ada ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, ruang kerja, ruang belajar, dll. Tapi di negeri yang maju ini, semua kegiatan dilakukan di satu ruangan. Rasanya aku belum dapat mengadaptasi keadaan ini. Selain itu, untuk mencapai ruangan dimana Gerard tinggal di lantai 3, aku harus menaiki anak tangga yang membuat napasku tersengal-sengal. Belum selesai rupanya keterkejutanku pada hari itu.

    Hari semakin sore. Di musim dingin matahari cepat sekali masuk ke peraduan. Jam baru menunjukkan angka 4, tetapi di luar hari sudah gelap.

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (4)

    Curi Uang Celengan untuk Beli Roti

    untuk ke halaman berikutnya klik β‡’ Next/Lanjut

  • Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2). Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat ( bagian 1) klik disini

    *****

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (2)

    Rahasia Sebuah Lemari

    Oleh : Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    Kisah - Kisah Kawin Campur yang Tragis
    A successful marriage requires falling in love many times, always with the same person.
    Mignon McLaughlin

    AMSTERDAM-Waktu dua minggu terasa berlalu begitu cepat. Musim panas pun berakhir dan belahan Eropa memasuki musim gugur. Udara mulai dingin dan daun mulai berguguran. Tetapi aku belum mau beranjak dari pelukan laki-laki itu. Aku masih menginginkan kehangatannya.

    Dua minggu telah mengubah seluruh kehidupanku. Aku jatuh cinta pada Eduard. Aku tak mau kembali ke Jakarta lagi. Aku putuskan hubungan pertunanganku. Cincin kukirimkan kembali ke Jakarta. Keluarga kami di Indonesia heboh besar. Baik di Jakarta, Semarang maupun Manado. Tetapi terus terang, keadaan ini sebenarnya yang dikehendaki ibuku yang sok ke belanda-belandaan. Aku benar-benar jatuh cinta, dan tanpa menyelidiki lebih jauh, siapa sebenarnya Eduard itu, aku menerima lamarannya.

    Tulisan Terkini

    Eduard mengaku bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang cukup ternama di Belanda. Kami pun menikah di Indonesia. Yang paling berbahagia adalah ibuku yang waktu itu sedang sakit, karena memang ibu menginginkan aku menikah dengan orang Belanda. Tak lama ibu meninggal dunia. Aku bersyukur pada Tuhan karena ibu tidak sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku usai pemberkatan nikah. Karena seandainya ibu masih hidup dan mendengar apa yang dialami oleh putri bungsunya ini, ibu pasti akan sedih. Maklum, ibu sangat mendukung perkawinan kami.

    Selesai mengurusi surat-surat, dan setelah ibu dimakamkan, aku dan Eduard meninggalkan Jakarta menuju Amsterdam. Lalu aku langsung menjadi warga negara Belanda. Aku memasuki dunia baru, kehidupan baru di Amsterdam. Sebagai keluarga baru, kami menempati flat dengan dua kamar tidur di pinggiran Amsterdam. Eduard begitu menyayangiku. Kemesraan pengantin baru benar-benar aku nikmati.

    Suatu hari di bulan ketiga perkawinan, Eduard berkata kepadaku bahwa dia merencanakan akan mengganti semua perabotan di rumah, peninggalan istri tuanya. Eduard memang seorang duda. Kata Eduard, ia ingin semua perabotan baru, begitu pula mobil harus diganti baru. Aku kurang setuju dengan rencana tersebut. Sebab menurutku, biar saja kami memakai perabotan tua karena Eduard baru saja mengeluarkan banyak uang saat pernikahan kami di Jakarta.

    Tetapi Eduard tetap pada keputusannya. Menurut Eduard, uang gampang dicari, kami bisa pinjam di bank dan dibayar dengan cicilan dari gaji. Dan hal ini lumrah di Belanda. Akhirnya aku menyetujui dan menandatangani pinjaman uang di bank bersama dengan Eduard. Jumlahnya cukup besar.

    Enam bulan sesudah aku sah menjadi istri Eduard, aku dengan perasaan ingin tahu berhasil membuka lemari Eduard yang selalu dikunci rapat. Aku tidak pernah merencanakan untuk mencampuri urusan pribagi Eduard, karena dia selalu berkata privacy-nya jangan sampai diganggu oleh siapa pun, termasuk oleh istrinya. Dan ini komitmen kami berdua.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Rahasia Sebuah Lemari

    Pada suatu pagi, entah mengapa Eduard pergi ke tempat kerja tanpa membawa kunci lemari. Kunci itu tergeletak di atas meja. Mungkin dia lupa. Aku sangat terdorong untuk membuka lemari tersebut. Maka kemudian aku pun membukanya.

    Di dalam lemari itu ada sebuah kotak yang terkunci. Tetapi aku bisa membuka karena anak kunci ada dalam rangkaian kunci lemari itu. Kotak itu penuh dengan surat-surat. Dengan rasa ingin tahu aku mulai membaca surat itu satu per satu. Dan terbongkarlah begitu banyak rahasia mengenai siapa Eduard itu. Tetapi aku tak perlu membeberkannya.

    Sebagai orang terpelajar, aku bisa memilah-milah persoalan. Aku tahu, mana masalah yang cukup untuk diriku sendiri saja, tetapi aku juga tahu mana masalah yang perlu kulaporkan pada polisi.

    Namun yang paling mengejutkan, ternyata Eduard hanyalah seorang sopir di perusahaan penerbangan. Rupanya ia selama ini berbohong dengan mengaku sebagai seorang petugas mekanik pesawat terbang. Aku benar-benar kecewa. Pada masa mudaku, tidak sembarang orang bisa “datang” kepadaku. Tetapi kini aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang setiap malam aku tidur dengan seorang sopir bus.

    Tetapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Bak’ nasi sudah menjadi bubur. Meski begitu, aku mencoba bertahan. Berusaha mengubah bubur itu menjadi bubur ayam. Setiap hari aku hanya bisa mengelus dada dan setiap malam menangis. Aku hidup dalam tekanan, kebohongan dan kemunafikan. Tetapi aku berprinsip bahwa keluargaku di Indonesia tidak boleh mengetahui cerita sedih ini.

    Latar belakang budaya kami memang berbeda, kebiasaan-kebiasaan kami juga bertolak belakang. Ia kasar, pemabuk dan gemar pergi ke kasino. Ini menambah penderitaanku. Tetapi bila kami mulai berkasih-kasihan sebagai suami-istri, semua derita itu seakan sirna. Saat-saat itu Eduard sangat menyenangkan. Sesudah itu, aku kembali lagi pada penderitaan yang tak berujung. Keadaan ini berdampak negatif bagi jiwaku. Aku menghukum diriku sendiri dengan mengatakan diriku adalah perempuan rendahan sebab seks bisa membuatku lupa akan penderitaan. Betapa rendahnya seorang Albertina. Maka kepribadianku pun goyah, dan kesehatan merosot. Aku menjadi langganan dokter dan rumah sakit.

    Setelah bertahan hidup sebagai istri Eduard selama dua tahun, aku tak sanggup lagi. Maka kami pun bercerai. Setelah bercerai, aku menyangka sebagian penderitaan akan berakhir. Tetapi ternyata derita itu semakin bertambah. Seperti yang kututurkan tadi, beberapa bulan setelah pernikahan, kami meminjam uang di bank. Aku ikut menandatangani formulir pinjaman itu. Nah, disinilah penderitaan itu bersambung. Aku berkewajiban melanjutkan pembayaran pinjaman itu, walaupun kami sudah bercerai. Usai perceraian, Eduard menghilang bak di telan bumi. Alamatnya tidak jelas. Dia menjadi buronan polisi. Mungkin dia telah pindah ke negara lain dengan identitas lain pula.

    Dari tunjangan janda, aku dapat hidup dari hari ke hari sambil membayar cicilan pinjaman ke bank. Aku bersyukur pada Tuhan, di saat kejatuhanku, komunitas Indonesia yang ada di Belanda sangat membantu. Mereka menampungku secara cuma-cuma, setelah aku keluar dari flat karena Eduard tidak membayar uang sewanya. Kemudian dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik dan bahasa Belanda yang seadanya, aku diterima bekerja di sebuah bank asing. Hidupku mulai tenang.

    Beberapa tahun kemudian setelah hidup menjanda, aku menerima lamaran seorang laki-laki Indonesia. Ia mengerti dan memaklumi keadaanku. Waktu itu aku tidak secantik dahulu ketika masih muda. Aku kini seorang wanita yang sakit-sakitan, tetapi Robert mau mendampingiku, menerima diriku apa adanya. Kami menikah dan kini mempunyai tiga anak laki-laki yang sehat. Tetapi penyakitku semakin parah. Aku tetap saja sakit-sakitan, seminggu sekali harus cuci darah.

    Lanjutan bagian 3 Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4).

    Pembaca setia, sebelum menikah dengan siapapun itu, dan dari bangsa manapun, kenali baik-baik calon pasanganmu. Apalagi kalau berencana menikah dengan orang asing, sebaiknya kita mengunjungi dahulu negara calon kita bermukin. Kenalan dengan keluarga dan teman-temannya, cari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai calon kita.

    *****

    Artikel sisi gelap Perkawinan Timur Barat pernah di muat media online sinarharapan.co.id sebagai tulisan bersambung, sayangnya linknya tidak bisa dibuka lagi yakni sinarharapan.co.id/berita/0507/19/sh09.html Mengapa semua kisahnya di Belanda, ya karena Yuyu A.N. Krisna Mandagie sebagai penulis dan keluarganya dalam beberapa tahun tinggal di Belanda.

  • Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis

    Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis

    Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis. A good marriage is one which allows for change and growth in the individuals and in the way they express their love. Pearl Buck (1892 – 1973)

    Sahabat bloger, apakah kalian lebih banyak mendengar kisah-kisah kawin campur yang bahagia atau malah lebih sering mendengar sisi negatifnya?.

    Mencari si Belahan Jiwa (Foto gettyimages) Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis
    Mencari si Belahan Jiwa (Foto gettyimages)

    Beberapa saat lalu, saya sedang bongkar-bongkar file-file di komputer saya. Membaca beberapa artikel, melihat banyak sekali koleksi foto-foto saya, dan kemudian saya menemukan satu file berisi kisah-kisah kawin campur yang ditulis oleh Yuyu A.N. Krisna-Mandagie.

    Artikel ini pernah di media online sinarharapan.co.id sayangnya linknya tidak bisa dibuka lagi yakni: sinarharapan.co.id/berita/0507/19/sh09.html *link sudah tidak aktif lagi πŸ™ .

    Saya ingin menampilkan artikelnya di blog saya ini, mungkin ada yang tertarik mengetahui sisi lain pernikahan campur. Ada 13 halaman kisahnya, namun sayangnya mungkin semuanya adalah kisah yang sedih. Selamat membaca ..

    *****

    Sisi Gelap Perkawinan Timur Barat (1)

    Oleh Yuyu A.N. Krisna-Mandagie

    Pengantar Redaksi:

    Perkawinan adalah komitmen sakral legal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk rumah tangga. Tapi seringkali kenyataan berbeda dengan harapan. Contoh kasus, kisah tentang derita perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki Belanda.

    Hubungan sejarah emosional antar kedua bangsa ini ternyata sering membawa dampak buruk dalam rumah tangga mereka.

    Mulai hari ini Sinar Harapan menurunkan tulisan bersambung “Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat“.

    Tulisan berikutnya, mulai Rabu (20/7), dimuat di halaman 10. Penulis dan keluarganya dalam beberapa tahun belakangan ini tinggal di Belanda.

    AMSTERDAM- Perkawinan adalah komitmen sakral antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan cinta kasih mereka dalam satu kehidupan rumah tangga, baik suka maupun duka. Namun kadang apa yang diharapkan, diimpikan dan dicita-citakan sangat berbeda dengan yang apa yang dialami. Semoga pengalaman pahit yang dialami beberapa perempuan Indonesia yang bersuamikan Belanda seperti yang dituturkan dalam tulisan ini, menjadi pelajaran dan bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan untuk menikah dengan laki-laki dari belahan bumi lain, khususnya Barat ini. Berikut adalah ungkapan-ungkapan sejumlah perempuan Indonesia yang bersamikan orang Belanda.

    Tulisan Terkini

    Yu, aku harus cuci darah lagi besok. Kesehatanku menurun benar minggu ini,” tutur Albertina, perempuan Kawanua berwajah Timur Tengah, mantan pramugari yang kini hidup di Lelystad, Belanda, menghitung hari-harinya. “Mbak, aku terpaksa mencuri uang celengan Gerard untuk membeli roti,” kata Amiatun, perempuan lain yang tinggal di Utrecht. “Aku tak tahan, Mbak. Aku harus pindah dari rumah itu. Simon memukul aku lagi. Bank pas-ku diambil,” ujar Naning, wanita lain lagi, saat aku membuka pintu rumahku di Hilversum, Belanda. Wajahnya sembab dan bengkak biru kehijau-hijauan. Sambil menggenggam kalungnya yang putus-putus, Naning menangis di pangkuanku. Naning kini tinggal di Hoofddorp, kota KLM dekat Schiphol.

    Coba lemari es saja dikunci, Mbak,” keluh Anie, perempuan asal Karawang yang tinggal di Den Haag.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Pramugari Garuda

    Cafe Majestic di samping toko serba ada Bijenkorf Amsterdam ramai, hampir tidak ada kursi yang kosong. Tempat ini memang populer sebagai tempat rendez vous kalangan tua dan muda. Duduk menikmati segelas ijs lemon tea, sinar matahari musim panas bulan Juli dan lalu-lalang manusia, mobil, trem, bus dan sepeda memberikan kenikmatan tersendiri bagi Albertina, perempuan kurus berkulit pucat dengan wajah Timur Tengah. Siang itu aku menemaninya sambil mendengar curahan hatinya. Begini ceritanya.

    Aku adalah Albertina, lahir sebagai putri bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Kawanua baik-baik. Ayahku seorang pegawai, ambtenaar, yang berkedudukan cukup tinggi di daerah asal kami. Ibuku karena pengaruh lingkungan, sangat ke belanda-belandaan. Saudara-saudaraku yang berjumlah tujuh orang itu semuanya berhasil dalam kehidupannya berkat didikan yang keras dari kedua orang tua kami.

    Tahun 1975 aku diterima oleh Garuda Indonesia Airways (GIA) sebagai pramugari. Waktu itu, untuk menjadi pramugari, persyaratannya cukup berat. Harus bisa berbahasa Inggris dengan baik. Postur tubuh harus seimbang antara tinggi dan berat badan. Harus menarik. Pokoknya sangat berat. Karena memang saat itu pramugari yang dibutuhkan masih sangat kecil jumlahnya. Jadi kami benar-benar pilihan. Aku sangat bangga dan menjadi sombong dengan pekerjaan ini. Tahun pertama hampir seluruh kota besar di Indonesia aku jelajahi. Tahun kedua, kota-kota besar di Asia menjadi tempat persinggahanku. Singapura, Bangkok, Tokyo, adalah kota-kota yang tidak asing bagiku. Sarapan pagi di Jakarta, makan siang di Tokyo.

    Tahun ketiga, kota-kota besar di Eropa menjadi tempat yang tidak asing bagiku. Amsterdam, Frankfurt, Muenchen, Zurich, Roma, Paris, untuk sementara orang hanya sampai taraf memimpikan kota-kota itu, tapi bagiku kota-kota ini biasa aku kunjungi atau singgahi saat kerja maupun sekadar

    berlibur. Saat itu mengoleksi barang-barang porselin Italia menjadi tren di kalangan ibu-ibu yang berduit. Aku memanfaatkan situasi ini, berdagang barang-barang tersebut, jambangan bunga, lampu, meja, cermin rias. Pokoknya beraneka ragam proselin produksi Italia menjadi bagian dari bisnisku sebagai pramugari.

    Kehidupanku menjadi sangat jet set. Terbang kemana-mana. Singgah dimana-mana. Uang melimpah. Pergaulanku cukup luas. Aku memiliki kekasih anak keluarga Jawa yang terpandang. Pada saat itu aku adalah orang yang paling berbahagia. Kami sudah ditunangkan dengan laki-laki Jawa yang sangat aku cintai itu. Apalagi yang kurang dalam kehidupanku? Semuanya terpenuhi. Calon suami dari keluarga terpandang. Pekerjaannya pun bermasa depan yang cerah.

    Tahun 1979 aku menghabiskan liburan tahunan di Amsterdam, Negeri Belanda. Saat itulah bencana menyinggahi kehidupan pribadiku. Malam itu bersama dua temanku sesama pramugari, aku diundang oleh salah satu keluarga dari salah seorang teman itu. Seusai makan malam, kami lanjutkan dengan minum-minum sambil ngobrol. Di tempat inilah aku berkenalan dengan seorang pria Belanda totok, sebut saja Eduard. Laki-laki ini cukup handsome dan memikat. Aku tidak tahu apakah ini hanya pengaruh wine.

    Sejak malam itu dan malam-malam selanjutnya selama berlibur di Amsterdam menjadi malam kami berdua. Aku tidak ingat dan sadar bahwa aku sudah bertunangan. Kami ke Dusseldorf, kota belanja di Jerman. Eduard sangat royal membelanjakan uang bagiku. Dan aku menikmatinya. Apapun yang kuingini langsung dibeli.

    Lanjutan (Bagian 2) Rahasia Sebuah Lemari – Kisah-kisah Kawin Campur yang Tragis.

  • Menanam Bibit Bunga Musim Panas

    Menanam Bibit Bunga Musim Panas

    Menanam Bibit Bunga Musim Panas. Sahabat blogger, kali ini saya akan mengulas mengenai menanam bibit-bibit bunga musim panas. Pada judul ini yang akan saya ulas adalah bibit-bibit yang berupa umbi (bulb). Ulasan mengenai menanam bibit berupa benih akan menyusul kemudian.

    Sebagian besar umbi bibit (bulb) adalah dari tahun sebelumnya. Menjelang musim dingin, semua bunga musim panas saya bongkar, dan umbinya saya bersihkan, keringkan lalu simpan di gudang. Kini bibit-bibit bunga musim panas saya keluarkan kembali dan siap ditanam. Oh ya ada beberapa yang sudah mulai tumbuh loh, sepertinya umbi mengenal perubahan cuaca, masuk musim semi mulai tumbuh sendiri.

    Oh ya sering ada yang menanyakan kepada saya, β€žapakah bulb flower, setelah selesai berbunga, harus dibongkar dan di keringkan umbinya, apakah tidak bisa dibiarkan begitu saja di tanah?β€œ. Sebenarnya bisa saja tanamannya (umbinya) berada dalam tanah (pot), tinggal gunting daun-daun yang telah kering. Berhubung pot-pot saya terbatas jumlahnya, maka ya selesai berbunga saya bongkar semua, untuk tanam bibit-bibit bunga musim berikutnya. Kalau yang punya taman luas, ya biasanya dibiarkan saja umbi-umbi bunganya berada dalam tanah. Jadi dari tahun ketahun akan tumbuh lagi sesuai musimnya, malah beranak pinak.

    Bibit-bibit (bulb) Bunga Musim Panas yang saya tanam, antara lain:

    1. Calla bahasa latinnya Zantedeschia

    Menanam Bibit Bunga Musim Panas. Umbi Bunga Calla aka Zantedeschia. Sebelah Kiri umbi bunga yang Kuning, Kanan umbi bunga yang Merah. Tanam pada 6 Februari 2013
    Umbi Bunga Calla aka Zantedeschia. Sebelah Kiri umbi bunga yang Kuning, Kanan umbi bunga yang Merah. Tanam pada 6 Februari 2013

    Saya menanam 3 macam Calla :

    • Calla berwarna merah. Bunga ini saya dapat dari suami tercinta sebagai kado hari Valentine tahun 2012. Umbinya sudah mulai tumbuh, jadi harus segera ditanam. Bibitnya saya rendam dalam air dulu, untuk merangsang pertumbuhan akar-akarnya.
    Rimpang Bunga Calla aka Zantedeschia. Bunganya akan Berwarna Merah
    Rimpang Bunga Calla aka Zantedeschia. Bunganya akan Berwarna Merah

    Bibitnya saya tanam pada 6 Januari, dan pada 28 Februari sudah tumbuh seperti dibawah ini.

    Tahun lalu bunga Calla merah seperti dibawah ini:

    Kado hari Valentine tahun 2012. Bunga Calla Warna Merah
    Kado hari Valentine tahun 2012. Bunga Calla Warna Merah
    • Calla berwarna kuning

    Bibitnya dari tahun lalu 2012. Bibitnya saya tanam pada 6 Januari 2013, dan mulai tumbuh pada 28 Februari, hingga saat ini daun pertama belum membuka.

    • Calla berwarna kuning dan Pink.

    Bibitnya saya tanam pada 7 April 2013. Bulb ini ukuran 14 cm. Satu kemasan berisi dua bulb, jadi satu akan berwarna kuning dan satu lagi akan berwarna pink. Saya membeli bibitnya bulan lalu. Dua Calla yang lain (sebelumnya) tidak ada keterangan ukurannya.

    Calla bahasa latinnya Zantedeschia. Nantinya akan Berwarna Kuning dan Pink
    Calla bahasa latinnya Zantedeschia. Nantinya akan Berwarna Kuning dan Pink

    2. Bunga Dahlia

    Ada banyak sekali jenis bunga dahlia. Kalau saya ke retail tanaman selalu lapar mata, karena jenis-jenis bunga dahlia cantik-cantik dengan warna bermacam-macam, semua mau dibeli :mrgreen:.

    Yang saya tanam :

    • Dahlia Park Princess umbinya dari tahun lalu, hiks πŸ˜₯ begitu keluarkan dari gudang, ternyata banyak yang busuk. Ya ketika pindahan rumah pada November 2012, saya repot mengurus macam-macam, jadi umbi dahlia ini asal saya masukkan ke plastik berlubang, saya lupa kalau rimpangnya masih basah.

    Untunglah masih ada beberapa umbinya yang keras dan bisa ditanam kembali. Umbinya tidak saya rendam terlalu lama, cukup saya celup-celupkan sebentar ke air dan langsung tanam, karena umbinya sudah basah dan sudah ada yang tumbuh. Umbinya saya tanam pada 21 Februari 2013.

    Yang mau melihat bentuk bunga Dahlia Park Princess saya tahun 2012 klik disini.

    • Schmuck Dahlia

    Setelah umbinya direndam, umbi langsung ditanam pada 2 Maret 2013. Nantinya bunganya akan berwarna kuning.

    • Bunga dahlia (tidak tahu jenisnya)

    Tahun lalu saya mendapat tanamannya dari mama mertua, karena mungkin tahun lalu salah lokasi penanaman, jadi belum muncul bunganya, hanya daun-daunnya saja yang lebat. Bunga Dahlia butuh sinar matahari yang terik, jadi kalau tanam di lokasi yang tidak kena sinar matahari langsung, pertumbuhannya tidak optimal.

    Tanaman Bunga Dahlia diberikan pagar Penyangga supaya berdiri tegak
    Tanaman Bunga Dahlia diberikan pagar Penyangga supaya berdiri tegak

    3. Bunga Lili (Asiatic Lilien)

    Umbinya (4 buah) saya tanam pada 2 Maret 2013. Umbinya direndam dulu 24 jam sebelum penanaman. Selama belum tumbuh, cukup siram seminggu sekali, atau kalau tanahnya benar-benar kering. Penyiraman berlebihan, akan menyebabkan umbinya busuk.

    Tahun lalu saya pernah mencoba menanam umbi bunga Lili, berhubung saya belum tahu mengenai tanaman ini, jadi umbinya busuk semua karena terlalu banyak disiram. Belakangan ini ada beberapa pengunjung blog yang menanyakan bunga Lili, saya jadi tertarik juga mencoba menanam kembali. Kali ini sukses, tinggal tunggu bunganya mekar ;-).

    Pertumbuhan bunga Lili cepat sekali, dalam waktu sebulan bakal bunganya sudah besar, seperti dibawah ini. Saya penasaran kira-kira bunganya akan berwarna apa ya, karena dikemasan ditulis warnanya campuran.

    Bakal Bunga Lili sudah siap Membuka. Penasaran warnanya. Foto 8 April 2013
    Bakal Bunga Lili sudah siap Membuka. Penasaran warnanya. Foto 8 April 2013

    Apakah sahabat blogger mempunyai salah satu bunga seperti yang saya tanam? Sejak kapan kamu menanamnya dan warna apa yang kamu punyai? ;).

    Baca juga: Menanam Bibit Bunga Musim Panas bagian 2

     

    Berkebun-Pursuingmydreams on youtube:

  • Jalan-jalan ke Hutan Yuk Melihat Hal yang Berbeda

    Jalan-jalan ke Hutan Yuk Melihat Hal yang Berbeda

    Jalan-jalan ke Hutan Yuk. Halo pembaca setia blogku, apakah kalian suka jalan-jalan ke hutan atau lebih memilih ke mall? kalau ke hutan enaknya melakukan aktifitas apa ya?. Kalau versi saya sebagai berikut:

    1. Olahraga

    Di Bad Rappenau, kota tempat tinggal saya sebelumnya ada hutan yang namanya Vulpinuswald. Dinamakan begitu karena lokasi hutannya dekat klinik Vulpinus.

    Suami tercinta menunjukkan, kalau di lokasi ini ada alat-alat untuk berolahrga. Seperti dibawah ini:

    2. Lomba Lari dan Jalan Sehat

    Ya sama saja seperti no 1 yakni berolahrga. Bedanya kali ini berolahrga bersama-sama 1300 peserta. Tujuannya untuk amal. Setiap orang yang turut serta akan bernilai sekian Euro yang akan dikumpulkan untuk menolong pengobatan seorang anak. Detail ceritanya klik Jalan Sehat untuk Robin.

    Acara ini berlangsung pada Agustus 2011, sedangkan tahun 2012 hanya suami yang turut serta, karena pada tahun tersebut dua sahabat saya sedang datang ke Jerman, jadi saya ada acara lain dengan kedua sahabat saya πŸ˜‰ .

    Jalan-jalan ke Hutan Yuk
    Walau semalamnya sempat hujan, untungnya lokasi Jalan Sehat tidak becek.

    3. Picknik dan Belajar Bahasa

    Setelah minggu-minggu sebelumnya selalu hujan, akhirnya pada Agustus 2012 kami dari kelas Integrasi bisa juga jalan-jalan ke hutan Vulpius. Di dalam hutan kami latihan untuk ujian akhir, lebih tepatnya melatih kemampuan berbicara. Thanks God kami semua sudah lulus ;).

    β€œWhat we are doing to the forests of the world is but a mirror reflection of what we are doing to ourselves and to one another.”

    ― Mahatma Gandhi

    Salah satu foto pada tulisan ini, saya ikutsertakan pada Turnamen Foto Perjalanan Ronde 18 yang diadakan oleh Regy Kurniawan dengan tema HUTAN. (url/blog sudah tidak aktif . soputan.wordpress.com/2013/04/02/turnamen-foto-perjalanan-ronde-18-hutan update 10.01.2017 )

    Jalan-jalan ke Hutan Yuk! :mrgreen:

error: Content is protected !!