Kisah Kawin Campur yang Berakhir Tragis (Bagian 4)

Kisah Kawin Campur (Bagian 4).

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (5)

Aku Jadi Bank “ATM” Simon

Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

freecodesource.com

Broken Heart

HILVERSUM – Sekitar 30 kilometer dari Amsterdam ke arah tenggara kita akan jumpai kota kecil Hilversum. Kota ini mendapat julukan “Media Stad”-Kota Media, sebab di sini terdapat sekitar 11 studio televisi dan Pusat Siaran Radio Internasional Belanda atau Radio Nederland Wereldomroep. Salah satu bagian dari Radio Nederland Wereldomroep adalah seksi Siaran Bahasa Indonesia yang sudah ada sejak lembaga radio ini didirikan tahun 1947.

Orang Indonesia tidak terlalu banyak di kota ini, tidak seperti di Den Haag atau Amsterdam. Hubungan antar sesama orang Indonesia cukup terpelihara dengan baik. Orang Indonesia saling kenal satu dengan yang lain. Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan Naning, perempuan Indonesia asal Tangerang, ketika kami sedang menawar barang yang sama di pasar loak di Loosdrecht, kota wisata danau tak jauh dari Hilversum.

“Eh, Mbak dari Indonesia ya,” kata Naning. “Ya, ya aku dari Indonesia”, jawabku. “Aduh senang ketemu orang setanah air”, sambung Naning. Dia kemudian memperkenalkan Simon, laki-laki indo berbadan tinggi besar. Pokoknya, pada kesan pertama semua orang akan mengatakan Simon ini laki-laki ganteng.

Dari perkenalan di pasar loak itu, hubungan kekeluargaan kami bersambung. Naning sering datang ke rumahku untuk membantu bila aku mengadakan acara rame-rame. Sebulan sekali dia juga datang untuk menggunting rambutku dan anak-anakku. Menurut Naning, perkenalannya dengan Simon lewat budi baik salah seorang keluarga Simon yang berkunjung ke Indonesia. Selang setahun setelah mereka berhubungan lewat surat, Simon datang ke Indonesia, tepatnya di Tangerang, untuk melamar Naning. Mereka kemudian menikah di Jakarta.

Setelah itu karena harus pindah ke Belanda, Naning menjual salonnya yang selama ini menghidupinya. Naning mengatakan sangat mencintai Simon, walaupun selama perkawinan mereka yang belum satu tahun Naning sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan. Dia pernah ditempeleng oleh Simon dan sering dimaki, dihina dan selalu dipojokkan dengan kalimat-kalimat yang menekan. Simon selalu membanggakan diri dengan mengatakan kalau bukan karena dirinya, Naning tidak dapat ke Belanda untuk mengubah nasib.

Tetapi setelah hampir tiap hari mendapat perlakuan kurang menyenangkan, akhirnya Naning mulai goyah. Rasa cintanya kepada Simon mulai pupus. “Aku sadar sekarang, Mbak, bahwa aku saat ini sudah tidak punya apa-apa lagi. Harga diri dan harta bendaku habis karena ulah laki-laki ini. Aku adalah bank hidup Simon. Aku harus bekerja dan penghasilan seluruhnya harus kuserahkan pada Simon. Sudah kepalang basah, aku harus pintar-pintar membawa diri. Aku coba menunggu hingga tiga tahun tinggal di Belanda sampai izin tinggalku keluar,” kata Naning.

Bisa dibayangkan, penderitaan perempuan ini. Dia bekerja tiga shift dalam satu hari. Jam 08.00-10.00 menjadi petugas cleaning service di sebuah rumah jompo di Laren, kota kecil dekat Hilversum. Jam 11.00-12.00 ia menghabiskan waktu untuk makan siang dimana saja karena tidak sempat pulang ke rumah. Jam 13.00-18.00 Naning berkeliling kota Hilversum dan sekitarnya untuk menjual jasa sebagai penggunting rambut, cream bath, facial, manicure/pedicure kepada pelanggannya yang kebanyakan orang Indonesia. Dalam sehari Naning bisa melayani empat pelanggan.

Usai istirahat makan malam, dia melanjutkan mencari nafkah di sebuah afhal centrum (toko makanan) untuk menggulung lumpia atau risoles. Naning baru bisa pulang ke rumah pada pukul 23.00. Di musim dingin Naning akan lebih menderita lagi. Udara dingin menggigit, atau salju yang turun tebal, bukan alasan bagi Naning untuk tidak bekerja. Bila udara sudah 10 derajat di bawah titik beku, dimana salju dan air sudah berubah menjadi es batu, Naning harus ekstra hati-hati setiap kali berjalan keluar rumah, karena bisa-bisa dia akan meluncur jatuh seperti orang bermain ice skatting.

Naning menguras tenaganya bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk membayar utang mantan istri Simon yang gemar berjudi. Kalau Naning bermalas-malasan, maka tangan Simon akan mendarat di tubuhnya. “Apa kamu sudah lapor polisi?” aku bertanya pada Naning. “Enggak berani, Mbak. Nanti aku disuruh pulang ke Indonesia. Izin tinggalku kan dijamin oleh Simon. Aku baru bisa menjadi warga negara Belanda dua tahun lagi”, jawabnya. Kala itu, seseorang baru boleh mendapat izin tinggal tetap bila sudah tiga tahun tinggal di Belanda. Sedangkan untuk menjadi warga negara Belanda, seseorang harus lima tahun menjadi penduduk tetap Belanda.

 

Kalung Terputus Tiga

Pagi itu, bel rumah kami berbunyi. Pintu dibuka dan Naning berdiri di depan pintu. Matanya sembab. Pipinya biru kehijau-hijau. “Aku sudah tidak tahan, Mbak. Aku harus pergi dari rumah itu. Simon memukul aku lagi. Bank pasku diambil,” tangis Naning pecah sambil memelukku. Di genggaman tangannya ada seuntai kalung yang sudah terputus menjadi tiga. Menurut Naning, pagi itu terjadi “perang”. Simon meminjam bank pas (kartu ATM) milik Naning untuk mengambil uang di bank, namun Naning menyembunyikannya. Simon marah besar. Dia merusak sepeda bekas yang baru saja dibeli Naning. Kursi dan meja makan diobrak-abrik. Naning juga ditampar dan didorong hingga jatuh. Kalung emas di lehernya ditarik Simon hingga putus tiga.

Walaupun sudah mendapat perlakuan demikian, Naning tetap saja tidak mau melapor ke polisi. Dia takut, polisi akan mengirimnya pulang ke Indonesia. Kemudian aku berusaha menemui Simon sekadar untuk memberi nasihat bahwa Naning adalah istrinya yang harus disayangi dan dicintai. Simon menjawab dengan sikap arogan, “Seharusnya Naning bersyukur aku kawini, karena dengan demikian dia bisa tinggal di Belanda”.

Saat itu batinku berontak, aku tidak dapat menerima kaumku diperlakukan demikian. Kasus Naning bak buah simalakama, yaitu menerima siksaan Simon atau harus mau dipulangkan ke Indonesia padahal Naning sudah tidak punya apa-apa lagi. Harta dan harga dirinya telah digadaikan untuk seteguk cinta bagi laki-laki ganteng bernama Simon dan sekadar mencari hidup yang lebih baik di tanah orang.

Aku tak dapat berbuat apa-apa, karena di Belanda hukum dan hak asasi manusia saling berkaitan, tetapi mereka memperlakukan hak seseorang berdasarkan hukum yang berlaku. Dalam kasus Naning, haknya akan dibela, tetapi keputusan hukum, dia harus kembali ke Indonesia. Naning bersikap teguh, apapun yang terjadi tidak mau pulang ke Indonesia.

*****

untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

Advertisements
Advertisements

31 Comments

  1. Friskila Damaris Aquila Silitonga May 2, 2013
  2. Ceritaeka April 19, 2013
  3. komuter April 18, 2013
    • pursuingmydreams April 18, 2013
  4. renny tania April 18, 2013
    • pursuingmydreams April 18, 2013
  5. [email protected] April 18, 2013
    • pursuingmydreams April 18, 2013
  6. ibnu ch April 15, 2013
    • pursuingmydreams April 15, 2013
  7. ninarahmaizar April 15, 2013
    • pursuingmydreams April 15, 2013
  8. h0tchocolate April 15, 2013
  9. cutisyana April 15, 2013
  10. mkstories4life April 15, 2013
    • pursuingmydreams April 15, 2013
  11. Mita Alakadarnya April 15, 2013
  12. danirachmat April 15, 2013
  13. t3ph April 14, 2013
  14. kayka April 14, 2013
  15. nyonyasepatu April 14, 2013
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: