Nastar Keju Lumer yang Saya Buat Bersama Benjamin Saat Usianya 5 Tahun. Ada resep yang bukan hanya soal rasa, tapi juga soal kenangan.
Video nastar keju dibawah saya rekam pada 9 Juni 2019, saat Benjamin masih berusia 5 tahun. Waktu itu dapur kecil kami di Jerman terasa ramai dan hangat, bukan hanya karena oven menyala, tetapi karena ada tangan kecil yang dengan semangat membantu mengaduk adonan.

Nastar keju lembut yang kami buat bersama saat Benjamin masih 5 tahun
Saya masih ingat bagaimana ia begitu serius menuang maizena, lalu tiba-tiba bernyanyi sendiri sambil mengaduk. Adonannya belum tentu rapi, tapi momen kebersamaannya jauh lebih berharga dari sekadar bentuk nastar yang bulat sempurna.
Resep ini sebenarnya saya recook dari Nikmatul Rosidah, salah satu diaspora Indonesia yang sangat terkenal di Hongkong pada masa itu. Banyak ibu-ibu Indonesia di luar negeri mengenal resep nastarnya yang lembut dan lumer. Versi beliau menggunakan selai nanas, sedangkan saya mencoba mengganti isinya dengan keju, karena keluarga saya memang lebih menyukai rasa gurih dibanding manis.
Sejak pertama kali mencoba resep ini, saya beberapa kali bereksperimen. Pernah juga nastarnya melebar di oven karena saya tidak menyangrai tepung. Dari situ saya belajar bahwa detail kecil seperti kelembapan tepung dan kualitas butter sangat memengaruhi hasil akhir.
Bagi saya, resep ini bukan sekadar kue kering untuk Lebaran atau Natal. Ia adalah potongan waktu yang tersimpan. Saat menonton ulang videonya sekarang, yang saya lihat bukan hanya nastar keju yang mengkilap, tetapi juga Benjamin kecil yang begitu antusias membantu di dapur.
Menariknya, setiap menjelang Lebaran maupun Natal, video lama ini selalu kembali ramai. View perlahan naik, notifikasi YouTube muncul lagi. Rasanya sederhana, tapi menghangatkan resep yang direkam bertahun-tahun lalu ternyata masih dicari orang.
Berikut video yang saya rekam saat itu:
Di tahun 2026 ini saya pun memutuskan untuk merapikannya. Saya menambahkan chapter agar lebih mudah diikuti, dan memindahkan cerita panjangnya ke tulisan ini supaya lebih nyaman dibaca.
Setiap musim hari raya memang hanya menambah sedikit penghasilan dari video tersebut. Tidak besar. Namun yang membuat saya bahagia bukanlah angkanya, melainkan kenyataan bahwa resep sederhana dari dapur kecil kami masih menemukan jalannya ke rumah-rumah orang lain
Tulisan Terkini
- Nastar Keju Lumer yang Saya Buat Bersama Benjamin Saat Usianya 5 Tahun
- Baking Soda untuk Cuci Baju: Kenapa Bisa Bikin Gatal? (Pengalaman 2 Tahun Baru Sadar)
- Setiap Hari Minum Energy Drink? Ini Bahayanya untuk Ginjal yang Jarang Diketahui!?
Resep Nastar Keju Lembut dan Lumer
Bahan Adonan
300 g tepung terigu protein rendah
(di Jerman: Weizenmehl Type 405, sangrai 5–10 menit agar lebih stabil dan tidak mudah melebar)50 g maizena / cornstarch
25 g susu bubuk
½ sdt garam
250 g butter (lebih baik butter berkualitas)
50 g gula halus
2 kuning telur
½ sdt vanili
Bahan Isian
Keju potong kotak kecil (jangan gunakan keju parut)
Bahan Olesan
2 kuning telur
Sedikit gula pasir
1 sdt susu cair
Cara Membuat Nastar Keju
Sangrai tepung dengan api kecil selama 5–10 menit, lalu dinginkan.
Kocok butter dan gula halus hingga lembut.
Masukkan kuning telur satu per satu, aduk rata.
Tambahkan vanili dan susu bubuk.
Masukkan maizena dan tepung sedikit demi sedikit hingga adonan lembut dan bisa dibentuk.
Ambil sedikit adonan, pipihkan, isi dengan potongan keju, lalu bulatkan.
Susun di loyang yang sudah dialasi baking paper.
Panggang 10 menit pada suhu 200°C.
Keluarkan, oles dengan campuran kuning telur.
Panggang kembali 20 menit pada suhu 150°C hingga matang dan keemasan.
Bahan Nastar Keju dan Fungsinya
Untuk mendapatkan nastar yang lembut dan lumer di mulut, pemilihan bahan sangat berpengaruh. Saya menggunakan tepung protein rendah, maizena, butter berkualitas, serta kuning telur sebagai pengikat. Kombinasi ini membantu menghasilkan tekstur yang rapuh tetapi tidak mudah hancur.
Butter yang digunakan sebaiknya memiliki aroma yang enak karena rasa butter akan sangat terasa pada kue kering. Maizena ditambahkan untuk membantu adonan menjadi lebih ringan dan tidak keras.
Kenapa Menggunakan Tepung Protein Rendah?
Tepung protein rendah menghasilkan tekstur yang lebih lembut karena kandungan glutennya lebih sedikit. Jika menggunakan tepung protein tinggi, adonan bisa menjadi terlalu elastis dan hasil akhirnya lebih padat.
Di Jerman saya menggunakan Weizenmehl Type 405 yang setara dengan tepung protein rendah di Indonesia. Jenis tepung ini sangat cocok untuk kue kering seperti nastar agar hasilnya tidak keras.
Penyebab Nastar Melebar Saat Dipanggang
Saya pernah mengalami nastar melebar di oven karena tidak menyangrai tepung terlebih dahulu. Tepung yang masih mengandung kelembapan bisa membuat adonan kurang stabil saat butter mulai meleleh.
Dengan menyangrai tepung selama 5–10 menit menggunakan api kecil, kelembapannya berkurang dan adonan lebih kokoh saat dipanggang. Selain itu, suhu oven juga harus sudah benar-benar panas sebelum loyang dimasukkan.
Tips Agar Nastar Tidak Retak dan Tetap Mengkilap
Retakan kecil sebenarnya wajar pada nastar yang sangat lembut. Namun jika retaknya berlebihan, biasanya adonan terlalu kering atau suhu oven terlalu tinggi.
Beberapa tips yang bisa membantu:
– Jangan overmix adonan
– Gunakan butter suhu ruang, tidak terlalu cair
– Panggang dua tahap: suhu lebih tinggi di awal, lalu turunkan
– Oles kuning telur setelah 10 menit pertama agar warna lebih cantik dan tidak pecah
Dengan memperhatikan detail kecil ini, nastar akan tetap bulat rapi, lembut, dan mengkilap.
Baca juga: Serunya Membuat Blueberry Cake Bersama Anak
Pernah Mengalami Nastar Melebar atau Retak?
Saya menulis pengalaman ini bukan karena merasa sudah paling benar, tetapi karena saya sendiri pernah gagal. Pernah melihat nastar melebar di oven, pernah juga melihat permukaannya retak lebih dari yang saya harapkan.
Kadang penyebabnya bukan hal besar, melainkan detail kecil yang luput kita perhatikan rasio butter dan tepung, suhu oven, atau adonan yang terlalu lembek.
Kalau kamu pernah mengalami nastar melebar saat dipanggang, atau justru punya trik sendiri supaya tetap bulat dan mengkilap, saya penasaran dengan ceritamu.
Apakah kamu selalu menyangrai tepung?
Atau justru tidak pernah, tapi hasilnya tetap bagus?
Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar. Siapa tahu cerita kamu bisa membantu pembaca lain yang sedang bereksperimen di dapur menjelang Lebaran atau Natal.
Dan kalau artikel ini terasa “eh iya ya…” atau mengingatkan kamu pada momen masak bersama anak di rumah, silakan bagikan ke teman atau keluarga. Siapa tahu ada yang sedang mencari resep nastar lembut tapi diam-diam takut gagal.
Kalau kamu suka cerita-cerita keseharian, eksperimen kecil di dapur, dan potongan kehidupan kami di Jerman, jangan lupa follow blog ini supaya tidak ketinggalan tulisan berikutnya.
