Category: Jurnal kehamilan

Saya ingin berbagi cerita mengenai kehamilan, baik yang suka maupun yang dukanya. Semoga lebih banyak cerita yang happy 🙂 .

  • Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar. Guten Morgen pembaca setia blogku ini, Cerita Melahirkan Anak Kedua ini adalah lanjutan ceritaku saat melahirkan di Jerman melahirkan Lisa Marie. Sabtu 4 Maret 2017 adalah HPL (Hari Perkiraan Lahir) namun karena saya belum merasakan kontraksi hebat saya menolak saat dokternya menyuruh saya menginap di rs. Hari tersebut dilakukan juga pemeriksan USG (Ultraschall), dokternya bilang berat janinnya sekitar 3,5 kg, kaget dong suami dan saya, karena sebulan sebelumnya berat janin 2,5 kg.

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar
    Didepan Ruang Bersalin. 2 hari setelah due date lahiran. Senyum kecut karena semalaman sudah sakit kontraksi. 6 Maret 2017

     

    Busyet dalam sebulan naik 1 kg, padahal saya makannya biasa saja loh, dan perut saya tidak sebesar saat hamilnya anak pertama dulu, kalau waktu hamilnya Benjamin jalan dan tidur susah karena keberatan perut haha. Yaelah untuk anak kedua bakalan disuruh operasi lagi nih pikir saya. Dokternya sih tidak menyinggung mengenai harus operasi untuk anak kedua ini.

    Senin 6 Maret 2017 dari rumah saya hanya makan sepotong roti dan segelas kopi susu, sama sekali tidak nafsu makan karena sakit kontraksi melulu. Setelah selesai pemeriksaan CTG (Cardiotokographie / Cardiotocography) datanglah 2 bu dokter, yang satu adalah dokter Rusia yang aneh yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya. Dokter satunya lagi adalah dr. Rosmarie beliau yang menghandle saya juga saat mau lahiran anak pertama 2,5 tahun lalu.

    Tulisan Terkini

    Dr. Rosmarie melakukan vaginale Untersuchung Pemeriksaan Vagina/ Pemeriksaan Dalam (VT/Vaginal Toucher) sebel saya kalau pemeriksaan jenis ini tidak nyaman banget! 😥 . Beliau beberapa kali bilang „pantat jangan diangkat, rileks saja“. Bicara mudah dok tapi saya sakit merasakannya kataku dalam hati saja hiks. Bu dokter bilang saya sudah bukaan dua, kaget dong karena sebulan sebelumnya waktu di dokter kandungan pemeriksaan rutin sudah dibilang bukaan dua. Lah sudah HPL dan sakit kontraksi 2 hari masih sama bukaannya saya kira sudah bukaan 5 aja haha. Kalau masih bukaan 2 masih harus nunggu lama dong sampai bukaan penuh (bukaan 10) pikir saya.

    Bu dokter (dr. Rosmarie) bilang bayi saya agak besar juga, dan dia menyarankan saya melahirkan melalui operasi sesar lagi. Iihh sebenarnya 3,5 kg tidak besar kan?, toh banyak ibu yang melahirkan normal dengan berat bayi 4 kg yaa. Kalau ingat waktu mau melahirkan Benjamin dulu, di bilang anakku juga besar sekitar 4 kg, nah pas keluar 3,7 kg, jadi nih untuk anak kedua kita hitung kasar ya bakalan 3,1 atau 3,2 kg kali yaa.

    Saya masih semangat mau lahiran normal, lalu dr. Rosmarie bilang: „ ya boleh aja kalau mau normal tapi kan normal sakit loh prosesnya..“ beliau nakutin kali ya haha. Intinya dr. Rosmarie lebih menyarankan saya lahiran sesar. Kenapa coba?, mungkin yaa karena kalau sesar kan bayarannya lebih mahal dan rs nya ya dapat duit lebih banyak dong dari asuransi haha 😛 .

    Saya mikirnya kalau ibu yang melahirkan sesar akan lebih lama tinggal di rs nya. Kalau tidak ada komplikasi apapun 5 hari, sedangkan lahiran normal nginepnya 3 hari saja, duit lagi dong buat rs kalau pasiennya lebih lama nginap kan? haha. Setelah mikir panjang lebar termasuk dengan bapaknya Benjamin juga, akhirnya saya bilang: „.. ya sudah deh sesar aja lagi yaaa“. Akhirnya saya pilih melahirkan sesar karena sudah 2 hari sakit kontraksi kalau masih harus nunggu sampai bukaan 10 tidak sabar (stres) lagi saya cemen ceritanya 😳 haha .

    Setelah pasti bilang saya mau di sesar, bu dokter nanya kapan terakhir saya makan. Saya bilang sekitar jam 7.30 – 8.00 sarapannya. Persiapan sesar dimulailah, kalau mengingat saat lahiran anak pertama ya bakalan sekitar 5-6 jam lagi operasinya sejak persiapan ini.

    Tahapan/proses yang saya lalui sebelum operasi (sama saja seperti operasi saat lahiran anak pertama dulu) Baca: Cerita Melahirkan Anak Pertama Melalui Operasi Caesar:

    • Dokter menjelaskan mengenai proses operasi sesar, karena saya minta pakai anestesi epidural (PDA) sebagai penghilang rasa sakit maka dokter menjelaskan singkat (pakai gambar), detailnya akan dijelaskan dokter anestesi.
    • Suami dan saya menandatangi beberapa lembar formulir, termasuk ada form yang menyatakan resiko proses operasi yang mungkin saja terjadi.
    • Bagian atas tangan kiri dipasang jarum untuk ambil darah (3 tabung kecil), nantinya jarum ini untuk botol infus juga.
    • Saat dilorong ruang operasi tangan dipasang jarum kedua, jadi ada 2 tabung (infus dan obat).
    • Ke ruangan dokter anesti dijelaskan mengenai anestesi epidural (PDA) . Tidak lama diruang dokter karena kita sudah pernah pengalaman mendengar penjelasan dokter anestesi saat lahiran anak pertama.
    • Pakai baju operas, lepas perhiasan dan jam tangan. Dari rumah saya sudah lepas anting karena sudah pengalaman (tahu) waktu lahirannya anak pertama.

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar. Gambar pemberian anestesi Spinal dan Peridural (PDA)
    Gambar pemberian anestesi Spinal dan Peridural

    Setelah beres dari ruang dokter anestesi, suami dan saya ke bagian kamar bersalin. Saya pakai baju operasi, lepas sepatu juga. Dipasang botol infusnya dengan alasan supaya tubuh saya tetap mendapat cairan karena proses operasinya masih sekitar 4-5 jam an lagi.

    Nyeri (kontraksi) makin sering terasa. Untuk mengatasi nyeri (kontraksi) yang datang saya tekan kedua telapak tangan saya ke meja, hal ini sudah saya lakukan (nemu cara buat diri sendiri) saat dirumah. Pas sudah di kamar bersalin saya disuruh berbaring di tempat tidur, saya tolak dong anjuran bidannya, saya bilang saya mau berdiri saja, soalnya kalau saya berbaring lalu datang kontraksi bagaimana meredakannya? Tidak bisa tekan meja kan haha 😆 .

    Kami disuruh melihat kamar inap tempat saya dan bayiku nantinya, ya kami sambil naruh barang bawaan saya juga. Saya tidak mau berbaring di tempat tidur, jadi suami dan saya jalan kaki dan bidannya mendorong tempat tidur saya ke kamar inap. Suami dan saya balik lagi ke ruang kebidanan, eh ko darah banyak banget turun ke selang infus karena saya tidak angkat tangan saya tinggi. Setelah di cek ulang bidan, selangnya disentil-sentil supaya cairan infusnya cepat turun, saya peganglah tiang gantungan infusnya, supaya tangan saya tetap tinggi sehingga darah tidak turun lagi.

    Bidan menyuruh saya berbaring karena mau cek jantung janin lagi (CTG test), halahh horror deh buat saya, nanti kalau kontraksi datang bagaimana saya meredakan sakitnya?. Beneran kan begitu datang nyeri kontraksi tidak tahan deh sakitt banget!, walau hanya beberapa detik sunggu tidak nyaman!. 2-3 kali bapaknya Benjamin bilang: “siap-siap ya bakalan datang kontraksi lagi nih” dan beneran dong saya tidak tahan ya akhirnya nangis-nangis saja karena tidak bisa menekan meja lagi kan haha buat menekan/meredakan sakit yang datang.

    Suamiku bisa kasih tahu kapan nyeri kontraksi datang karena di alat CTG itu ada informasinya juga mengenai kontraksi. Walau sudah dikasih tahu ya saya belum tahu cara meredakannya selain pasrah dan nangis histeris. 2 hari sebelumnya waktu kontrol pas due date, saya mendengar ada seorang ibu yang dalam proses melahirkan sampai 1 jam teriak-teriaknya saya jadi serem kan haha.

    Waktunya tiba ke ruang operasi ..

    Bidan dan suami mendorong ranjang operasi, kami sekali naik lift, lalu tibalah dilorong ruang operasi. Bapaknya Benjamin disuruh masuk ke kamar ganti pakaian dan disuruh tunggu instruksi selanjutanya sampai dipanggil masuk ke ruang operasi.

    Saya berada di lorong menuju ruang operasi. Oh Tuhan horror sekali saat sakit kontraksi datang!. Entah berapa lama ku harus menunggu jadwalku di lorong ini dan harus bertahan menahan sakit kontraksi pula hiks. Kulihat lumayan banyak petugas/ entah dokter atau perawat yang hilir mudik ke dalam dan ke luar ruang operasi dan juga lewat sampingku. Saya masih ingat ada seorang kakek yang marah-marah entah kakek ini akan dioperasi atau sudah selesai, yang saya dengar hanya dia bilang sakit dan memaki-maki para perawat didekatnya.

    15 menit berlalu, 20 menit, 30 menit gila pikirku lama sekali harus menunggu. Saat menunggu di lorong ruang operasi ini, kontraksi sudah kurasakan tiap 5 menit sekali. Saya melihat jam dinding di depan atas saya dan menghitung kapan kontraksi berikutnya.

    Puji Tuhan akhirnya kutemukan cara mengurangi/menghilangkan rasa sakit kontraksi, yakni dengan mengatur pernafasan. Hirup nafas panjang lalu saya keluarkan cepat dan pendek melalui mulut. Bidan yang disampingku bilang supaya saya keluarkan nafasnya pelan-pelan, ah saya ikuti nasehat beliau malah sakitnya tetap saja, makanya saya lakukan cara saya, saya keluarkan nafas cepat dan pendek-pendek.

    Saya luar biasa senang karena merasa ajaib dengan cara mengatur pernafasan ini sakit kontraksi seketika itu hilang. Oh Tuhan kenapa saya baru tahu cara ini?, kenapa tidak dari dulu cari tahu melalui internet, ah telat deh menyesalnya ..

    Bu bidan dan satu perawat disamping mereka asyik mengobrol sambil menunggu dipanggil ke ruang operasi. Awalnya bu bidan tidak tahu kalau saya sudah kontraksi, pas dia melihat saya melakukan pengaturan pernasafan barulah dia sadar, dan dia agak senewen kalau harus menunggu lebih lama lagi, karena kontraksiku akan semakin pendek durasinya.

    Saya pandangi lagi dan lagi jam dinding. Gilaa sudah 1 jam saya menunggu di lorong ini dan makin gila karena harus berdamai dengan kontraksi yang datang. Saya tahu dari internet kalau kontraksi tiap 5 menit berarti sudah bukaan 6.

    Ah seandainya saya bisa memutar waktu, lebih baik saya pilih lahiran normal saja karena menunggu 5-6 jam ternyata cepat sudah bukaan 6. Nah ini posisi saya sudah merasakan kontraksi yang sakit sekali mau mati rasanya lalu bakalan di belek juga perutku dan pastinya akan merasakan sakit lagi setelah oeprasi hiks dobel sakitnya.

    Setelah 1 jam menunggu akhirnya ranjangku di dorong memasuki ruangan berikutnya. Saya mau dipindah ke ranjang khusus untuk operasi. Bu bidan dan 1 perawat berusaha mengangkat/memindahkan saya. Saya diminta bergeser sedikit-sedikit untuk pindah ranjang.

    Saat kontraksi datang tentu saja saya tidak bisa berbuat apapun selain mengatur pernafasan supaya nyaman, lah ini malah saya disuruh geser-geser badan pindah tempat tidur. Saya sudah lemas dan stres karena kontraksi yang datang.

    Cerita horor dimulai ..

    Setelah dipindah ke ranjang operasi, didoronglah saya ke ruang berikutnya. Akhirnya kulihat lampu ruang operasi. Saya disuruh duduk supaya bisa diberikan suntikan PDA. Saya disuruh rileks. Suntikan pertama gagal, tidak masuk pada tempat yang diinginkan.

    Suntikan diulang kembali. Kedua tanganku rileks lemas kebawah lalu bu bidan merangkulku dengan erat, supaya saya tidak bergerak/kaget saat suntikan diberikan. Cairan sedingin es dioleskan di sekujur punggungku sebelum diberikan suntikan.

    Akhirnya tangis saya pecah karena harus bergumul dengan kontraksi yang datang dan mendengar instruksi perawat. Bagaimana saya bisa melakukan perintah, menjawab pertanyaan mereka saat kontraksi datang?. Gila teriak saya dalam hati, saya bilang „Tunggu dulu!“ karena saya harus mengatur pernasafan untuk meredakan sakit kontraksi ini. Hanya bu bidan yang tahu kondisiku, dan setelah mereka para perawat ini tahu kalau kontraksi saya sudah tiap 5 menit ya mereka prihatin.

    Saat kontraksi datang saya tidak bisa berbuat banyak selain mengatur pernafasan, lah ini malah disuruh ini itu dan ditanya-tanya. Gemes saya mau cakar semua perawatnya! 😡 . Akhirnya suntikan kedua berhasil, PDA nya sudah masuk dan saya berbaring kembali. „Terasa kah ini?“ tanya Seorang perawat yang menyemprot cairan dingin ke lengan kiri dan paha kiriku.. „Iya“ sahutku. Seorang perawat disisi kanan menarik rambut pubis (kemaluan) ku „Terasa tidak?“. „Iyaaa” teriak saya kesakitan. Gila dalam hatiku apa tidak cukup ya disemprot cairan dingin, ko malah menyiksa dengan hal berikutnya?.

    5 menit kemudian diulang kembali perawatnya menyemprotkan cairan dingin ke lengan kiri dan paha kiriku. „Masih Terasa kah ini?“ tanya perawatnya. „Iyaa“ sahutku. Saya disuruh gerakan kedua kaki saya, dan berhasil saya lakukan.

    Para perawatnya mulai hilang kesabaran, sudah ditunggu beberapa lama ko saya masih belum kebal juga, padahal PDA nya tadi sudah berhasil disuntikkan. Rambut pubis ku ditarik kembali untuk kedua kalinya „Terasa tidak?“. Ini saya beneran marah besar, seandainya saya bisa putar waktu ke hari itu, saya tonjok deh orangnya 😡 . Masah tidak cukup disemprot cairan dingin?, toh saya sudah bilang saya masih merasakan, belum kebal. Bu Bidan mencoba menenangkan saya bilang “sudah .. sudah”.

    Mereka para petugas kesehatan ini berunding, aneh nih masah saya belum hilang rasa dari perut hingga kaki. Setelah ditunggu 10 menitan tidak ada perubahan, akhirnya mereka memutuskan saya akan dibius total saja, artinya bapaknya Benjamin tidak perlu masuk ke ruang operasi karena saya akan tidak sadar selama operasi berlangsung jadi tidak dibutuhkan kehadiran suami.

    Saya sempat shock juga karena tidak dikasih waktu berunding atau ketemu suami dulu. „kalau saya tidak bangun/sadar lagi setelah operasi bagaimana dong?“ kataku pada diri sendiri. Saya jadi takut karena belum pernah dibius total bagaimana kalau hal buruk terjadi? hiks 😥 .

    Masker ditempelkan ke wajah saya dan itulah hal terakhir yang saya ingat ..

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • 5 Hal Mengenai Melahirkan di Jerman

    5 Hal Mengenai Melahirkan di Jerman

    5 Hal Mengenai Melahirkan di Jerman . Halo pembaca setia, atau mungkin tepatnya tulisan ini untuk para ibu hamil ya 🙂 . Saya mau cerita mengenai hamil dan melahirkan di Jerman, berhubung baru kepikiran 5 hal ini hasil baca beberapa web/blog mungkin nantinya akan ada kelanjutannya lagi kalau banyak yang perlu ditambahkan 😀 .

    1. Alat Tes Kehamilan di Jerman

    Kalau kamu merasakan tidak enak badan, sering mengantuk atau mudah lelah, dan berbagai tanda lainnya yang mengarah “mungkin hamil ya?” (schwanger) daripada langsung pergi ke dokter dan ternyata tidak hamil, lebih baik mengetes sendiri dahulu menggunakan alat tes kehamilan (Schwangerschaftstest). Lagipula di Jerman sini kalau mau ke dokter harus buat janji dulu, pas ditelp pun ditanyain apakah sudah cek pakai alat tes kehamilan dan hasilnya positif?, lalu dijawab suamiku, “ngapain telp mau bikin janji kalau belum tes dulu sendiri ..” haha. Alat tes kehamilan bisa dibeli di apotek (pharmacy), di Rossman atau DM, kalau di supermarket umum tidak selalu tersedia alat tersebut.

    2. Mengunjungi dokter kandungan

    Setelah melakukan tes sendiri dan ternyata positif hamil (horee 🙂 ) saatnya membuat janji dengan dokter kandungan alias Frauenarzt. Biasanya kamu disuruh menunggu sampai delapan minggu setelah pembuahan (conception) untuk datang ke pemeriksaan pertama. Pada kunjungan pertama ke dokter kandungan adalah untuk mengkonfirmasi kehamilan dengan pemeriksaan vagina dan pemindaian transvaginal (transvaginal scan).

    Ibu hamil akan disuruh lepas pakaian bagian bawah sampai celana dalam, jadi polos naik ke bangku pemeriksaan, kedua kaki ditaruh ditempat tersedia dan posisi mengangkang lebar. Kalau baru pertama kali hamil dan mengalami pemeriksaan tersebut rasanya aneh dan benar-benar tidak nyaman. Saya masih ingat saat itu, sakit waktu ibu dokter mengecek dengan cara memasukkan jarinya ke alat kelamin saya dan kemudian alat transvaginal scan.

    Setelah pemeriksaan dan benar hamil, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, misal umur ibu, apa ada alergi, riwayat penyakit keluarga dll. Ibu dokter akan meresepkan tablet Folsäure (folic acid) untuk dikonsumsi setiap hari.

    Setelah pemeriksaan pertama, akan diberikan jadwal untuk pemeriksaan berikutnya setiap bulan hingga minggu ke 32. Saat kandungan usia 32 minggu pemeriksaan menjadi setiap 2 minggu sekali. Saat sudah hamil tua, pemeriksaan jadi seminggu sekali atau 2-3 hari sekali.

    Fyi di praktek dokter kandungan (Frauenarzt) kalau tidak ada ruang ganti/lepas pakaian atau pojokan berhodeng tidak kalian lihat atau sudah ditanya tidak ada di ruang dokternya jangan heran ya katanya sih di beberapa praktek dokter di Jerman sini tidak ada ruang gantinya hehe, jadi lepas celana di pojokan saja. Untungnya di dokter kandungan saya ada ruang gantinya.

    Cerita mengenai pemeriksaan di dokter pernah sudah pernah saya posting silakan baca Pemeriksaan di Dokter kandungan .

    Tulisan Terkini

    3. Der Mutterpass teman terbaik

    Bagian dokumen paling penting selama kehamilan adalah Mutterpass (buku paspor ibu). Buku penting ini diberikan oleh dokter kandungan saat pemeriksaan pertama (usia kandungan sekitar 10-12 minggu). Didalam buku tersebut tercatat riwayat medis ibu hamil, riwayat kesehatan, berbagai tes yang dijalani dll.

    Mutterpass harus selalu dibawa saat ibu hamil bepergian keluar rumah. Kalau terjadi hal tidak diinginkan (misal kecelakaan atau lahir prematur), dengan adanya dokumen (Mutterpass) memungkinkan ibu hamil bisa melahirkan disetiap fasilitas kesehatan di Jerman. Mutterpass nya bisa dipakai untuk 2 kali kehamilan. Semua data penting ibu hamil tercatat didalamnya..

    4. Hebammen (Bidan)
    Nah yang satu ini yang sayang sekali saya tidak tahu. Setelah melahirkan ada bidan yang bertugas mengunjungi ibu dan si bayi kerumah. Selama 8 minggu bidan akan membimbing ibu, memberitahukan banyak hal mengenai bayi dan perawatannya, termasuk tentunya kalau si ibu ada keluhan tertentu bidan akan siap membantu.

    Saya kira kalau bidan ke rumah kita bakal bayar sendiri, sudah kuatir aja pasti mahal hehe 😀 . Padahal waktu di rumah sakit bu bidannya sudah kasih kartu nama, dia bilang telp dia kalau butuh sesuatu. Berhubung ada mama saya yang datang dan tinggal 3 bulan di Jerman, jadi saya pikir tidak membutuhkan bidan. Kalau tahu bidannya akan ditanggung asuransi pasti saya akan panggil dong . Soalnya waktu itu asi saya minim banget beneran butuh pencerahan bu bidan. Ah nasi sudah menjadi bubur. Semoga nanti pas anak kedua lahir, saya akan panggil bidannya ke rumah. Btw bidan saya waktu itu bisa bahasa Indonesia loh! lancar banget 😉 .

    Selain membantu setelah melahirkan, bidan akan membantu ibu hamil sejak kandungan usia 35 minggu. Asuransi kesehatan menanggung 12 sesi kunjungan bidan dan hingga bayi usia 8 minggu. Kalau melahirkan saat musim panas ketersediaan tenga bidan terbatas, kemungkinan juga bidannya mengambil libur musim panas, jadi harus di booking jauh-jauh hari. Ada ibu hamil yang sudah booking bidannya saat kandungan usia 20 minggu. Ketersediaan bidan bisa ditanyakan juga di rumah sakit tempat si ibu akan melahirkan. Kalau mau cari online misal di http://www.hebammensuche.de tapi di web tersebut tidak ada untuk wilayah tempat tinggal saya 🙁 . Bagi yang tinggal di Berlin bisa cari bidannya di https://www.berliner-hebammenverband.de

    5. Rumah sakit Bersalin
    Saya melahirkan anak pertama di rumah sakit GRN-Klinik Sinsheim. Lokasinya hanya 5 menit dengan naik mobil dari rumah, makanya sehari sebelum operasi sesar disuruh pulang dulu hehe. Satu ruangan ada 2 ibu, kalau sedang ramai bisa saja satu kamar 3 ibu, agak risih sih kalau berbagi kamar begini apalagi tidak ada hordeng pemisahnya.

    2 hari terakhir hanya Benjamin dan saya di kamar tersebut, serasa kamar vip. Bebas bisa leluasa potret-potret 🙂 .

    Kamar khusus (ruang keluarga) yang bisa khusus satu ibu hamil kalau tidak salah hanya ada 2 kamar. Kamar tersebut khusus untuk kondisi tertentu misal ibu yang melahirkan prematur, anak atau ibunya nya bermasalah atau butuh penangangan khusus. Di kamar tersebut suami bisa bermalam, jadi ada 2 tempat tidur dewasa.

    Ibu dan bayi tidur satu ruangan, tidak boleh ada anggota keluarga lain yang ikut menginap. Pengunjung harus patuh jam besuknya.

    Waktu lahirannya Benjamin kita menginap 5 hari di rs. Bosan sekali karena saya tidak bisa internetan, tv posisinya jauh dari saya. Saya minta pulang lebih awal tidak dikasih karena kalau operasi sesar minimal harus 5 hari perawatannya, sedangkan yang lahiran normal dalam 2 hari sudah boleh pulang.

    Kalau biasanya makanan rumah sakit tidak enak kan ya, nah di rumah sakit ini makanannya enakk semua haha. Sarapan saya bisa nambah beberapa kali, makan siang dan malam akan ditanyain ke kita maunya apa, akan ada petugas khusus yang datang hari sebelumnya untuk bilang ada 2 atau 3 pilihan menu makanan.

    5 Hal Mengenai Melahirkan di Jerman. Menu sarapan di rumah sakit bersalin kota tempat tinggalku. Saya nambah melulu sampai kenyang haha.
    Menu sarapan di rumah sakit bersalin kota tempat tinggalku. Saya nambah melulu sampai kenyang haha.
    Salah satu menu makan siang di rumah sakit bersalin kota tempat tinggalku. Enakk semua menunya tiap hari. Sayang tidak bisa minta nambah hehe
    Salah satu menu makan siang di rumah sakit bersalin kota tempat tinggalku. Enakk semua menunya tiap hari. Sayang tidak bisa minta nambah hehe

    Semua biaya rumah sakit ditanggung asuransi, kita hanya datang bawa badan dan barang kebutuhan pribadi. Baju dan perlengkapan untuk bayipun sudah disediakan di kamar inap.

    Harapan saya nanti saat lahiran anak kedua bulan Maret 2017 bisa lahir normal supaya bisa cepat pulang dan tentunya cepat pulih dari sakit bersalinnya. Entahlah apakah dokter kandungannya akan mengizinkan saya lahiran normal. Kalau pas Benjamin di bilang bayinya bakalan besar karena suami saya tinggi besar dan saya orang asia kecil.

    Dikuatirkan bayi susah keluar atau nyangkut dsbnya makanya disuruh sesar. Saya pernah nonton tv, di Jerman sini kalau ibu hamil bisa lahiran normal, minta sesar juga tidak akan dikasih, padahal kan ada ibu tertentu yang takut operasi ya 😀 . Berat Benjamin kala itu 3,7 kg . Dokter yang mengoperasi bilang lehernya Benjamin terlilit tali pusarnya, benar atau tidak saya kan tidak boleh lihat proses operasinya. Saya tetap sadar hanya bius lokal 🙂 .

    Video Hamil Melahirkan dan Membesarkan anak di Jerman

     

    Demikianlah cerita saya mengenai 5 Hal Mengenai Melahirkan di Jerman. Kalau kamu baru pertama kali berkunjung ke blog saya dan suka tulisan ini silakan subscribe follow blog saya, supaya tidak ketinggalan postingan cerita dari Jerman berikutnya, kolom berlangganan mengikuti blog ada dibagian kanan atas postingan.

     

    Sumber:
    having a baby in germany prenatal care

    Baca juga:
    Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1 – 3
    Jurnal Kehamilan (Screening Test / Amniocentesis )
    Jurnal kehamilan (Pemeriksaan di Dokter di Jerman)
    Peran Ayah Dalam Keseharian Bayi
    Pentingnya Pemeriksaan Pasca Melahirkan

  • Cerita Trimester Kedua Kehamilan Anak Kedua

    Cerita Trimester Kedua Kehamilan Anak Kedua

    Cerita Trimester Kedua Kehamilan Anak Kedua . Selamat hari Sabtu pembaca setia, saya ingin berbagi cerita mengenai kehamilan saya. Trimester pertama kehamilan sudah lulus saya lalui, lanjut tahap berikutnya 🙂 . Yang saya rasakan/alami pada saat trimester kedua kehamilan antara lain:

    • Badan rasanya remuk (seperti encok haha 😀 ). Mulai perut ke bawah sakit semua. Tablet Magnesium (Mg) tidak saya konsumsi lagi karena setelah lewat 3 bulan kehamilan badan rasanya enak. Nah pada masa akhir trimester 2 ko jadi datang lagi rasa pegel (nyeri) tersebut.

    • Ganti posisi tidur miring kanan ke kiri dan sebaliknya rasanya sakit sekali, padahal perut tidak besar, cuma pegel banget rasanya.

    Saat pemeriksaan rutin kehamilan ibu dokter menanyakan apakah saya punya keluhan tertentu? saya bilang keluhan saya hanya satu rasa sakit (nyeri) mulai perut kebawah. Bu dokter nanya apa beliau pernah kasih resep tablet Magnesium. Oalah kenapa saya tidak rutin makan Mg nya yaa, jadi pas badan sudah enak saya tidak pernah makan lagi tablet Mg tersebut, pas dirasa pegel baru mau tidur malam saya makan tabletnya.

    Bu dokter bilang makan tiap hari pagi 2 tablet malam 1, kalau apoteknya nulis aturan konsumsinya pagi 2 tablet malam 2 tablet. Saya jadi nebus resepnya lagi ke apotek. Mengenai sakit bagian bawah perut ini normal ko, karena janin semakin membesar dan perut akan ikutan membesar juga. Silakan baca sakit bagian bawah perut saat kehamilan – ligament pain in pregnancy.

    • Tendangan janin baru saya rasakan saat usia 20 minggu, karena kamarnya si janin besar kali ya jadi dia leluasa bergerak tanpa saya rasakan gerakannya. Kalau waktu hamilnya Benjamin saya rasakan gerakannya saat usia kandungan 18 minggu. Setelah gerakan janin saya rasakan, ya sama seperti pengalaman hamil pertama aktif sekali gerakan janinnya saya rasakan, malah tengah malam saat saya tidurpun janinnya masih aktif saja bergerak .

    • Kadang-kadang mata kering.

    • Rambut rontok ya masih aja, waktu hamilnya Benjamin rambut saya bagus sama sekali tidak rontok sejak awal hingga akhir kehamilan. Selesai lahiran rontok lagi haha. Tapii masa akhir semester 2 anak kedua ini rambut rontoknya berkurang sih. Jenis kelamin anak kedua saya adalah perempuan 🙂 .

    • Pinggang kanan kiri terkadang gatal sekali, saya berusaha tidak garuk supaya tidak menimbulkan bekas yang membuat kulit jadi jelek 😀 . Paling saya usap-usap cepat, kasih minyak kayu putih atau vicks vaporub. Gatal begini kalau tidak sering wajar ko karena perut ibu hamil semakin membesar. Saat mandi kalau masih dirasa gatal, shower saya bikin panas banget lalu saya arahkan hanya ke bagian pinggang, air yang turun ke jari-jari kaki tidak tahan panas banget haha, tapi jadi enak buat ke tempat rasa gatalnya.

    • Nafsu makan normal masih saat seperti tidak hamil. Makan malam berusaha saya kurangi, kalau bisa makan sayur dan buah saja. Saya tidak mau janinnya nanti jadi berat sekali yang membuat dokternya nyuruh saya harus operasi lagi seperti saat lahiran Benjamin.

    Baca juga: Cerita Melahirkan Anak Pertama Melalui Operasi Caesar

    Pas cek ke dokter di akhir trimester 2 ini berat badan saya turun setengah kilo, sama suster dibilang jangan turun lagi ya 😀 . Artinya saya bisa lebih banyak makan yang enak-enak lagi dong ya seperti es krim hehe. Saya buka buku pemeriksaan wah ternyata saya hanya naik 3,2 kg dari awal kehamilan hingga akhir trimester 2 ini, kalau dibandingkan dengan anak pertama, pas hamilnya Benjamin akhir trimester 2 berat badan saya sudah naik 6 kg. Biasanya trimester 3 berat badan akan naik banyak kan ya, tapi ko kalau saya hitung 3-4 bulan lagi kalau tiap bulan naik 1 kg berarti total naik berat badan tidak sampai 10 kg dong.

    Kecapean?, ya hamil kedua dan pertama menurut saya lebih cape yang kedua lah. Saat hamil anak pertama rasanya saya santai-santai saja malah banyak waktu berkebun kala itu, nah hamil kedua ini saya kan harus urus si bos kecil jagoanku, kita keluar rumah (jalan-jalan) setiap hari. Terkadang anaknya tidur di bus saya gendong ke rumah (jaraknya dekat ko dari halte ke rumah paling 2-3 menit), belum lagi kalau saya pergi belanja, ya gendong Ben yang tidur sekaligus bawa belanjaan ke rumah. Tenang saja saya tahu kondisi/kemampuan saya dengan hanya beli kebutuhan yang sangat penting buat hari itu atau keesokan harinya. Saya tidak bisa lihat rumah berantakan, jadi ada hari saya bebersih rumah, ada hari buat nyetrika, dan tetek bengek kerjaan rumah tangga lainnya, jadi kalau disuruh jangan cape-cape ya siapa yang mau gantiin tugas saya haha.

    • Pas cek ke dokter akhir trimester 2 ini bu dokter bilang kadar zat besi saya turun, ya saya bilang tabletnya memang sudah 2 bulan habis dan saya tidak beli lagi. Saya cari tahu di internet katanya yang paling penting 3 bulan pertama kehamilan zat besi diperlukan. Bu dokter suruh saya makan lagi tabletnya, jadi saya nurut aja 😀 lalu saya browsing ulang eh nemu artikel ternyata zat besi yang cukup diperlukan sampai masa kehamilan selesai.

    • Biasanya kalau akhir musim gugur dan winter saya pasti kedinginan walaupun dalam rumah, biar sudah pakai baju tebal dan kaos kaki wol tetap loh merasa dingin (suhu ruangan 20-21 derajat C). Nah karena hamil saya merasa nyaman saja. Baju masih pakai tangan pendek melulu, kaos kaki pakai yang tipis. Jendela rumah sering saya buka, kan tambah dingin ya, enaklah buat saya 😀 . Bapaknya Ben komplain dingin banget katanya, padahal sayanya ya malah tambah nyaman kalau jendela pada dibuka. Ibu hamil memang selalu merasa panas, makanya pas summer tuh saya tersiksa deh 😀 .

    Baby bump akhir trimester kedua (6 bulan), karena di close up jadi keliatan gede, padahal aslinya kecil perutnya

    • Kadang kalau ke dokter kandungan saya kesal banget deh, seperti yang terakhir kali ini, saya nunggu 100 menitan dari jadwal saya (sering lihat jam sambil ngomel dalam hati). Saya sampai 2 kali berdiri dekat meja resepsionis supaya petugasnya sadar kalau saya ada disitu sudah lamaa mengantri. Termasuk karena Benjamin nambah kesal saya haha jadi saya ngacam mau pulang kalau Benjaminnya tidak duduk manis makanya saya berdiri dekat meja resepsionis. Awalnya Benjamin tuh anteng aja main tapi kadang main yang bikin saya senewen. Mulai main mobil-mobilan yang kita bawa dari rumah, buka buku-buku cerita yang ada diruang tunggu, ada mainan anak di ruang tunggu juga sayang cuma satu.

    Awalnya saya larang si Ben berdiri di bangku kayu anak (takut jatuh), akhirnya saya biarin aja karena anak kecil aja bete ya nunggu lama, saya juga kesal, lalu si bocah jadi tidur-tiduran di sofa panjang, saya suruh duduk tidak mau, padahal bangku hampir terisi semua karena makin banyak orang yang datang. Rasa kesal sudah sampai ke ubun-ubun.

    Ngapain dikasih jadwal jam nya kalau nyatanya disuruh nunggu lama. Harusnya kalau ada pasien yang punya private asuransi (private krankenversicherung) ya jangan banyak dong dibikin hari yang sama. Pasien yang punya asuransi jenis ini langsung diduluanin masuk. Saya hampir marah nanya apa nama saya kelewat, kalau masih harus nunggu lama mending saya datang lain hari saja deh! . Pemeriksaan ke dokter kandungan ini tidak hanya untuk ibu hamil pokoknya para wanita dengan berbagai macam keperluan lah datang kesana.

    Puji Tuhan akhirnya pas saya berdiri dekat resepsionis untuk kesekian kalinya, nama saya di panggil, langsung saya hardik Benjamin yang lagi ngangguin anak perempuan “ayoo sayang kita sudah dipanggil tuh!”. Benjamin langsung lari ke ruang dokter dan duduk di pojokan tempat mainan gelindingan yang versi kecil berada. Dirumah kita ada mainan ini ukuran yang besarnya.

    Saya ke ruang pemeriksaan, Benjamin main sendiri sampai saya selesai. Diperiksa dokternya cepat tidak sampai 15 menitan kecuali kalau cek usg agak lama. Pemeriksaan berikutnya pertengahan Januari 2017 bapaknya Benjamin bakalan ikut. Saya minta jadwal yang sore karena kesal (bete) hari itu menunggu lama jadi saya minta sore hari saja.

    Pregnancy Calendar trimester 2. 2016-11-30
    Pregnancy Calendar trimester 2. 2016-11-30

    klik Follow my blog with Bloglovin

    Follow

    Sumber:

    Kebutuhan Magnesium saat kehamilan
    Gatal selama kehamilan
    My hair is falling out. Is this normal?
    Abdominal pain in pregnancy
    Kebutuhan zat besi saat hamil
    pregnancy symptoms you should never ignore
    Fetal development week by week

  • Cerita Trimester Pertama Hamil Anak Kedua

    Cerita Trimester Pertama Hamil Anak Kedua

    Tidak direncanakan

    bukan berarti suatu kesalahan.

    Namun artinya kehidupan tahu

    apa yang saya butuhkan sebelum saya melakukannya!

    haha

    😀 😀 😛

     

    Jadi saudara-saudara pembaca setia blogku, ceritanya saat ini saya sedang hamil anak kedua. Seperti quote diatas kehamilan kedua ini tidak kami rencanakan, kepikiran juga tidak. Maunya saya saat Benjamin masuk tk lah baru datang nih calon adiknya 😛 . Apa mau dikata sudah terlanjur yaa dinikmati sajalah apa yang akan terjadi didepan. Harapannya ya semuanya membahagiakan suami, jagoanku Benjamin dan saya tentunya.

    Saya ingin cerita pengalaman hamil trimester pertama dulu ya (saat ini masuk trimester kedua). Semoga tidak malas update trimester berikutnya. Saat mengandung anak pertama dulu saya buat hanya satu postingan pengalaman kehamilan trimester satu sampai tiga langsung diborong di satu postingan 😀 . Nah anak kedua niatnya saya mau buat cerita per trimester.

    Tanda-tanda kehamilan yang saya rasakan:

    • Merasa ada yang aneh, datang bulan terakhir 28 mei sampai 1 Juni 2016. Ko bra naik-naik melulu. Badan sering merasa hangat sekali (gerah), ya biasalah mau datang bulan juga sama cirinya seperti ini kan.

    • Tanggal 1 Juli belum datang bulan juga, tanggal 2 Juli belum juga. Ah biasalah lewat seminggu bahkan dua minggu an juga pernah ko gumam saya dalam hati (telat jauh begini paling terjadi sekali dalam setahun). Saya termasuk yang teratur datang bulannya, karena saya selalu catat.

    Karena feeling tidak enak (ko merasa hamil) jadi saya ceklah pakai alat test kehamilan. Tahu tidak saya sangat mengharapkan semoga satu garis (beneran ngarep.com haha parahh 😛 ) karena saya merasa belum siap menghadapi pola tingkah anak kecil lagi, termasuk benci sekali merasakan sakit selama 3 minggu pasca operasi sesar.

    Baca juga: Cerita Melahirkan Anak Pertama Melalui Operasi Caesar

    Eh ternyata dua garis hasil test nya. Hari itu 2 Juli saya tes sendiri, kalau langsung telp dokter pasti disuruh tes sendiri dulu. Bapaknya Benjamin pulang kerja (dia tugas malam, dari jam 20 sampai 8 pagi) saya bilang “ada hadiah ultah tambahan untukmu, lihat di kamar mandi deh ” (ultah suami 1 Juli) . Datanglah dia menghampiri saya yang sedang asyik didepan komputer sambil membawa sisir hahaha. Saya bilang: “cari yang bener dong kadonya!” 😆 .

    Akhirnya dia membawa hasil tes kehamilan tersebut sambil senyum-senyum. Saya sih tidak bersemangat seharian itu :/ . Ibu macam apa coba saya ini haha, namun bapaknya Benjamin senang-senang aja mengetahui kehamilan saya tersebut 😀 .

    Pas sudah tahu kalau saya hamil, teringat hari sebelumnya yakni 1 Juli pas ultah suami saya bantu gotong kereta dorong nya Ben yang berat banget. Kami naik kereta ke talmarkt (semacam prj/pasar malam) bersama mama mertua dan suaminya. Nah dari stasiun keberangkatan eh liftnya rusak dan di kota tujuan tidak ada lift nya, jadilah suami dan saya gotong tuh stroller Ben. Saya minta berhenti lebih dari sekali karena beratnya stroller tersebut.

    • Trisemester 1 ini kalau tidur ke arah kanan saya tidak bisa nafas, kedua lubang hidup ketutup. Nafas dari mulut? sungguh tidak nyaman 😥 . Saat musim panas Benjamin bisa 3 hari berturut-turut tidur sama saya karena kamar dia panas. Nah si Ben selalu minta digaruk-garuk punggungnya. 10 menit belum tidur juga ya saya pegel tangan dong lalu saya putar badan ke kiri supaya nyaman tidur.

    Kalau Benjamin belum tidur pulas, dia duduk lalu taruh telapak tangannya di wajah saya dan minta putar posisi saya ke hadapan dia 🙁 . Okelah lanjut disuruh garuk menggaruk bos kecil haha. Saya usap-usap kepala dia, eh dia tarik tangan saya suruh garuk punggung. Puas di punggung di tarik tangan saya disuruh pindah garuk kaki belakangnya (belakang dengkul), ya mau-maunya bos kecil ini suruh saya garuk dimana dia suka haha. Salah satu cobaan terberat hamil trimester 1 adalah posisi tidur ini maunya ke kiri disuruh Benjamin ke kanan. Padahal bapaknya disebelah dia, tapi Benjamin lebih suka urusan garuk menggaruk ini dilakukan oleh saya 😆 .

    Puji Tuhan musim gugur akhirnya bulan September datang juga. Cuaca sudah mulai dingin Benjamin akhirnya tidur teratur lagi dikamarnya dan saya seperti biasa mendapatkan tidur nyaman saya <3 .

    USG pemeriksaan kedua kali saat usia kehamilan 11 minggu. Janinnya sudah terlihat bentuknya yaa. Sayangnya alat USG di dokter ini tidak jelas. 18 Agustus 2016.
    USG pemeriksaan kedua kali saat usia kehamilan 11 minggu. Janinnya sudah terlihat bentuknya yaa. Sayangnya alat USG di dokter ini tidak jelas. 18 Agustus 2016.

     

    • Perut bagian kanan bawah sering terasa sakit. Awalnya saya kira janin posisinya disitu loh hehe. Ternyata janinnya di bagian atas perut ibu ko. Saya terkadang angkat yang berat-berat atau kerja terlalu berat dan terlalu lama. Bisa juga saat saya menggendong Benjamin bisa membuat badan jadi terasa linu keesokan harinya. Saat pemeriksaan rutin bulanan ke dokter kandungan saya ceritakan keluhan saya ini dan bu dokter memberikan resep tablet magnesium yang dimakan dua kali dalam sehari. Untungnya mujarab tabletnya nyeri perut bawah hilanglah, tentunya saya harus juga mengurangi kegiatan angkat mengangkat yang berat.

    • Kalau lagi hamilnya Benjamin rambut saya tidak rontok sama sekali, nah pada kehamilan kedua ini rambut rontok parahnya jalan terus (tidak hamil rontok, hamilpun rambut rontok 😥 ) apakah ini tanda kalau anak kedua bakalan cewe? tidak tahu juga sih, tapi saya ko pengennya dapat anak cowo lagi hehe 😀 tapi yang kedua kalau ingat anak cowo tidak ada capenya bisa main/beraktifitas 9 jam tanpa henti saya ko jadi takut juga haha bisa K.O sebelum jam tidur saya kan.

    • Nafas terasa pendek, harus tarik nafas yang panjang supaya lega. Karena nafas pendek ini dada terasa tidak enak.

    Tidak nafsu makan. Makan ya tetap makan teratur, tapi tidak ada rasa nikmatnya sama sekali. Saya tidak mau membayangkan aneka masakan Indonesia kuatirnya kepengen bahaya kan haha. Nah pada trismester 1 ini yang rasanya makan tuh nikmat sampai ke ubun-ubun serasa menikmati surganya dunia bisa dihitung dengan jari:

    1. Saat saya makan nasi dan ikan goreng beserta pakai sayur. 5 tahun di Jerman pertama kali nih beli ikan segar haha. Sebenarnya banyak ikan di supermarket besar, karena dalam bahasa Jerman dan kebanyakan bentuk fillet ya saya tidak tahu ikan apa itu dalam bahasa Indonesia kalau hanya lihat daging filletnya saja. Kuatir asal beli dan tidak tahu mengolahnya kan sayang duitnya. Ikan di Jerman harganya 3x lipat harga daging, disini daging harganya murah dan ada 1001 macam. Ikan yang saya beli mirip ikan bawal, lalu beli cumi, dan ikan makrel.

    2. Selain makan ikan yang nikmat lainnya adalah makan bakso. Baksonya beli jadi secara online sama temannya teman di Jerman sini, yang bikin orang Indonesia. Daripada beli bakso saja beli keripik singkong pedas dan nastar juga. Kuah bakso cari resepnya dari internet. Mie nya ada beli dari toko asia.

    3. Nikmat ketiga kali adalah saat makan buffet di restoran china bersama teman Indonesia. Untung ada temanku Iluh yang mau ku ajak karena bapaknya Benjamin paling anti diajak ke chinese restoran hehe 😀 padahal menunya enakk semuanya .

    Tanda kehamilan trimester pertama ini lainnya adalah “ngantuk parah”. Normalnya setelah makan siang mengantuk ya. Nah kalau saya setelah sarapan ngantuk, habis makan siang ngantuk, makan malam ngantuk, ngemil agak banyak juga ngantuk haha 😆 . Cobaan terberat saya setelah posisi tidur, ya si “kantuk ini” .

    Musim panas Benjamin jarang bisa tidur siang, padahal saya sering ngantuk berat, jagoanku maunya main melulu dan sering saya diminta ikut bersama dia main ya sudahlah berat sekali cobaanku hehe.

    • Emosi jiwa naik turun, kadang pengen marah namun ada saatnya saya ko sedih. Apalagi saat musim panas emosi cepat naik cepat marah saya. Emosi sama si Benjamin karena berbagai tingkahnya yang sering saya tidak bisa terima. Namun ada saatnya saya melow banget kalau Benjamin peluk saya dan minta maaf.

    Gaya minta maaf Benjamin dia suruh saya berjongkok/berlutut supaya posisi kita sama tinggi, lalu dia peluk dan cium-cium saya. Sayapun harus peluk Ben juga itu tandanya kalau saya terima permintaan maaf Ben, kalau saya tidak balas peluk Ben belum puas dia, maka dia tarik kedua tangan saya dan suruh peluk dia <3 . Eh belum 5 menit minta maaf dia bikin ulah lagi huahaha dasar bocah! 😆 . Musim panas adalah musim terberat dan kesabaran saya harus sepanjang kereta api dan seluas samudra 🙂 .

    Kalau saya bandingkan pengalaman hamil pertama trimester pertama pas Benjamin dahulu beda sekali dengan yang kehamilan kedua ini. Apa yang saya rasakan dahulu tidak saya rasakan saat kehamilan kedua ini. Oh iya sebelum pemeriksaan pertama kali ke dokter saya berdoa dan berharap semoga tidak anak kembar ya. Satu anak aja sudah setengah mampus ngurusnya apalagi kembar. Pas cek ke dokter Puji Tuhan dibilang satu janin, beneran plong deh perasaan ini 🙂 .

    Baca juga: Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1 – 3 anak pertama

     

    Sama seperti kehamilan pertama, pada kehamilan yang kedua ini saya tidak mengenal apa itu ngidam dan mual-mual, Puji Tuhan! 🙂 .

    Sampai disini dulu cerita pengalaman kehamilan trimester 1, sampai jumpa di cerita lanjutannya ya.

    Pregnancy Calendar anak kedua. Bikin screenshootnya aja supaya pas dengan tanggal ketika postingan dibuat
    Pregnancy Calendar anak kedua. Bikin screenshootnya aja supaya pas dengan tanggal ketika postingan dibuat

    Baca juga: Cerita Trimester Kedua Kehamilan Anak Kedua

  • Cerita Melahirkan Melalui Operasi Caesar

    Cerita Melahirkan Melalui Operasi Caesar

    Cerita Melahirkan Melalui Operasi Caesar. Hai pembaca setia blogku, akhirnya saya bisa menyelesaikan menceritakan pengalaman saya melahirkan (melalui operasi). Ini saya nyicil draftnya selama sebulan 😳 habisnya sibuk ngurusin si kecil dan ngurus rumah, padahal ada mama loh yang bantuin, ga kebayang kalau ga ada mama puyeng kali cuma berdua Frank ngurus si kecil, trus kalau Frank kerja ya saya bakal kelimpungan deh 😛 .

    Postingannya panjang, jadi yang tidak berminat membaca, skip saja lihat foto-fotonya 😀 .

    Senin 14 Juli 2014 saya melakukan periksaan terakhir kali ke dokter kandungan, 3 hari sebelumnya sudah dikasih tahu dulu, kalau pada 14 Juli tersebut jika berat anakku sudah cukup, saya akan dirujuk ke rumah sakit supaya di cek lebih detail lagi, apakah sudah bisa melahirkan. Pada hari tersebut dilakukan pemeriksaan usg. Dokter bilang anakku kira-kira beratnya 3,6 kg. Sempat kaget juga karena sebulan sebelumnya masih 2,8 kg, ko cepat banget naiknya, sampai mikir apa saya kebanyakan makan? padahal badan biasa aja tidak gemuk loh cuma perut saya saja yang buncittt 😆 . Saya juga tidak mengidap diabetes ko, pokoknya saya sehat, bayinya juga sehat. Dede dalam perut aja nih yang makannya lahap hehe.

    Cerita Melahirkan Melalui Operasi Caesar. Surat rujukan dari dokter kandungan buat ke rumah sakit
    Surat rujukan dari dokter kandungan buat ke rumah sakit

    Selesai pemeriksaan dari dokter, Frank dan saya langsung meluncur ke rumah sakit. Urus administrasi lalu masuk ke bagian bersalin. Di kamar pemeriksaan tersebut khusus untuk saya dan Frank, lalu masuklah seorang bidan yang ramah sekali mempersiapkan tes yang harus saya jalani. Pertama dilakukan pemeriksaan detak jantung bayi, saya duduk dibangku yang nyaman sambil kaki bisa diselonjorin lalu dipasangi kabel alat tesnya. Pemeriksaan ini berlangsung kira-kira 30 menit. Selama pemeriksaan terkadang bidannya meninggalkan ruangan dan masuk lagi sambil ngobrol dengan Frank.

    Baca juga: 5 Hal Mengenai Melahirkan di Jerman

    Setelah tes jantung bayi dilakukan, datanglah direktur medisnya Dr. Rosmarie untuk memeriksa posisi janin. Pertama dengan alat usg, lalu diperiksa melalui alat kelamin. Sakitt banget waktu tangan dokternya masuk hiks sampai dipegangin bidan 😥 . Setelah melalui dua pemeriksaan tersebut dokternya bilang bayi saya besar sekitar 4 kg jadi sebaiknya di operasi. Saya terdiam sesaat, wong maunya lahiran normal (pengen metode waterbirth, sudah lihat bak/kolamnya loh 😀 ). Dokter keluar ruangan, saya dikasih kesempatan berdiskusi dulu dengan Frank, saya kekeuh pengen normal.

    Nah si bidan datang lagi, lalu pegang perut saya, seperti ngukur-ngukur “apakah bisa lahir normal atau tidak”. Bidannya bilang bisa ko lahir normal, tapi dokternya tetap menyarankan saya operasi. Dokternya ngomongnya sih menyarankan tapi kalimat gaya bahasanya seperti menekankan “Harus Operasi”. Ya sudahlah daripada galau saya bilang saya mau diskusi dengan mama saya dulu di rumah. Jadilah Frank dan saya pulang dulu, ntar balik lagi ke rs. nya.

    Mama bilang kalau bisa normal, normal ajalah. Melahirkan secara normal sakitnya di awal (mules-mules), kalau dioperasi, sakitnya setelahnya. Mama bilang adikku paling kecil ketika lahir beratnya 3,7 kg lahirannya bisa normal ko.
    Sore itu saya masih sempat tuh skype an sama adikku di Jakarta nanya-nanya baiknya bagaimana. Adikku sudah punya 2 anak (usia 5 dan hampir 2 thn). Adikku sama seperti mama, saranin lahiran normal. Sempat-sempatnya saya diajarin latihan pernapasan buat melahirkan 😀 .

    Saya sudah mantap “pengen lahiran normal”. Cihuuyy akhirnya dokternya mengizinkan. Nah supaya bayinya tidak semakin besar, maka besoknya saya akan di diberikan obat supaya dirangsang mules-mules dan segera melahirkan. Saya akan diberikan obat setiap 4 jam supaya mules. Saya nanya ke Frank, kalau pada pemberian obat pertama kali belum mules, nunggu pemberian obat kedua bisa pulang dulu ga? ogah banget kan nginep di rs. malah bisa stres dong 😀 . Oh ya rs. tempat saya melahirkan dekat rumah, sekitar 10 menitlah naik mobil. Eh ternyata boleh pulang sampai mulesnya datang. Ke rs. lagi tiap kali mau dikasih obat. Tgl 14 Juli itu sampai 2 kali bolak balik ke rs. seperti tamasya aja 😀 .

    Selasa 15 Juli 2014 pagi-pagi sekitar jam 9 sudah berada di rs. saya sudah kenyang sarapan seperti disarankan dokter hari sebelumnya. Saya kembali menjalani tes pemeriksaan detak jantung bayi selama 30 menit. Masuklah seorang bidan bernama Susanne, bidannya beda dengan yang kemarin. Bidan Susanne fasih berbahasa Indonesia 😀 . Kata bidan yang kemaren bidan Susanne pernah kerja di Indonesia, jadi bidan Susanne kursus bahasa Indonesia di Jerman sini loh,. Eh pas saya tanya langsung ke bidan Susanne dia bilang hanya liburan di Indonesia, entahlah mana yang benar 😛 .

    Setelah tes pemeriksaan detak jantung bayi selesai, masuklah Dr. Rosmarie beserta Dr. Schumacher (bosnya para dokter) sepertinya pada ngadu gitu deh ya kalau saya tidak mau di operasi, masah sampai kepala dokter mendatangi saya 😛 . Dr. Schumacher memeriksa saya dari alat kelamin halahhh tadinya mau nolak dokter cowo nih, selama ini kan saya ditangani dokter cewe. Eh ko diperiksa dokter cowo tidak sakit ya hehe padahal sama dokter yang cewe sehari sebelumnya sakittt amat!.

    Saya masih sempat berargumen tuh dengan Dr. Schumacher saya bilang kalau mama saya melahirkan adik saya yang beratnya 3,7 kg bisa dengan normal. Trus dokternya nanya tinggi badan ayah saya berapa?, sedangkan Frank kan tinggi besar, jadi ya menurut si dokter ga bisa bandingin saya dengan mama. Saya bilang lagi, kalau dioperasi tuh sakitnya setelahnya kan??, bahkan kadang ada yang luka bekas operasinya lamaaa baru kering. Eh dokternya bilang “dioperasi tidak sakit, malah setelah dioperasi langsung bisa beraktiftas”. Saya kira oohh berarti beda kali ya di Indonesia dan di Jerman, mungkin sudah canggihlah cara dioperasi di Jerman kalau tidak sakit.

    Dokter keluar ruangan, sekarang bidannya yang berusaha meyakinkan saya kalau “jalan terbaik adalah operasi” katanya kalau saya lahiran normal, kepala anak bisa saja keluar dan yang dikuatirkan badannya nyangkut karena berat anak yang besar, nantinya akan lahir cacat.

    Sebel banget sih, saya kira datang hari itu bisa lahiran normal seperti yang sudah disepakati sebelumnya, ternyata dua dokternya kekeuh banget supaya saya melahirkan dengan cara operasi. Sangking sebelnya, yang tadinya pengen tanggal 20 Juli aja di operasinya supaya bertepatan dengan perkawinan Frank dan saya (nikah di catatan cipil) saya bilang “ya udahlah kalau sama aja memang harus dioperasi juga, sekarang aja langsung dibelekkkk nih perut saya” ngapain di lama-lamain lagi.

    Saya pengen hari itu juga 15 Juli karena seminggu itu jadwal Frank sekolah jadi ya dia bisa bolos untuk nemanin saya, kalau nunggu minggu depannya lagi Frank harus kerja, masah saya sendirian di rumah sakit, males banget deh 🙁 .

    Mama kan ikut nganter (diruang tunggu) saya keluar sebentar bilang kalau mama akan diantar pulang oleh Frank soalnya saya akan dioperasinya sore.

    Frank dan saya harus mengisi banyak formulir dan menandatangi lembaran pernyataan resiko dari proses operasi. “tuh kan dioperasi lebih berisko dong sampai kita disuruh tanda tangan segala?” . Ada satu formulir yg lucu loh, Frank kan bisa nemanin saya di ruang operasi nah kalau Frank pingsan atau ada kejadian yang tidak diharapkan maka semuanya akan diluar tanggungan rumah sakit dan asuransi 😀 .

    Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Pasca Melahirkan

    Sambil mengisi formulir masuklah seorang dokter yang memasang alat untuk persiapan alat infus. Dari alat tersebut dia mengambil darah saya 3 tabung kecil.

    Persiapan mau dioperasi melahirkan. Darah diambil dari tabung kecil tsb jadi tidak perlu bolak balik di ambil melalui jarum suntik
    Persiapan mau dioperasi. Darah diambil dari tabung kecil tsb jadi tidak perlu bolak balik di ambil melalui jarum suntik

    Selesai mengisi formulir-formulir, Frank dan saya menghadap dokter anestesi, kita diwawancarai apakah ada riwayat penyakit dari kita berdua dan keluarga. Selesai wawancara kita tanda tangan surat pernyataan lagi. Halahhh ko jadi serem banget ya, seumur-umur saya belum pernah dioperasi,bahkan dirawat dirumahsakitpun belum pernah. Operasi akan dilakukan sore hari sekitar jam 3. Saya tidak boleh makan dan minum kira-kira 5-6 jam sebelumnya. Laperr lihat Frank akan siang 😀 .

    Menunggu Waktu Operasi rasanya lama betul, ditambah rasa lapar komplitlah
    Menunggu Waktu Operasi rasanya lama betul, ditambah rasa lapar komplitlah

    Setelah Frank selesai makan siang, kami bertemu bidan Susanne lagi dan diantar ke satu ruangan dimana sudah ada tempat tidur untuk saya masuk ruang operasi nanti. Saya disuruh lepas pakaian dan pakai baju operasi (yang belakangnya terbuka dari atas sampai bawah hanya ada tali pengikat), lalu Frank pakaikan stoking amat super ketat ke saya. Saya lepas jam tangan dan anting, taruh ditas. Tas digeletakin saja di ruangan, untungnya sih aman-aman saja ya 😀 .

    Kata mama sms yaaa pas mau operasi
    Kata mama sms yaaa pas mau operasi. Ini lagi nunggu detik-detik ke ruang Operasi

    Sudah rapih pakai baju operasi, saya diajak ke kamar sebelah oleh bidan ..

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1 – 3

    Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1 – 3

    Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1 – 3. Pembaca setia, cuaca pagi ini di tempat saya cerah sekali. Matahari bersinar cerah, udaranya sejuk sekali, sesejuk hati saya hehe, makanya jadi ingat kalau saya sudah lama tidak curhat mengenai kehamilan saya (apa hubungannya coba udara sejuk dan kehamilan 😛 ) .

    Terakhir cerita kehamilan mengenai Posisi Tidur Terbaik Ibu Hamil. Postingan tersebut 11 April lalu, sudah lama bangett dong ya, secara besok sudah bulan Juni aja, trus bulan depannya tahu-tahu Juli halahhh deg-deg an sudah dekat due date brojol (melahirkan) benar-benar waktu berjalan cepat sekali.

    Pregnancy Calendar bikin screenshootnya aja supaya pas dengan tanggal ketika postingan dibuat . Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1 - 3
    Pregnancy Calendar bikin screenshootnya aja supaya pas dengan tanggal ketika postingan dibuat

    Awal-awal kehamilan banyak yang bertanya apakah saya mual, pusing, muntah-muntah, ngidam? … engga semua lohh. Bahkan saya bertanya-tanya morning sick seperti apa rasanya ya? Hehe..

    Puji Tuhan saya tidak merasakan yang tidak enak pada awal-awal kehamilan. Kalau kata orang “hamil kebo” tuh ya karena lancar jaya begitu, pokoknya sehat dan selalu happy 🙂 .

    Pada awal kehamilan saya beli buku diari untuk menuliskan pengalaman selama hamil. Buku/album diari tersebut apakah sudah penuh diisi?. Masih polos donggg bersih dan rapih deh! 😆 . Belum ada satu kalimatpun saya tulis di diarinya bangga hahaha.

    Buku diari buat curhat kehamilan
    Buku diari buat curhat kehamilan

     

    Nah pada curhatan kali ini saya mau cerita mengenai pengalaman sejak trimester 1 hingga 3. Saya sebenarnya ada bikin draft coret-coretan gitu di buku tulis, dan kalau sudah komplit baru mau pindahin ke album diari yang beli itu. Bikin diari begitu karena saya mikir ko sayang ya, kalau baru kehamilan pertama saja dilewatkan tanpa ada diarinya sama sekali.

    Trimester 1 dan 2 sedikit coret-coretannya, karena seperti yang saya bilang diatas, 90% baik-baik saja, lancar jaya tanpa keluhan yang berarti sehingga saya bisa melakukan aktifitas normal sehari-hari.

    Buku diari kehamilan masih bagus tanpa recek secara belum diisi hahaha padahal sudah beli saat awal kehamilan
    Buku diari kehamilan masih bagus tanpa recek secara belum diisi hahaha padahal sudah beli saat awal kehamilan

    Trimester 1 kehamilan (minggu 1 hingga 12)

    Pertama kali ke dokter 22 Nov 2013, usia kandungan 7 minggu + 2. Berat badan saat itu 68,1 kg.

    • Sering sekali haus, nafsu banget minum air putih. Dalam sehari bisa minum 2 – 3 liter.
    • Saliva (air liur) banyak.
    • Kalau jalan pergelangan kaki kadang terasa sakit
    • Sering berplek, makanya ogah deh pakai celana dalam warna putih.
    • Payudara sakit kalau posisi tidur tidak tepat.
    • Pas tidur (malam) merasakan gatal pada perut bagian bawah. Istilahnya pruritic urticarial papules and plaques of pregnancy (PUPP). Saya berusaha tidak menggaruk hanya mengusap-usap dan kasih minyak khusus untuk ibu hamil. Kalau ada kesempatan mau cerita lagi mengenai PUPP ini karena ternyata ada bekasnya dibagian bawah perut secara perut makain besar pas trimester 3 makanya ada bekasnya huhuhuhu 😥 walau cuma sedikit sih tetap aja gimana gitu kalau dilihat di kaca. Kalau ada rejeki pengen ke Indonesia ke dokter kecantikan deh 😉 .

    Sisi postifnya pada kehamilanku:
    • Wajah jadi mulus bo!, kalau dulu-dulu selalu rajin pakai krim wajah supaya wajah mulus. Pas tahu hamil saya berhenti pakai segala macam krim wajah, kuatir kandungan krimnya berefek negatif ke janin. Apalagi krim yang ada zat pemutih bahaya deh buat janin.
    • Rambut bagus!. Sebelum hamil paling bete kalau lihat lantai kamar mandi banyak rambut rontok, berantakan dimana-mana. Nah pas hamil dari trimester 1 hingga 3 ini, rambut tidak rontok sama sekali. Tukang potong rambutku juga bilang “tumben rambutmu ga rontok Nel”. Karena biasanya pas dipegangpun ada aja rambut yang lepas/rontok.
    • Badan biasa aja, malah pada trimester 1 ini turun setengah kg. Di Jerman tidak ada susu ibu hamil, dokter juga tidak menyuruh saya minum susu ko.

     

    Trimester 2 kehamilan (minggu 13 hingga 24)
    • Mulut rasanya asem. Saya coba beli permen Jelly Haribo. Eh ternyata enakkk loh. Sebelum hamil saya tidak suka Haribo karena asem banget!. Permennya cepat habis karena Frank yang lebih banyak ngemilin, heran yang hamil siapa ya 😛 .

    Minggu ke 14 berat badan turun 1 kg
    Minggu 18 berat badan naik 1,5 kg
    Minggu 20 berat badan naik 2 kg

    Saran saya nih ya buat para wanita yang baru aja hamil, pada awal kehamilan jangan terlalu banyak makan. Berat badan jangan naik terlalu banyak, karena nanti pas perpindahan dari trimester 2 ke 3 perut makin besar, nafsu makan bisa gede bangett, sering bangettt laparrr. Baru makan, 2-3 jam kemudian lapar lagi tepokjidat.

    Kalau baru-baru hamil lalu sering lapar, makannya jangan lari ke produk karbohidrat, makanlah banyak buah-buahan dan sayuran.

    • Takjub pas merasakan ada yang gerak-gerak didalam perut (kalau tidak salah, saya merasakannya pada minggu ke 18, tiap wanita beda-beda ya pada minggu ke berapa mulai merasakan gerakan si anak).

     

    Trimester 3 kehamilan (minggu 25 hingga 40)

    Pada trimester 1 dan 2 lancar jaya tanpa merasakan keluhan (sakit/nyeri) berarti, nah pada trimester 3 ini, penderitaan di mulai hahahah dinikmatilah 🙄 .

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Posisi Tidur Terbaik Ibu Hamil

    Posisi Tidur Terbaik Ibu Hamil

    Posisi Tidur Terbaik Ibu Hamil. Saya punya banyak hal seputar kehamilan yang ingin saya diceritakan, namun apa daya saya tidak punya waktu berjam-jam untuk duduk di depan komputer, jadi ya pengalaman mengendap saja di kepala hihi.

    Nah kali ini mumpung saya ingat, saya ingin berbagi pengalaman mengenai posisi tidur (malam hari) ternyaman saat kehamilan. Pengalaman antara ibu-ibu hamil lainnya tentu saja akan saling berbeda ya 😉 .

    Posisi Tidur Terbaik Ibu Hamil. Bantal tidur foto bagian atas enak sekali ya, sepertinya nyamann. Sumber foto pregnancyweekbyweekcalendar.info
    Posisi tidur ibu hamil. Bantal tidur foto bagian atas enak sekali ya, sepertinya nyamann. Sumber foto pregnancyweekbyweekcalendar.info

    Trimester 1: posisi tidur paling nyaman adalah miring ke kanan, kalau miring ke kiri payudara (PD) terasa sakit sekali karena tertekan. Pada Trimester 1 ini sama sekali tidak bisa miring ke kiri, jadi Frank selalu lihat punggung saya saja hahaha. Tidur malam selalu nyenyak, ada saat-saat dimana saya menggerang „nyeri“ itu kalau tanpa sadar saya miring ke kiri, jadi muter kembali deh ke kianan.

    Pada Trimester I, saya sering sekali merasa ngantuk luar biasa, apalagi setelah makan (berat) siang dan sore hari, rasa kantuk tidak tertahankan. Kalau sedang tidak ada yang dikerjakan ya tidur siang 1-2 jam, kalau lagi banyak kerjaan, di tunda-tunda tidurnya malah jadi segar kembali 😀 .

    Trimester 2: sama seperti pada trisemester 1 posisi tidur paling nyaman tetap miring ke kanan.
    Akhir trimester 2 posisi tidur ke kiri, PD sudah tidak sakit lagi.

    Trisemester 3: terkadang saya mulai merasa enak kalau miring ke kiri, namun miring ke kanan tetap jadi pilihan utama saya. Pada saat usia kehamilan 16-22 minggu, dimana ibu hamil mulai merasakan tendangan bayi, nah kalau pengalaman saya: ketika miring ke kiri, si bayi seperti merasa tidak suka posisi ini, jadi terasa sekali “gerakan bayi” atau “tendangan bayi” selama beberapa saat, membuat saya terjaga dari tidur.

    Mungkin kalau bayiku bisa bicara dia akan bilang: “miring ke kanan donggg makk, tidak enak nih” hahaha :mrgreen: . Nah setelah saya miring ke kanan, baru gerakan bayinya mereda dan saya bisa kembali tidur nyenyak.

    Pada Trisemester 1 dan pertengahan Trisemester 2 saya masih bisa miring ke kanan atau ke kiri seorang diri (tanpa bantuan). Pada akhir semester 2 dan hingga trisemester 3, saya sangat butuh bantuan suami untuk memiringkan posisi tidur saya. Kalau tidak dibantu saya akan “menggerang” susah mutar (memiringkan) badan. Kalau erangan saya kuat ya si Frank bangun, dan bantuin saya hihi.

    Kalau mau ke kanan, Frank akan dorong pelan-pelan punggung saya, kalau mau miring ke kiri, lengan saya akan ditarik pelan-pelan. Ketika posisi tidur saya sudah nyaman saya bilang „terima kasih“ lalu kami tidur nyenyak lagi hehe. Putar-putar posisi tidur tidak hanya satu kali dalam semalam loh, kadang bisa 4-5 kali bahkan lebih ngerepoting dan nganggu pasangan tidur yaa 🙄 Frank sama sekali tidak pernah komplain atau marah, pokoknya baik bangettt dah dia 🙂 .

    Terkadang (kalau ingat) saya baca-baca forum The Urban Mama (TUM), banyak sekali pengalaman berharga para bumil di forum tersebut. Saya hanya member pasif saja. Nah di forum tersebut ternyata banyak para bumil yang bilang posisi tidur ternyaman adalah miring ke kiri, saya malah sebaliknya.

    Dari website babycenter.com mengatakan:

    • Posisi tidur miring ke sebelah kiri sangat dianjurkan karena memberikan manfaat bagi bayi, akan meningkatkan aliran darah yang membawa nutrisi yang maksimal ke plasenta.
    • Membantu ginjal secara efisien menghilangkan produk-produk racun (limbah) dari tubuh, sehingga mengurangi pembengkakan di pergelangan kaki, kaki, dan tangan.
    Hindari posisi tidur telentang (apalagi kalau perut sudah besar), karena: tidur dengan posisi telentang akan membuat rahim menekan tulang belakang, otot punggung, usus dan pembuluh darah utama. Hal ini akan menyebabkan sakit punggung, wasir dan mengganggu sirkulasi darah ke janin. Ibu hamil akan juga merasakan pusing, tekanan darah rendah, mendengkur, peningkatan berat badan, dan bisa menyebabkan gangguan henti nafas (sleep apnea).

    Namun ada juga beberapa website pregnancy yang mengatakan tidak masalah miring ke kanan atau ke kiri yang penting nyaman buat si ibu hamil.

    Oh iya memeluk guling juga membuat tidur saya tambah nyaman 🙂 .

    Begitulah pengalaman saya mengenai posisi tidur, bagaimana pengalaman ibu hamil lainnya? Baca juga dibagian komentar pembaca ya 😉 .

     

    Baca juga: Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1 sampai 3

  • Jurnal Kehamilan Screening Test

    Jurnal Kehamilan Screening Test

    Jurnal Kehamilan Screening Test . Memenuhi permintaan banyak teman blogger yang katanya tidak bisa eksis dan tidak bisa cerewet berkomentar gara-gara beberapa tulisan saya tutup akses komentarnya hihi :mrgreen: maka tulisan ini bisa dikomentarin deh 😀 . (*yang berkomentar sekaligus berpromosi, dengan berat hati link tulisan atau promosi tersebut akan saya hapus).

    Saya mau cerita mengenai Screening test alias Amniocentesis alias Fruchtwasseruntersuchung yang saya jalani 3 Februari lalu. Saya dirujuk dokter kandungan di kota tempat tinggal saya ke klinik di Mannheim, karena peralatan di Mannheim lebih lengkap dan alat USG nya lebih canggih.

    Apakah yang dimaksud dengan amniosentesis?

    Jurnal Kehamilan Screening Test. yang dimaksud Screening Test Amniocentesis
    yang dimaksud Screening Test Amniocentesis

    Amniosentesis adalah tes medis untuk skrining bayi (screening babies), di mana dokter mengambil sedikit cairan ketuban (kira-kira 15- 30 ml). Cairan ketuban ini mengandung beberapa jaringan dari embrio atau janin yang menyimpan informasi genetik penting. Sampel (cairan) ini kemudian diperiksa dan dilakukan pengujian di laboratorium untuk memeriksa kelainan apapun, misalnya kemungkinan adanya cacat lahir.

    Amniosentesis adalah tes diagnostik, dimana kita akan bisa mengetahui kondisi tertentu dari janin dan juga dengan tes ini akan diketahui jenis kelamin si bayi. Jadi bagi kamu yang tidak ingin mengetahui lebih awal jenis kelamin bayi, lebih baik beritahukan dulu ke dokternya sebelum tes dimulai.

    Contohnya Frank, sejak awal dia bilang dia tidak ingin mengetahui lebih awal jenis kelamin bayi kita, dia ingin pas menggendong si anak, baru dia tahu perempuan atau laki. Alasan dia sih supaya surprise gitu loh 😀 Saya menghargai keinginan dia. Saya sih mau tahu lebih awal, jadi tahu mau beli baju dan perabotan si bayi kan 😉 .

    Pada usia kehamilan berapa bulan dilakukan amniosentesis?
    Amniosentesis (atau prosedur lain, yang disebut chorionic villus sampling (CVS) ) dapat mendiagnosa masalah di dalam rahim. Amniosentesis biasanya dilakukan ketika usia kehamilan antara 16 dan 22 minggu.

    Pada kondisi seperti apa, seorang ibu hamil menjalani amniosentesis, bolehkan tidak menjalaninya?

    Jangan kuatir, tes ini tidak menyebabkan keguguran. Kita hanya akan ditawarkan amniosentesis ini jika ada kemungkinan besar bayi kamu memiliki kelainan kromosom atau kelainan genetik. Kalau resikonya sangat kecil akan hal tersebut, kita tidak akan ditawarkan menjalaninya 😉 .

    Ibu hamil akan ditawarkan amniosentesis jika:
    • Skrining tes seperti tes darah dan test nuchal (Nuchal translucency / NT) menunjukkan bayi Anda memiliki risiko tinggi mengalami masalah kromosom.*test Nuchal translucency / NT untuk mengetahui apakah ada pengumpulan cairan bawah kulit di bagian belakang leher bayi Anda. Semua bayi memiliki cairan di bagian belakang leher mereka, namun pada bayi dengan Down sindrom cairan tersebut mengalami peningkatan.
    • Hasil USG menunjukkan masalah dengan bayi Anda, seperti cacat jantung, yang mungkin menandakan adanya kelainan kromosom.
    • Anda memiliki keluarga atau kerabat yang memiliki kelainan genetik.
    • Umur ibu hamil 35 tahun yang dianggap usia rawan

    Sebelum tes dimulai Frank dan saya diwawancarai dokter dulu (tidak persiapan, tidak tahu bakalan ditanyakan hal ini). Kita ditanya mengenai riwayat keluarga kami berdua. Apakah ada penyakit tertentu mulai dari garis kakek nenek, orangtua, saudara kandung, paman dan bibi, anak-anak dari saudara kandung, saudara sepupu apakah ada penyakit tertentu yang mereka derita. Pertanyaan dokter membuat saya berpikir agak lama, menggingat satu persatu dari saudara-saudara saya tersebut. Tahu sendiri kan orang Indonesia banyak sekali saudara-saudaranya 😀 . Saya 4 bersaudara, trus mama berapa saudara kandungnya, bapak juga, lalu sepupu, lalu anak-anak adik saya, anak-anaknya para sepupu. Beneran mikir lama deh 😳 A nikah dengan si B anaknya berapa, anaknya sehat atau tidak. Sepupu yang itu tidak menikah sehat atau tidak. Nah dokternya menggambar pohon keluarga sambil menulis informasi penting yang Frank dan saya berikan. Puji Tuhan dari garis keluarga Frank dan saya tidak ada risiko yang berbahaya.

    Setelah setuju bersedia menjalani pemeriksaan amniosentesis, maka Frank dan saya menandatanggani surat pernyataan, ko serem ya 🙁 .

    • Ibu hamil atau si suami memiliki risiko besar mewariskan penyakit tertentu ke janin, seperti misalnya penyakit Anemia sel sabit (Sickle-cell disease (SCD) ).

    Anemia sel sabit adalah kondisi serius dimana sel-sel darah merah menjadi berbentuk bulan sabit, seperti huruf C. Sel darah merah normal berbentuk donat tanpa lubang (lingkaran, pipih dibagian tengahnya), sehingga memungkinkan mereka melewati pembuluh darah dengan mudah dan memasok oksigen bagi seluruh tubuh. Sulit bagi sel darah merah berbentuk bulan sabit untuk melewati pembuluh darah terutama dibagian pembuluh darah yang menyempit, karena sel darah merah ini akan tersangkut dan akan menimbulkan rasa sakit, infeksi serius dan kerusakan organ tubuh.

    • Wanita yang pernah hamil sebelumnya, dan mengalami kelainan genetik pada janinnya.
    • Wanita yang hamil di usia rawan (diatas 35 tahun) nah makanya saya ditawarin tes ini karena saya hamil anak pertama ini di usia 35 tahun.

    Kalau Anda ditawari atau berminat mengikuti tes amniosentesis ini berikan informasi yang sedetailnya ke dokter Anda, kalau misal tidak tahu riwayat kesehatan keluarga bisa tanya orang tua atau tanya keluarga dulu, baru berikan informasi yang jelas ke dokter kandungan Anda, jadi tidak asal jawab berdasarkan kira-kira saja, kuatir nantinya salah kan. Tanya dokter kandunganmu juga mengenai pro kontra mengikuti tes ini, pokoknya kalau sudah sreg ikutan, baru deh jalani 😉 .

    Jika Anda ingin mengikuti test ini (amniosentesis) karena alasan kondisi genetik, memiliki risiko penyakit keturunan, Anda akan ditawarkan mengikuti chorionic villus sampling ( CVS ) sebagai gantinya, karena CVS memberikan diagnosis lebih awal. Apa itu chorionic villus sampling ( CVS ) silakan infonya di http://www.babycentre.co.uk/a328/chorionic-villus-sampling-cvs .

    Berapa biaya amniocentesis alias Fruchtwasseruntersuchung? Apakah asuransi menanggung semua biaya?

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Jurnal kehamilan Pemeriksaan di Dokter

    Jurnal kehamilan Pemeriksaan di Dokter

    Jurnal kehamilan Pemeriksaan di Dokter. Hai sahabat blogger, saya mau lanjut bercerita mengenai kehamilan (bagian I klik disini). Kali ini khusus cerita mengenai pemeriksaan di dokter saja ya.

    Ibu-ibu hamil di Jerman memeriksakan kandungannya setiap bulan. Pertama kali ke dokter usia kandungan saya sudah berusia 8 minggu. Saat itu saya sempat bingung „ko tahu-tahu sudah 8 minggu?, bukannya menghitung usia janinnya dari hari pas berhubungan??“.

    Sudah di jelaskan suami beberapa kali cara menghitungnya, saya masih belum mudeng juga haha. „Oooh jadi menghitung usia janinnya dari mens terakhir? Tapi kan bikinnya beberapa minggu setelah berhubungan?. Ko begitu .. ko begini .. ? banyak pertanyaan dikepala saya“. Sudah ahh jangan dibahas ya hahaha maklum baru pertama kali ya butuh banyak penjelasan 😀 .

    Berhubung baru pertama kali ke dokter kandungan, jadi saya disuruh mengisi formulir mengenai data-data pribadi. Ada pertanyaan „apakah saya alergi terhadap obat tertentu?“. Saya (HARUS) ingat kalau saya alergi antibiotik „Penisilin“. Dulu sekali, pertama kali mengkonsumsi obat tersebut badan termasuk wajah langsung bentol-bentol. Kedua kalinya (lupa kalau alergi) saya gunakan lagi antibiotik tersebut, hasilnya sama bentol-bentol parah, malah mata hampir tidak bisa dibuka karena bengkak. Sejak kejadian kedua, saya catat di buku kalau saya alergi antibiotik tersebut.

    Pertanyaan lain: „kapan tanggal mens terakhir?“. Para wanita apakah kalian mencatat tanggal tiap kali „datang bulan?“. Kalau saya „iya selalu mencatat“. Saya lingkari tanggal pas „si tamu“ datang. Kalau dicatat, maka kita tahu, apakah lancar siklusnya.

    Sebelum masuk keruang dokter, saya melakukan beberapa tes (pemeriksaan) yang ditangani asisten dokter.

    1. Pemeriksaan Urin
    Sebelum ke dokter, saya sudah beser (buang air kecil) di rumah. Begitu di dokter ya tidak pengen pipis lagi. Minum dulu agak banyak lalu menunggu 30 menitan, baru pengen pipis deh 😀 . Pemeriksaan urin dilakukan tiap kali ke dokter.

    2. Pemeriksaan Darah
    • Darah diambil dari ujung jari telunjuk. Kalau saya dilakukan selalu pada telunjuk kiri. Ujung jari ditusuk dengan alat mirip silet, dimana bagian tengahnya ada bagian (tipis) runcing agak panjang dan tajam. Darah diambil hanya sedikit, ditampung dalam pipa kapiler. Pas pertama kali jari saya ditusuk dua kali karena darah yang keluar tidak mencukupi, padahal butuhnya hanya sedikitt. Mungkin karena dingin jadi jari mengkerut kulitnya, darah juga jadi sedikit atau tidak lancar?. Pemeriksaan darah model ini dilakukan tiap kali ke dokter, gunanya untuk mengetahui kadar zat besi dalam tubuh apakah mencukupi.
    • Pertama kali ke dokter, selain model ambil darah diatas. Darah juga diambil dari lengan (kiri). Darah diambil agak banyak menggunakan alat suntik, kira-kira diambil 20 ml. Model ambil darah yang ini tidak sakit.

    3. Timbang Berat Badan
    Hamil berat badan (bb) bukannya naik malah turun. Mungkin juga karena saya lebih banyak makan sayuran dan buah-buahan. Bb sebelum hamil plus minus 70 kg, tinggi badan 153 cm (iya tahu ndutt ya haha). Timbang berat badan dilakukan setiap kali ke dokter. Saya selalu kenakan baju yang tebal (tipis)nya sama supaya berat baju tidak terlalu mempengaruhi timbangan.

    Pas nimbang di dokter:
    22.11.2013 bb: 68,1 kg
    18.12.2013 bb: 67,7 kg
    17.01.2014 bb: 67,8 kg
    14.02.2014 bb: 69,5 kg horeee akhirnya naik 2 kg.

    Pemeriksaan 1 sampai 3 selalu dilakukan oleh Arzthelferin (Asisten dokter)

    4. Pemeriksaan USG (diruangan dokter dilakukan oleh dokternya)
    • Pemeriksaan 1 dan 2 dilakukan menggunakan alat yang dimasukkan melalui kelamin. Rasanya tidak nyaman pas dimasukkan alat tersebut. Saya tidak tahu nama alatnya. Bentuknya mirip bohlam lampu yang panjang yang warna putih susu. Alatnya panjang, makanya aneh (sakit) pas masuk. Setelah alatnya masuk, bisa lihat janinnya di monitor.
    • Pemeriksaan ke 3 & 4 melalui bagian atas perut. Perut diolesi gel lalu alat usgnya digerak-gerakkan di atas perut kelihatan di dedeknya 🙂 .
    • Dokter juga memeriksa bagian dalam kelamin, gak enak deh jari-jari dokter masuk meriksa-meriksa gitu 🙁 pasrah aja, untung dokternya perempuan hihi.

    Pemeriksaan USG model begini asyik kan tidak sakit hanya dari atas perut alatnya digerakkan. Foto dari Eltern.de
    Pemeriksaan USG model begini asyik kan tidak sakit hanya dari atas perut alatnya digerakkan. Foto dari Eltern.de

    Oh ya pemeriksaan dilakukan di kursi khusus. Kursinya akan naik otomatis dan turun otomatis. Saya disuruh naik dan kaki ngangkang ditaruh dialat khusus. Naik dan turun pelan-pelan ya, kalau turun jangan loncat, tunggu kursinya benar-benar berhenti baru turun.

    Kamar pemeriksaan kehamilan. Foto dari tempat saya selalu memeriksakan kehamilan
    Kamar pemeriksaan kehamilan. Foto dari tempat saya selalu memeriksakan kehamilan

    22.11.2013 pada pemeriksaan 1 ukuran (panjang) janin 1,06 cm (masih imutt) ; ukuran (panjang) rahimnya 4,2 cm. usia 8 minggu
    18.12.2013 pada pemeriksaan ke 2 ukuran janin 3 cm,65 (juga masih imutt) ; ukuran (panjang) rahimnya 6,5 cm.usia 12 minggu
    Pemeriksaan ke 3 & 4 tidak dikasih dikasih print out usgnya jadi hanya melihat janinnya melalui monitor usg. Diperiksa pergerakannya, denyut jantungnya dll.

    Nasehat dokter buat ibu hamil:
    • Banyak makan sayur dan buah. Ikan 2 kali dalam seminggu, lalu daging juga.
    • Jangan lakukan olahraga ektrim, seperti bungee jumping, naik gunung tidak boleh tuh 😀 .
    • Jangan angkat dan bawa yang berat-berat (makanya kalau sendirian ke supermarket saya beli sedikit aja, dulu sih seperti kuli panggul dah tenteng kanan kiri berat haha).
    • Jangan makan obat sembarangan, harus tanya dokter dulu. Kalau sakit kepala jangan gunakan Aspirin, gunakan Parasetamol saja. (Puji Tuhan saya belum mengkonsumsi obat apapun, hanya vitamin yang diresepkan dokter).
    • Dokter tidak menyuruh saya minum susu ibu hamil. Di Jerman memang tidak ada susu ibu hamil (tidak tahu juga tidak pernah lihat di supermarket).

    Vitamin yang disuruh beli oleh bu dokter :
    Folsäure (Asam Folat). Saya gunakan Folio Forte isi 120 tablet harganya sekitar 9 Euro (Rp. 148.000) merek tersebut selain mengadung Asam Folat, juga mengandung Vitamin B12 dan Yodium. Tabletnya dimakan tiap hari. Asam Folat sangat penting bagi wanita hamil. Asupan asam folat yang cukup sebelum dan selama kehamilan akan mencegah timbulnya kecacatan tabung saraf (Neural Tube Defects) NTDs pada bayi, yaitu spina bifida (kelainan pada tulang belakang) dan anencephaly (kelainan dimana otak tidak terbentuk). Dengan asupan asam folat yang cukup pada masa sebelum dan selama kehamilan yaitu sekitar 0.4 – 0.8 mg per hari, risiko timbulnya NTDs pada bayi dapat diturunkan hingga 80 % (Wikipedia).

    Tardyferon (Zat Besi). Saya gunakan Tardyferon yang zat aktifnya Eisen (Besi) -II (sulfat, 1,5 H2O). Awalnya Frank beli yang bentuk cairan. Ya ampuuunn seperti minum darah (seperti vampir mengisap darah hahaha 😯 ). Perjuangan tiap kali mau minum harus tutup hidup. Enek tiap kali minum dan pernah muntah, mana beli botol yang besar hiks. Setelah bentuk cairan habis beli lah bentuk tablet. Tabletnya bekerja lepas lambat (prolonged-release tablets) jadi kadang pas tengah malam tiba-tiba enekk (mual) tapi tidak muntah. Sakit kan kalau gejala-gejala mau muntah, sekarang sih tidak lagi ko. isi 20 tablet harganya sekitar 5 Euro. Tablet dimakan 2 hari sekali.

    Magnesium. Ini disuruh beli ketika pemeriksaan ke 4, karena saya ditanya apakah ada keluhan?.Saya bilanglah : Pegel-pegel, terutama perut bagian bawah dan diselangkangan. Gunakan Magnesium Verla N Dragees isi 50 tablet harga hampir 5 euro. Dimakan pagi dan malam 2 tablet, kalau makan tablet Mg ini harus ada jeda dengan tablet zat besi.

    Jurnal kehamilan Pemeriksaan di Dokter. Vitamin yang disuruh bu dokter beli untuk menjaga kehamilan
    Vitamin yang disuruh bu dokter beli untuk menjaga kehamilan

    Biaya pemeriksaan di dokter semuanya gratis, karena ditanggung asuransi. Vitamin beli sendiri, tidak mahal ko tuh ketiga vitamin yang saya sebut diatas.

    Dokter kandungan saya namanya Karin Rupp beliau ramah sekali. Titel bu dokter Fachärztin für Gynäkologie und Geburtshilfe Ärztin für Naturheilverfahren (Specialist in Obstetrics and Gynecology Doctor of Naturopathic Medicine).

    Sampai disini dulu curhatan saya, berikutnya akan saya ceritakan pengalaman saya melalui pemeriksaan Fruchtwasseruntersuchung alias Screening test (Amniocentesis) saya dirujuk ke klinik di Mannheim. Nanti saya ceritakan mengapa saya menjalani pemeriksaan tersebut ?, sakit kah ?, beresiko kah terhadap janin? dll. Stay tune di blog saya ini ya :mrgreen: .

    Baca juga: Rangkuman Pengalaman Kehamilan Trimester 1-3

    comments are closed

     

  • Jurnal kehamilan (Cerita Pembukaan dulu ya)

    Jurnal kehamilan (Cerita Pembukaan dulu ya)

    Jurnal kehamilan (Cerita Pembukaan dulu ya). Hai sahabat blogger, saya mati-matian nih memaksakan diri mau cerita mengenai kehamilan saya gayabahasanyahiperbola :mrgreen: . Di akhir tahun 2013 saya sudah cerita di blog ini, bukan cerita sih tepatnya hanya pengumuman kalau saya hamil 🙂 Puji Tuhan!.

    Saya ingin sekali berbagi cerita, berbagi kebahagian. Sayangnya yang punya blog bawaannya malas melulu 😳 . Ada draft mau cerita tanda-tanda waktu hamil, berat badan pada trisemester I, masakan apa saja yang saya suka selama hamil dll. Pokoknya banyak topik A, B, C sampai Z ya cuma di draft saja (draftnya di otak hihi).

    Hasilnya malah cerita yang lain lagi di blog misalnya tentang kebun atau tanaman. Cerita mengenai gardening ko lancar banget ya tapi mau cerita mengenai kehamilan ini antara tidak sempat dan malas, digabung jadi satu trus jadi lapet gabur-gabur deh (orang Batak pasti tahu lapet jajanan satu ini, ah jadi pengen 😀 ).

    Untungnya saya tidak tinggal di Indonesia, klo iya pasti akan ditanyain melulu “kapan punya anak, udah isi belum? Jangan ditunda-tunda” bla bla.. Salah kostum saja di media sosial dikomentari “hamil ya Nel?” “sekarang agak memang gemuk ya Nel” capee deh!. Musim dingin masah pakai baju youcanseemyketek?. Pastinya bajunya tebal-tebal dong. Makanya saya malas upload-upload foto diri, mendingan upload foto-foto bunga-bunga dan tanaman kan aman sentosa tuh yaa tidak ditanya-tanya haha.

    Bukannya saya tidak pengen hamil, namanya belum rejeki mau dipaksain bagaimana?, iya saya tahu umur saya sudah rawan. Saya berulang kali bilang ke Frank “kalau dalam 2 tahun saya tidak hamil, ya udah beneran kita tidak usah punya anak yaa?” *pasang mata melotot.

    “Umur saya tuh sudah rawan, kalau saya mati saat hamil atau melahirkan bagaimana ???”. Frank bilang di Jerman sini kebanyakan para wanitanya hamil di umur 40 tahun ko. Kalau sudah begitu malas berdebatlah (soalnya Frank ogah-ogahan juga: dapat anak syukur, klo ga, toh begitu banyak pasangan bahagia diluar sana tanpa hadirnya anak?).

    Suamiku ini komentar lagi “dulu sebelum nikah harusnya bilang dong kalau mau cepat-cepat punya anak“. “Haaa maksud loe?”. “Jadi dulu tidak mau segera nikah? jadi mau pacaran lama-lama supaya punya anaknya bisa ditunda?”. Alasan lain si suami tercinta nih, “jangan lahiran dimusim dinginlah, repot bla bla.. tapii sudah lewat musim dingin, musim panas, musim gugur ketemu musim dingin lagi ya, saya belum juga hamil” . Saya jadi menikmati hari-hari saya bersama suami dan mengurusi banyaknya tanaman dan bunga-bunga di kebun saya dan tidak stres memikirkan mengenai kapan saya hamil? 😉 .

    Pertama kali curiga dan penasaran kalau saya hamil setelah berhari-hari kepikiran tanda-tanda hamil dari blognya Dinniw. Sering banget perut saya bunyi blup blup. Bukan bunyi masuk angin ya, kalau masuk angin kan mau buang angin kentut nah ini nga, cuma bunyi-bunyi blup blup melulu, seperti ada gelembung air didalam perut 😆 .

    Mau tes dengan test pack ntar-ntar saja karena dulu-dulu tiap kali tes hasilnya negatif melulu. Sayang test packnya mahal haha. Dulu-dulu pernah telat mens seminggu, dua minggu bahkan telat sebulan, untung waktu itu Frank belum cerita ke keluarganya, kan malu kalau salah. Nah belajar dari pengalaman, kita tunggu lewat sebulan baru ke dokter. Sebelum ke dokter kita test dulu sendiri, beli test pack satu aja dasar pelit hasilnya dua garisnya.

    Jurnal kehamilan (Cerita Pembukaan dulu ya). 6 November 2013 Tes hasilnya kali ini Dua Garisnya berarti hamilll dongg yaa.
    6 November 2013 Tes hasilnya kali ini Dua Garisnya berarti hamilll dongg yaa.

    Maaf kalau fotonya burem, yang antusias dan heboh si Frank. Saya yang potret hasilnya burem. Frank potret tetap aja burem tuh :mrgreen: . Kami tidak langsung ke dokter, menunggu 2 minggu dululah baru telp dokter dan buat janji.

    Ke dokter pertama kali tanggal 22 November 2013, dokter kandungan dekat rumah. Sejak awal saya bilang ke Frank, saya hanya mau ditanggani dokter wanita, malu aja kalau di obok-obok dokter pria hihi.

    Dokternya bilang kalau saya hamil diusia rawan alias kehamilan beresiko. Nah tuh kalau dokter yang bilang baru suami tercinta percaya kan, jleb jelb deh kamu. Dikasih tahu istri tidak percaya 🙄 . Pertama kali ke dokter usia kandungan saya sudah 8 minggu.

    Buat yang mau menikah ternyata penting nih: tanyakan ke calon pasanganmu apakah dia mau punya anak atau tidak. Karena belakangan ini banyak orang yang tidak mau punya anak. Rata-rata bule belakangan ini tidak mau punya anak deh. Makanya di Jerman nih angka lansia lebih tinggi dibanding angka kelahiran (padahal anak dapat uang bulanan loh dari pemerintah, tapi tetap saja banyak orang tidak mau punya anak). Jangan sampai salah, kamu berharap setelah nikah mau punya anak, ternyata pasanganmu tidak mau punya anak. Kalau sudah tahu jawaban pasanganmu, ya terserah mau lanjut ke pernikahan atau tidak, jangan setelah menikah baru tahu jawabannya.

    Postingan ini baru kata pembukaan saja ya, nanti saya akan lanjut bercerita.

    komentar ditutup

error: Content is protected !!