Category: Mixed Marriage

  • Petunjuk Melakukan Pernikahan di Swiss

    Petunjuk Melakukan Pernikahan di Swiss

    Petunjuk Melakukan Pernikahan di Swiss . Berikut ini saya ingin menginformasikan mengenai cara melakukan pernikahan di Swiss untuk wni dengan wn. Swiss atau PR Swiss. Daripada lembaran petunjuk pernikahan ini lecek dan berdebu karena hanya saya simpan saja, lebih baik saya share di blog ini. Semoga berguna bagi kamu yPelayanan Legalisasi dokumen di Kemluang juga akan melakukan pernikahan (Catatan Sipil) di Swiss.

    Mau sedikit cerita latar belakang mengenai pernikahan saya 2 tahun lalu. Calon saya WN. Jerman (PR Swiss), dia bekerja dan menetap di Swiss saat itu (sudah 5 tahun), dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit khusus untuk lansia.

    Kami berkenalan secara online melalui dating online. Setelah kopi darat kami di Jakarta, dan kedatangannya kedua kali untuk melamar saya, dan saya juga sudah berkunjung ke Swiss dan Jerman tempat keluarganya bermukim untuk saling mengenal, maka kami berdua memutuskan menikah.

    Kami melakukan pernikahan di catatan sipil di Swiss karena dia menetap disana. Setelah pernikahan, kami pindah ke Jerman, karena menurut Frank, saya mungkin tidak akan tahan dengan suhu dingin di Swiss. Padahal saya sudah sukaa dan jatuh cinta dengan pemandangan di Swiss seperti dibawah ini gambarannya.

    Sangking sukanya saya pernah tinggal sendirian loh seminggu di Swiss dan Frank sudah mulai kerja di Jerman. Beberapa kali saya masih sering ngedumel pokoknya suatu hari nanti pengen balik lagi menetap di Swiss 😀 .

    Gaji di Swiss sih lebih gede ya, siapa yang tidak mupeng kalau misalnya gaji guru sekolah dasar aja sebesar US$84 ribu atau Rp750 juta per tahun, ini tertinggi di dunia nih untuk ukuran seorang guru. Biaya hidup juga tidak kalah gedenya hehe. Contohnya Zurich menempati posisi kedua untuk ukuran biaya hidup termahal di dunia. Untuk pungutan pajak di Swiss lebih rendah, dibanding negara eropa lainnya seperti Jerman.

    Sekian ya intronya, balik ke judul tulisan ini mau kasih tahu petunjuk pernikahan di Swiss 😉 .

    Dokumen yang saya persiapkan sebagai wni untuk menikah di Swiss:
    Kutipan akte kelahiran asli dan foto copy dari akte terdahulu.
    Kutipan akte kelahiran dikeluarkan oleh kantor Catatan Sipil yang menerbitkan Akte Kelahiran terdahulu. Pada saat mengajukan permohonan di Kedutaan, tanggal terbit Kutipan Akte Kelahiran tersebut tidak lebih dari 6 bulan lalu.
    Surat Keterangan Single (status Pernikahan), domisili dan kewarganegaraan. Suratnya hanya satu lembar menerangkan ketiga hal diatas. Surat dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil dimana kamu bermukim. Surat ini buat yang beragaman non muslim. Untuk muslim suratnya dikeluarkan oleh KUA.
     Apabila cerai hidup melampirkan Akte Cerai
     Apabila cerai mati melampirkan Akte Kematian

    Horeee cuma perlu 2 surat saja kan?, tunggu dulu kawan, silakan tarik nafas dalam-dalam. Siap-siap saya akan jelaskan detail dari pengurusan kedua surat diatas 😯 .

    1. Kutipan akte kelahiran. Kamu punya akte kelahiran kan? Pasti punya deh, kalau tidak punya ntar tidak bisa nikah dong hehe. Nah itu kamu bawa ke kantor catatan sipil yang menerbitkannya. Saya lahir di Jakarta Pusat, jadi awalnya saya pergi ke kantor catatan sipil dan kependudukan Jakarta Pusat di Tanah Abang. Sudah cape ngantri ternyata kata petugas data saya ada di Kantor Dinas Kependudukan Sipil di Slipi. Jalan LET. JEN. S. Parman No.7, 11440. Telp. +62 21 5666241 .

    Kamu bilang ke petugas kalau kamu ingin minta kutipan aktemu. Kalau saya sih, ya tambah nama marga saya saja, jadi sama saja diperbaharui toh. Prosesnya bisa lama, saya saja sampai kira-kira 2 minggu an. 2 kali datang, dibilang petugas kalau akte jadi akan ditelp, nyatanya tidak pernah telp, maka kita yang harus aktif nyecer petugasnya. Mengurus akte ini resmi, jadi tidak ada acara salam tempel ke petugas. Kita akan pergi ke loket pembayaran dan dikasih bukti pembayaran untuk ambil akte jika sudah jadi.

    Catatan: Siapkan beberapa materai Rp.6000 dan kopian akte lahirmu. Materai dan Foto kopi di lokasi mahal!. Akte asli yang di kamu akan ditarik petugas dan kamu di kasih yang kutipan terbaru. Jadi sebaiknya kamu kopi dulu akte aslimu.

    1. Surat Keterangan Single (status Pernikahan), domisili dan kewarganegaraan. *Berlaku untuk non muslim. Saya beragama Kristen, jadi saya hanya bisa share pengalaman dari sisi saya.
      Surat ini dibuat kantor catatan sipil dimana kamu bermukim. Saya berdomisili di Jakarta pusat, jadi saya mengurusnya di Kantor CAPIL di Tanah Abang. Surat yang kamu perlukan sebelum bisa ke catatan sipil adalah:
      Surat N1, N2, N4 dari kelurahan
      • Pernyataan single dari kelurahan

    Catatan: Tidak bisa ya langsung meluncur ke kelurahan. Pertama harus ke petugas RT dulu minta surat pengantar, dari RT bawa surat pengantar untuk stempel petugas RW. Siapkanlah salam tempel untuk pak rt dan rw 😛 . Ke kelurahan bawa juga ktp dan kartu keluargamu (Jangan lupa siapkan foto kopiannya, mahal ngopi di lokasi).

    Berbekal surat dari RT, kamu pergi ke kelurahan bilang mau urus surat untuk Nikah. Bawa juga kopian paspor calon pasanganmu. Trus minta formulir N1, N2 dan N4 dan formulir pernyataan single (untuk yang single).

    Banyak yang harus diisi jadi bawa pulang saja formulirnya. *Kalau kelurahan tidak ada form surat single kamu bisa ketik sendiri, lihat contoh punya saya. Surat single yang sudah diisi, bawa ke rt dan rw untuk di stempel. (Kasih salam tempel lagi ga nih? Bangkrut bandar deh hiks 😥 ).

    Surat Keterangan Single. Dikeluarkan oleh Kelurahan. Petunjuk Melakukan Pernikahan di Swiss
    Surat Keterangan Single. Dikeluarkan oleh Kelurahan

    Berbekal surat N1, N2, N4, surat keterangan single, kopi ktp, kopi akte lahir dan kopi KK. pergilah saya ke Kantor dinas Kependudukan & Catatan Sipil wilayah Jakarta Pusat di Tanah Abang (sesuai domisi. (*Semua surat selain asli, siapkan kopiannya dan materai Rp.6000).

    Tanya petugas saja dimana ruangan untuk buat Keterangan Single untuk menikah, soalnya ruangannya tuh dibelakang dan petunjuknya juga tidak jelas. Dalam beberapa hari kerja, jadi deh suratnya. Ini sebenarnya gratis loh, cuma bingung kan ya kalau kita tanya ada biayanya ga? eh dijawab se relanya saja. Garuk-garuk kepala deh, dikasih 5rb salah, dikasih berapa dong?. Saya kasih coklat Swiss saja petugasnya hihi 😆 .

    Surat Keterangan Single, domisili dan kewarganegaraan. Dikeluarkan Kantor dinas Kependudukan & Catatan Sipil
    Surat Keterangan Single, domisili dan kewarganegaraan. Dikeluarkan Kantor dinas Kependudukan & Catatan Sipil

    Kedua surat sudah jadi, yakni: Kutipan akte kelahiran terbaru sudah ditangan dan Surat Keterangan Single (status Pernikahan), domisili dan kewarganegaraan dari Kantor dinas Kependudukan & Catatan Sipil juga sudah ditangan, sipp deh. Eitt jangan senang dulu. Perjuangan masih harus dilanjutkan! 😐 .

    Kedua surat tersebut harus dilegalisir oleh.:
    Bawa surat (dokumen) ke Departemen Kehakiman RI. Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Di gerbang saja sudah ada calo yang menawarkan proses instan 1 hari. Persurat biayanya Rp.300.rb. Saya diajak ke pojokan nego harga, hihi padahal saya niat mau urus sendiri ko, saya sudah resign dari kerjaan, jadi bisa urus sendiri.

    Biaya resmi untuk legalisir Rp.25.000 per surat (per Februari 2011). Harus beli map dulu di koperasi setempat. Siapkan materai, mahal dilokasi. *siapkan kopian dari kedua surat, kopian ktp, dan kk. Proses 3 hari kerja.
    • Sudah dapat legalisir Departemen Kehakiman RI, bawa kedua dokumennya ke Kementrian Luar Negeri RI (Ditjen Protokol dan Konsuler, Direktorat Konsuler, Subdirektorat „Clearance and Legalisation

    Kementrian Luar Negeri RI
    Jl. Taman Pejambon 6, Jakarta Pusat
    No. telp : (+62 21) 3441508 ex. 3005 atau (+62 21) 384 8641
    No. Fax: (+62 21) 386 2754
    Website: http://www.kemlu.go.id

    -Cari loket “Pelayanan Legalisasi dokumen di Kemlu” .
    -Biaya Rp. 10.000 per dokumen (per tahun 2011), siapkan map dan materai sendiri.
    -Proses 2-3 hari kerja.

    Direktorat Konsuler
    No. Telp: (+62 21) 3441508 ex 3103
    atau (+62 21) 384 86 41
    No. Fax (+62 21) 34834723

    Kedua surat sudah di legalisir Kemlu. Saatnya email kedutaan Swiss untuk buat janji mau masukkan berkas. Silakan email ke: [email protected] website: www.eda.admin.ch/jakarta

    Dokumen tambahan:
    Selain kedua surat yang sudah saya jelaskan diatas, kita harus menyertakan juga
    Kartu keluarga terbaru asli serta foto kopi dari KK sebelumnya. Pada saat mengajukan permohonan di kedutaan Swiss, tanggal terbit KK yang baru tidak lebih dari 6 bulan.
    KTP asli
    Paspor yang masih berlaku asli.

    Dapat tanggal dari kedubes tergantung juga kalau lagi pas banyak yang mengurus hal yang sama, kamu bisa dapat tanggalnya lama (1 bulan atau lebih). Berhubung saya sudah lengkap berkasnya, saya nego minta dimajukan tanggalnya. Thanks God walau hanya dimajukan 1 minggu ya beruntung deh.

    Calon mempelai yang berdomisili di Swiss. mengiriman copy dari Surat Keterangan Identitas (Personenstandsausweis), Surat Keterangan Domisili (Wohnsitzbescheinigung) dan scan an Paspor melalui email ke Kedutaan Besar Swiss di Jakarta.

    Calon mempelai yang terdaftar pada kedutaan Besar Swiss Jakarta.:
    • Melampirkan surat keterangan Kewarganegaraan (Nationalitätsbescheinigung) dan Immatrikulationsbescheinigung dokumen ini diterbitkan oleh kedutaan dengan dikenakan biaya). Klik disini untuk berkas tersebut.
    • Paspor asli

    Sebelum melakukan perjanjian melalui email, pemohon harus memastikan kelengkapan dokumen yang diperlukan. Permohonan yang tidak lengkap akan ditolak.

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Kisah Kawin Campur (Bagian 6 – Tamat)

    Kisah Kawin Campur (Bagian 6 – Tamat)

    Kisah Kawin Campur (Bagian 6 – Tamat). Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (10)

    Kisah Kawin Campur (Bagian 6 - Tamat). freecodesource.com
    Broken Heart

    “Koelkast” Itu Selalu Digembok

    Oleh : Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    MARIAHOEVE, DEN HAAG – Acara Dharma Wanita di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Den Haag setiap Kamis kedua tiap bulan, baru saja bubar. Aku bergegas keluar karena masih ada keperluan ke pusat kota Den Haag. Tiba-tiba ibu Sari, yang dikenal sebagai aktivis di kalangan perempuan Islam, mendekatiku. “Mbak, mau minta tolong nih,” kata Sari.

    “Memang ada apa?” aku balik bertanya. Tanpa menjawab pertanyaanku, ibu Sari malah langsung mengajakku ke rumahnya yang terletak di Mariahoeve, masih di kota Den Haag, tak jauh dari KBRI. Aku ikut saja masuk ke mobilnya. Rencanaku ke pusat kota Den Haag pun terlupakan.

    Lalu kami tiba di rumah ibu Sari, di sebuah flat yang terletak di lantai 8. Di ruang tamu sudah ada seorang perempuan dan beberapa pemuda. Tamu perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Sri. Aku belum sempat menyeruput kopi yang dihidangkan, Sri sudah terisak. Perempuan muda ini berasal dari gudang beras di Jawa Barat, Karawang.

    Lalu Sri bercerita tentang kehidupannya. Begini penuturannya: Setamat SMA aku dikawinkan orang tuaku dengan pemuda sekampung. Aku tidak mencintai suamiku itu, tetapi sebagai gadis desa aku tak berani membantah. Perkawinan itu membuahkan seorang putri yang manis. Karena suami tidak mempunyai pekerjaan tetap, aku terpaksa harus bekerja. Untung aku pernah les mengetik dan bahasa Inggris.

    Aku bekerja di perusahaan milik Belanda di Karawang. Itulah sebabnya selain bahasa Inggris aku bisa sedikit-sedikit berbahasa Belanda. Aku adalah karyawan yang rajin. Hasil pekerjaanku disukai atasanku. Di kantor aku adalah perempuan aktif dan penggembira. Mungkin ini akibat pergaulanku setiap hari dengan laki-laki yang sebagian besar adalah orang asing yang kreatif dan penuh inisiatif.

    Ternyata situasi ini memberikan dampak yang negatif terhadap kehidupan pribadiku. Karena begitu pulang ke rumah, aku segera akan berhadapan dengan situasi yang jauh berbeda. Suami tidak bekerja, kurang inisiatif, mudah cemburu. Aku goyah. Aku mulai membuka diri dengan laki-laki asing di kantor. Ajakan makan siang berdua mulai aku ladeni. Dari makan siang meningkat ke makan malam. Aku mulai pulang ke rumah sedikit terlambat.

    Alasan kerja lembur. Suamiku mulai curiga. Pertengkaran tak dapat dihindari. Hari demi hari makin menjadi-jadi. Puncaknya aku tidak pulang-pulang ke rumah. Aku kos di tempat lain. Mungkin perbuatan ini akan dikutuk oleh pembaca, karena aku istri yang tidak setia. Tetapi aku punya pandangan lain, seorang istri harus berani menjadi dirinya sendiri. Perkawinan bukan ikatan yang membatasi gerak istri untuk berubah. Mungkin karena perubahanku ini dinilai sangat negatif.

    Tetapi kalau Anda berada di pihakku, maka penilaian itu akan menjadi lain. Apakah Anda sebagai istri akan bisa bertahan hidup bersama suami yang pemalas, yang tidak punya usaha dan inisiatif untuk mencari pekerjaan, bahkan selalu marah-marah, curiga dan cemburu?. Perbuatanku menjadi buah bibir para tetangga. Aku malu. Kami pun kemudian bercerai. Aku pindah ke kantor pusat di Jakarta. Nadia aku bawa.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    “Diusir” ke Indonesia

    Hubunganku dengan laki-laki asing yang nota bene adalah bosku terputus. Dia harus kembali ke tanah airnya. Aku pun mengisi kekosongan itu dengan laki-laki asing lainnya, Leo, seorang Belanda. Tetapi hubungan yang hanya just for fun ini kemudian berubah serius. Singkat ceritera, kami menikah secara Islam di catatan sipil. Kemudian kami sekeluarga pindah ke Belanda.

    Karena keadaan perekonomian dunia terpuruk, perusahaan tempat kami bekerja bangkrut. Leo dan aku kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kami hidup dari jaminan sosial yang diterima Leo. Jumlahnya sedikit sekali. Kami harus membayar sewa rumah, listrik, telepon dll. Kemewahan yang kami alami di Jakarta berubah menjadi hari-hari penuh perhitungan. Saat itu Leo berubah.

    Sifat aslinya mulai kelihatan. Dia tidak pernah manis lagi pada diriku. Nadia selalu menjadi tumpuan kemarahannya. Leo menjadi peminum. Aku tidak pernah mendapat uang. Belanja sangat dibatasi. Leo mengatur segala-galanya. Belanja mingguan kami lakukan bersama tetapi sesuai dengan selera Leo. Isi lemari es hanya Leo yang tahu. Setiap hari lemari es digembok dan hanya dibuka oleh Leo pada jam-jam tertentu. Pada jam 08.00 pagi lemari es dibuka untuk mengambil mentega, selai atau daging asap untuk isi roti, atau susu buat sarapan.

    Selesai sarapan, semua bahan dimasukkan lagi lalu lemari es digembok. Lemari es dibuka pada jam 12.00 saat makan siang dan jam 18.00 saat makan malam. Nadia sering dibentak karena meminta es krim yang ada dalam lemari es. Adakah istri yang hidup seperti aku? Kehidupan rumah tangga kami bagaikan neraka. Aku tidak tahan. Beberapa hari yang lalu aku dan Nadia lari dari rumah. Untung ketemu ibu Sari di Den Haag Central Station.

    “Mereka sudah seminggu di sini,” ujar ibu Sari yang juga bersuamikan seorang Belanda tetapi nasibnya sangat bagus, karena Rob, suaminya, adalah seorang suami dan ayah yang baik. Hal itu terlihat dari banyaknya pemuda Indonesia yang sering datang di tempat ini. Mendengar semua ceritera Sri, aku trenyuh. Aku menasihatinya supaya tidak kembali ke Indonesia, bertahan sampai mendapat izin tinggal. Sri sampai saat itu masih tetap memegang paspor Indonesia.

    Aku berpendirian demikian setelah mendengar kehidupan Sri yang serba susah di Karawang. Walaupun bagaimana, hidup materi di Belanda jauh lebih baik daripada di Indonesia. Tapi menurut ibu Sari, besok Leo akan menjemput Sri dan Nadia. Beberapa bulan aku tidak mendengar berita tentang Sri, hingga pada perayaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus di Wisma Indonesia, Wassenaar, aku bertemu dengan ibu Sari. Dia bergegas menemuiku. “Sri dan Nadia sudah kembali ke Indonesia.

    Leo membohongi mereka, diajak jalan-jalan ke Amsterdam tetapi mereka dibawa ke Schiphol dan langsung diurus terbang kembali ke Indonesia,” kata ibu Sari. Aku terpaku. Mungkin ini lebih baik bagi Sri dan Nadia. Aku berharap Sri membaca tulisan ini. Itulah permintaan Sri agar pengalamannya tidak terulang pada perempuan Indonesia lain. Dan aku sudah memenuhi janjiku pada Sri.

    *****

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (11)

    Hati-hati dengan Janji Juleha

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • My 1st Wedding Anniversary

    My 1st Wedding Anniversary

    My 1st Wedding Anniversary. Horayy! today is my 1st Wedding Anniversary 🙂 . I always thanks my Lord Jesus that finally I have someone who loved me so much. I thanks to God for every tears in the past, and I thanks God for happiness with my love one.

    Met online April 1st 2010
    Met in Real Life June 26th 2010
    Official Proposal November 26th 2010
    Civil Marriage July 20th 2011
    Holy-matrimonial April 20th 2012
    We made it Frank.
    I love you,
    -Nella-

     

    Two are better than one, because they have a good return for their work: If one falls down, his friend can help him up. But pity the man who falls and has no one to help him up!. Ecclesiastes 4

    Thank you for being my husband, my partner, my lover and my best friend. Happy Anniversary!.

    Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

    Baca juga:
    Kumpulan Postingan Mixed Marriage – Pernikahan beda bangsa
    8 Good Things About My German Husband

  • Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5). Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (7)

    Aku Hanya Alat Reproduksi

    Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5). freecodesource.com
    Broken Heart

    LOOSDRECHT – Belanda adalah sebuah negeri yang terletak di bawah permukaan laut. Contohnya, Bandara Internasional Schiphol terletak 4,5 meter di bawah permukaan laut. Di bidang pengaturan air, tak ada negara yang dapat menandingi Belanda. Di Belanda, air mempunyai fungsi sosial yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Rekreasi air berkembang dengan baik.

    Loosdrecht adalah salah satu kota yang terkenal dengan wisata air. Kota ini terletak di pinggir Danau Loosdrecht yang cukup besar untuk ukuran Belanda. Walaupun tidak sebesar Danau Toba di Sumatera Utara atau Danau Tondano di Minahasa, Sulawesi Utara, Danau Loosdrecht sangat terkenal di Belanda. Di kota ini terdapat vila-vila dari aktor dan aktris dunia. Aktor Marlon Brando, Telly Savalas, semasa hidupnya sering berminggu-minggu berlibur di vila mereka di kota ini. Aktris Jean Seymour “Medicine Woman” yang keturunan Belanda sering nampak di kota ini. Vila-vila di kota ini dibangun dengan arsitektur yang menyatu dengan alam sekeliling danau.

    Pada musim panas (Juni-Agustus) danau ini dipenuhi oleh perahu-perahu bermotor yang berseliweran dengan penumpangnya perempuan-perempuan bule berbikini yang mencari panasnya matahari. Tetapi bagi Ningsih, ibu muda beranak satu, semua keindahan yang ditawarkan oleh kota Danau Loosdrecht adalah semu. Beberapa tahun lalu perempuan ini disunting oleh Jansen, duda setengah baya. Dari luar saja, kita sudah dapat melihat bahwa pasangan ini “jomplang”.

    Tulisan Terkini

    Jansen seperti layaknya pria-pria asing berkulit putih dengan wajah mirip bintang film Harrison Ford. Sementara Ningsih masih polos seperti ABG kampung, tidak bermake-up, rambut lurus sebatas bahu. Rumah bagus di daerah yang berkelas di kota Loosdrecht adalah ukuran kesuksesan materi keluarga ini. Tetapi ada apa di balik itu?.

    Suatu sore aku kedatangan tamu seorang ibu kenalan keluarga kami. Ibu ini membawa kiriman dari Indonesia buat Ningsih. Dia memintaku supaya mengantarnya ke rumah Ningsih di Loosdrecht yang letaknya dekat dengan Hilversum. Rumah Ningsih dengan rumahku hanya dipisahkan oleh lapangan bola.

    Berdua kami berjalan kaki ke rumah Ningsih. Pagar besi rumah bagus itu tertutup rapat. Bel rumah beberapa kali kami tekan tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah. Kemudian seorang ibu tetangga Ningsih keluar dan menemui kami. “Mungkin keluarga Jansen sedang keluar,” ujarnya.

    Menurut ibu (mevrouw) itu, keluarga Jansen agak lain dibandingkan keluarga-keluarga di wijk (lingkungan) itu. Mereka tidak bergaul dengan para tetangga. Ada kesan hidupnya eksklusif, atau sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan. Kehidupan orang Belanda terkesan individualistis.

    Tetapi untuk bertegur sapa, itu hal yang lazim di kalangan mereka. Namun keluarga Jansen tidak pernah bertegur sapa dengan tetangganya. Bagaikan Pembantu Sore itu kami kembali lagi ke rumah Ningsih. Kali ini kami beruntung. Bel rumah yang kami tekan mendapat reaksi. Pintu rumah terbuka, sosok laki-laki Belanda berjalan ke luar dan menuju pagar. Pintu pagar dibuka dan lelaki itu dengan ramah mempersilakan kami berdua masuk.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Memasuki rumah menuju ke ruang tamu kami harus melewati dapur. Di ruang tamu, seperti layaknya keluarga-keluarga Belanda, pasti ada kursi “raja”, yang ukurannya lebih besar dari kursi-kursi lainnya. Kursi itu dikhususkan untuk sang suami. Jansen, suami Ningsih, langsung duduk di kursi “raja”, menunjukkan dialah kepala rumah tangga di keluarga itu.

    Keadaan di Indonesia mendominasi percakapan sore hari itu. Jansen mengutak-atik kebobrokan Indonesia. Dia mengemukakan argumen dan analisis sebagai orang Barat. Arogan, sok tahu dan menggurui. Kepalaku menjadi pening. Percakapan kami berubah menjadi debat. Adu argumentasi.

    Ningsih tidak mengikuti percakapan kami. Dia sibuk di dapur membuka kiriman yang dibawa oleh ibu temanku itu. Tak lama Ningsih muncul dengan nampan membawa cangkir-cangkir kopi. Ada penganan khas Belanda kue speculaas, kue kering cokelat berbumbu. Ningsih berjalan terbungkuk-bungkuk seperti gaya seorang batur (pembantu). Dia kelihatan gugup ketika meletakkan mangkuk besar milik Jansen di atas meja, kemudian mempersilakan mengambil cangkir berisi teh.

    Ningsih kemudian masuk ke dapur. Lama dia tidak ke ruang tamu untuk bergabung bersama kami. Setelah Jansen memanggil, barulah Ningsih keluar dari dapur dan duduk di pojok ruang tamu sambil mengawasi bayinya. Dari seluruh pembicaraan kami mengenai masalah yang terjadi di Indonesia, Jansen selalu mengaitkan sosok Ningsih di dalamnya. Seolah Ningsih adalah Indonesia yang patut dikasihani. Dia dibawa ke Belanda supaya lebih maju dan modern.

    Ningsih diam tidak bereaksi atau berkomentar atas ucapan-ucapan Jansen. Ada kesan Ningsih takut pada Jansen. Ketakutan seorang pembantu pada tuannya. Ningsih berasal dari keluarga kurang mampu di pinggiran kota Bogor. Bisa lulus SMA saja sudah suatu berkat yang harus disyukuri. Lewat sebuah biro jodoh amatir Ningsih berkenalan dengan Jansen. Jansen kemudian datang ke Bogor, ingin melihat Ningsih secara langsung.

    “Setelah Thailand, aku ke Indonesia. Aku punya banyak koleksi foto dan riwayat hidup perempuan-perempuan Asia,” ujar Jansen dengan gaya arogan, menceriterakan pada kami kisah perjumpaannya dengan Ningsih. Dari segi materi Jansen beruntung. Pekerjaannya sebagai akuntan di perusahaan jasa yang besar di Belanda, menyebabkan dia dapat memiliki mobil BMW seri terbaru, rumah bagus di kawasan elite di kota Loosdrecht, pakaiannya bermerek. Dengan gaji yang bagus Jansen bisa berlibur tiap tahun.

    Hanya karena Iba

    Jansen berjumpa dengan Ningsih di Bogor. Menurut Jansen, Ningsih bukan tipenya. Tetapi setelah melihat keadaan keluarga Ningsih timbul rasa ibanya, ingin mengangkat kehidupan ABG kampung ini. Tetapi sebenarnya keluarga Ningsih kurang berkenan anaknya kawin dengan Jansen. Ada beberapa kejadian yang membuat keluarga ini tawar hati.

    Pernah kejadian, ice cream yang dibeli oleh Jansen dimakan oleh salah seorang keponakan Ningsih yang berusia 7 tahun. Jansen marah luar biasa. Ada juga beberapa peristiwa lain yang menunjukkan Jansen adalah manusia yang penuh perhitungan. Ningsih belum lagi berusia 20 tahun ketika dia harus menerima lamaran Jansen yang berusia 54 tahun. Mereka akhirnya menikah. Ningsih pun diboyong ke Negeri Belanda. Negeri yang rata dan selalu dingin.

    Ningsih menjadi warga negara Belanda. Waktu itu siapa pun yang menikah dengan warga Belanda boleh menjadi warga negara Belanda. Namun akibat berbagai ulah teroris, Pemerintah Belanda memperketat peraturan menyangkut izin tinggal dan kewarganegaraan.

    Beberapa hari setelah bertamu ke rumah Ningsih, aku bertemu dengan Ningsih bersama bayinya di winkel centrum (pusat pertokoan) Kerkelanden dekat rumah. Usai berbelanja, Ningsih dengan setengah memaksa ingin mampir ke rumahku. Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang kiri kanannya dirimbuni pokok mawar hutan berwarna merah muda. Pemandangan yang indah. Tetapi seindah itukah perasaan Ningsih? Karena aku melihat “pelangi” di bola matanya. Tiba di rumah, tangis Ningsih pecah.

    “Mbak, ada hal yang ingin aku ceriterakan”, Ningsih membuka percakapan. Perkawinanku sebenarnya adalah sebuah perbudakan dalam bentuk lain. Aku setiap malam harus melayani permintaan Jansen. Dia ingin punya anak banyak dari rahimku. Tetapi Mbak sendiri tahu kehidupan di Belanda kan sulit. Semua harus dikerjakan sendiri. Menggaji pembantu? Kita bisa bangkrut.

    Bayiku belum lagi setahun, Jansen sudah ingin aku hamil lagi. Jansen memang cinta anak-anak, tetapi dia tidak mencintaiku. Aku hanya dipakai sebagai alat reproduksi untuk menghasilkan anak baginya. Dia mengharuskan aku makan makanan yang bergizi tinggi agar melahirkan bayi yang sehat. Tetapi lihatlah, Mbak, tubuhku tetap saja kurus. Sebab biarpun aku makan tiap hari tetapi kalau hatiku selalu terluka, tidak tenang, tetap saja kurus. Jansen orangnya kasar, suka menghina dan menekan harga diriku sebagai seorang perempuan yang hidup miskin yang berasal dari Indonesia.

    Hatiku berontak tetapi aku harus menerima keadaan ini karena di kandunganku saat ini sudah ada janin. Aku harus menunggu hingga anakku lahir dan cukup besar, barulah aku akan mengambil langkah-langkah yang tegas. Kekasaran Jansen tidak saja di dalam rumah, tetapi juga saat bertamu ke rumah orang lain. Pernah dia mengempiskan ban mobil suami temanku sesama orang Indonesia. Aku dipermalukan saat itu. Dan kejadian lain yang memalukan sering terjadi. Jansen sering membentak aku di muka teman-teman.

    Dan yang paling tidak aku sukai bila dia sudah mulai membicarakan masalah yang terjadi di Indonesia. Walaupun sekarang aku sudah warga negara Belanda, tetapi jiwaku masih Indonesia. Aku tetap merah putih. Sore itu aku hanya bisa menasihati Ningsih supaya jangan terlalu memikirkan hal-hal yang bisa mengganggu kandungannya. Tak lama sesudah pertemuan itu aku dengar Ningsih keguguran.

    *****

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (8)

    Jadi Objek Jiwa yang Sakit

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Kisah Kawin Campur yang Berakhir Tragis (Bagian 4)

    Kisah Kawin Campur yang Berakhir Tragis (Bagian 4)

    Kisah Kawin Campur (Bagian 4).

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (5)

    Aku Jadi Bank “ATM” Simon

    Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    freecodesource.com
    Broken Heart

    HILVERSUM – Sekitar 30 kilometer dari Amsterdam ke arah tenggara kita akan jumpai kota kecil Hilversum. Kota ini mendapat julukan “Media Stad”-Kota Media, sebab di sini terdapat sekitar 11 studio televisi dan Pusat Siaran Radio Internasional Belanda atau Radio Nederland Wereldomroep. Salah satu bagian dari Radio Nederland Wereldomroep adalah seksi Siaran Bahasa Indonesia yang sudah ada sejak lembaga radio ini didirikan tahun 1947.

    Orang Indonesia tidak terlalu banyak di kota ini, tidak seperti di Den Haag atau Amsterdam. Hubungan antar sesama orang Indonesia cukup terpelihara dengan baik. Orang Indonesia saling kenal satu dengan yang lain. Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan Naning, perempuan Indonesia asal Tangerang, ketika kami sedang menawar barang yang sama di pasar loak di Loosdrecht, kota wisata danau tak jauh dari Hilversum.

    “Eh, Mbak dari Indonesia ya,” kata Naning. “Ya, ya aku dari Indonesia”, jawabku. “Aduh senang ketemu orang setanah air”, sambung Naning. Dia kemudian memperkenalkan Simon, laki-laki indo berbadan tinggi besar. Pokoknya, pada kesan pertama semua orang akan mengatakan Simon ini laki-laki ganteng.

    Dari perkenalan di pasar loak itu, hubungan kekeluargaan kami bersambung. Naning sering datang ke rumahku untuk membantu bila aku mengadakan acara rame-rame. Sebulan sekali dia juga datang untuk menggunting rambutku dan anak-anakku. Menurut Naning, perkenalannya dengan Simon lewat budi baik salah seorang keluarga Simon yang berkunjung ke Indonesia. Selang setahun setelah mereka berhubungan lewat surat, Simon datang ke Indonesia, tepatnya di Tangerang, untuk melamar Naning. Mereka kemudian menikah di Jakarta.

    Setelah itu karena harus pindah ke Belanda, Naning menjual salonnya yang selama ini menghidupinya. Naning mengatakan sangat mencintai Simon, walaupun selama perkawinan mereka yang belum satu tahun Naning sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan. Dia pernah ditempeleng oleh Simon dan sering dimaki, dihina dan selalu dipojokkan dengan kalimat-kalimat yang menekan. Simon selalu membanggakan diri dengan mengatakan kalau bukan karena dirinya, Naning tidak dapat ke Belanda untuk mengubah nasib.

    Tetapi setelah hampir tiap hari mendapat perlakuan kurang menyenangkan, akhirnya Naning mulai goyah. Rasa cintanya kepada Simon mulai pupus. “Aku sadar sekarang, Mbak, bahwa aku saat ini sudah tidak punya apa-apa lagi. Harga diri dan harta bendaku habis karena ulah laki-laki ini. Aku adalah bank hidup Simon. Aku harus bekerja dan penghasilan seluruhnya harus kuserahkan pada Simon. Sudah kepalang basah, aku harus pintar-pintar membawa diri. Aku coba menunggu hingga tiga tahun tinggal di Belanda sampai izin tinggalku keluar,” kata Naning.

    Bisa dibayangkan, penderitaan perempuan ini. Dia bekerja tiga shift dalam satu hari. Jam 08.00-10.00 menjadi petugas cleaning service di sebuah rumah jompo di Laren, kota kecil dekat Hilversum. Jam 11.00-12.00 ia menghabiskan waktu untuk makan siang dimana saja karena tidak sempat pulang ke rumah. Jam 13.00-18.00 Naning berkeliling kota Hilversum dan sekitarnya untuk menjual jasa sebagai penggunting rambut, cream bath, facial, manicure/pedicure kepada pelanggannya yang kebanyakan orang Indonesia. Dalam sehari Naning bisa melayani empat pelanggan.

    Usai istirahat makan malam, dia melanjutkan mencari nafkah di sebuah afhal centrum (toko makanan) untuk menggulung lumpia atau risoles. Naning baru bisa pulang ke rumah pada pukul 23.00. Di musim dingin Naning akan lebih menderita lagi. Udara dingin menggigit, atau salju yang turun tebal, bukan alasan bagi Naning untuk tidak bekerja. Bila udara sudah 10 derajat di bawah titik beku, dimana salju dan air sudah berubah menjadi es batu, Naning harus ekstra hati-hati setiap kali berjalan keluar rumah, karena bisa-bisa dia akan meluncur jatuh seperti orang bermain ice skatting.

    Naning menguras tenaganya bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk membayar utang mantan istri Simon yang gemar berjudi. Kalau Naning bermalas-malasan, maka tangan Simon akan mendarat di tubuhnya. “Apa kamu sudah lapor polisi?” aku bertanya pada Naning. “Enggak berani, Mbak. Nanti aku disuruh pulang ke Indonesia. Izin tinggalku kan dijamin oleh Simon. Aku baru bisa menjadi warga negara Belanda dua tahun lagi”, jawabnya. Kala itu, seseorang baru boleh mendapat izin tinggal tetap bila sudah tiga tahun tinggal di Belanda. Sedangkan untuk menjadi warga negara Belanda, seseorang harus lima tahun menjadi penduduk tetap Belanda.

     

    Kalung Terputus Tiga

    Pagi itu, bel rumah kami berbunyi. Pintu dibuka dan Naning berdiri di depan pintu. Matanya sembab. Pipinya biru kehijau-hijau. “Aku sudah tidak tahan, Mbak. Aku harus pergi dari rumah itu. Simon memukul aku lagi. Bank pasku diambil,” tangis Naning pecah sambil memelukku. Di genggaman tangannya ada seuntai kalung yang sudah terputus menjadi tiga. Menurut Naning, pagi itu terjadi “perang”. Simon meminjam bank pas (kartu ATM) milik Naning untuk mengambil uang di bank, namun Naning menyembunyikannya. Simon marah besar. Dia merusak sepeda bekas yang baru saja dibeli Naning. Kursi dan meja makan diobrak-abrik. Naning juga ditampar dan didorong hingga jatuh. Kalung emas di lehernya ditarik Simon hingga putus tiga.

    Walaupun sudah mendapat perlakuan demikian, Naning tetap saja tidak mau melapor ke polisi. Dia takut, polisi akan mengirimnya pulang ke Indonesia. Kemudian aku berusaha menemui Simon sekadar untuk memberi nasihat bahwa Naning adalah istrinya yang harus disayangi dan dicintai. Simon menjawab dengan sikap arogan, “Seharusnya Naning bersyukur aku kawini, karena dengan demikian dia bisa tinggal di Belanda”.

    Saat itu batinku berontak, aku tidak dapat menerima kaumku diperlakukan demikian. Kasus Naning bak buah simalakama, yaitu menerima siksaan Simon atau harus mau dipulangkan ke Indonesia padahal Naning sudah tidak punya apa-apa lagi. Harta dan harga dirinya telah digadaikan untuk seteguk cinta bagi laki-laki ganteng bernama Simon dan sekadar mencari hidup yang lebih baik di tanah orang.

    Aku tak dapat berbuat apa-apa, karena di Belanda hukum dan hak asasi manusia saling berkaitan, tetapi mereka memperlakukan hak seseorang berdasarkan hukum yang berlaku. Dalam kasus Naning, haknya akan dibela, tetapi keputusan hukum, dia harus kembali ke Indonesia. Naning bersikap teguh, apapun yang terjadi tidak mau pulang ke Indonesia.

    *****

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4) – Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat

    Bagian 1 klik disini

    Bagian 2 klik disini

    Aku Kesengsem pada Lelaki Itu

    Oleh Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    UTRECHT – Kisah lain dialami oleh temanku, Amiatun. Setamat SMA di Pontianak, Kalimatan Barat, gadis cantik itu melanjutkan pendidikan ke sekolah tari di Bandung, Jawa Barat. Menjadi penari dan guru tari merupakan cita-cita gadis bertubuh semampai ini.

    Di Bandung, Amiatun kos di rumah ibu Supinah, janda seorang Belanda pegawai perkebunan teh. Memang, janda ini hidup dari menyewakan kamar-kamar di rumahnya yang tergolong besar dan terletak di jalan kelas satu di Kota Bandung. Selain menerima kos, ibu Supinah juga menerima turis-turis dari manca negara. Tetapi karena ibu Supinah fasih berbahasa Belanda, maka kebanyakan turis yang menginap adalah orang-orang Belanda. Di suatu sore yang sejuk sepulang dari sekolah,

    Amiatun melihat ada sebuah minibus di halaman rumah kosnya. Beberapa turis berkulit putih turun dari minibus dan berjalan memasuki rumah disambut ibu Supinah. Oleh ibu Supinah, Amiatun diperkenalkan dengan tamu-tamu asing itu. Mereka akan menginap selama tiga hari. Saat itu jantung Amiatun bergetar tatkala berjabat tangan dengan salah seorang laki-laki dari rombongan turis tersebut. “Gerard…,” kata lelaki itu.

    Aduh Mbak, aku hampir pingsan“, ungkap Amiatun, melukiskan perasaannya ketika itu. Berikut ini ceritanya: Laki-laki seperti Gerard selalu ada dalam angan-anganku. Beberapa tahun yang silam, keluarga kami tinggal di salah satu kota dimana banyak orang asing. Tetangga kami adalah pasangan muda asal Prancis yang hidup begitu harmonis. Sang suami begitu romantis memperlakukan istrinya. Aku yang saat itu masih gadis kecil merekam di dalam benakku, semua yang kulihat semasa kecil.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Aku juga bermimpi kelak ingin bersuamikan laki-laki seperti laki-laki Prancis tetanggaku itu. Dan mimpi itu terbawa hingga saat aku berkenalan dengan Gerard. Mimpi-mimpiku seakan menjadi kenyataan. Laki-laki Prancis tetanggaku itu seakan-akan hidup di depanku. Aku kesengsem pada lelaki. Dan ternyata gayung bersambut. Gerard juga menyenangi aku. Maka kami berdua menjadi dekat. Dia begitu galant dan sopan. Namun tak terasa, rombongan Gerard akan berangkat ke Yogyakarta, lalu Bali dan langsung kembali ke Belanda. Maka hubungan kami dilanjutkan lewat surat dan kartu pos, juga lewat telepon. Perkenalan kami terjadi di bulan Agustus 1991, lalu aku dilamar dan langsung kawin pada bulan November tahun itu juga. Gerard mengikuti semua persyaratan yang diajukan keluargaku. Kami menikah dalam adat Jawa. Mungkin inilah pesta yang besar dan mewah yang pernah diadakan di kampungku.

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

    Dua minggu usai perhelatan, Gerard harus segera kembali ke Belanda, karena dia hanya boleh cuti dua minggu. Sedangkan aku, baru menyusul dua bulan kemudian, karena harus mengurus surat-surat kepindahan ke Negeri Belanda. Bulan Januari 1992, saat musim dingin mencapai puncaknya, aku berangkat menyusul Gerard ke Negeri Belanda. Untuk itu, dua minggu sebelumnya aku sudah mengirimkan surat dengan pos kilat. Sebab hubungan telepon di rumah Gerard terputus sejak pernikahan kami, entah mengapa. Sehingga satu-satunya caraku untuk menghubungi Gerard hanyalah lewat surat.

    Tiba di Schiphol Pagi-pagi buta pesawat KLM yang aku tumpangi mendarat di Bandara Schiphol. Hatiku berbunga-bunga membayangkan tak lama lagi akan bertemu dengan suami tercinta. Dari balik dinding kaca tembus pandang, aku melihat keluar. Di luar hari masih gelap. Aku baru tahu bahwa pada musim dingin matahari di belahan bumi Eropa menampakkan diri lebih lambat dari musim panas. Menurut ibu asal Ambon yang duduk di sebelahku dalam pesawat, matahari pada musim dingin muncul kira-kira jam 8 pagi.

    Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan pabean, aku berjalan menuju pintu keluar dengan ditemani ibu yang baik itu. Tetapi di ruangan penjemput aku tidak melihat sosok Gerard. Aku melayangkan pandangan ke seluruh penjuru, namun Gerard tidak ada. Jantung tersentak, aku mulai panik. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Apakah surat kilat itu belum diterima. Tetapi itu tidak mungkin, karena sudah dua minggu surat aku kirimkan. Ibu Ambon yang baik hati itu menenangkan aku, karena kami sudah dua jam menunggu namun Gerard tak kunjung datang. Aku pun kemudian mampir ke rumah ibu Ambon di Amsterdam. Siang harinya dengan bantuan anak-anak ibu itu, aku berhasil menemukan nomor telepon baru milik Gerard.

    Tulisan Terkini

    Ternyata Gerard tidak begitu terkejut mengetahui istrinya sudah ada di Amsterdam, sebab dia pada pagi itu sudah menerima surat yang aku kirimkan. Cuma, dia bingung dimana aku berada. Lantas, aku dan Gerard pulang ke flat yang terletak di dekat kota Utrecht. Aku kembali terkejut untuk kedua kalinya, ketika memasuki flatnya yang hanya sebuah ruangan, tempat dimana Gerard makan, tidur dan menerima tamu.

    Aku sulit dihadapkan dengan kondisi ini. Sebab di rumah orang tuaku di Kalimantan, walaupun sederhana, setiap kegiatan dilakukan di ruangan tersendiri. Rumah kami seperti lazimnya rumah-rumah di Indonesia. Ada ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, ruang kerja, ruang belajar, dll. Tapi di negeri yang maju ini, semua kegiatan dilakukan di satu ruangan. Rasanya aku belum dapat mengadaptasi keadaan ini. Selain itu, untuk mencapai ruangan dimana Gerard tinggal di lantai 3, aku harus menaiki anak tangga yang membuat napasku tersengal-sengal. Belum selesai rupanya keterkejutanku pada hari itu.

    Hari semakin sore. Di musim dingin matahari cepat sekali masuk ke peraduan. Jam baru menunjukkan angka 4, tetapi di luar hari sudah gelap.

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (4)

    Curi Uang Celengan untuk Beli Roti

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2)

    Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2). Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat ( bagian 1) klik disini

    *****

    Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (2)

    Rahasia Sebuah Lemari

    Oleh : Yuyu A.N. Krisna Mandagie

    Kisah - Kisah Kawin Campur yang Tragis
    A successful marriage requires falling in love many times, always with the same person.
    Mignon McLaughlin

    AMSTERDAM-Waktu dua minggu terasa berlalu begitu cepat. Musim panas pun berakhir dan belahan Eropa memasuki musim gugur. Udara mulai dingin dan daun mulai berguguran. Tetapi aku belum mau beranjak dari pelukan laki-laki itu. Aku masih menginginkan kehangatannya.

    Dua minggu telah mengubah seluruh kehidupanku. Aku jatuh cinta pada Eduard. Aku tak mau kembali ke Jakarta lagi. Aku putuskan hubungan pertunanganku. Cincin kukirimkan kembali ke Jakarta. Keluarga kami di Indonesia heboh besar. Baik di Jakarta, Semarang maupun Manado. Tetapi terus terang, keadaan ini sebenarnya yang dikehendaki ibuku yang sok ke belanda-belandaan. Aku benar-benar jatuh cinta, dan tanpa menyelidiki lebih jauh, siapa sebenarnya Eduard itu, aku menerima lamarannya.

    Tulisan Terkini

    Eduard mengaku bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang cukup ternama di Belanda. Kami pun menikah di Indonesia. Yang paling berbahagia adalah ibuku yang waktu itu sedang sakit, karena memang ibu menginginkan aku menikah dengan orang Belanda. Tak lama ibu meninggal dunia. Aku bersyukur pada Tuhan karena ibu tidak sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku usai pemberkatan nikah. Karena seandainya ibu masih hidup dan mendengar apa yang dialami oleh putri bungsunya ini, ibu pasti akan sedih. Maklum, ibu sangat mendukung perkawinan kami.

    Selesai mengurusi surat-surat, dan setelah ibu dimakamkan, aku dan Eduard meninggalkan Jakarta menuju Amsterdam. Lalu aku langsung menjadi warga negara Belanda. Aku memasuki dunia baru, kehidupan baru di Amsterdam. Sebagai keluarga baru, kami menempati flat dengan dua kamar tidur di pinggiran Amsterdam. Eduard begitu menyayangiku. Kemesraan pengantin baru benar-benar aku nikmati.

    Suatu hari di bulan ketiga perkawinan, Eduard berkata kepadaku bahwa dia merencanakan akan mengganti semua perabotan di rumah, peninggalan istri tuanya. Eduard memang seorang duda. Kata Eduard, ia ingin semua perabotan baru, begitu pula mobil harus diganti baru. Aku kurang setuju dengan rencana tersebut. Sebab menurutku, biar saja kami memakai perabotan tua karena Eduard baru saja mengeluarkan banyak uang saat pernikahan kami di Jakarta.

    Tetapi Eduard tetap pada keputusannya. Menurut Eduard, uang gampang dicari, kami bisa pinjam di bank dan dibayar dengan cicilan dari gaji. Dan hal ini lumrah di Belanda. Akhirnya aku menyetujui dan menandatangani pinjaman uang di bank bersama dengan Eduard. Jumlahnya cukup besar.

    Enam bulan sesudah aku sah menjadi istri Eduard, aku dengan perasaan ingin tahu berhasil membuka lemari Eduard yang selalu dikunci rapat. Aku tidak pernah merencanakan untuk mencampuri urusan pribagi Eduard, karena dia selalu berkata privacy-nya jangan sampai diganggu oleh siapa pun, termasuk oleh istrinya. Dan ini komitmen kami berdua.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Rahasia Sebuah Lemari

    Pada suatu pagi, entah mengapa Eduard pergi ke tempat kerja tanpa membawa kunci lemari. Kunci itu tergeletak di atas meja. Mungkin dia lupa. Aku sangat terdorong untuk membuka lemari tersebut. Maka kemudian aku pun membukanya.

    Di dalam lemari itu ada sebuah kotak yang terkunci. Tetapi aku bisa membuka karena anak kunci ada dalam rangkaian kunci lemari itu. Kotak itu penuh dengan surat-surat. Dengan rasa ingin tahu aku mulai membaca surat itu satu per satu. Dan terbongkarlah begitu banyak rahasia mengenai siapa Eduard itu. Tetapi aku tak perlu membeberkannya.

    Sebagai orang terpelajar, aku bisa memilah-milah persoalan. Aku tahu, mana masalah yang cukup untuk diriku sendiri saja, tetapi aku juga tahu mana masalah yang perlu kulaporkan pada polisi.

    Namun yang paling mengejutkan, ternyata Eduard hanyalah seorang sopir di perusahaan penerbangan. Rupanya ia selama ini berbohong dengan mengaku sebagai seorang petugas mekanik pesawat terbang. Aku benar-benar kecewa. Pada masa mudaku, tidak sembarang orang bisa “datang” kepadaku. Tetapi kini aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang setiap malam aku tidur dengan seorang sopir bus.

    Tetapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Bak’ nasi sudah menjadi bubur. Meski begitu, aku mencoba bertahan. Berusaha mengubah bubur itu menjadi bubur ayam. Setiap hari aku hanya bisa mengelus dada dan setiap malam menangis. Aku hidup dalam tekanan, kebohongan dan kemunafikan. Tetapi aku berprinsip bahwa keluargaku di Indonesia tidak boleh mengetahui cerita sedih ini.

    Latar belakang budaya kami memang berbeda, kebiasaan-kebiasaan kami juga bertolak belakang. Ia kasar, pemabuk dan gemar pergi ke kasino. Ini menambah penderitaanku. Tetapi bila kami mulai berkasih-kasihan sebagai suami-istri, semua derita itu seakan sirna. Saat-saat itu Eduard sangat menyenangkan. Sesudah itu, aku kembali lagi pada penderitaan yang tak berujung. Keadaan ini berdampak negatif bagi jiwaku. Aku menghukum diriku sendiri dengan mengatakan diriku adalah perempuan rendahan sebab seks bisa membuatku lupa akan penderitaan. Betapa rendahnya seorang Albertina. Maka kepribadianku pun goyah, dan kesehatan merosot. Aku menjadi langganan dokter dan rumah sakit.

    Setelah bertahan hidup sebagai istri Eduard selama dua tahun, aku tak sanggup lagi. Maka kami pun bercerai. Setelah bercerai, aku menyangka sebagian penderitaan akan berakhir. Tetapi ternyata derita itu semakin bertambah. Seperti yang kututurkan tadi, beberapa bulan setelah pernikahan, kami meminjam uang di bank. Aku ikut menandatangani formulir pinjaman itu. Nah, disinilah penderitaan itu bersambung. Aku berkewajiban melanjutkan pembayaran pinjaman itu, walaupun kami sudah bercerai. Usai perceraian, Eduard menghilang bak di telan bumi. Alamatnya tidak jelas. Dia menjadi buronan polisi. Mungkin dia telah pindah ke negara lain dengan identitas lain pula.

    Dari tunjangan janda, aku dapat hidup dari hari ke hari sambil membayar cicilan pinjaman ke bank. Aku bersyukur pada Tuhan, di saat kejatuhanku, komunitas Indonesia yang ada di Belanda sangat membantu. Mereka menampungku secara cuma-cuma, setelah aku keluar dari flat karena Eduard tidak membayar uang sewanya. Kemudian dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik dan bahasa Belanda yang seadanya, aku diterima bekerja di sebuah bank asing. Hidupku mulai tenang.

    Beberapa tahun kemudian setelah hidup menjanda, aku menerima lamaran seorang laki-laki Indonesia. Ia mengerti dan memaklumi keadaanku. Waktu itu aku tidak secantik dahulu ketika masih muda. Aku kini seorang wanita yang sakit-sakitan, tetapi Robert mau mendampingiku, menerima diriku apa adanya. Kami menikah dan kini mempunyai tiga anak laki-laki yang sehat. Tetapi penyakitku semakin parah. Aku tetap saja sakit-sakitan, seminggu sekali harus cuci darah.

    Lanjutan bagian 3 Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4).

    Pembaca setia, sebelum menikah dengan siapapun itu, dan dari bangsa manapun, kenali baik-baik calon pasanganmu. Apalagi kalau berencana menikah dengan orang asing, sebaiknya kita mengunjungi dahulu negara calon kita bermukin. Kenalan dengan keluarga dan teman-temannya, cari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai calon kita.

    *****

    Artikel sisi gelap Perkawinan Timur Barat pernah di muat media online sinarharapan.co.id sebagai tulisan bersambung, sayangnya linknya tidak bisa dibuka lagi yakni sinarharapan.co.id/berita/0507/19/sh09.html Mengapa semua kisahnya di Belanda, ya karena Yuyu A.N. Krisna Mandagie sebagai penulis dan keluarganya dalam beberapa tahun tinggal di Belanda.

  • Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis

    Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis

    Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis. A good marriage is one which allows for change and growth in the individuals and in the way they express their love. Pearl Buck (1892 – 1973)

    Sahabat bloger, apakah kalian lebih banyak mendengar kisah-kisah kawin campur yang bahagia atau malah lebih sering mendengar sisi negatifnya?.

    Mencari si Belahan Jiwa (Foto gettyimages) Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis
    Mencari si Belahan Jiwa (Foto gettyimages)

    Beberapa saat lalu, saya sedang bongkar-bongkar file-file di komputer saya. Membaca beberapa artikel, melihat banyak sekali koleksi foto-foto saya, dan kemudian saya menemukan satu file berisi kisah-kisah kawin campur yang ditulis oleh Yuyu A.N. Krisna-Mandagie.

    Artikel ini pernah di media online sinarharapan.co.id sayangnya linknya tidak bisa dibuka lagi yakni: sinarharapan.co.id/berita/0507/19/sh09.html *link sudah tidak aktif lagi 🙁 .

    Saya ingin menampilkan artikelnya di blog saya ini, mungkin ada yang tertarik mengetahui sisi lain pernikahan campur. Ada 13 halaman kisahnya, namun sayangnya mungkin semuanya adalah kisah yang sedih. Selamat membaca ..

    *****

    Sisi Gelap Perkawinan Timur Barat (1)

    Oleh Yuyu A.N. Krisna-Mandagie

    Pengantar Redaksi:

    Perkawinan adalah komitmen sakral legal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk rumah tangga. Tapi seringkali kenyataan berbeda dengan harapan. Contoh kasus, kisah tentang derita perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki Belanda.

    Hubungan sejarah emosional antar kedua bangsa ini ternyata sering membawa dampak buruk dalam rumah tangga mereka.

    Mulai hari ini Sinar Harapan menurunkan tulisan bersambung “Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat“.

    Tulisan berikutnya, mulai Rabu (20/7), dimuat di halaman 10. Penulis dan keluarganya dalam beberapa tahun belakangan ini tinggal di Belanda.

    AMSTERDAM- Perkawinan adalah komitmen sakral antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan cinta kasih mereka dalam satu kehidupan rumah tangga, baik suka maupun duka. Namun kadang apa yang diharapkan, diimpikan dan dicita-citakan sangat berbeda dengan yang apa yang dialami. Semoga pengalaman pahit yang dialami beberapa perempuan Indonesia yang bersuamikan Belanda seperti yang dituturkan dalam tulisan ini, menjadi pelajaran dan bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan untuk menikah dengan laki-laki dari belahan bumi lain, khususnya Barat ini. Berikut adalah ungkapan-ungkapan sejumlah perempuan Indonesia yang bersamikan orang Belanda.

    Tulisan Terkini

    Yu, aku harus cuci darah lagi besok. Kesehatanku menurun benar minggu ini,” tutur Albertina, perempuan Kawanua berwajah Timur Tengah, mantan pramugari yang kini hidup di Lelystad, Belanda, menghitung hari-harinya. “Mbak, aku terpaksa mencuri uang celengan Gerard untuk membeli roti,” kata Amiatun, perempuan lain yang tinggal di Utrecht. “Aku tak tahan, Mbak. Aku harus pindah dari rumah itu. Simon memukul aku lagi. Bank pas-ku diambil,” ujar Naning, wanita lain lagi, saat aku membuka pintu rumahku di Hilversum, Belanda. Wajahnya sembab dan bengkak biru kehijau-hijauan. Sambil menggenggam kalungnya yang putus-putus, Naning menangis di pangkuanku. Naning kini tinggal di Hoofddorp, kota KLM dekat Schiphol.

    Coba lemari es saja dikunci, Mbak,” keluh Anie, perempuan asal Karawang yang tinggal di Den Haag.

    Baca juga: Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

     

    Pramugari Garuda

    Cafe Majestic di samping toko serba ada Bijenkorf Amsterdam ramai, hampir tidak ada kursi yang kosong. Tempat ini memang populer sebagai tempat rendez vous kalangan tua dan muda. Duduk menikmati segelas ijs lemon tea, sinar matahari musim panas bulan Juli dan lalu-lalang manusia, mobil, trem, bus dan sepeda memberikan kenikmatan tersendiri bagi Albertina, perempuan kurus berkulit pucat dengan wajah Timur Tengah. Siang itu aku menemaninya sambil mendengar curahan hatinya. Begini ceritanya.

    Aku adalah Albertina, lahir sebagai putri bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Kawanua baik-baik. Ayahku seorang pegawai, ambtenaar, yang berkedudukan cukup tinggi di daerah asal kami. Ibuku karena pengaruh lingkungan, sangat ke belanda-belandaan. Saudara-saudaraku yang berjumlah tujuh orang itu semuanya berhasil dalam kehidupannya berkat didikan yang keras dari kedua orang tua kami.

    Tahun 1975 aku diterima oleh Garuda Indonesia Airways (GIA) sebagai pramugari. Waktu itu, untuk menjadi pramugari, persyaratannya cukup berat. Harus bisa berbahasa Inggris dengan baik. Postur tubuh harus seimbang antara tinggi dan berat badan. Harus menarik. Pokoknya sangat berat. Karena memang saat itu pramugari yang dibutuhkan masih sangat kecil jumlahnya. Jadi kami benar-benar pilihan. Aku sangat bangga dan menjadi sombong dengan pekerjaan ini. Tahun pertama hampir seluruh kota besar di Indonesia aku jelajahi. Tahun kedua, kota-kota besar di Asia menjadi tempat persinggahanku. Singapura, Bangkok, Tokyo, adalah kota-kota yang tidak asing bagiku. Sarapan pagi di Jakarta, makan siang di Tokyo.

    Tahun ketiga, kota-kota besar di Eropa menjadi tempat yang tidak asing bagiku. Amsterdam, Frankfurt, Muenchen, Zurich, Roma, Paris, untuk sementara orang hanya sampai taraf memimpikan kota-kota itu, tapi bagiku kota-kota ini biasa aku kunjungi atau singgahi saat kerja maupun sekadar

    berlibur. Saat itu mengoleksi barang-barang porselin Italia menjadi tren di kalangan ibu-ibu yang berduit. Aku memanfaatkan situasi ini, berdagang barang-barang tersebut, jambangan bunga, lampu, meja, cermin rias. Pokoknya beraneka ragam proselin produksi Italia menjadi bagian dari bisnisku sebagai pramugari.

    Kehidupanku menjadi sangat jet set. Terbang kemana-mana. Singgah dimana-mana. Uang melimpah. Pergaulanku cukup luas. Aku memiliki kekasih anak keluarga Jawa yang terpandang. Pada saat itu aku adalah orang yang paling berbahagia. Kami sudah ditunangkan dengan laki-laki Jawa yang sangat aku cintai itu. Apalagi yang kurang dalam kehidupanku? Semuanya terpenuhi. Calon suami dari keluarga terpandang. Pekerjaannya pun bermasa depan yang cerah.

    Tahun 1979 aku menghabiskan liburan tahunan di Amsterdam, Negeri Belanda. Saat itulah bencana menyinggahi kehidupan pribadiku. Malam itu bersama dua temanku sesama pramugari, aku diundang oleh salah satu keluarga dari salah seorang teman itu. Seusai makan malam, kami lanjutkan dengan minum-minum sambil ngobrol. Di tempat inilah aku berkenalan dengan seorang pria Belanda totok, sebut saja Eduard. Laki-laki ini cukup handsome dan memikat. Aku tidak tahu apakah ini hanya pengaruh wine.

    Sejak malam itu dan malam-malam selanjutnya selama berlibur di Amsterdam menjadi malam kami berdua. Aku tidak ingat dan sadar bahwa aku sudah bertunangan. Kami ke Dusseldorf, kota belanja di Jerman. Eduard sangat royal membelanjakan uang bagiku. Dan aku menikmatinya. Apapun yang kuingini langsung dibeli.

    Lanjutan (Bagian 2) Rahasia Sebuah Lemari – Kisah-kisah Kawin Campur yang Tragis.

  • Cinta via Biro Jodoh Online | Bertemu Bule Jerman

    Cinta via Biro Jodoh Online | Bertemu Bule Jerman

    Cinta via Biro Jodoh Online. Ladies pernahkan kalian mengamati istilah-istilah mesin pencari yang masuk ke blog kalian?, tiap hari saya rajin mengeceknya, dan saya seringkali tersenyum-senyum membacanya. Saya coba menggumpulkannya dalam 2 bulan belakangan ini, seperti ini ya :

    Perkawinan beda Negara, pacaran bule online tidak pernah ketemu, wanita indo ditipu pria asing dari situs online, pengalaman berumah tangga sama bule, percintaan dgn pria bule, bule benci salju, penipuan pria asing dengan modus cinta, penipuan modus cinta, cara penipuan bule, penipuan modus cinta di internet, penipuan cinta lewat fb, penipuan pria asing dengan modus cinta, penipuan modus cinta di internet, jangan pernah percaya cinta di dunia maya dengan bule, penipuan pria asing lewat facebook, no telp bule penipu, contoh pernikahan orang indonesia jerman.

    Istilah-istilah mesin pencari seperti diatas cukup menyumbangkan trafik ke blog saya. Selain itu banyak juga yang mengirim email ke saya, menanyakan bagaimana saya bertemu suami, bagaimana caranya mencari pasangan bule, apa suka dukanya menikah dengan orang beda bangsa, ribet ga mengurus surat-surat untuk menikah dan pindah ke negara lain, bagaimana penyesuaian di negara baru dan lain-lain. Oh ya bahkan banyak yang nitip minta dicarikan cowo bule hehehe.

    Tulisan Terkini

    Daripada tiap kali jawab email, mengulang jawaban yang sama (saya ketik ulang loh!), menurut saya lebih baik saya coba membuat beberapa judul dengan tema: Dimana berkenalan atau cari jodoh orang asing, bagaimana mengetahui bule yang serius atau cuma main-main saja, bagaimana menghindari penipuan cinta di dunia maya. Tema-tema lain mungkin akan menyusul ya. Jadinya tulisan-tulisan tersebut nantinya akan saya buat di profile saya misalnya.

    Untuk bahasan awal saya mau cerita:

    • Pertemuan awal
    • Ketemu di situs apa

    Saya bertemu (mulai kenalan dengan suami) melalui Biro Jodoh Online (dating online) pada awal Maret 2010. Nama situsnya asianeuro.com sekarang menjadi asiandating.com kalau buka keduanya sama saja. Situs tersebut khusus orang asing (Western) yang mencari pasangan asal Asia. Hayoo yang single langsung penasaran buka deh! 😉 .

    Saya mendaftar di situs tersebut dengan member gratisan, prinsip saya, pria yang harus keluar modal alias member berbayar haha.. Saat itu untungnya calon saya berpikiran sama dengan saya, jadi dia upgrade membershipnya sehingga kami bisa berkenalan lebih jauh melalui email. Kalau sama-sama member gratisan tidak bisa mengetahui email calon target kita dan tidak bisa berkomunikasi lebih lanjut, jadi hanya bisa kirim-kirim simbol suka “like” saja sampai salah satu upgrade member berbayar.

    Tapi ya, kalau kamu (cewe) mau upgrade member berbayar ya gpp juga ko, daripada target yang kamu lihat lewat begitu saja kan hehe, silakan coba 3 bulan member berbayar.

    Beberapa tahun sebelumnya, sebenarnya saya sudah pernah mendaftar ke situs online dating ini, namun tidak pernah beruntung. Jadi saya tutup keanggotaan saya. Nah penghujung tahun 2009 doa minta jodoh makin kenceng. Mintanya bule yang baik hati, yang tidak mempermainkan hati wanita, yang punya kerjaan bagus dan TIDAK MEROKOK!.

    Setiap hari hati saya terus menggerakkan saya untuk mendaftar kembali ke asianeuro.com. saya selalu menepis kata hati saya, “..dulu sudah pernah daftar tidak dapat yang baik”. Akhirnya awal bulan Januari 2010 saya mendaftar kembali.

    Saya buat profile saya sebaik mungkin, saya tuliskan kriteria seperti apa calon yang saya inginkan. Saya menuliskan kalau saya seorang yang rohani, saya guru sekolah minggu (saat itu), pokoknya saya tulis detail mungkin untuk menghindari para pria iseng yang hanya akan membuat patah hati.

    Situs tersebut juga meminta kita mengisi banyak data mengenai diri kita, memang agak mengesalkan, tapi hal ini berguna supaya mesinnya bisa mencocokkan dengan calon yang kriterianya mendekati pilihan kita. Kalau malas menjawab semua pertanyaannya bisa dicicil kerjain setiap hari.

    Pertanyaan-pertanyaannya di online dating untuk mencari calon yang sesuai dengan kriteria yang kita cari, antara lain:

    What is your favorite movie?
    What is your favourite book?
    What sort of food do you like?
    What sort of music do you like?
    How would you describe your dress sense and physical appearance?
    How would you describe your sense of humor?
    How would you describe your personality?
    What are your hobbies and interests?
    What countries have you traveled to (or where would you like to travel to)?
    How adaptative are you to having a partner from a different culture to your own?
    How would you spend a perfect romantic weekend?
    What sort of person would be your perfect match?

    Baca juga: WASPADA Trik Baru Scammer Bule Penipu Cinta di Instagram Tahun 2022

    Selama sebulan setelah join, ko ga nemu yang sreg, padahal semua bule ganteng sudah di dikasih jempol “likehahaha. Yang masuk ke inbox saya malah kebanyakan yang tidak benar semua!, alias bukan kriteria yang saya cari.

    Contohnya pria Perancis umur 50 an, meminta saya ke negaranya, katanya semua pengeluaran saya bayar sendiri dulu, setelah bertemu dia akan diganti. Parahnya si cowo cuma bisa bahasa Perancis gubrak.com deh.

    Ada lagi bule kerja di Jakarta, beberapa kali kita kirim-kirim pesan. Saya ga sreg ah karena statusnya duda, punya satu anak, bakalan di damprat nyokap kan haha. Ada lagi orang-orang kulit hitam agggrhhh para pria iseng apakah tidak baca profile saya yaa. Pokoknya harus sabar kalau join biro jodoh yaaa.

    Akhirnya pada bulan Maret 2010 (lupa awal atau akhir), ada pesan yang masuk ke inboxku, kalau bisa kirim pesan berarti member berbayar nih, asyikk. Ganteng bo! tapi ko rambutnya agak hitam, bule beneran ga ya 😛 ; tunggu jangan kegirangan dulu, coba cek profilenya, kerjaannya sebagai apa, pendidikan, agama, dll.

    Oke sepertinya profilenya cocok dengan yang saya cari. Akhirnya kita bisa saling kirim email, lalu chat di msn. Setelah beberapa waktu, saya sreg kasih no hp saya, lalu dia sering telp dan sms saya.

     

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Our 1st. Civil Marriaged Anniversary

    Our 1st. Civil Marriaged Anniversary

    Our 1st. Civil Marriaged Anniversary. Hari ini tepat satu tahun pernikahan kami, secara catatan sipil. Kami menikah di catatan sipil pada 20 Juli 2011. Pernikahan catatan sipil diadakan di Thun, Switzerland.

    Our 1st. Civil Marriaged Anniversary
    Our Civil Marriaged (Foto: dok. pribadi)

    Kenapa di Swiss? Karena dahulu Frank selama 5 tahun kerja dan menetap di Swiss. Pada saat kami berkenalan-pun Frank masih menetap di Swiss.

    Kemudian Frank kembali menetap di negara asalnya Jerman, karena menurutnya Swiss terlalu dingin untuk saya, dan Zweisimmen tempat tinggal dia kala itu, terlalu sepi buat saya. Namun kala itu surat-surat untuk menikah terlanjur kami ajukan ke kedutaan Swiss, itu kenapa kami menikah catatan sipil di Swiss, dan pemberkatan pernikahan di Jerman ;-).

    Met online April 1st 2010
    Met in Real Life June 26th 2010
    Official Proposal November 26th 2010
    Civil Marriage July 20th 2011
    Holy-matrimonial April 20th 2012
    We made it Frank.
    I love you,
    -Nella-

    Ayat mas pernikahan kami:

    Ecclesiastes 4:9-10
    Two are better than one,
    because they have a good return for their work:
    If one falls down,
    his friend can help him up.
    But pity the man who falls
    and has no one to help him up!

     

    *I offer you:
    my commitment,
    my time,
    my hope for the future,
    a shoulder to cry on,
    a smile to lift you up,
    an arm to give you strength,
    shelter from all harm,
    and a kiss to inspire you.
    I offer you my heart
    and all I have to give.
    I offer you a
    lifetime of love.

    “There is no more lovely, friendly and charming relationship, communion or company than a good marriage”.
    ~ Martin Luther ~

    Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.”
    ~ Lao Tzu ~

    Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

     

    Baca juga: Kumpulan Postingan Mixed Marriage

  • Foto-foto Pemberkatan Pernikahanku | Wanita Batak Menikah dengan Pria Jerman

    Foto-foto Pemberkatan Pernikahanku | Wanita Batak Menikah dengan Pria Jerman

    Foto-foto Pemberkatan Pernikahanku | Wanita Batak Menikah dengan Pria Jerman. Akhirnya, saya bisa kembali bercerita di blog tercinta ini 🙂 , banyak sekali yang saya ingin ceritakan, mulai dari kedatangan keluarga saya dari Indonesia, bagasi kelebihan euy dan bayar 400 USD!, pemberkatan pernikahan Frank dan saya, bolos kelas bahasa Jerman selama seminggu supaya bisa jalan-jalan bersama keluarga ke Berlin, rumah yang seperti kapal pecah karena perabotan berantakan dimana-mana hehehe.

    Foto-foto Pemberkatan Pernikahanku
    Our Wedding Matrimonial

    Semua foto-foto yang kami buat dalam ukuran besar, kalau mau di upload ke media sosial atau kirim ke email perlu di kecilkan ukurannya, maka disela-sela waktu saya coba mengerjakannya sedikit demi sedikit. Yang pertama saya tampilkan disini adalah foto-foto pemberkatan Frank dan saya ya, minggu depan menyusul foto-foto liburan kami sekeluarga dan juga foto keluarga, yang kami buat bersama keluarga Frank sebelum keluarga saya kembali ke Indonesia.

    Pernikahan secara catatan sipil sudah dilaksanankan tahun lalu, di Thun, Switzerland pada 20 Juli 2011. Lalu pemberkatannya baru 20 April 2012 ini, kalau pada tanya ko jeda waktunya jauh sekali antara keduanya, karena banyak pertimbangan sana sini. Dahulu Frank menetap di Swiss selama 5 tahun, jadi catatan sipil terlanjur di daftarkan disana, setelah menikah di catatan sipil, Frank kembali bekerja di Jerman, maka kami pindahan deh. Pindahan antar negara repot euy! Pindahin perabotan dari rumah di Swiss ke Jerman pakai truk besar, Frank yang nyetir saya jadi keneknya hahahah ..

    Pernikahan catatan sipil Juli 2011, kemudian pindahan, maunya sih cepat-cepat pemberkatan tapi belum cukup dananya supaya bisa sekalian resepsi. Kalau mau diadakan antara Oktober sampai desember 2011 tahun lalu, kebayang bagaimana dinginnya Jerman?, trus keluargaku belum tentu bisa tahan cuaca musim dingin, wong april ini saja pas keluargaku tiba di bandara pada menggigil kedinginan, padahal suhunya sudah diatas 10 derajat Celcius, apalagi kalau datang pas suhu minus, trus pakaian pernikahan saya kebaya, pasti tidak bisa dipakai deh pas winter.

    Setelah pernikahan catatan sipil tahun lalu, banyak yang kasih ucapan selamat dan doa „semoga cepat dapat momongan ya Nel“. Saya sih cuma bisa bilang amin, sambil senyum-senyum dalam hati hihihi wong belum pemberkatan pernikahan digereja belum syah toh kalau mau bikin anak?? :P. Walau dikata saya tinggal jauh dari tanah air, tidak ada orangtua yang mengawasi, tidak ada sanak keluarga yang mengawasi, saya tahu mata Tuhan ada dimana-mana. Pemberkatan pernikahan sangat penting buat saya. Hidup kudus sampai melewati pemberkatan pernikahan di gereja penting buat saya. Jadi semua sudah direncanakan dengan baik, Tuhan membuat segala sesuatunya indah pada waktunya amin!!!.

    Pemberkatan pernikahan dilaksanakan di gereja protestan di tempat tinggal kami, namanya Evangelische Kirche Bad Rappenau. Gereja ini dibangun pada tahun 1888 dari batu pasir Mühlbacher, renovasi interior dasar dilakukan pada ulang tahun ke 100 pada tahun 1988 . Pendeta yang melaksanakan pemberkatan pernikahan bernama Philipp Koch, beliau sudah 12 kali berkunjung ke Indonesia, makanya beliau antusias sekali dengan pernikahan Frank dan saya. Dua atau tiga bulan sebelum pernikahan, pdt. Koch berkunjung ke rumah kami, beliau meng-interview Frank dan saya secara detail, ditanya latar belakang keluarga kedua belah pihak, ditanya bagaimana bisa saling kenal, hoby masing-masing dan lain-lain pertanyaan, pokoknya banyak deh, sudah lupa sekarang hehehe, eh iya ditanya juga sudah berapa kali bertengkar (berantem)? Frank dan saya saling berpandangan ketika ditanya, trus ketawa, wong belum pernah berantem tuh, pendetanya sampai heran :D.

    Senang banget pas hari H, gerejanya tidak sepi-sepi amat (tipikalnya pemberkatan di Eropa ya bisa dihitung dengan jari yang mau hadir), ada sahabatku Eka bersama suami dan putranya, kemudian kak Rina, suami dan putranya datang dari Belanda, trus guru dan teman-teman kelas bahasa Jermanku, atasan dan teman-teman kantor Frank ramai-ramai datang dan kasih kejutan.

    Ayat alkitab untuk pernikahan kami, pilihan Frank, Prediger 4: So ist’s ja besser zwei als eins; denn sie genießen doch ihrer Arbeit wohl. Fällt ihrer einer so hilft ihm sein Gesell auf. Weh dem, der allein ist! Wenn er fällt, so ist keiner da, der ihm aufhelfe.

    Yakni dari

    PENGKHOTBAH 4: 9-10 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!.

    Versi Englishnya

    Ecclesiastes 4: Two are better than one, because they have a good return for their work: If one falls down, his friend can help him up. But pity the man who falls and has no one to help him up!.

    Video Emaknya Benjamin Menikah | Wanita Batak Menikah dengan Pria Jerman

     

    Baca Juga :
    yang Bikin Meleleh
    10 Pertanyaan Mengenai Emaknya Benjamin
    Babenya Benjamin Manis Banget kalau Begini. Du Bist so Suss adalah ..
    Our wedding – Pernikahan Kami
    Orang Jerman itu ..
    Aturan Internetan di Jerman
    Ngomongin Peran Babenya Benjamin
    Kedua Kalinya Mejeng lagi di Media
    Cerita ketemu sama suami di online dating

  • Undangan Pernikahanku | Menikah dengan Pria Jerman

    Undangan Pernikahanku | Menikah dengan Pria Jerman

    Undangan Pernikahanku | Menikah dengan Pria Jerman. Jumat, minggu lalu, undangan pernikahan kami selesai di cetak. Kami buat dua versi, yakni dalam bahasa Inggris dan versi bahasa Jerman. Pengennya sih di cetak tinta emas, namun orang percetakan bilang tinta emas hanya untuk pencetakan jumlah banyakk :mrgreen: .

    undangan pernikahan bahasa jerman
    undangan pernikahan bahasa jerman

     

    wedding card english. Undangan pernikahan bahasa inggris
    wedding card english. Undangan pernikahan bahasa inggris

    Baca juga: Pemberkatan Pernikahanku | Wanita Batak Menikah dengan Pria Jerman

    Tepi undangan model bergelombang, kami harus melepaskannya dari karton segiempatnya, kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop deh.

    Frank dan saya suka dengan teks pernikahan berikut:

    Ich denk an dich bei Tag und Nacht.
    Ich denk an dich weil ich dich mag.
    Ich denk an dich ich hab dich gern.
    Ich liebe dich du bist mein Stern !!!

    Terjemahan bebasnya:

    I think of you day and night.
    I think of you because I like you.
    I think of you because I like it.
    I love you, you are my star!.

    Undangan siap dikirimkan 😉 .

    Kalau di Jerman biasanya yang mengundang ditulis di dalam undagannya hanyalah pasangan yang akan menikah, tadinya saya bikin draftnya turut mengundang ortu kedua belah pihak, lalu calonku bilang tidak perlu mencantumkan kedua ortu dari pasnagan di undangan, ya sudahlah saya ngikut saja 🙂 .

    Baca Juga :
    Cerita ketemu sama suami di online dating
    yang Bikin Meleleh
    10 Pertanyaan Mengenai Emaknya Benjamin
    Babenya Benjamin Manis Banget kalau Begini. Du Bist so Suss adalah ..
    Cerita Melahirkan Melalui Operasi Caesar
    Orang Jerman itu ..
    Kedua Kalinya Mejeng lagi di Media

error: Content is protected !!