Tag: orang Jerman

  • Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI)

    Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI)

    Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI). Hai pembaca setia, terakhir kali saya buat postingan mengenai orang Jerman pada Juli 2015, ternyata sudah lama yaa. Nah sekarang sudah terkumpul beberapa hal yang mau diceritakan nih 😀 .

    Orang Jerman itu “jujur“, blak-blak an mengatakan apa adanya. Sifat terus terang mereka (orang Jerman) bisa membuat sakit hati lawan bicara (yang mungkin bukan orang Jerman). Orang Asia atau mungkin orang dari negara lain, kalau bicara akan menjaga perasaan lawan bicara, tidak mau membuat sakit hati lawan bicaranya, kalau orang Jerman ceplas ceplos. Coba tanyakan suatu hal, tanya pendapat/opini orang Jerman mengenai suatu hal maka akan dijawab panjang lebar.

    Contohnya:

    # Kalau saya masak dan rasanya tidak enak, pasti suami akan bilang “tidak enak” dan dia tidak lanjut makan. Menurut saya lebih baik begitu toh, jangan rasa makanan tidak enak dibilang enak supaya istrinya senang. Kalau tidak enak jadi bisa belajar lagi untuk membuat yang lebih enak. Kalau masakan enak, dia puji-puji saya melulu ko, dan sering sekali bilang terima kasih berulang kali karena saya sudah masak buat dia <3 .

    Tulisan Terkini

    Bukan dapur kami, model dapur impian suami dan saya seperti ini:

    Model dapur Impian kami. Serba kayu, warnanya bagus. Bikin betah di dapur nih
    Model dapur Impian kami. Serba kayu, warnanya bagus. Bikin betah di dapur nih

     

    # kalau makan sesuatu misal makanan kemasan, buat saya enak, buat bapaknya Benjamin tidak enak, padahal masakan Jerman loh, maka suami tidak mau makan. Nanti dia nawarin tuh kesaya supaya saya makan bagian dia haha *tong sampah kali saya haha 😆 .

    Kalau orangtua saya mengajarkan makanan harus dihabiskan, tidak boleh dibuang-buang, lihat di tv orang di negara sana begini begitu susah cari makan bla .. bla.. bla.. banyak sekali nasehat ortu saat kami kecil. Nah kalau orang Jerman ditanya mungkin akan bilang “yee kalau tidak enak masah harus dipaksa, makan aja sendiri !” 😮 .

    Baca juga: Menjadi Ibu Rumah Tangga di Jerman

    Persis banget sifat begini ada pada Benjamin, dia akan dorong piring makanan yang saya kasih kalau rasanya menurut dia tidak enak. Saya yang kesal karena sudah masak jadi marah dong :mad:. Eh anaknya tekad kuat tetap tidak mau makan, karena menurut dia rasanya beda seperti makanan dia hari-hari sebelumnya. Saya hanya bisa tarik nafas panjang supaya reda marah saya hehe 💡 lalu buat lagi dimana isi menu makanannya seperti biasanya.

    Benjamin dan saya pernah adu panjang kesabaran karena soal makanan ini haha parah bener ya 🙄 . Sudahlah tidak perlu diceritakan lebih detail nanti saya dibilang ibu yang jahat lagi haha 👿 tenang saja tidak sampai ada pertumpahan darah ko haha 😉 .

    Buat kamu yang merasa makanan sayang dibuang dan akhirnya dimakan sendiri, pantas saja sebagai “penampung akhir” badan kita melar kan haha O_o .

    # Suatu hari bapaknya Benjamin dan saya sedang digarasi. Garasi tersebut tepatnya dibilang gudang. isinya berbagai macam barang-barang seperti kapal pecah sangking berantakannya, mau lewat ambil sesuatu saja susah sangking penuhnya garasi tersebut, padahal garasinya panjang dua pintu (depan dan belakang).

    Garasi tersebut bukan milik kami, namun punya orang yang ngontrak dibawah rumah kami (anak yang punya rumah yang akhirnya beli rumah tersebut dari bapaknya). Barang kami disitu ada kereta dorong Ben, 4 ban mobil disusun ke atas (musim panas dan musim dingin beda ban mobilnya), tong sampah dari kontrakan kita di kota sebelumnya dan sepeda saya.

    Ibu yang punya garasi pas ada didekat kami, dia sedang mengamplas lemari kayu (ibu hamil tua masih bisa mengamplas lemari, pakai masker rapat ko dia). Ibu tersebut berkata, bulan November dia akan melahirkan, jadi dia mau masukkin mobilnya pas winter ke garasi, kata dia mobilnya masih baru. Trus dari yang saya nangkap dia bicara ke suamiku, nantinya dia ingin bapaknya Ben dan suami dia beresin garasi bersama.

    Bapaknya Benjamin menjawab dengan nada suara naik setengah oktaf “kalian beresin barang-barang kalian sendiri, nanti kami akan beresin barang kami!“. Itu ibu diam seribu bahasa, saya juga shock 😯 ko bapaknya Benjamin judes banget sih. Kami berdua naik kerumah kami, lalu saya tanya ulang suami. Ternyata benar pendengaran saya tidak salah ko.

    Saya heran ko ada ya orang yang suka menggumpulkan banyak sekali barang tidak terpakai. 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun bahkan dalam 20 tahun kemudian kalau sedikit-sedikit dikumpulkan ya menjadi bukit barang (sampah) tidak terpakai.

    Apakah kamu termasuk tipe orang seperti tetangga saya yang suka menggumpulkan barang-barang bekas?. Ah ini mungkin perlu, ah panci ini siapa tahu saya butuh lagi, ember itu bisa di tambal bocornya dipakai lagi, kardus ini siapa tahu bisa buat kirim barang. Buku-buku, majalah bekas ini mungkin laku di jual dll. Ternyata tanpa sadar rumah kita penuh dengan sampah :-/ .

    Kalau saya yang berhadapan dengan ibu tetangga tersebut, kemungkinan besar saya diam saja dan iya iyakan ajakan dia, maklum orang asia seperti saya memang suka damai 🙂 tapi mungkin dibelakang ibu tersebut baru saya marah-marah sendiri haha, sedangkan tipe orang Jerman seperti bapaknya Benjamin bisa membuat sakit hati lawan bicara, sakit hati tapi jadi beres saat itu juga toh. ➡

    Garasinya tidak jadi diberesin sampai saya tulis postingan ini, padahal bapaknya Ben sudah siap kalau yang punya rumah sudah beresin barang-barang mereka yang buanyakk banget itu, ya kita mau beresin bagian kita.

    Video Begini Orang Jerman Buang Barang Bekas dan Anak Saya jadi Pemulung nya

    # saya punya kalender meja dikasih adik saya dari bank tempat dia kerja. Sudah akhir Nov 2015, bapaknya Benjamin bilang minta kirim lagi dong kalendernya (padahal dia juga jarang sekali lihat tuh kalender hehe). Saya bilang nanti sajalah kan tahun depan Maret atau April mama saya mau datang bisa sekalian dibawah (mamak gak jadi datang 🙁 ) maksud saya supaya ngirit biaya kan . Bapaknya Ben bilang yang nadanya sih seperti bilang: ” pelit amat, paling murahlah kirim kalender saja lewat pos“.

    Apakah kamu termasuk orang yang to the point? blak-blakan ngomong apa adanya, tidak peduli lawan bicara tersinggung atau tidak?. Atau seperti saya, kesal tapi dipendam sendiri merasa tidak enak bicara jujur, takut lawan bicara tersinggung, akhirnya saya hanya bisa ngomel sendiri aja haha 😛 .

    Sudah hampir 5 tahun pernikahan suami dan saya. Kami tetap masih saling belajar mengerti perbedaan kita berdua, saling menerima sifat yang memang sudah dari sananya terbentuk, mendapat didikannya begitu sejak kecil. Salah satu contohnya ya tentang keterus terangan. Kadang suka keceplosan sih terus terangnya, kalau ke orang lain kalau saya maunya ya jujur tapi dibungkus dengan manis kata-katanya supaya lawan bicara tidak sakit hati, nah kalau bapaknya Ben sih jujur yang duuhhh pengen jewer kuping dia deh :shock:. Kapan-kapan saya cerita lagi contoh-contohnya ya.

    Demikianlah cerita saya mengenai Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI). Kalau kamu baru pertama kali berkunjung ke blog saya dan suka tulisan ini silakan subscribe follow blog saya, supaya tidak ketinggalan postingan cerita dari Jerman berikutnya, kolom berlangganan mengikuti blog ada dibagian kanan atas postingan.

     

    Bagi yang tertarik baca edisi sebelumnya mengenai Jerman selayang padang (orang Jerman, etika dan kebiasaannya)
    Bagian I klik disini.
    Bagian II klik disini.
    Bagian III klik disini.
    Bagian IV klik disini
    Bagian V klik disini

  • Sok Keren ya tidak pakai Nama Sendiri?

    Sok Keren ya tidak pakai Nama Sendiri?

    Sok Keren ya tidak pakai Nama Sendiri?. Ide postingan ini muncul karena sempat baca komen berbalas di blog tetangga. Mau ikut komen saya tidak kenal dengan temannya pemilik blog tsb. “Kenapa menyebut diri istri X atau mamanya Ucok“. Katanya mereka yang tidak pakai nama sendiri dimana identiatasmu sebenarnya? 😛 .

    Mengenai kenapa tidak pakai nama sendiri?. Saya mau ambil contoh dari keluarga dan saya sendiri saja, lebih enak begitu daripada ambil contoh orang lain toh 😀 .

    Orang Batak

    Orangtua saya asli Batak, bapak marga Silaen dan mama boru Panjaitan. Sejak menikah mama saya jadi dikenal dengan nama “ibu Silaen“. Dikenal dalam pergaulan persaudaraan (keluarga) dan dilingkungan tetangga, namun kalau ktp (kartu tanda penduduk) mama saya tetap memakai nama aslinya.

    Untuk surat menyurat penting misalnya surat-surat bank pakai nama asli jadi ibu R. Panjaitan, namun untuk surat menyurat lain, misal untuk kirim-kirim kartu ucapan atau antar teman biasanya ditulis sebagai “ibu Silaen“. Kalau menyebut diri saat ditanya orang mama saya pasti bilangnya “ibu Silaen”.

    Bagaimana kalau di lingkungan rumah (tetangga) ada nama keluarga yang sama?. Biasanya diperjelas dengan yang rumahnya di jalan rt rw sekian atau misal yang punya pohon belimbing dll. Julukannya jadi dikenal begitu dan lingkungan tetangga jadi sudah hapal begitu, contohnya tuh kalau ada mencari alamat tidak ketemu, trus ada tetangga mau bantu dengan memastikan “.. ibu Siregar si tante pohon belimbing ya?“. Dianterin kerumahnya benar orang yang dimaksud yang dicari. Pantas saja si tamu lama ketemu yang dicari, karena tiap kali nanya orang, bilang nama asli saudaranya bukan nama yang dikenal dilingkungan rumah 😀 .

    Orang Batak kalau sudak menikah memang memakai nama belakang suaminya, sudah begitu aturan dan adatnya. Dianggap tidak sopan kalau panggil nama aslinya .

    Jadi mama saya yang boru Panjaitan setelah menikah dengan bapak saya yang marga Silaen, panggilannya jadi ibu Silaen. Bukan mau sok keren atau kehilangan identitas, namun begitu adatnya.

    Kalau orang Bataknya menikah dan punya anak, si ortu tidak dipanggil lagi dengan nama aslinya, melainkan jadi nama anak pertamanya. Misal mamanya si butet (kalau anaknya namanya butet), papanya si ucok (kalau anaknya namanya ucok). Suami istri tersebut dipanggil tidak dengan nama asli mereka lagi karena untuk kalangan orang Batak hal tersebut tidak sopan.

    Nah kalau sudah punya cucu beda lagi panggilannya, jadi si mama dan bapak saya dikenal dengan nama cucunya pertamanya. Walaupun saya anak pertama dikeluarga karena adik (perempuan) saya yang duluan menikah dan mempunyai anak, maka orangtua saya dikenal dengan nama opu si Kiarra. (Kiarra anak pertama adik saya).

    Hasil wawancara singkat mama saya nih :
    Beda lagi kalau adat di samosir, kalau panggilan dari cucu harus dari anak cowo yang jadi panggilan opu anu. Memang dari anak cewe juga bisa di panggil tapi kalau anak nya yang cowo sudah punya anak pasti panggilan opu anu dari anak cewe di ganti jadi opu anu dari anak cowo nya.

    Karena ortu saya Batak Toba bukan dari samosir, jadi kalau kedua adik laki-laki saya berkeluarga dan nantinya mempunyai anak, maka orangtua saya tetap akan dipanggil/dikenal dengan nama opu si Kiarra, yakni cucu pertamanya.
    Si mamaku tercinta saya wawancara tentang nama, malah ditambahin ceramah panggilan kakak dan adik dalam adat Batak. Duuuh mami itu untuk ulasan berikutnya deh ya, pusing nanti anakmu ini 😀 .

     

    Orang Jerman

    Saya pernah baca artikel, katanya orang Batak tuh mirip sekali dengan orang Jerman (lupa artikelnya, tidak simpan linknya). Mungkin karena pengaruh Nommensen melakukan pengginjilan di tanah Batak dahulu kala. Btw anyway di Medan sana (atau tanah Batak sana) deh ya kalau “permen“ bilangnya “bonbon“ kan ya?? di Jerman juga dibilangnya Bonbon. Saya baru tahu ya pas di Jerman sini hehe.

    Balik bahas soal nama. Orang Jerman kalau menikah juga nantinya si istri jadi pakai nama keluarga si suami. Kalau akhirnya mereka berpisah dan si istri menikah lagi, jadi si istri pakai nama suami barunya dong. Kalau belum menikah lagi, yang saya perhatikan para wanita tersebut tetap pakai nama belakang suami mereka.

    Ada orang-orang yang pakai dua nama dan ada yang hanya satu nama saja alias pakai nama keluarga suami saja. Saya gunakan dua nama (nama keluarga saya dan nama keluarga bapaknya Ben). Dua nama tersebut bisa dibalik penulisannya (pastikan sebelum menikah maunya penulisannya bagaimana). Buat saya enak didengarnya nama keluarga saya nyambung nama belakang bapaknya Ben, jadi pas menikah catatan sipil begitu awal penulisan nama saya, plus ada dua nama depan saya jadi panjang seperti kereta api 😆 . Ada yang pakai tanda minus diantara kedua nama keluarga dan ada yang langsung nyambung.

    Ketika menikah 4 tahun lalu di Swiss saya gunakan pemisah (tanda minus) diantara kedua nama belakang saya dan suami, ketika pindah ke Jerman dan mau bikin unbefristet ausweis (permanent residence) sempat dipertanyakan petugasnya karena beda lagi aturannya. Jadi pak petugas bilang kalau mau ganti paspor tanda minusnya minta dihilangkan. Petugasnya sampai buka buku besar (panduan hukum).

    Di Jerman pakai dua nama begitu untuk mempermudah surat menyurat, kalau saya pakai nama saya saja siapa yang kenal?. Kembali mau mirip-miripin dengan orang Batak, di Jerman kalau ditanya nama, maka yang dimaksud adalah nama belakang (nach name / familienname).

    Suatu hari saya mau ambil barang pesanan saya ditoko. Saya pesan pakaian untuk Benjamin melalui internet dan bisa ambil di cabang dekat rumah jadi bebas ongkos kirim. Pelayan tokonya menanyakan nama saya. Saya bilang nama saya Nella. Si ibu lama bolak balik halaman buku tidak ketemu nama saya. Sementara itu satu pegawai lain (bukan orang Jerman) langsung ke gudang. Tidak lama datang si ibu dari gudang, dan ibu yang bolak balik halaman mungkin memandang aneh saya hihi 🙄 . Yaelah pantesan tidak ketemu. Jadi harusnya saya menyebutkan nama belakang saya.

    Dilain kesempatan saya pernah mengirim surat/kartupos ke teman saya di Jerman, dia bilang namanya kurang lengkap, jadi pak pos lama baru mengantar. Iya saya lupa mencantumkan nama belakang suami temanku tersebut.

    Contoh ketiga, di stasiun bus saya bertemu tetangga pemilik pohon cherry. Si ibu hapal muka saya dan saya juga hapal muka dia, namun kita belum pernah say hello. Ibu tetangga tersebut menyebut (memastikan) nama saya dengan menyebut nama belakang saya. Duuhh ribet bu, panggil saja saya Nella demikian saya katakan. Nah saya tanya balik nama ibu tersebut, yang terdengar jelas dikuping saya hanya nama depannya Maria. Mau tanya ulang bisa dikira saya budek hehhe.

    Untuk di Indonesia kalau mau ubah nama harus diurus sampai pengadilan. Hingga saat ini saya tidak berniat mengganti (revisi) nama saya di Indonesia, jadi tanpa nama suami dibelakang nama saya. Kenapa saya tidak pengen ganti? kan keren tuh ke barat-baratan? 😀 .

    Alasannya cukup simpel karena saya tidak tinggal di Indonesia, jadi apa kepentingan saya ganti nama di Indonesia?. Ganti nama perlu urus ke notaris lalu ke pengadilan, tahu sendiri kan birokrasi di tanah air seperti apa. Ajaib kalau urus surat-surat bisa selesai dalam waktu 1-2 minggu (ketika urus berkas /syarat menikah saya butuh 1,5 bulan, urus sendiri tidak pakai agen). Termasuk tentunya butuh duit untuk mengurus surat-surat ganti nama tersebut. Tiap orang pasti punya alasan dan kepentingannya masing-masing, silakan dijalani yang Anda anggap penting 😉 .

    Penggunaan nama dalam pernikahan Jerman silakan di http://www.germany.info/Vertretung/usa/en/05__Legal/02__Directory__Services/04__Family__Matters/Name__Marriage.html *thanks buat sikoperbiru yang berikan link tersebut.

    Di Jerman saya termasuk aktif untuk terima surat-surat, mengirim surat-surat (komplain), ikut-ikut undian teka-teki silang (tts) gardening, belanja online dll. Nama yang saya gunakan yang dua nama seperti saya jelaskan diatas. Didepan pintu rumah dan kotak surat juga tertera hanya nama keluarga saya dan nama keluarga suami tanpa nama depan.

    Nama yang saya gunakan di dunia blog, setelah ada anak saya gunakan nama emaknya Benjamin lalu atas saran teman blogger yang kita satu marga, namanya Nandito Silaen bilang supaya nama saya ditambah br. Silaen. Katanya supaya “Silaen“ mengudara (terkenal). Jadilah saya buat nama online saya emaknya Benjamin br. Silaen . Padahal saya makin terkenal makin takut hihi, makanya nama asli saya sudah saya ganti begitu.

    Sudah diganti (sembunyikan nama asli) tetap saja lumayan banyak pencarian dengan nama asli saya ke blog saya ini (mungkin karena kisah saya 2 kali nonggol di media cetak dan 1 kali di media online). Belum lama ini malah pencarian “rumah nella di jerman“ . Pas lihat sempat mikirnya negatif, “.. mampus kenapa nih, nyari apa nih orang, ko nyari rumah saya? “. Atau “.. kerjaan (nama lengkap) suaminya nella “. Nama bapaknya Ben tuh ditulis lengkap loh nama depan dan nama keluarga, dan pencariannya lumayan banyak. Busyet ya sampai segitu kepo nya para pembaca blog saya ini haha. Kapan-kapan kalau saya rajin saya makin sering deh cerita-cerita mengenai suami dan saya, supaya yang penasaran terpuaskan rasa ingin tahunya 🙄 .

    Nyari rumahku mau kasih kado yaaa
    Nyari rumahku mau kasih kado yaaa

     

    Untuk teman-teman blogger pasti tahulah siapa dibalik nama emaknya Benjamin, kalau ada yang baru lihat nama saya saat blogwalking dan penasaran ya tinggal mampir ke blog saya pasti akan tahu siapa saya, di halaman profile ada tertera nama asli saya.

    Jadi segitu ya penjelasan saya mengenai kenapa saya tidak pakai nama asli, bukan sok keren atau kehilangan identitas. Kalau orangnya sudah keren, tidak pakai dibuat-buat pasti sudah keren haha *ditimpung pembaca 😆 .

     

    you may also like :
    10 Pertanyaan Mengenai Emaknya Benjamin
    Babenya Benjamin Manis Banget kalau Begini. Du Bist so Suss adalah ..
    Orang Jerman itu ..

  • Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian V)

    Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian V)

    Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian V). Halo sahabat blogger dan pembaca setia blog emaknya Benjamin ini, saya ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri buat yang merayakannya. Mohon maaf ya kalau saya ada salah-salah bicara (nulis) saat blogwalking 😀 .

    Rasanya sudah lama sekali saya tidak cerita-cerita mengenai orang Jerman, etika dan kebiasan mereka. Sangking penasaran, kapan ya terakhir nulis mengenai tema tersebut. OMG (oh my God) terakhir kali posting tema tersebut 2 tahun lalu 27 Juli 2013 klik disini. Jadi tanpa banyak basa-basi lagi langsung aja deh ke pointnya:

    • Kalau datang ke undangan pernikahan, JANGAN pakai baju putih. Hanya pengantin yang boleh pakai warna putih. Jadi tamu yang pakai baju putih, silakan pulang dulu deh ganti kostum yaa. Bukan kamu pengantennya kan? siapa tahu tamu undangan lain mengira kamu yang jadi pengantennya loh 😀 . Saya tahu info ini karena hampir tiap hari menonton reality show “Traumhochzeit” (dream wedding) di VOX .

    • Buat yang suka bikin kue, di Jerman tidak ada Emulsifier (SP/TBM), disini bikin kue/cake hanya menggunakan Backpulver baking powder. Kalau mau cari Emulsifier seperti di Indonesia coba di Asia shop atau beli online di toko asia.

    Apfelkuchen, Kue Apel, Apple Pie ala Jerman
    Apfelkuchen, Kue Apel, Apple Pie ala Jerman

    • Hati-hati kalau lihat promo yang murah bikin *kalap. Misal berlangganan provider hp, TV kabel, majalah, listrik dll. Baca term & condition baik-baik. Biasanya ada dibagian bawah iklannya. Term & condition tulisannya biasanya kecil sekali, sehingga luput dari perhatian alias tidak kebaca. Hati-hati kejebak, maksud saya jangan yang tadinya diiming-iming cuma bayar 1 euro ternyata malah jadi ratusan euro, dan kadang tidak bisa putus kontrak. Kontrak TV kabel misalnya memang murah tapi minimal kontrak 2 tahun, kalau mau ganti ya bisa aja tapi tetap bayar sampai kontrak selesai.

    • Air putih lebih banyak dengan soda, namanya sprudelwasser air soda atau air berkarbonasi. 4 tahun di Jerman saya sudah jadi suka sekali jenis air tersebut. Bapaknya Benjamin bilang stillwasser (air tanpa soda) tuh airnya mati hehe.

    • Kalau ke dokter, jangan berharap akan selalu dikasih resep untuk beli obat. Kalau belum parah sekali, cuma disuruh istirahat dirumah, dan tidak perlu makan obat. Alasan dokter, nanti apotek yang diuntungkan 😀 . Saya baru tahu hal ini setelah bapaknya Benjamin pulang dari dokter, saya tanya “mana obat batuk pileknya?” ternyata cuma dikasih surat izin istirahat seminggu untuk diserahkan ke kantor. Padahal menurut saya batuknya sudah parah sekali, kalau di tanah air pasti sudah dikasih antibiotik supaya cepat sembuh.

    • Kalau pindahan rumah sebaiknya ke kantor pos untuk minta jasa pengalihan semua surat-surat ke alamat baru dalam bahasa Jerman istilahnya Nachsendeservice . Jasa ini ada yang 6 bulan, 12 bulan dan 24 bulan. Bisa diperpanjang.

    Biayanya untuk 6 bulan 19,90 euro (sekitar Rp. 298.000), 12 bulan biayanya 24,90 euro (sekitar Rp. 373.000) . Kalau kamu pindahan dan tidak gunakan jasa ini dan misal ada tagihan (listrik, telp, internet dll) dan masih dialamatkan ke alamat lama, dan kita menunggak, tagihan akan makin membengkak karena dendanya.

    Persiapan saat mau pindahan rumah. Supaya Aman Perabotan dikemas Rapih dan Bagus dengan Plastik. Jasa pindahan yang mengerjakan bungkus membungkus. Foto Nov 2012
    Persiapan saat mau pindahan rumah. Supaya Aman Perabotan dikemas Rapih dan Bagus dengan Plastik. Jasa pindahan yang mengerjakan bungkus membungkus. Foto Nov 2012

    Walau kita kasih alasan pindah dan tidak terima tagihannya, yang nagih tidak mau tahu kamu tetap harus bayar full dengan dendanya (pernah kejadian pada teman les saya). Bapaknya Ben dan saya gunakan yang jasa untuk 6 bulan saja. Setelah lewat 6 bulan, semoga surat-surat kamu sudah diperbaharui semua ke alamat baru. Informasi detail mengenai Nachsendeservice klik https://www.deutschepost.de/de/n/nachsendeservice.html .

    • Menyebrang jalan harus ditempat seharusnya. Ada logonya orang menyebrang dan ada tanda garis-garis di tempat pejalan kaki boleh nyebrang. Kendaraan akan berhenti. Pada tempat penyebrangan tersebut pejalan kaki di istimewakan, kalau ada kendaraan tidak mau berhenti pas pejalan kaki lewat dan terjadi kecelakaan, yang menanggung yang punya kendaraan. Kalau naik mobil dari jauh sudah lihat tanda tempat penyebrangan, ya kita turunkan kecepatan, siapa tahu pas ditempat itu tiba-tiba ada orang nyebrang, susah kan berhenti mendadak.

    Tempat Penyeberangan pejalan kaki dengan "zebra crossing". Ditempat ini pejalan kaki bisa langsung nyebrang. Pengendara pasti akan berhenti kalau ada pejalan kaki lewat. Sumber foto de.wikipedia
    Tempat Penyeberangan pejalan kaki dengan “zebra crossing”. Ditempat ini pejalan kaki bisa langsung nyebrang. Pengendara pasti akan berhenti kalau ada pejalan kaki lewat. Sumber foto de.wikipedia

     

    Ada pula tempat penyebrangan dengan lampu merahnya, jadi kalau mau menyebrang harus tekan tombolnya. Kalau tidak ditekan sampai tahun depan juga kamu tidak bisa lewat. Pernah ada loh yang ngomong “rusak nih lampu merah, sudah lama ko tanda boleh nyebrangnya tidak hijau yaa” . Saya yang baru datang senyum-senyum saja sambil berpikir pasti turis nih yang mau lewat haha lalu saya tekan tombolnya 😉 .

    Ada juga tempat penyebrangan tanpa tanda garis-garis di jalanannya, maka pejalan kaki harus menunggu sampai mobil tidak ada yang lewat lagi (biasanya di jalan kecil ko, kalau jalan raya yang luas tahun depan dong jalanannya baru kosong haha).

    Kalau beruntung pengemudi mobil akan nyuruh kamu lewat duluan (banyak juga pengendara yang baik loh. Kalau ibu hamil, bawa kereta dorong anak, atau lansia mau nyebrang, sering mobilnya berhenti dan kita disuruh jalan/nyebrang). Kalau kita langsung nyebrang pada jalan yang tidak ada tanda penyebrangan (jalanannya tidak ada tanda garis-garis) kalau ke tabrak ya itu salah kamu, dan asuransi tidak akan menanggung kerugian atau biaya pengobatan. Dulu saya sotoy (sok tahu) saya kira disemua tempat penyebrangan pejalan kaki bebas nyebrang semaunya, ternyata kalau tidak ada tanda garis dijalannya ya gitu nyebrang kalau jalanannya kosong. Saya baru tahu setelah nanya ke bapaknya Benjamin.

    Bagi yang tertarik baca edisi sebelumnya mengenai Jerman selayang padang (orang Jerman, etika dan kebiasaannya)
    Bagian I klik disini.
    Bagian II klik disini.
    Bagian III klik disini.
    Bagian IV klik disini
    Bagian VI klik disini

     

    Baca juga:
    Perhatikan Banyak Larangan Memotret di Jerman
    Aturan Internetan di Jerman
    Tinggal di Jerman

  • 11 Tanda kalau saya sudah terlalu Lama di Jerman

    11 Tanda kalau saya sudah terlalu Lama di Jerman

    11 Tanda kalau saya sudah terlalu Lama di Jerman. Dalam rangka menyambut 4 tahun saya tinggal di Jerman jadi saya coba menggumpulkan beberapa tanda kalau saya terkadang sudah seperti orang Jerman, bagus dong ya, berarti saya sudah berbaur dengan kebiasaan orang disini 😀 .

    Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. 4 tahun lalu mendarat di Swiss, cuma seminggu disana karena suamiku sudah pindah kembali kerja di Jerman. 4 tahun sudah saya tinggal di negara orang
    Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. 4 tahun lalu mendarat di Swiss, cuma seminggu disana karena suamiku sudah pindah kembali kerja di Jerman. 4 tahun sudah saya tinggal di negara orang

     

    1. Cinta lingkungan. Dalam hal ini adalah memisahkan sampah (Mülltrennung) .
    • Restmüll (sampah campuran. Misalnya puntung rokok, popok, kain kotor, debu isapan vacuum cleaner, abu, sisa bekas masak, tapi minyak tidak masuk ke bagian ini). Terkadang saya masih bingung apa saja yang masuk Restmül.
    • Sampah Bio beda lagi tongnya. Bio itu misalnya sisa sayuran, buah, tanaman, pokoknya organik.
    • Sampah kering, kalau ditempat saya tong sampah untuk sampah plastik dan kertas disatukan. Di kota lain dipisah.
    • Sampah botol khusus tempatnya,
    • Pakaian bekas ada tempat untuk menaruhnya, maksudnya supaya nantinya bisa disumbangkan ke yang membutuhkan, ada petugas khusus yang datang ke lokasi untuk ambil pakaian tersebut. Sayangya ko malah tempat ini dijadikan tempat buang sampah (pakaian) 🙁 .
    • Baterai bekas ada tempat pembuangannya di supermarket tidak boleh dibuang di tempat sampah biasa.
    • Dan lain-lain pusing banyak sekali yang perlu dipisahkan hehe.

    2. Bawa kantong belanja sendiri. Saya tidak rela tiap kali belanja harus beli kantong plastik atau tas kresek. Paling murah 10 cent (Rp. 1500) biar nilai duitnya kecil tetap duit kan, bayangin aja kalau sekali belanja butuh 3 kantong, tiap minggu belanja, dalam sebulan, setahun. Numpuk sampah kantong dirumah!. Ujungnya sih turut cinta lingkungan juga kan. Di tas saya selalu ada 2 tas kain/kantong belanjaan.

    3. Abendbrot (kaltessen). Makan malam ala Jerman, roti dengan sedikit daging (sosis), atau sedikit keju. Asyik kan ibu rumah tangga tidak perlu repot masak melulu, cukup sediakan menu abendbrot (roti malam) untuk suami tercinta.

    4. Pecinta Jadwal. Jadi akrab sekali dengan jadwal kereta dan bus. Paling hapal jadwal bus karena hampir tiap hari naik bus. Bapaknya Benjamin hapal jadwal kereta. Saya jadi kesal kalau bus nya datang lebih awal sehingga saya ketinggalan, kesal juga saat busnya telat 2 menit. Bisa berujung ketinggalan kereta.

    5. Bersalaman. Ketemu orang lupakan cipika cipiki (cium pipi). Ala Jerman cukup salaman, praktis kan 😀 .

    6. Waktu tenang (Ruhezeit) jam 10 malam sampai jam 7 pagi jangan bikin bising, kalau mau bikin pesta izin tetanga dulu. Kalau ada yang merasa terganggu bisa telp polisi, kamu bisa kena denda. Saya pernah nonton liputan di tv, gila aja jam 2 pagi bikin pesta, yang bikin pesta di denda 200 atau 300 euro sama polisi. Karena pertanyaan Arman apakah Resto tutup atau buka hari minggu saya jadi menemukan jam belanja di 16 negara yang tertarik silakan di https://en.wikipedia.org/wiki/Shopping_hours

    7. Bikin Janji (termin). Tidak bisa semaunya langsung datang. Semuanya harus bikin janji. Mau ketemu orang Bank, dokter gigi, dokter kandungan dll, bahkan mau ketemu keluarga harus bikin termin dulu *ini sih teman saya yang cerita 😀 .

    8. Taat rambu lalu lintas. Jalan kaki, naik sepeda, motor atau naik mobil harus taat rambu lalu lintas. Kalau lampu merah masih menyala tunggu sampai hijau, walau jalan sepi taat rambu lalulintas ya. Paling tidak hormati dong tiang lampu merah sudah 24 jam kena hujan panas tetap setia bekerja toh haha. Menyebrang di zebra cross adalah hak pejalan kaki, mobil harus berhenti ketika ada yg menyeberang. Untung zebra cross di Jerman bukan hanya pajangan penghias jalanan

    9. Straight to the point (ngomong langsung ke tujuan, jangan basa-basi) tidak perlu pakai kalimat pembukaan sampai 2 halaman, langsung bilang maunya apa. Jadi bagi yang merasa pernah kirim email ke saya, lalu saya jawab singkat jelas dan padat, karena waktu adalah uang. Intinya saya tidak bisa seperti dulu seharian di depan komputer. Sekarang ada anak yang harus diurus. Anaknya tidur, saya kebut mengerjakan kerjaan rumah, bisa nengok kebun sebentar sudah syukur deh :mrgreen: .

    Yang pada nanya id chat saya, sorry bukan sombong, chat itu buang waktu. Ngobrol, berjam-jam dengan 1 orang cuma lewat teks singkat, duuhh mending ketemuan deh haha. Kalau dulu saat saya single ya suka sekali chat, maklum cari jodoh juga haha, sekarang sudah berkeluarga, ada anak, tidak sanggup menggaji pembantu, ya jadi harus memaksimalkan waktu dengan baik.

    10. “Scheisse! (shi)” kalau kesal, marah, ketinggalan kereta, ketinggalan bus padahal sudah lari dari rumah, hujan tidak bawa payung, pengen jitak orang. Langsung meluncur “SCHEISSE” (“ ta”). Saya sampai bikin list kejadian yang diakhiri dengan kata Scheisse haha nanti kalau daftar yang saya buat sudah banyak saya posting deh.

    11. Minggu tenang. Toko-toko dan pusat perbelanjaan tutup semua. Pusat kota sepi, kebanyakan orang lebih suka menghabiskan waktu untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga. Para pegawai toko juga butuh kumpul keluarga toh, makanya minggu libur dong, termasuk tanggal merah (hari raya).

    Fyi. Saya masih wni belum berniat sama sekali berganti kewarganegaraan, walaupun pas memperbarui izin tinggal sudah ditawari ganti kewarganeraan, saya belum melihat keuntungan luar biasa pindah kewarganegaraan.

    Jadi katanya blusukan.de saya sudah mengalami transformasi menjadi deustcher haha. Bagi yang tinggal di Jerman pada senyum-senyum deh ya ngaku sama kan? 😀 .

    Sumber: blusukan.de

     

    Baca Juga :
    Orang Jerman, etika dan kebiasaannya
    Kecantol bule Jerman ogah pulang
    Aturan Internetan di Jerman
    Postingan kategori tinggal di Jerman

     

    *per 14 juni 2015 jam 16.15 waktu setempat kolom komentar dinonaktifkan. Terima kasih buat teman-teman yang sudah berkomentar. Bagi yang mau komentar tidak bisa lagi, semoga di postingan berikutnya kita bisa bertegur sapa ya 😉 .

  • Orang Jerman itu (bagian IV)

    Orang Jerman itu (bagian IV)

    Orang Jerman itu (bagian IV). Pembaca setia, selamat hari sabtu dan selamat berakhir pekan. Saya masih punya beberapa hal mengenai kehidupan di Jerman yang mau saya informasikan 😉 .

    Orang Jerman itu (bagian IV). Kamera Pengintai di Jalan di Jerman. (Foto: dok. pribadi)
    Kamera Pengintai di Jalan di Jerman. (Foto: dok. pribadi)
    1. Kalau lagi nyetir tidak boleh menggunakan hp, ketahuan polisi dendanya 30 Euro (Rp.387.000 *kurs Rp.12.900). Sering loh polisinya ngumpet jadi sebaiknya patuhi peraturan berlalulintas kalau tidak mau kena tilang 😉 .
    2. Naik sepeda juga harus taat peraturan lalu lintas. Gunakan jalan khusus sepeda, kalau tidak ada jalur khusus bisa gunakan jalur mobil. Pengendara sepeda juga bisa kena denda, misal jalan di jalur yang salah, pakai walkman sambil bersepeda. Dendanya 20 Euro saja. *mending jalan kaki deh aman hehe 😆 .
    3. Naik kereta harus beli tiket, kalau kena razia dendanya 40 euro (Rp.516.000 *kurs Rp.12.900) untuk jarak dekat. Di kota besar contohnya saya pernah lihat Berlin, umumnya petugasnya tidak berpakaian selayaknya petugas. Petugas berbaur dan perpakaian seperti orang umum. Kadang duduk bersama penumpang trus kereta mulai jalan, petugas mulai merazia penumpang yang tidak beli tiket. Bayar dendanya tidak ke petugas. Petugas membawa seperti mesin kecil untuk memasukkan data penumpang yang kena razia. Nanti dikirim surat tagihan ke rumah, dan kita bayar dengan Bank transfer.

    Berhubung ada pertanyaan menarik dari Omnduut : Kalau orang asing (turis) naik kereta di Jerman dan tidak beli tiket eh pas ketemu petugas kontrol, kemana tagihannya dikirim?.

    Setelah tanya suamiku nih, dia bilang dendanya bayar ditempat, bisa cash atau bisa dengan gesek kartu kredit.

    Nah berhubung cuma jawaban dari satu orang tidak puas ah. Saya tanya ke forum. Jawabannya:
    • Ternyata ada yang pernah berpengalaman kena denda denda 150 Euro bayar di tempat.
    • Bayarnya langsung ke petugas, kalau petugasnya baik di suruh turun di stasiun berikutnya dan beli tiket kereta berikutnya.
    • Bisa bayar cash atau gesek kartu kredit. Petugasnya ada bawa mesin geseknya.

    Tulisan Terkini

    Ternyata dapat info dari negara lain juga, yakni:
    • Di Yunani bayar di tempat, dendanya 60x harga tiket.
    • Di Perancis dendanya 300€ lebih (Rp. 3.870.000 *kurs rp.12.900)
    • Di Swiss naik Tram tanpa ticket, denda Sfr 100 (Rp. 1.050.000 *kurs rp.10.500). Plus bayar tiket penuh. Pengumuman ini ditulis didalam Tram. Jika kejadiannya di Kereta Api, selain denda juga plus masuk criminal record yang link dengan semua akses.
    • Di Italia denda 100 Euro.

    Harap jangan berpikir seperti di Indonesia (tepatnya kereta Jabotabek kali ya 😆 ), jangan coba-coba tidak beli tiket kereta ketika kamu menggunakan kereta di Eropa.

    4. Guru les saya bilang, kalau ada orang awam masuk ke gedung pertemuan (gedung pesta) dia mungkin akan bingung, tidak tahu itu acara pesta pernikahan atau acara pemakaman? Karena pesta pernikahan disini tidak ada heboh-hebohnya seperti di Indonesia. Disini hanya makan-makan, ngobrol, makan lagi sambil ngobrol sampai lewat tengah malam.

    5. Orang-orangnya mulai anak-anak hingga orangtua kebanyakan pakai sepatu kets kemana-mana. Kadang aneh saja sih, pakaian sudah oke banget, lihat kebawah ketawa deh, sepatunya sepatu kets :mrgreen: . Saya sering nonton TV lihat reporter TV meliput berita. Baju atasannya keren berjas, sepatunya yaelah ok sepatu kets hehe.

    6. Jika bertamu ke rumah orang Jerman totok biasanya tidak perlu lepas sepatu. Kalaupun kita mau lepas sepatu, karena ga enak kuatir rumah jadi kotor, terkadang yang punya rumah agak maksa, “gak usah lepas sepatu, pakai saja!”. Saya baru tahu alasannya, pas kurus Integrasi, ternyata kalau kita lepas sepatu, kebanyakan bau kaki boo 😛 . Makanya diminta tidak usah lepas sepatu. Kalau bertamunya ke bukan orang Jerman, ya kita tanya dulu lepas sepatu ga?, biasanya yang punya rumah ada sandal rumah buat tamunya. Kalau tidak ada ya berkaos kaki saja, asal pastikan kaos kaki kamu tidak bau yaa :D. Kalau kedatangan tamu orang Jerman ya pasrah aja rumahmu kalau kotor, karena mereka ga mau lepas sepatu, kecuali kalau pasangan kawin campur seperti Frank nih, dia sih sudah tahu kalau di rumah ya jangan pakai sepatu. Kan cape ya nyapu ngepelnya.

    7. Makanannya paling banyak aneka macam roti, keju dan daging. Menurut saya daging tuh bisa ada 1001 jenis, enek juga kalau tiap hari makanannya pakai daging.

    8. Malam cenderung tidak makanan hangat, jadi hanya makan roti dengan keju dll disebutnya „kaltessen“. Untung nih ibu rumah tangga ga harus masak.

    9. Ada yang bersin kita bilang “gesundheit!” artinya “bless you”.

    10. Kalau makan kita bilang “Guten Appetit” artinya “Selamat Makan” kalau yang makan sendirian, yang makan paling bilang “Danke” “Terima Kasih”.

    Video Kebiasaan Orang Jerman Bertamu Tidak Lepas Sepatu ke Dalam Rumah

    Ich wünsche euch ein schönes wochenende!. Happy weekend! 🙂 .

    Bagian I klik disini
    Bagian II klik disini
    Bagian III klik disini
    Bagian V klik disini
    Bagian VI klik disini

    Demikianlah cerita saya mengenai Orang Jerman itu (bagian IV). Kalau kamu baru pertama kali berkunjung ke blog saya dan suka tulisan ini silakan subscribe follow blog saya, supaya tidak ketinggalan postingan cerita dari Jerman berikutnya, kolom berlangganan mengikuti blog ada dibagian kanan atas postingan.

  • Aktivitas Makan di Jerman

    Aktivitas Makan di Jerman

    Aktivitas Makan di Jerman. Sajian masakan orang Jerman terbagi atas 2 sampai 7 bagian. Umumnya terdiri atas makanan pembuka atau appetizer (Vorspeise), sup (Suppe), makanan utama (Hauptspeise) dengan satu atau dua lauk yang disajikan mentah atau dimasak (Beilagen). Makanan ringan setelah makan utama dinamakan Nachpeise. Minumannya adalah bir, anggur, atau Sekt (jenis sampanye). Selain itu, orang muda atau tua juga suka Radler (bir yang dicampur dengan jus lemon atau apel) atau Limo (air manis yang dicampur dengan sari lemon).

    Baca juga: Uniknya Masakan Jerman

     

    Orang Jerman biasanya makan makanan utama saat makan siang dengan lauk daging sapi muda, daging babi, daging sapi, atau daging ayam dengan sayur-mayur seperti bit gula, wortel, kentang, bawang dan lobak. Sarapan biasanya terdiri dari roll dan selai dengan minuman kopi atau susu. Makan malam biasanya menyajikan masakan ringan seperti roti, keju dan sosis dengan minuman bir atau anggur. Anggur dan bir Jerman dikenal berkualitas tinggi.

    Aktivitas Makan di Jerman
    Cemilan sehabis sarapan khas Berlin (Foto: wikipedia, Thomas Angermann from Copenhagen, Denmark)

    Baca juga: Istilah masakan Jerman – Indonesia

    Orang Jerman juga suka minum kopi dari mesin pembuat kopi otomatis dan menyajikan Torte atau Kuchen (kue-kue). Mereka selalu menyajikannya kepada tamu yang datang berkunjung. Kopi Jerman memiliki kadar kafein yang lebih ringan dibanding kopi Austria dan kopi Italia. Mereka menyebutnya Bluemchenkaffee (“kopi bunga kecil”) yang berasal dari masa peperangan, ketika minuman kopi diganti dengan minuman akar chicory, yang mana memiliki bunga kecil berwarna biru.

    Baca juga: Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya
    Keluarga Jerman biasanya menghabiskan waktu sore, terutama hari Minggu dengan minum kopi dan makan kue. Tradisi ini dinamakan dengan Kaffeeundkuchen atau kopi dan kue. Pada waktu ini warga Jerman bersantai sambil ngobrol sehingga tradisi ini dinamakan juga Kaffeklatsch atau gosip kopi. Jenis kue yang disajikan biasanya adalah kue dari resep tradisional seperti Teilchen atau Stückchen, Kaffestückchen (mignardise), Gebäckstückchen (petit-fours), Plunderstücke (puff pastry), Kalte Schnauze (cold snout), Kalter Hund (cold dog) dan sebagainya.

    Aktivitas Makan di Jerman contohnya ketika ultah mama mertua klik disini atau ketika ultah saya klik disini.

    Sumber: Wikipedia dan pengalaman penulis.

     

    Baca juga: Kumpulan Postingan Resep Dapurku

error: Content is protected !!