Ich liebe dich .. I love you .. Aku cinta kamu. Kelas Goethe lagi sampai topik “surat cinta” PR nya disuruh buat “Liebebriefe = surat cinta”. Hampir seminggu tidak dapat ide (bingung.com) gitu deh! 😛 .
Saya tulis versi English trus belajar sedikit-sedikit translate ke bahasa Jerman (ngaco.com) dan minta dia koreksi kalimatnya, merci mein Lieber! 😉
Ich liebe dich! Ich liebe jede Kleinigkeit über dich, ich liebe dein süsses Lächeln, deine magischen Augen und der klang deiner Stimme. Ich liebe deine sanfte Berührung, ich liebe die Wärme die ich fühle wenn ich an deiner Seite bin. Kann nicht aufhören darüber nachzudenken wann wir uns getrennt haben. Ich brauche dich an meiner seite denn du bist die Welt für mich. Du bist das beste was mir je passiert ist. Du bist der den ich immer gewünscht habe. Ich hätte nie gedacht, dass ich jemals einen Mann treffen würde der so wie du ist.
deine, Sunshine
Versi englishnya:
Dear Frank,
I love you! I love every little thing about you, I love your sweet smile, your magical eyes and the sound of your voice. I love your gentle touch, I love the warmth that I feel when I am by your side. Can not stop thinking about when we split up. I need you by my side because you are the world for me. You’re the best thing that ever happened to me. You are the one I always wanted. I never thought that I would ever meet a man who is like you.
Traveling with mother, siapa takut???? :D. Jetlag rasanya belum hilang, masih sering terkantuk-kantuk disiang hari dan tidurpun baru bisa dini hari lewat jam 2 ..
Siang ini tiba-tiba saja mamaku bilang sudah beli tiket bulan jalan-jalan ke Banjarmasin ketempat adik (pria) yang paling kecil. Beberapa kali memang si mama pernah bilang ingin sekali berkunjung ketempat adik saya tersebut.
Adik saya tersebut bekerja di bidang perkapalan, seperti mengawasi pembuatan kapal gitu deh.. dia sudah dua tahun bekerja di Banjarmasin. Sekali-sekali memang pulang ke Jakarta atau ketika Natal atau kalau ada libur panjang seperti Lebaran pasti pulang.
nah ceritanya lagi adik saya tersebut diterima bekerja di tempat yang baru di Jakarta dan kebetulan juga hanya 10 menit dari rumah jarak ke kantor barunya nanti, wah si mama senang sekali mendengar kabar baik tersebut :-).
Si mama bilang pokoknya harus sekali dulu melihat tempat adik saja di Banjarmasin dan jalan-jalan disana.
Wah saya harus mulai googling lokasi wisata menarik di Banjarmasin, makanan khas sana termasuk oleh-oleh khas dari sana.
in Zurich before fly back to JakartaSepertinya saya sedang terserang “Post holiday Syndrome” gejalanya malas melakukan apapun maunya tidur mulu (alasannya *jetlag hehehe), tak bersemangat, sedih. Mau kembali liburan lagi.
Dengar lagu melo sedikit di pesawat langsung airmata netes hehehehe .. nun jauh disana dia juga mengalamai hal yang sama. Saya harus membuat diri kembali bersemangat!!! Dengan cara merencanakan next holiday trip 😀
Pertama dalam beberapa hari kedepan harus segera lapor ke kedutaan Swiss kalau saya sudah kembali berada di Jakarta, lalu mengurus surat-surat kepindahan ke Swiss dan sambil belajar untuk menyelesaikan kursus Goethe hingga akhir Maret 2011 ini.
Semoga semua berjalan dengan baik, God please help me 🙂
Gereja Reformierte Kirchgemeinde, Switzerland. Saya sudah meniatkan diri, harus menyempatkan ke gereja ketika saya berada di Swiss, salah satu alasannya karena mama saya yang selalu mengingatkan hal tersebut, dan benar saja pagi hari ketika saya sudah berpakaian rapih untuk pergi beribadah, datang sms dari mama saya 😉 .
Hampir jam 8 pagi si doi ( seterusnya sebut saja FS ) pulang dari tugas malam, kami sarapan dan siap-siap ke gereja. FS cerita ketika akan pulang ditanya temannya apa aktifitas di hari ini, dia bilang akan ke gereja dengan saya, temannya tersebut berkata “minum bir supaya tidak tidur di gereja“ 😛 .
Walau suhu diluar minus 9, kami bersemangat untuk beribadah, kami pergi ke gereja protestan namanya Reformierte Kirchgemeinde, alamatnya Kirchgasse 8, 3770 Zweisimmen Switzerland. Gereja ini dicapai hanya 5 menit naik mobil.
Gereja Reformierte Kirchgemeinde
Ibadah di mulai jam 09:30 untuk pagi ini 30 Januari 2011, ibadah dilayani oleh pendeta Alfred Müller. Bahasa yang digunakan tentu saja bahasa setempat yakni bahasa Swiss-German, saya tidak mengerti sama sekali, namun ketika jemaat bernyanyi, saya ikut bernyanyi dengan membaca kidung pujian. Kalau di Indonesia tata ibadah gereja Reformierte Kirchgemeinde ini seperti di HKBP.
Gereja Reformierte Kirchgemeinde
Wah disediakan gantungan untuk menaruh tas, jadi jemaat tidak perlu menaruh tasnya dilantai atau di bangku.
Gantungan untuk Tas Jemaat
Pagi ini kebetulan ada pembaptisan anak, jadi jemaat yang datang menurut saya lebih banyak, dan ada satu anak laki-laki sekitar umur 3-5 tahun yang bikin pusing satu petugas gereja, karena si anak tersebut tidak mau diam, dia berjalan-jalan sekitar altar, satu dua kali petugas menangkapnya dan disuruh duduk disamping bapak petugas, namun ketika lengah, si anak memanggil satu temannya dan mereka menggambar di lantai sambil berceloteh :D.
Pembaptisan Anak
Ibadah berlangsung tidak lama, hanya sekitar satu jam lebih sedikit. Oh ya kalau disini uang kolekte (persembahan) kita berikan ketika akan pulang, sebelum pintu keluar gereja ada dua kotak terbuat dari logam, jadi kita tinggal masukkan saja.
Di luar gereja pendeta Alfred Müller sudah menunggu dan jemaat berjabat tangan dengannya lalu pulang. Saya menyempatkan diri mengambil satu foto, karena menarik ada pekuburan di depan gereja, ya mungkin pendeta gereja tersebut dimakamkan disana ketika wafat.
Pemakaman di Depan Gereja
Selesai ibadah, saya dan FS akan jalan-jalan ke Gstaad Mountain Rides, disini tempatnya orang-orang kaya bermukim. Sebelumnya kami mampir kerumah dulu karena saya lapar he-he-he .. Udara dingin membuat kita cepat lapar yaaaa …
Ini tulisan saya yang pertama, setelah hari ke 10 saya berada di Zweisimmen, Switzerland. Begitu banyak hal menarik yang saya ingin ceritakan melalui tulisan, sejak berangkat dari Jakarta 20 Januari 2011, namun belum cukup waktu untuk saya leluasa berkutat didepan komputer .
Farewell sampai kita bertemu lagi. Dear rekan-rekan Eways dan Links
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, 4,5 tahun saya telah bergabung menjadi bagian dari call center Eways dan Links. Dimulai sebagai cic Nutricia, Microfost, Sony Ericsson dan yang terakhir bergabung dengan team Cinta Niaga.
Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dibidang call center, saya yang awalnya sama sekali buta mengenai bidang ini mendapat pembelajaran yang berhaga disini apalagi dengan beberapa kali perpindahan cic, saya jadi bisa mengenal masing-masing bidang diatas.
Kini saatnya saya ingin mengucapkan perpisahan dengan rekan-rekan sekalian, terima kasih untuk kebersamaan yang telah terjalin lewat team work terutama persahabatan kalian. Jika saya ada melakukan kesalahan kiranya dibukakan pintu maaf 🙂 .
Bersama teman-teman kantor Jalan-jalan ke Bandung 2010
If anyone wants to keep in contact, you can call or email me.
Jadi ceritanya nih karena kursus bahasa Jerman masih libur minggu ini, daripada bengong dirumah, mau jalan-jalan ahhh ..
Pertama, sudah beberapa hari ini niat mau ke Dr. Dani Djuanda karena muka sudah gak karu-karuan banyak komedo, jerawat, akibat rajin banget makan gorengan dan makanan berminyak lainnya.
Kami (saya, adik dan nyokap) sudah langganan ke dokter tersebut sekitar 4 tahunan. Itu juga karena ada penggantian dari biaya asuransi, kalau tidak ada boro-boro bisa ke dokter spesialis kecantikan, muahall benerrr dah! 😀 .
Saya dan mama saya sampai di lokasi prakteknya Jl. Kramat VII / 32, Jakarta 10430 sekitar jam 08.30, oh ya sebelumnya telp dulu (021) 319 24517 nanya apakah prakteknya buka.
Busyeettt orang-orang yang ngantri sudah banyak sekali, saya ambil nomer antrian sudah no.26, dan yang sedang diruang praktek baru no. 6. Kalau satu pasien aja butuh waktu ya kita ambil paling singkat sekitar 15 menit, maka bisa-bisa lewat jam 12 an baru kelar. Saya bilang mama saya pulang sajalah daripada buang waktu di satu tempat, awalnya si mama tidak mau pulang karena sudah terlanjur sampai, namun saya kasih alasan yang kuat toh, saya bilang beli sabun nya saja dulu satu, hari senin kita balik lagi (karena saya kerja masuk siang).
Pas sampai rumah, ternyata adik saya dan suaminya akan membawa anak mereka (Kiarra) untuk imunisasi campak. Mama saya mau ikut, ya saya juga ikut sajalah daripda hanya diam dirumah 😉 .
Meluncurlah kami ke Rs. Hermina di Sunter kami bagian spesialis anak, ramee dengan anak-anak yang berlarian, ada yang nangis, ada yang ketawa, becanda dengan orangtuanya, hmm jadi pengen punya anak sendiri, tapi kalau saya ingat repotnya adik saya mengurus anak .. wahhhh ntar ntar aja ah he-he-he .
Adik saya mengurus pendaftaran, nah saya ambil beberapa foto ponakan (Kiarra) dan mama saya. Wahh Kiarra senang banget ada meja belajar plus bangkunya dengan warna yang cerah 😀 apalagi ada buku ceritanya, walau umur baru 1 thn 2 bln tapi dia sudah semangat belajar supaya kalau besar jadi dokter anak he-he-he.
Belajar yang rajin, Kiarra mau jadi dokter 🙂
Urusan dir s. Hermina selesai kami meluncur lagi ke Pasar Baru, adik ipar saya drop kami saja, lalu mereka pulang karena ponakan saya sudah waktunya makan siang.
Lapar nih, maka mama saya dan saya menikmati soto daging yang maknyus deh, berdua kena harga Rp.29.000 lumayan murah kan ;-).
Perut sudah kenyang, lanjut jalan lagi, ehh si mama minta es krim buah, ya makan sendiri aja ya karena anakmu masih kuenyang 😀
Ada obralan daster batik, harga rp.30.000, berhasil nawar, beli 2 Rp.50.000 aja yaaa 😀 lanjut jalan, ke toko kacamata buat ganti bantalan kacamata yang sudah menyakitkan, harga Rp.10.000 dirayu pelayan toko supaya saya dan mama ganti frame, karena tawar menawar tidak ada titik temu jadi kami bilang mau pikir-pikir dulu 😉 ; lanjut jalan lagi ke toko Golo beli beberapa barang murmer (murah meriah).
Lanjut jalan lagi melewati Janssen Cosmeceutical sudah pernah beberapa kali kalau ke pasar baru akan melewati tempat ini, tapi belum pernah tertarik untuk mampir. Nah ceritanya karena muka saya lagi parah dengan jerawat dan komedo dan lagipula saya akan go abroad ke Swiss 2 minggu lagi, so pengen penampilan jadi cakep dong hehehe..
Lihat-lihat iklan pelayanannya dulu, lalu kami disamperin spg nya dan diberikan selmbar flyer kliniknya, kami tanya-tanya dong klikniknya dari mana Oo Jerman, berapa lama kalau mau perawatan facial, kurang lebih 1 jam, kalau saya mungkin perlu extra ya wong mukanya amburadul he-he-he .. ok deh kami bilang pikir-pikir dulu ya mbak.
Setelah keluar toilet saya memutuskan ambil paket facialnya Rp.75.000 itu facial dasar saja, ada lagi facial yang Rp.150.000 atau Rp.200.000 tentunya dengan tambahan-tambahan perawatan lagi, sambil ngeles saya bilang “coba dulu ya yang Rp.75.000 kalau hasilnya bagus ntar saya pasti balik lagi deh 😉 “.
Pertama kali muka dibersihkan dengan susu pembersih, lalu diolesin semacam cream, lalu dibersihkan dengan air, lalu di uapkan dengan suatu alat, uap hangat mengarah keseluruh wajah supaya pori-pori terbuka, enakk nih awalny :D, lanjut mulai deh muka saya dipencet pencet lama benerrr hiksss sakittt, di keluarin komedo dan jerawat, pencet sana sini seluruh muka .. air mata mengalir dengan sendirinya (bukan karena sedih loh!) :P. Setelah itu dibersihkan, di massage lalu di taruh semacam alat yang nyengat gitu deh, listrik?? Kayanya iyaaaa, lanjutt di bersihkan lagi dan di kasih masker, harus tunggu 20 menitan supaya kering lalu dibersihkan dengan air.
1,5 jam berlalu, si mama sudah gak sabaran nunggu saya diluar selama perawatan?. Setelah selesai perawatan saya pegang wajah saya, yang awalnya gradakan sekarang mulus seperti jalan tol he-he-he. Rp.75.000 untuk perawatan yang diberikan, saya puas, mungkin lain kali akan kembali lagi yaaaa.
Panduan Pengajuan Visa di Kedutaan Switzerland (Jakarta). Ini kali kedua saya apply Schengen visa, tahun 2009 saya apply via kedutaan Belanda karena pengundang saya dari sana, nah pada kesempatan ini sponsor saya bermukim di Swiss, jadi saya datang ke kedutaan Swiss untuk proses pengajuan visanya.
Apply Schengen Visa (Foto: gettyimages)
Swiss bergabung menjadi anggota Schengen Country per 12 Desember 2008, dan pada umumnya persyaratan untuk pengurusan visanya kurang lebih sama untuk Negara Schengen.
Menurut saya perbedaannya mengenai asuransi. Di kedutaan Belanda, asuransi perjalanan kita tunjukkan pada saat pengambilan visa, sedangkan kalau di kedutaan Swiss, asuransinya harus sudah disertakan atau dibeli sejak awal pada saat pengajuan visanya, kalau visa ditolak berarti resiko polis asuransinya ya hangus!.
Adapun Visa Schengen berlaku untuk negara-negara yang disebut di bawah ini:
Visa sudah bisa diajukan 3 bulan sebelum keberangkatan, dan kalau tidak ada masalah apapun (semua dokumen atau syarat sudah lengkap) maka visa sudah bisa diperoleh dalam waktu 10 hari3 hari kerja (beberapa orang mungkin membutuhkan waktu lebih lama, berkenaan pengecekan host family/pengundang di Swiss). Saran saya sebaiknya visa diurus jauh – jauh hari, karena kita tidak pernah tahu hambatan apa yang bisa kita hadapi ketika pengurusan berlangsung.
*Mulai tahun 2012 pengajuan visa ke Swiss harus membuat perjanjian dahulu melalui email [email protected] (info dari Wazzen yang sedang apply Swiss lagi).
Dokumen yang harus dipersiapkan untuk Pengajuan Visa : 1. Form Schengen Visa yang telah diisi lengkap (form bisa di download dari website kedutaan Swiss), atau silakan klik disini.
Paspor yang masih berlaku (minimal 3 atau 6 bulan untuk amannya). Jika Anda sudah ganti paspor, maka paspor lama harus disertakan juga. Sertakan fotokopi halaman data pribadi paspor Anda.
2 (dua) lembar pasfoto berwarna terbaru ukuran 35*45mm ( 3X4 cm) ditempel diform aplikasi visa. (wajah Anda harus tampak 70-80% nya) bisa dilihat ketentuannya pada website kedutaan, atau silakan klik disini.
Bukti tiket / booking tiket PP (saran saya jangan beli tiket dulu karena kalau visa ditolak maka tiket Anda bisa saja akan hangus, jadi cukup minta print out booking nya dari travel).
Bukti kemampuan secara finansial diri sendiri (kopi rekening bank/buku tabungan / deposito 3 (tiga) bulan terakhir).
Asuransi Perjalanan, yang berlaku di wilayah Schengen dengan pertanggungan minimal sebesar € 30.000,-. (saya gunakan AXA platinum 15 hari 43USD jangan lupa di fotokopi). Asuransi saya beli di SIRIUS TOUR alamat : Rukan Tanagamas Jl. Tanah Abang III/19 Blok C No.19 F Jakarta Pusat 10160 Telp : 021 – 3447338 ; fax : 021 – 3447330 Email : [email protected]
Jika Anda tidak memiliki keuangan yang memadai untuk membiayai perjalanan Anda, maka bisa saja host person di Swiss menjadi sponsor Anda, untuk ini proses visa bisa beberapa minggu karena butuh pengecekan di Imigrasi/bagian terkait di Swiss.
Membayar biaya pengurusan Visa sebesar Rp.750.000 (cash).
Dokumen pembuatan visa yang diperlukan dari Pengundang (Host person di Swiss)
Kopi paspor pihak pengundang (dan juga fotokopi izin tinggal, dalam hal ini jika pengundang bukan warganegara Swiss).
Bukti kemampuan secara finansial sponsor (kopi rekening bank/buku tabungan 3 (tiga) bulan terakhir dan/atau slip gaji 3 (tiga) bulan terakhir).
Saya juga menyertakan surat kontrak kerja Sponsor (ybs WN Jerman).
Surat Undangan dari Sponsor (menerangkan periode Anda akan berada di Swiss, dan pihak sponsor akan menanggung semua kebutuhan Anda).
*Catatan : Untuk pengajuan visa di kedutaan Swiss pihak kedutaan hanya berikan masa tinggal dua minggu (sampai 15 hari), kalau Anda mau tinggal lebih dari 2 minggu maka Anda harus ajukan 2 bulan sebelumnya karena harus ada proses khusus dengan pihak di Swiss. Untuk Asuransi yang mau tinggal lebih dari dua minggu bisa disertakan menyusul.
Dua hari sebelum saya datang ke kedutaan, pihak sponsor saya mengirimkan via email untuk dokumen bagian dia (bisa juga kirim via fax). Kemudian saya datang membawa semua dokumen (bagian saya dan sponsor) tersebut diatas ke kedutaan Swiss pada 21 Desember 2010 (Langsung datang saja, tidak perlu telepon atau buat janji). Lokasi kedutaan ada di samping kedutaan Hongaria, deretan kedutaan Belanda, kalau Anda bawa kendaraan (motor) bisa parkir di kedutaan Belanda.
Email Informasi Visa: [email protected] Website: www.eda.admin.ch/jakarta
Saya tiba di kedutaan sekitar jam 08.40 pagi, tidak ada siapapun disana, dan petugas keamanan katakan loket baru di buka jam 09.00 beberapa saat kemudian datang 2 orang lagi,
Praise the Lord, I got the visa!!! Switzerland here I come!. Pagi ini, 31 Desember 2010 dipenghujung tahun 2010 saya mendapat kado tahun baru, yakni visa saya disetujui kedutaan Swiss, Hoorreee!!! Praise the Lord! :).
Antara niat gak niat sebenarnya untuk pergi ke Swiss, mengingat saya masih harus kursus bahasa Jerman setiap sabtu (5 jam) dan kalau bolos lebih dari 3 kali berarti saya tidak lulus, bolos satu kali pelajaran saja sudah bikin pusing :-(, lalu rasanya sayang kalau hanya tinggal 2 minggu mengingat harga tiket yang mahal, pasporpun harus diperpanjang dulu, belum ini.. belum itu.. banyak pertimbangan kala itu yang membuat saya tidak nyaman untuk pergi, malah saya bilang ke “dia” kalau hati ga tulus mau pergi nanti pesawat saya bisa jatuh loh! 😛 Hahahah ..
Setelah berpikir berulang kali, timbang sana sini dan berbicara dengan pujaan hati nun jauh disana hehehe .. saya putuskan perpanjang paspor (dengan setengah hati :D), setelah paspor selesai di awal Desember, mulailah saya mengumpulkan surat-surat yang dibutuhkan untuk mengurus visa. Tujuan saya kedutaan Swiss.
Sedikit komplain pada keadaan “Kenapa ya kalau orang asing mau berkunjung ke negeri kita begitu mudahnya, tinggal apply visa on arrival di bandara ketika mereka tiba, sedangkan kalau kita ke luar negeri (Eropa/barat) ribettttt dengan urusan tetek bengek surat-surat yang bikin pusing”.
Saya jadi ingat lagi kejadian Agustus 2009, kala itu saya dapat masalah dikedutaan Belanda, dimana jadwal saya untuk bisa apply visa dibuat jauh sekali, padahal saat itu saya sudah beli tiket, kalau saya tidak berangkat pada tanggal yang tertera maka tiket saya hangus, sekali lagi “Praise the Lord!” akhirnya semuanya beres ..
Nah kejadian tahun 2009 tersebut bikin nyali saya sedikit ciut untuk apply visa di kedutaan Swiss.
Saya baca tulisan seorang mengenai pengalaman dia, karena dari luar kota, maka jam 7 pagi dia sudah sampai di kedutaan (padahal baru buka jam 09.00) dan dia dapat antrian nomer 2. Lalu baca lagi mengenai pengalaman orang-orang ada yang diterima atau ditolak visanya dll.
Ketika itu 21 Desember 2010 saya gunakan cuti terakhir saya untuk apply visanya. Beberapa minggu sebelumnya sudah sibuk cari-cari informasi mengenai bagaimana prosedur apply visa di kedutaan Swiss, saya baca-baca websitenya dan juga rajin berkomunikasi dengan rekan-rekan milis travelling yang sudah punya pengalaman sebelumnya.
Saya sampai di kedutaan jam 08.40 saya pikir pasti sudah orang ngantri deh! (mengingat cerita rekan di milis yang datang jam 7 no. antriannya kedua), tapi ko sepi, saya tengok kanan kiri hanya saya dan adik saya saja yang berada di depan gerbang kedutaan, saya bilang ke satpam yang berdiri disana “mau apply visa” dibilang tunggu jam 9 baru buka. Ooo ternyata saya orang pertama loh! 😀
Oh ya 2 hari sebelumnya pengundang/sponsor saya sudah mengirimkan semua surat-surat melalui email ke kedutaan, termasuk surat undangan yang dibutuhkan sebagai persyaratannya, jadi saya datang ke kedutaan dengan kopian semua surat-surat dan paspor asli saya.
Pintu gerbang dibuka, tas dan barang-barang harus disimpan di loker, hp titip di satpam, tinggalkan ktp, dan saya diberi tanda pengenal untuk bisa masuk, sebelum masuk ke area kedutaan ada petugas yang memeriksa seluruh badan dengan suatu alat.
Saya masuk suatu ruangan “deg-deg an euy! dihadapan saya ada ruangan yang dipisahkan kaca besar, lalu seorang wanita bule yang fasih berbahasa Indonesia menanyakan keperluan saya, dia salah satu konsularnya, dia memeriksa semua berkas surat saya sambil tanya macam-macam. Lalu saya disuruh keruang sebelah untuk proses interview. Kali ini petugasnya wanita Indonesia, saya di tanya buanyaakkkkk sekali pertanyaan sambil sekali sekali dia mengisi suatu form dari jawaban yang saya berikan.
Tahun 2009 waktu apply visa dikedutaan Belanda, wawancara singkat deh! Kira-kira 10 menit saja, nah kalau di kedutaan Swiss makan waktu 45 menitan, ya mungkin karena hanya saja saja yang apply visa saat itu, jadi saya sekalian diajak ngobrol kali yaaaaa 😀
Selesai interview saya kembali keruang pertama dan diberikan selembar kertas, tertera tanggal kapan saya bisa kembali untuk menanyakan visa saya, kalau visa ditolak maka biaya pengurusan visa Rp.750.000 akan hangus.
Ternyata sorenya pihak kedutaan menelepon sponsor saya di Swiss, ditanya buanyakkkk hal juga seperti saya, mau di kros cek kali ya apa perkataan kami berdua sama heheheh .. entah semua kedutaan melakukan hal yang sama atau tidak, namun ini kali pertama saya tahu kalau pihak kedutaan sampai sedetail itu menghubungi pengundang di Swiss.
Kalau di hitung-hitung berarti dalam 8 hari kerja saja visa sudah saya peroleh, padahal setahu saja paling tidak 10 hari kerja visa baru bisa diperoleh dan itu juga belum pasti dapat.
Nah karena visa sudah saya peroleh, maka saya segera meluncur ke travel agent untuk bayar tiket yang telah saya booking. Tenanglah kini hatiku, tinggal ngurus koper dan isinya 🙂 🙂 :).
Auf Wiedersehen A.1.2 und Willkommen A.1.3. 10 minggu telah ku lalui lagi di Goethe Institut, 2 minggu terakhirnya sungguh tidak tenang menunggu hasil pengumuman hasil ujian yang telah saya ikuti. Guru kami mengatakan ada beberapa siswa yang tidak lulus :’( .. Nilai harus min. 60 untuk syarat kelulusan.
Hari terakhir kami masih belajar, setelah istirahat pertama kami nonton film bersama gabungan dengan 2 atau 3 kelas lain. Temanya adalah orang-orang Turki yang jadi pendatang di Jerman. Di film tersebut ada 2 keluarga Jerman dan Turki, yang keluarga Jerman seorang wanita single dengan 2 anak abg (pria dan wanita), lalu yang keluarga Turki, seorang pria single dengan 2 anak juga (pria dan wanita), jadi ceritanya si wanita (Jerman) dan pria (Turki) saling jatuh cinta. Dua kebudayaan yang berbeda tentu saja saling berbenturan dan menjadi masalah. Usai menonton kami harus menjawab pertanyaan pada selembar kertas berkaitan dengan film yang kami tonton tadi, kami dibagi dalam beberapa kelompok.
Setelah menonton film kami kembali lagi ke kelas dan melakukan permainan :D, namun kali ini banyak para teman-teman kursus yang tidak datang atau pulang lebih awal. Kami menikmati permainan-permainan tersebut sampai perut sakit karena terlalu banyak tertawa heheheh, kemudian selesai bermain kami diminta untuk menuliskan pada beberapa lembar karton mengenai kesan dan pesan selama kami belajar di Goethe, yang positif dan negatif.
Lalu pembagian sertifikan, yang lulus langsung dapat sertifikat, dan ada tiga orang yang tidak dapat melanjutkan ke tikat A.1.3 karena nilainya dibawah standar.
Pengalaman Perpanjang Paspor di Imigrasi Jakarta Pusat. Saya ingin share pengalaman saya perpanjang paspor dimana saya mengurus sendiri tanpa pihak travel ataupun calo. Paspor selesai dalam waktu 10 hari kerja.
Dua hari yang amat sangat melelahkan telah saya lewati, semoga bisa jadi gambaran untuk Anda yang juga akan memperpanjang paspor atau membuat paspor baru (prosesnya juga sama).
Tanggal 28 November 2010 sore hari saya beli amplop/map yang berisi 1 lembar form untuk pengajuan paspor, beli di koperasi imigrasi seharga Rp.7500. Adapun berkas fotokopi identitas diri yang harus disertakan dalam map tersebut :
• Kartu Tanda Penduduk (KTP) • Akte lahir • Kartu Keluarga • Ijazah terakhir • Surat Nikah (jika sudah menikah) • Surat Rekomendasi dari Kantor • Paspor RI yang lama bagi pemohon penggantian paspor RI Semua berkas fotokopian harus dengan kertas ukuran A4 JANGAN dipotong!
Untuk berkas asli harus dibawa serta juga, akan diperiksa ketika Anda memasukkan berkas dan diperiksa ulang ketika proses wawancara.
Contoh Draft Surat Keterangan kantor
Prosedurnya
Hari pertama 29/12/2010 :
Saya datang jam 07.45 pagi (kantor buka 08.00) ternyata sudah banyak sekali orang yang datang, dan berkas sudah ditumpuk di pos satpam, harap harap cemas karena petugas bilang map yang akan diproses hanya sampai map ke 75, jadi map ke 76 akan ditolak dan bisa coba diajukan hari berikutnya.
Hari itu Senin, jadi petugas imigrasi ada upacara bendera dulu, kantor mulai dibuka 08.15 dan map yang ditumpuk tadi mulai dibagikan no. antrian, saya yang datang 07.45 saja dapat no.65 hikss .. ternyata banyak orang-orang yang menumpuk berkasnya sejak jam 5 pagi.
Saya tunggu sampai jam 9.45 nomer saya tidak kunjung dipanggil, padahal saya harus segera ke kantor karena jam kerja saya 10.30, maka saya telp adik saya minta untuk diwakilkan mengantri. Dan menurut informasi dari adik saya berkas saya baru dipanggil jam 3 sore, sangat lambatttt sekali bukan?? Setelah nomer antrian dipanggil, berkas diperiksa kalau ada yang kurang akan disuruh bawa berikutnya kemudian nanti diberikan secarik kertas (tanda terima) tertera tanggal kapan Anda bisa datang untuk foto dan wawancara. Saya disuruh kembali tanggal 2 Desember 2010.
Loket Pengajuan Paspor
Hari kedua 02/12/2010
Saya datang lebih pagi (07.35), seperti sebelumnya, sudah bisa menaruh slip/berkas Anda di pos satpam. Ketika kantor dibuka dan no antrian dibagikan saya dapat no.45 yakni 4045.
Dibedakan nomer antrian yang akan melakukan pembayaran dan yang baru akan masukkan berkas pengajuan paspor, kalau untuk yang baru akan mengajukan paspor akan dibatasi sampai nomer 75
Saya dipanggil di loket 3, diberikan slip untuk melakukan pembayaran, Pk. 09.00 menunggu kira-kira 30 menit baru nomer saya dipanggil untuk melakukan pembayaran Rp. 270.000.
Kembali menunggu untuk giliran foto dan wawancara, jam 10.05 baru no. urut 13 sedangkan nomer saya 45 hiksss
Banyak orang-orang yang hilir mudik, ada yang tadi pagi masih ngantri tiba-tiba sudah dipanggil untuk foto, ternyata si ibu tersebut gunakan calo..??
Waktu menunjukkan pukul 12:00 jadi karyawan imigrasi istirahat dulu dan kembali bekerja jam 13.00 .. nasibbb harus menanti lebih lama.
Saya merapikan diri ke toilet, pakai sedikit bedak, poles sana poles sini, wajah sudah lelah menanti ..
Akhirnya jam 13:50 nomer saya dipanggil, OooO Thanks God!
Ruang untuk foto dibagi dua, yakni ruangan untuk yang urus paspor sendiri dan satu lagi ruang bagi yang mengurus melalui pihak kedua (travel / calo).
Di masing-masing ruangan hanya ada dua kamera, jadi bisa Anda bayangkan prosesnya jadi lama sekali, proses wawancara juga ditanggani oleh yang melakukan pemotretan, jadi wawancara dulu lalu fingerprint scanning kemudian dan Anda langsung di foto. Prosesnya tidak sampai 20 menit, malah saya ketika itu sepertinya hanya 10 menit ;-).
Kalau lima tahun lalu cap jari dengan tinta yang bikin kotor sekarang sudah canggih secara scanning, jadi jari-jari kita tinggal ditempelkan ke alat scanning dan data sidik jari muncul dikomputer.
Untuk foto Anda tidak boleh menggunakan softlens, waktu itu ada seorang wanita yang sibuk cari aqua untuk melepaskan softlensnya. Padahal tadinya saya mau gaya pakai softlens, untung saja tidak jadi hehehe :D.
Pertanyaan wawancara yang diajukan ke saya :
Nama
Alamat
Pekerjaan atau alamat kantor, sudah berapa lama bekerja di pt. tersebut
Tujuan buat paspor, mau pergi kemana ..
Apa sudah pernah punya paspor sebelumnya
Saya sampai bergurau ke bapak yang mewawancarai saya : Pak .. senang deh dengan bapak prosesnya cepat sekali..!” lalu saya disuruh mengulang perkataan saya tersebut ke temannya, dan kami jadi saling tertawa :D.
Saya diberikan slip untuk pengambilan paspor, lalu saya keluar sambil mengucapkan terima kasih dan senyum-senyum ke bapak yang sudah mewawancarai saya. Saya ke loket pengambilan paspor, slip saya di stempel oleh petugas wanita dan diinformasikan tanggal pengambilan paspor, disuruh datang beberapa hari setelah tanggal tersebut juga boleh karena kantor imigrasi sedang ramai sekali.
Kalau yang ga mau repot bisa gunakan jasa travel / calo, dengar-dengar tarifnya mulai 400rb an – 800 rb an tergantung nego kalinya ya, bagi yang ga punya waktu atau sibuk daripada ngantri seharian, silakan gunakan jasa pengurusan tersebut :D.
Oh ya menurut informasi pihak Imigrasi, pengajuan paspor bisa juga di ajukan secara online melalui http://www.imigrasi.go.id pilih layanan publik kemudian pilih layanan online, semua persyaratan diatas di scan hitam putih dan di upload tidak boleh lebih dari 100 kb, setelah itu akan keluar nomor registrasi, 2-3 hari kemudian kita datang ke kantor imigrasi yang telah kita pilih ketika daftar online. Konon prosesnya lebih cepat jadi ketika datang kita tinggal proses foto & wawancara, mungkin 5 thn ke depan saya akan coba apply secara online ;-).
Alamat Kantor Imigrasi Jakarta Pusat
Kantor Imigrasi Jakarta Pusat
JL. MERPATI BLOK B12 NO. 3 KEMAYORAN, JAKARTA PUSAT
Kira-kira sudah tiga bulanan ini saya menerima email yang sangat menganggu, yang isinya tentang ajaran-ajaran agama tertentu (Kristen & Muslim). Isinya terlalu memprovokasi dimana si penulis menyudutkan salah satu agama tertentu, yang tentunya bisa membuat marah pihak-pihak yang membaca isi email tertentu.
Waktu awal-awal terima saya hanya baca sekilas saja satu dua email, lalu saya block email pengirimnya. Selanjutnya setiap hari tanpa saya baca lagi langsung saja saya block email-email tersebut daripada buang waktu untuk menanggapinya hehehe .. ternyata setiap hari hingga saat ini selalu saja ada kiriman email serupa dari alamat alamat email yang berbeda!.
Dan yang lebih mengesalkan, sempat beberapa hari (barusan juga) saya terima komplain dari orang-orang yang menerima email serupa, jadi si pemilik email mengirimkan emailnya ke banyakkk sekali orang, dan mereka yang tidak suka email tersebut, tapi komplainnya kenapa harus me-“reply all” ????
Dibawah ini contoh pengirim email-email berbau sara :
Yuhuuuu I’m so happy! Paket kedua dari Switzerland akhirnya datang juga, ternyata paket kedua ini ukuran dus nya tiga kali lebih besar dari yang pertama :D.
Paket II
Paket kali ini bisa diacungi jempol, dus saya terima dalam keadaan baik/rapih tidak rusak seperti paket pertama, bahkan dusnya di masukkan ke dalam plastik lagi. Kalau paket yang pertama dikenakan bea pos Rp.4000 sedangkan paket kedua ini biaya nya Rp.7.000 yang mana Rp.4000 nya tersebut adalah harga plastiknya.
Paket kedua saya terima 12 Oktober 2010 yang berarti butuh waktu 33 hari pengiriman dari Swiss ke Jakarta.