5 Hal Perbedaan Antara di Jerman dan Indonesia | Edisi Liburan ke Indonesia

5 Hal Perbedaan Antara di Jerman dan Indonesia | Edisi liburan ke Indonesia. Hari itu 23 Maret 2019 kita jalan-jalan ke Bandung. Berangkat dari rumah jam 7.30 tiba Bandung jam 12.30 parah banget macetnya. Nah dari pada bengong di dalam mobil, saya iseng bikin video ngomongin 5 Hal Perbedaan Antara di Jerman dan Indonesia.

5 Hal Perbedaan Antara di Jerman dan Indonesia | Edisi Liburan ke Indonesia

Berhubung tidak pakai persiapan, tidak ada draft apa saja yang mau dibicarakan di video, jadi random aja, apa yang terlintas dipikiranku langsung diomongin. Lain kali bisalah dibuat bagian keduanya πŸ˜€ .

1.Penggunaan carseat anak antara di Indonesia dan Jerman. Di Indonesia saat berkendara anak-anak tidak diwajibkan duduk di bangku khusus bayi dan anak. Tidak ada peraturan yang mewajibkan kalau anak harus duduk ditempat khusus, tidak ada dendanya juga, jadi terserah orangtuanya mau menyediakan carseat atau tidak. (Tolong koreksi kalau saya salah, soalnya sudah 8 tahun baru ke Indonesia lagi, kali aja ada peraturan mengenai keselamatan anak saat ikut berkendara?)

Anak bisa dipangku orangtua atau siapapun orang dewasa didekatnya. Akibatnya anak-anak tidak tertib duduk. Berdiri di jok mobil, loncat-loncat, berantem adu jotos haha dan mengganggu konsentrasi yang nyupir.

Tetap ada positifnya sih yang bisa diambil dengan kondisi di tanah air ini. Saat masih bayi, dimana si bayi merasa tidak nyaman, nangis atau rewel melulu, saat dalam dekapan ibu maka si bayi akan tenang. Giliran di Jerman, bayi atau anak nangis ya biarin aja, ntar kalau cape berhenti sendiri dan tidur, keselamatan yang UTAMA tidak boleh anak dipangku! πŸ˜€ .

Manfaat Penggunaan Carseat

Di Jerman, sejak bayi pulang dari rumah sakit HARUS ada tempat khususnya Auto-babysitz Kindersitz alias child car seat, kalau tidak akan didenda. Anak punya tempat khusus tujuannya demi keselamatan. Benjamin dan Lisa anteng kan duduk manis πŸ™‚

Manfaat Penggunaan Carseat tujuannya (hasil mikir sendiri):

  • Untuk menjaga keselamatan bayi dan anak. Untuk bayi dan anak masih kecil 1-3 tahun posisi carseat membelakangi pengemudi (posisi kepala bayi/anak kearah bangku pengemudi/ tempat duduk bagian depan). Tujuannya adalah saat ngerem mendadak bayi atau anak aman di tempatnya, kalau tidak ditaruh demikian, anak bisa terlempar dari tempatnya.
  • Membuat anak duduk tertib.
  • Membuat orangtua apalagi pengemudi bisa tenang berkendara, coba kalau hanya ibu atau ayah saja pergi bersama dua anak kecil, dimana kedua anak berada dibelakang, wah bisa main trampolin atau main bola di jok mereka macam si Benjamin dan Lisa haha.
  • Membuat anak tenang dan akhirnya tertidur kalau perjalanan jauh, beda nih saat kita di tanah air, mana bisa tidur si Lisa, justru bergaya kenek metromini melulu dia.
  • Mencegah anak-anak bertengkar/adu fisik kan ada jarak carseatnya.

Di Jerman, sejak bayi pulang dari rumah sakit HARUS ada tempat khususnya Auto-babysitz /Kindersitz = child car seat. Kalau tidak akan didenda!.

Kalau si Lisa sebagai anak kedua, sama sekali dia tidak pernah berontak saat duduk dibangkunya, karena dia melihat abangnya juga duduk dibangku dengan model yang sama, dan diikat sama juga seperti dia πŸ˜€ .

Baca juga: Orang Jerman, Etika dan KebiasaannyaΒ 

Nah yang pernah drama adalah saat Benjamin masih dibawah 1,5 tahun. Kalau bayi sih anteng aja deh ya kan kalau mobil jalan serasa digoyang mirip di ayunan. Waktu Benjamin usia 9 bulan kita berlibur ke Belanda, harusnya 3 jam perjalanan menuju ke Belanda bisa bablas aja maunya suami, eh jadi berhenti beberapa kali.

Di Belandapun pas ada acara naik mobil, ada kalanya si bocah rewel tidak mau duduk dibangkunya, kalau saya kekeuh mau mengendong, yang punya mobil (temanku) tidak membolehkan hal tersebut, selain faktor keselamatan, kalau ada polisi bakalan kena tilang, ya sudahlah jadi dibiarin aja rewel gitu si Ben.

Pas kami kembali dari Belanda ke Jerman, si Benjamin kembali lagi rewel, ya maklum sih anak kecil mana yang bisa diam duduk aja lebih dari 1 jam kan. Akhirnya saya pindah duduk ke samping Benjamin. Ditemani duduk disampingnya, juga tidak menyelesaikan masalah.

Akhirnya saya pangku dia, dan ditutupi kain panjang, eh si bocah tidur. Untung sih bapaknya anak-anak masih bisa diminta kelonggaran sedikit yaa, untuk hal lain jangan harap deh kalau menyangkut peraturan, orang Jerman tidak bisa diminta kompromi πŸ˜€ .

Baca juga: 7 Kelakuan Unik Suami Jermanku yang Bikin Makin Cinta

Sudah cuma sekali itu aja drama carseat dengan Benjamin, semakin besar anaknya akhirnya sudah paham, malah kalau naik mobil, dia sendiri yang narik seat beltnya, nanti bapaknya yang mengencangkan.

2. Jalan tol di Jerman gratis, sedangkan di Indonesia harus bayar. Di Jerman motor bisa masuk jalan tol, sedangkan di Indonesia tidak bisa. Bisa dimaklumi sih motor di Jerman sangat sedikit, orang naik motor paling saat cuaca bagus (tidak dingin selain musim dingin kali yaa), sedangkan kalau di Indonesia tuh motor gilaaa deh banyaknya, bukan jalan bebas hambatan lagi kalau motor bisa masuk tol di Indonesia.

  • Pajak pekerja di Jerman tuh bisa sampai 40%, namun uangnya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat juga. Ada uang anak yang diberikan sejak anak lahir sampai usia 18 tahun atau sampai 21 tahun kalau kuliah, kalau anaknya kerja ya sampai 18 tahun aja. Besarnya uang anak kindergeld 192 Euro/anak, kira-kira Rp.3,1 juta dapat tiap bulan. Coba kalau di Indonesia pajak gaji sampai 40% bisa didemo dah pemerintah yaa hehe.
  • Jalur tol paling kiri kalau tidak ada rambu batas kecepatan, tuh bisa ngebutt! Bisa 300 km melaju atau lebih loh, tapi kalau kecelakaan tanggung sendiri, karena asuransi tidak nanggung (saya pernah nanya suami).

Suami pernah saya minta melaju di kecepataan 250 km (waktu belum punya anak), maklum baru datang ke Jerman, kan sudah baca atau dengar, katanya di Jerman begini begitu.. β€œEh coba dong sayang melaju sampai 250 km saya pengen tahu rasanya haha”, doi nurut aja. Kita waktu itu pakai mobil baru ya dari leasing, tengah hari bolong waktu perjalanan dari Swiss ke Jerman.

3. Tidak boleh berhandphone ria saat menyetir. Saat berkendara tidak boleh pegang hp, kalau di Jerman bisa didenda atau bahkan sim bisa ditarik, kalau di Indonesia? cincalah asal tidak ketahuan yaa haha.

Kalau ada yang penting sekali terima telepon, biasanya bapaknya anak-anak akan berhenti menepi dulu untuk menjawab panggilan telepon, namun lebih seringnya hp dia taruh tas atau ditinggal aja dirumah.

4. Mengisi bensin antara di Indonesia dan di Jerman. Isi bensin kalau di Jerman self-service, keluar dari mobil ngisi bensin sendiri, bayar sendiri di mesin pembayaran, atau kadang ada kios dijaga orang untuk kita lakukan pembayaran.

Kalau self service ngisi bensin tengah malampun jadi bisa kan. Biaya bahan bakar kendaraan di Jerman sering banget berganti harga, kalau menjelang hari raya atau hari minggu bakalan lebih tinggi. Kalau mau lebih murah isi agak malam sekitar jam 9 atau jam 10 an di hari kerja.

Ada yang tipu-tipu langsung kabur ga kalau di pom bensin Jerman?, oh pasti ada, tapi kecil angka pelangarannya. Di pom bensin ada beberapa kamera yang merekam plat nomer mobil, dan beberapa kamera lain ditempatkan di posisi tersembunyi.

Baca juga: Menjadi Ibu Rumah Tangga di Jerman

Video 5 Hal Perbedaan Antara di Jerman dan Indonesia

5. Penggunaan Zebra cross antara di Jerman dan di Indonesia. Untuk pejalan kaki di Indonesia zebra cross hanya sebagai hiasan saja. Pengendara motor atau mobil tidak peduli dengan pejalan kaki, mereka terus melaju tanpa memikirkan kalau ada yang mau menyebrang, sedangkan di Jerman pejalan kaki adalah yang utama saat mau menyebrang.

Semua kendaraan akan berhenti saat ada pejalan kaki menyebrang di Zebra cross di Jerman, ditungguin sampai pejalan kakinya lewat ke seberang, barulah pengendara melaju kembali.

Walaupun yang nyeberang hanya satu orang saja, tetap mobil dan motor akan berhenti, kalau saya tidak buru-buru, biasanya saya tunggu jalanan sepi, baru saya nyeberang.

Pada video diatas, saya dan anak-anak mau nyeberang jalan. Duilehh saya ngeri lihat mobil dan motor banyak sekali yang melaju kencang. Itu saat kita di Jakarta, jalan-jalan sore ke minimarket. Untung ada seorang bapak yang nolongin.

Mungkin si bapak ngeliat saya ko lama bener tidak nyebarang haha, takut ketabrak gile!. Akhirnya dibantuin disebrangin si bapak, dia angkat tangan kanan tinggi-tinggi tanda supaya kendaraan berhenti sejenak.

 

PursuingMyDreams - Emaknya Benjamin

↑ Grab this Headline Animator

 

Baca juga: Cerita dari Jerman – Living in Germany

Advertisements

23 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: