Orang Jerman Itu (Bagian II)

loading...

Orang Jerman Itu (Bagian II). Sahabat pencinta blog pursuingmydreams.com selamat hari sabtu ya. Mau berakhir pekan kemana nih? :smile:. Saya mau melanjutkan membahas mengenai orang Jerman. Temanya sedikit diubah, bukan mengenai orang Jermannya langsung, namun bagaimana kehidupan di Jerman:

  1.  Asuransi kesehatan wajib HARUS punya, karena biaya rumah sakit mahal sekali.
  2. Pensiun untuk pria 67 tahun dan wanita 65 tahun.
  3. Kalau bertemu orang salam tangan saja, tidak perlu cium pipi.
  4.  Anak-anak tidak boleh muncul di panggung (TV) setelah jam 10 malam. Kalau remaja dibawah 18 tahun ikut kontes musik, lewat jam 10 malam tidak boleh naik panggung lagi, jadi hanya duduk dibangku penonton.
  5.  Sejak bayi lahir hingga si anak kuliah akan dapat uang anak dari negara (kindergeld) nilainya 180 EUR/bulan (sekitar Rp.2.300.000). *revisi, info dari mbak Kayka. Untuk anak ke 2 dan ke 3 dapat uangnya lebih banyak. (Biar dapat duit buat anak, tetap aja orang Jerman banyak yang ga mau punya anak tuh.)

  6. Tidak boleh memukul anak. Si anak bisa melaporkan orangtuanya ke polisi dengan alasan kekerasan terhadap anak.

  7. Tidak boleh memaksa anak supaya cepat bisa membaca. Menurut gurunya jika waktunya tepat si anak akan bisa sendiri.
  8. Anak-anak tidak boleh main sendirian di taman, orang tua atau pengasuh harus selalu ada di dekatnya.
  9. Kalau punya mobil wajib punya juga asuransi mobil. Polisi bisa menilang  kamu jika mobil tidak punya asuransi.
  10. Bersepeda juga diajarkan disekolah. Guru atau polisi setempat yang mengajar anak-anak di lapangan atau jalan raya (jalanan akan ditutup selama pelajaran). Ceritanya disini.
Orang Jerman Itu (Bagian II). Belajar Bersepeda di jalanan
Belajar Bersepeda di jalanan
  1. Di Jerman, perusahaan berkewajiban memperkerjakan orang cacat, paling sedikit 5%, jika mengelak maka siap-siap kena denda. Sepenggal kisahnya (Baca: Di Jerman Cacat pun Berpeluang Kerja).
  2. Air keran di rumah-rumah bisa langsung diminum
  3. Wine sebagai hadiah atau tentengan bertamu. Ya ini khas Jerman banget. Ada yang ultah, bertamu, hari raya dll buat tuan rumah kita kasih wine. Dirumah saya nih jadi ada berbotol-botol wine. Kalau bertamu lagi ya bawa yang dirumah saja. Asal ingat saja kita dapat winenya dari siapa, jangan sampai wine yang sama kembali ke pemberinya kan malu-maluin tuh hehe 😆 .
Wine sebagai Tentengan bertamu Khas Jerman banget, typisch deutsch
Wine sebagai Tentengan bertamu Khas Jerman banget, typisch deutsch
  1. Ke sesama langsung pagi nama, tidak peduli tua muda, kecuali kalau resmi ke kantor-kantor baru panggil Frau (wanita)  atau Herr (pria).
  2. Memberi dan menerima sesuatu sah-sah saja dengan tangan kiri.

  3. Waktu tenang (Ruhezeit) jam 1 hingga jam 3 sore. Jam 10 malam hingga jam 6 pagi.  Hari Minggu dan tanggal merah juga adalah waktu tenang, jadi tidak boleh bikin gaduh.

  4. Kalau latihan alat musik di rumah, misal main drum, saxophone dll maksimal hanya boleh 1 jam. Kalau mau puas bermain bikin kamar kedap suara. Kalau bikin bising tetangga merasa terganggu si tetangga bisa lapor polisi.
  5. Hari kerja kantor-kantor Senin hingga Jumat. Sabtu toko-toko kecil buka setengah hari  (hingga jam 12 atau jam 1 siang). Hari Minggu semua toko-toko, supermarket, termasuk pusat perbelanjaan tutup. Alasannya supaya pekerjanya juga bisa berkumpul dengan keluarga mereka. Jika ada yang bekerja di hari libur atau sabtu minggu (misal di layanan kesehatan, seperti rumah sakit)  maka gajinya lebih besar dari hari biasa.
  6. Bikin SIM di Jerman biayannya sekitar 2.000 Euro (sekitar Rp.25.800.000 *kurs Rp.12.900). Tidak ada calo SIM disini hehe :mrgreen: . Kalau test nyetirnya gagal terus ya tambah mahal biaya kursusnya.
  7. Punya radio atau hp saja harus bayar pajak 5,75 EUR/bulan. Punya ketiganya radio, hp & televisi pajaknya 17,98 EUR/bulan. Kalau kamu tinggal sendirian ya bayar sendirian tapi untuk keluarga satu rumah bayar cukup sekali hitungan satu orang saja. Bayar melalui Bank transfer.

Bagian I klik disini.

Advertisements

Emaknya Benjamin br. Silaen

Hi! I'm Nella a Bataknese. I currently live in Germany, however I'm originally from Jakarta, Indonesia. I'm a full-time-stay-at-home-mom. I have a lot of passions of gardening.

99 thoughts on “Orang Jerman Itu (Bagian II)

  • March 11, 2014 at 4:46 am
    Permalink

    waa, point tdk boleh memaksa anak membaca menarik juga..sementara parents disini berlomba2 memasukkan anaknya ke tempat les baca tulis di TK B..belajar bersepedanya jg asyik.

    (modernbunda.com linknya dihapus karena tidak aktif lagi. 04.10.2015)

  • January 1, 2014 at 1:24 am
    Permalink

    Halo mba salam kenal, mantep banget ya biaya bikin simnya, partner saya lagi proses bikin, mulai les sekitar Oktober, kaget juga waktu bilang biayanya 2000 euro, sampai saya nanyain ulang, saya pikir kelebihan nol 1, hahahaha

    • January 1, 2014 at 10:29 am
      Permalink

      Hahaha itu beneran ko ga kelebihan nolnya 😀 . Untungnya adalah disini perpanjang simnya ga tiap 5 tahun spt di Indo, tp setiap 15 thn (peraturan baru).

  • August 3, 2013 at 6:06 pm
    Permalink

    Nomer 10 asyik banget, kalau kita kan belajar sepeda belajar sendiri, sampai nabrak tong sampah. Di Indonesia juga ada peraturan untuk memperkerjakan penyandang disabilitas lho, kuotanya 1%, tapi banyak perusahaan yang belum tahu & tidak menerapkan hal ini.

    • August 4, 2013 at 12:34 am
      Permalink

      Iya belajar sendiri, katanya klo nabrak malah jago nantinya naik sepeda 😀 . Wah saya baru tahu ttg kuota 1% tsb 😉 .

  • July 27, 2013 at 9:49 pm
    Permalink

    gast vater aku pernah bilang, selain untuk istirahat, juga karena dulu orang-orang mau ibadah ke gereja gitu hari minggu, makanya dibuat libur..

  • July 13, 2013 at 3:04 pm
    Permalink

    tunjangananak itu tuh yg buat tmn sklrga enggan pulang ke Indo lg mba.. krn alasan investasinya lbh baik dsini.. walau sbnrnya blm bs punya rmh sndiri dsini, tp tuk anak2 trjamin.. beda dgn khdpn di Indo ya.. hehe..

  • July 5, 2013 at 4:32 pm
    Permalink

    cariin bule dong, makasih ini emailku

  • July 4, 2013 at 12:39 pm
    Permalink

    Setiap sistem itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing mbak. Di negara maju seperti jerman jaminan kehidupan yang layak dapat dirasakan betul-betul, termasuk layanan publiknya meskipun dalam kondisi tertentu kita harus membayar mahal untuk sesuatu hal. Kalo di Indonesia memang banyak gratisnya (makan kalo mau tinggal nanam ubi, dibakar, trus dimakan sendiri — pengalaman waktu kecil di desa), tapi juga ada tidak enaknya. Tapi makin banyak khazanah yang kita punya, makin warna-warni hidupnya. hehehe

    • July 4, 2013 at 12:57 pm
      Permalink

      Iya Ardika beda negara beda aturan. Aku sih tetap cinta Indonesia ;).

      • July 4, 2013 at 1:15 pm
        Permalink

        Ya iya lah mbak. Tanah air kita soalnya.

  • July 3, 2013 at 3:54 pm
    Permalink

    Hampir mirip sama disini ya Nel.. beda2 tipis aja, kayak soal kesehatan disini gratis, kalau bayar pun max 1000kr/tahun, kalau berobat lebih dari itu gratis sisanya..

    yang tax buat tv itu aku masih ga abis pikir loh.. ahahaha

    • July 3, 2013 at 6:21 pm
      Permalink

      Klo buat kesehatan juga gratis ko Be ;). Disana ga ada pajak buat TV ya?? :D.

      • July 5, 2013 at 8:32 am
        Permalink

        Nel, untuk masukan saja, kamu bisa infokan hukum pernikahan Jerman seperti perceraian, warisan, anak dsb

  • July 3, 2013 at 6:26 am
    Permalink

    waduh mahalnya. bikin sim aja sampe segitu? tapi lumayan juga ya dapet tunjangan anak.

    • July 3, 2013 at 9:27 am
      Permalink

      Simnya berlaku lebih lama ga sot di Indonesia yg hanya 5 thn. Lumayan drod ga dpt sama sekali tunjangannnya hehe.

  • July 3, 2013 at 4:42 am
    Permalink

    Whaaaaaatttt SIMnya itu gak salah harganya? gileeeeeeeeeeeeee di sini dapat dua motor hahaha…

    • July 2, 2013 at 8:28 pm
      Permalink

      Haha ya itu sih yang jorok :D, namanya mahasiswa, gaulnya dengan yang wangi-wangi dong ;). Kalau musim dingin, ya mandi ga tiap hari, karena kita disini ga keringatan, kecuali kalau musim panas bisa berendam mulu.

  • July 2, 2013 at 3:21 pm
    Permalink

    usia pensiunnya panjang ya,
    di sini masih 55 atau 60 (guru dan medis)

    • July 2, 2013 at 3:37 pm
      Permalink

      Iya kak lebih panjang masa kerja disini, sebenarnya kalau masa kerja diperpendek kan jadi yang muda bisa lebih berpeluang dapat kerja ya :D.

  • July 2, 2013 at 8:42 am
    Permalink

    Dengan adanya tunjangan anak begitu, boleh tahu kira-kira berapa persen tarip pajak penghasilan di Jerman, Mbak?

      • July 2, 2013 at 9:35 am
        Permalink

        Kalau dihitung-hitung sih masih mahalan di Indonesia, Mbak 🙁

  • July 1, 2013 at 12:00 pm
    Permalink

    Ahhh.. Mauu bangett sihh pindahh ke Jerman.. Sebagai orang yg cinta dengan ketenangan dan benci dengan suara bising saya cinta Jerman..hahah 😀 Gimana cara kesana yah? Tapi kudu belajar bahasa sana yah kak?..

    • July 1, 2013 at 12:32 pm
      Permalink

      Klo disini terlalu sepi kadang aku kangen Jakarta, apalagi hari minggu klo di Indo kan waktunya ngemall tuh, lah di Jerman hari minggu mall malah tutup :D. Iya harus belajar bhs Jerman ;).

  • July 1, 2013 at 8:27 am
    Permalink

    Ngebayangin kalau sampai dapet anggaran 2,3 juta per bualan buat 1 anak di Indonesia, penduduk Indonesia udah langsung jadi 1 miliar kali jumlahnya, Mbak.

    LOL

  • July 1, 2013 at 3:15 am
    Permalink

    Untuk SIM, wow mahal banget. Tapi mungkin tujuannya baik, demi keselamatan pengguna jalan. Gak kayak di sini ya anak SD aja udah bisa pake motor dan kebut-kebutan 🙁

    • July 1, 2013 at 12:20 pm
      Permalink

      Mahal sih tapi dulunya berlaku selamanya. Nah mulai tahun 2033 nanti SIM akan berlaku 15 tahun, stl 15 thn harus cek kesehatan untuk perpanjang SIM nya krn banyak orang2 tua yg umur 90 an masih nyetir loh, klo ga cek kesehatan termasuk mata agak resiko buat para manula tsb dibiarkan nyetir.

  • July 1, 2013 at 3:13 am
    Permalink

    Wah asyik banget yah disana ada waktu tenang, didaerah rumahku kalo ada yang hajatan trus bikin panggung hiburan bisa sampe jam 1-2 malem tuh T_T, jadi kalo acaranya deket rumah ya wassalam berisiknya..

    ( link dianryan.blogspot.com dihapus karena domain tidak aktif lagi. 06.10.2016 )

    • July 1, 2013 at 12:21 pm
      Permalink

      Disini klo bikin hajatan max sampai jam 10 malam, klo mau semalaman harus sewa gedung yg jauh dari perumahan ;).

  • June 30, 2013 at 5:50 pm
    Permalink

    Banyak peraturan yg aku suka semisal anak tidak boleh dipaksa untuk bisa membaca 🙂

  • June 30, 2013 at 3:31 pm
    Permalink

    waaaa mahal bahal banget ya mba, jadi kalau di keluarga tersebut, si bapak, ibu, anak anak pada punya hp jadi harus masing masing bayar dengan total segitu mba??
    :v

    tapi enak ya mba, di sana ada biaya tunjangan anak yang di berikan pemerintah 😀

  • June 30, 2013 at 2:55 pm
    Permalink

    Waduuh..mahal banget bikin SIM-nya ya Mbak.. he he..kalau di Indo segitu, bisa bisa semua orang pada mendingan ditangkep polisi aja kali ya..he he..

    • June 30, 2013 at 3:44 pm
      Permalink

      Haha iya mbak Andani. Saya saya maju mundur niat bikin SIM, harus nabung dulu :D.

  • June 30, 2013 at 2:38 pm
    Permalink

    Biaya SIM nya mahal banget yak… Di sini pakai calo aja gak semahal itu. Hehe…

    • June 30, 2013 at 3:43 pm
      Permalink

      Di Indonesia enakkk deh tinggal ke calo, di Jerman harus berjuang sendiri, mahal pula hiks.

    • June 30, 2013 at 3:38 pm
      Permalink

      Beda negara beda kebijakannya ya. Semiga di Indonesia busa juga spt no.5 & 11 ;).

  • June 29, 2013 at 11:18 pm
    Permalink

    Lumayan juga yah peraturannya tentang ketenangan dan punya peralatan elektroniknya 🙂
    Itu biaya bikin SIM pake kursusnya kan yah, mahal amaaaat!
    Disini kalo dateng ke undangan juga wine/ bunga 🙂 kalo aku sih prefer duit yah 😛 hahahaha

    • June 29, 2013 at 11:28 pm
      Permalink

      Iya Cha pake kursus dulu, apesnya klo praktek gagal muluu. Ada teman 2x gagal sdh nyampe 5000 euro loh tagihannya.

      • July 1, 2013 at 5:41 pm
        Permalink

        kelar abis banyak di SIM, udah gitu asuransi mobil dll… beuh …

  • June 29, 2013 at 5:31 pm
    Permalink

    Salut sama peraturan no 11,bagus banget..

  • June 29, 2013 at 11:29 am
    Permalink

    yg no 5, kalau saya gak salah tergantung jumlah anaknya ya mbak, anak kedua, ketiga dst nya Kindergeld-nya bertambah.

    salam
    /kayka

  • June 29, 2013 at 8:15 am
    Permalink

    Oh my….point 7 sungguh membuka mata hati. Suwun mbakyu… 😀

  • June 29, 2013 at 7:20 am
    Permalink

    Wahhh semua aturan nya dijalankan e kl jerman ya kl sini mah ehmmmm keknya ada pepatah peraturan itu dibuat utk dilanggar wkwwkwkwk…… pada semberaut semua sini krn ada peraturan tp susah pada ikutin n byk yg sukasuka ati keknya….heeee tp kl terllu ketat juga pusing ya krn dikit dikit denda ahahahhahha……

    Kl gaji gede seh mgkn biasa aja seh kl pas pasan bakalan stress juga ya mba nella 😉

    • June 29, 2013 at 7:24 am
      Permalink

      Haha iyaa Cudy memang gitu di Indonesia, peraturan dibikin buat dilanggar hehe. Iya stress spt aku nih, makanya berkebun saja buat ngilangin stress ;),

  • June 29, 2013 at 7:16 am
    Permalink

    Bagus banget yaa..peraturan di sana…

    Biaya hidup di sana mahal gak sih Jeng Nella.. ?

    • June 29, 2013 at 7:22 am
      Permalink

      Hai mbak Lies, biaya hidup mahal disini :(, paling minimal ya untuk 1 orang sekitar Rp.10.juta an, krn ya kontrak rumah mahal, dan kebutuhan sehari-hari juga mahal.

  • June 29, 2013 at 6:29 am
    Permalink

    mba Nella kok sekarang susah untuk komentar disini

    • June 29, 2013 at 7:04 am
      Permalink

      Bisa ko, ini masuk komen Iwa, cuma ya saya setting “moderasi” setelah saya setujui baru bisa muncul, klo ga gitu ga ada laporannya, jadi ga tau klo ada komen baru.

      • June 29, 2013 at 7:15 am
        Permalink

        iya mba ini komentar yang kedua yang pertama saya harus login dulu padahal saya masih login loh mba, kok bisa gitu ya

  • June 29, 2013 at 6:26 am
    Permalink

    baca yang nomer 5 kalau di indonesia kaya gini pasti engga ada lagi anak terlantar/ngamen dijalanan apa lagi putus sekolah 😀
    di jerman itu ketat banget ya mba peraturannya, yang nomer 14 belas kalau dijakarta yang kecil panggil nama ke yang tua pasti udah di anggap kurang ajar hehe 😀

    • June 29, 2013 at 7:02 am
      Permalink

      Seandainya aja no.5 bisa dilakukan di Indonesia, mungkin ga banyak anak putzs sekolah. Iyaaa no.14 ya begitu deh :D.

  • June 29, 2013 at 6:21 am
    Permalink

    wah.., hari Minggu nggak bisa nongkrong di mol dong ya ..

  • June 29, 2013 at 6:17 am
    Permalink

    waaaahhh… yang anak dari bayi sampe kuliah dapet 2,8 juta itu menyenangkan banget deh mbak kedengarannya.. 😀

    • June 29, 2013 at 7:00 am
      Permalink

      Hai Niee bagian anak sih menyenangkan, lainnya byk ga menyenangkan hehe.

  • June 29, 2013 at 5:54 am
    Permalink

    mahal amat bikin simnya hehehehe… asuransi kesehatan di indo juga sekarang banyak yg punya…

    • June 29, 2013 at 6:59 am
      Permalink

      Iya dengar-denger di Indonesia mulai banyak yg punya asuransi kesehatan ya, baguslah jadi ga kalang kabut klo sakit :D.

  • June 29, 2013 at 4:56 am
    Permalink

    weekend tetep kerja mbak nella 😀

    wah.. mahalnya bikin sim ya mbakkk… 😀
    punya hape banyar pajak.. adeh..

    ada enaknya ada nggak enaknya yah.. 😀

    • June 29, 2013 at 6:57 am
      Permalink

      Lebih enak di Indonesia yaa, tp di Jerman anak-anak dapat tunjangan dari negara, asyik kan ;).

      • June 29, 2013 at 9:32 am
        Permalink

        iah.. itu enaknya mbak.. hihihi ada enaknya juga ada nggak enaknya.. 😀

        kalo orang-orangya gimana mbak nella? asik? ramah?
        kalo lingkungan?

  • June 29, 2013 at 4:26 am
    Permalink

    Di Jerman, perusahaan berkewajiban memperkerjakan orang cacat, paling sedikit 5%, jika mengelak maka siap-siap kena denda.
    keren tuh mba peraturannya. pelaksanaannya gimana ya di sana? kemudian, mereka bekerja di bagian apa?

  • June 29, 2013 at 3:43 am
    Permalink

    yang point nomor 5 saya paling kagum. warga negara benar2 milik negara, seperti orang tua dengan anak. Salutt…:)

  • June 29, 2013 at 3:23 am
    Permalink

    Bagus ya!
    Walaupun di pikiran orang indo mungkin agak aneh, dikit-dikit lapor polisi :-D. Disini anak laporin orang tua ke polisi mah di bilang anak durhaka.
    Tapi salut banget deh sama perusahaan yg wajib mempekerjakan orang cacat :-).

  • June 29, 2013 at 2:03 am
    Permalink

    wuiii tujangan anaknya enak banget ya… income tax disana gede gak?

Comments are closed.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: