Tag: kawin campur

  • Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI)

    Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI)

    Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI). Hai pembaca setia, terakhir kali saya buat postingan mengenai orang Jerman pada Juli 2015, ternyata sudah lama yaa. Nah sekarang sudah terkumpul beberapa hal yang mau diceritakan nih 😀 .

    Orang Jerman itu “jujur“, blak-blak an mengatakan apa adanya. Sifat terus terang mereka (orang Jerman) bisa membuat sakit hati lawan bicara (yang mungkin bukan orang Jerman). Orang Asia atau mungkin orang dari negara lain, kalau bicara akan menjaga perasaan lawan bicara, tidak mau membuat sakit hati lawan bicaranya, kalau orang Jerman ceplas ceplos. Coba tanyakan suatu hal, tanya pendapat/opini orang Jerman mengenai suatu hal maka akan dijawab panjang lebar.

    Contohnya:

    # Kalau saya masak dan rasanya tidak enak, pasti suami akan bilang “tidak enak” dan dia tidak lanjut makan. Menurut saya lebih baik begitu toh, jangan rasa makanan tidak enak dibilang enak supaya istrinya senang. Kalau tidak enak jadi bisa belajar lagi untuk membuat yang lebih enak. Kalau masakan enak, dia puji-puji saya melulu ko, dan sering sekali bilang terima kasih berulang kali karena saya sudah masak buat dia <3 .

    Tulisan Terkini

    Bukan dapur kami, model dapur impian suami dan saya seperti ini:

    Model dapur Impian kami. Serba kayu, warnanya bagus. Bikin betah di dapur nih
    Model dapur Impian kami. Serba kayu, warnanya bagus. Bikin betah di dapur nih

     

    # kalau makan sesuatu misal makanan kemasan, buat saya enak, buat bapaknya Benjamin tidak enak, padahal masakan Jerman loh, maka suami tidak mau makan. Nanti dia nawarin tuh kesaya supaya saya makan bagian dia haha *tong sampah kali saya haha 😆 .

    Kalau orangtua saya mengajarkan makanan harus dihabiskan, tidak boleh dibuang-buang, lihat di tv orang di negara sana begini begitu susah cari makan bla .. bla.. bla.. banyak sekali nasehat ortu saat kami kecil. Nah kalau orang Jerman ditanya mungkin akan bilang “yee kalau tidak enak masah harus dipaksa, makan aja sendiri !” 😮 .

    Baca juga: Menjadi Ibu Rumah Tangga di Jerman

    Persis banget sifat begini ada pada Benjamin, dia akan dorong piring makanan yang saya kasih kalau rasanya menurut dia tidak enak. Saya yang kesal karena sudah masak jadi marah dong :mad:. Eh anaknya tekad kuat tetap tidak mau makan, karena menurut dia rasanya beda seperti makanan dia hari-hari sebelumnya. Saya hanya bisa tarik nafas panjang supaya reda marah saya hehe 💡 lalu buat lagi dimana isi menu makanannya seperti biasanya.

    Benjamin dan saya pernah adu panjang kesabaran karena soal makanan ini haha parah bener ya 🙄 . Sudahlah tidak perlu diceritakan lebih detail nanti saya dibilang ibu yang jahat lagi haha 👿 tenang saja tidak sampai ada pertumpahan darah ko haha 😉 .

    Buat kamu yang merasa makanan sayang dibuang dan akhirnya dimakan sendiri, pantas saja sebagai “penampung akhir” badan kita melar kan haha O_o .

    # Suatu hari bapaknya Benjamin dan saya sedang digarasi. Garasi tersebut tepatnya dibilang gudang. isinya berbagai macam barang-barang seperti kapal pecah sangking berantakannya, mau lewat ambil sesuatu saja susah sangking penuhnya garasi tersebut, padahal garasinya panjang dua pintu (depan dan belakang).

    Garasi tersebut bukan milik kami, namun punya orang yang ngontrak dibawah rumah kami (anak yang punya rumah yang akhirnya beli rumah tersebut dari bapaknya). Barang kami disitu ada kereta dorong Ben, 4 ban mobil disusun ke atas (musim panas dan musim dingin beda ban mobilnya), tong sampah dari kontrakan kita di kota sebelumnya dan sepeda saya.

    Ibu yang punya garasi pas ada didekat kami, dia sedang mengamplas lemari kayu (ibu hamil tua masih bisa mengamplas lemari, pakai masker rapat ko dia). Ibu tersebut berkata, bulan November dia akan melahirkan, jadi dia mau masukkin mobilnya pas winter ke garasi, kata dia mobilnya masih baru. Trus dari yang saya nangkap dia bicara ke suamiku, nantinya dia ingin bapaknya Ben dan suami dia beresin garasi bersama.

    Bapaknya Benjamin menjawab dengan nada suara naik setengah oktaf “kalian beresin barang-barang kalian sendiri, nanti kami akan beresin barang kami!“. Itu ibu diam seribu bahasa, saya juga shock 😯 ko bapaknya Benjamin judes banget sih. Kami berdua naik kerumah kami, lalu saya tanya ulang suami. Ternyata benar pendengaran saya tidak salah ko.

    Saya heran ko ada ya orang yang suka menggumpulkan banyak sekali barang tidak terpakai. 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun bahkan dalam 20 tahun kemudian kalau sedikit-sedikit dikumpulkan ya menjadi bukit barang (sampah) tidak terpakai.

    Apakah kamu termasuk tipe orang seperti tetangga saya yang suka menggumpulkan barang-barang bekas?. Ah ini mungkin perlu, ah panci ini siapa tahu saya butuh lagi, ember itu bisa di tambal bocornya dipakai lagi, kardus ini siapa tahu bisa buat kirim barang. Buku-buku, majalah bekas ini mungkin laku di jual dll. Ternyata tanpa sadar rumah kita penuh dengan sampah :-/ .

    Kalau saya yang berhadapan dengan ibu tetangga tersebut, kemungkinan besar saya diam saja dan iya iyakan ajakan dia, maklum orang asia seperti saya memang suka damai 🙂 tapi mungkin dibelakang ibu tersebut baru saya marah-marah sendiri haha, sedangkan tipe orang Jerman seperti bapaknya Benjamin bisa membuat sakit hati lawan bicara, sakit hati tapi jadi beres saat itu juga toh. ➡

    Garasinya tidak jadi diberesin sampai saya tulis postingan ini, padahal bapaknya Ben sudah siap kalau yang punya rumah sudah beresin barang-barang mereka yang buanyakk banget itu, ya kita mau beresin bagian kita.

    Video Begini Orang Jerman Buang Barang Bekas dan Anak Saya jadi Pemulung nya

    # saya punya kalender meja dikasih adik saya dari bank tempat dia kerja. Sudah akhir Nov 2015, bapaknya Benjamin bilang minta kirim lagi dong kalendernya (padahal dia juga jarang sekali lihat tuh kalender hehe). Saya bilang nanti sajalah kan tahun depan Maret atau April mama saya mau datang bisa sekalian dibawah (mamak gak jadi datang 🙁 ) maksud saya supaya ngirit biaya kan . Bapaknya Ben bilang yang nadanya sih seperti bilang: ” pelit amat, paling murahlah kirim kalender saja lewat pos“.

    Apakah kamu termasuk orang yang to the point? blak-blakan ngomong apa adanya, tidak peduli lawan bicara tersinggung atau tidak?. Atau seperti saya, kesal tapi dipendam sendiri merasa tidak enak bicara jujur, takut lawan bicara tersinggung, akhirnya saya hanya bisa ngomel sendiri aja haha 😛 .

    Sudah hampir 5 tahun pernikahan suami dan saya. Kami tetap masih saling belajar mengerti perbedaan kita berdua, saling menerima sifat yang memang sudah dari sananya terbentuk, mendapat didikannya begitu sejak kecil. Salah satu contohnya ya tentang keterus terangan. Kadang suka keceplosan sih terus terangnya, kalau ke orang lain kalau saya maunya ya jujur tapi dibungkus dengan manis kata-katanya supaya lawan bicara tidak sakit hati, nah kalau bapaknya Ben sih jujur yang duuhhh pengen jewer kuping dia deh :shock:. Kapan-kapan saya cerita lagi contoh-contohnya ya.

    Demikianlah cerita saya mengenai Orang Jerman, Etika dan Kebiasaannya (Bagian VI). Kalau kamu baru pertama kali berkunjung ke blog saya dan suka tulisan ini silakan subscribe follow blog saya, supaya tidak ketinggalan postingan cerita dari Jerman berikutnya, kolom berlangganan mengikuti blog ada dibagian kanan atas postingan.

     

    Bagi yang tertarik baca edisi sebelumnya mengenai Jerman selayang padang (orang Jerman, etika dan kebiasaannya)
    Bagian I klik disini.
    Bagian II klik disini.
    Bagian III klik disini.
    Bagian IV klik disini
    Bagian V klik disini

  • Kondangan ke Negara Tetangga

    Kondangan ke Negara Tetangga

    Kondangan ke Negara Tetangga. Halo sahabat blogger ada yang kangen dengan saya? 😀 . Saat ini saya sedang di luar negeri, ga jauh ko cuma hampir 4 jam perjalanan dari Jerman.

    Besok (Jumat) teman saya Eva akan melaksanakan pemberkatan pernikahan, catatan sipilnya kalau tidak salah dua hari lalu.

    Ketika kuliah saya punya 4 teman baik: GK, Tari, Indggrid dan
    Eva. Kita berlima sama-sama boru Batak, satu angkatan Ektensi Farmasi UI, dan kita sama-sama nambah kuliah satu semester lagi gara-gara ada 1 atau 2 mata kuliah yang nyangkut (ngulang) 😳 . Karena ngumpulnya selalu dengan teman-teman ini, termasuk pas kuliah kita sering duduk sederet, pokoknya kompak deh. Maka ada yang menjuluki kita “Penta girls” .

    Dari jamannya kuliah, obrolan Eva dan saya pasti di dominasi tentang “pengen tinggal di luar negeri (LN) dan punya pasangan bule”. Seringkali kita berdua curhatin bule mana yang sedang kita taksir atau naksir kita. Kita sering ke warnet kampus supaya bisa chattingan gratis atau bayar murah. Jaman dulu internet mahal, boro-boro punya gadget dengan koneksi internet 😀 .

    Sebenarnya yang Eva dan saya lakukan mungkin saat itu hanya hayalan tingkat tinggi abg kuliahan. Namun siapa sangka dari sekedar hayalan, kalau kamu berusaha untuk mewujudkannya bisa ko . Thanks God 🙂 .

    Dulu ketika tahu saya akan tinggal di LN, ada satu teman yang saya doain sungguh-sungguh supaya dia berjodoh dengan bule juga, maksudnya supaya saya punya teman dekat kalau tidak di Jerman ya di negara tetangga. Ternyata teman saya tersebut berjodoh dengan pria Indonesia.

    Pada akhirnya Tuhan tempatkan temanku satunya lagi ya si Eva, di negara tetangganya Jerman. Senang deh doa saya terkabul 🙂 .

    Dulu saya pikir Eva akan nikah duluan, secara dia punya kesempatan lebih banyak ketimbang saya. Speaking English Eva top markotop deh, sedangkan saya mungkin cuma level ala kadarnya 😆 .

    Ternyata oo ternyata malah saya yang nikah duluan. Eva nanya dimana dan bagaimana saya ketemu Frank. Nah saya kan orangnya baik hati dan tidak sombong haha 😆 . Jadi saya kasih tahu Eva dating online yang saya ikuti.

    Kalau kamu pada nitip minta dicarikan bule, beneran saya tidak punya “stoknya” (barang kali) 😀 . Pusing deh kalau ada teman ; temannya teman trus sodara ; sodaranya sodara minta dicarikan bule, masah iya kalau dijalan ketemu cowo bule ganteng atau cewe cantik trus saya tanya dia single atau tidak? Mau ga punya istri atau suami asal Indonesia 😆 . Pokoknya saya sudah kasih tahu caranya termasuk tips kopi darat silakan cari dan coba peruntungan kalian sendiri.

    Gk, Tari, Indggrid dan saya sudah menikah. Kemudian Eva menyusul. Siapa menyangka dulu yang sekedar “hayalan tingkat tinggi” Eva dan saya, setelah 7-8 tahun kemudian kami bisa meraih impian kami.

    Maaf ya seminggu belakangan ini intensitas blogwalking saya menurun dratis, maklum sibuk ngurusin persiapan buat ke kondangan, saya juga harus melakukan sesuatu supaya semua tanaman-tanaman saya tidak dehidrasi selama 3 malam saya tinggal!.

    Kolom komentar tulisan ini saya tutup ya, karena saya bakalan sibuk selama beberapa hari dan saya merasa bersalah kalau komentar teman-teman tidak segera saya balas. Jika berkenan, minta jempol “like” saja 😉 .

     

    Untuk sahabat berkebun, saya sudah siapkan satu postingan, artikel tersebut akan bisa dikomentari karena saya sudah akan dalam perjalanan pulang.

    Baca juga:
    Mengunjungi Keukenhof Kebun Dapurnya Belanda
    Penasaranku akan Red Light District Amsterdam

  • Cinta via Biro Jodoh Online | Bertemu Bule Jerman

    Cinta via Biro Jodoh Online | Bertemu Bule Jerman

    Cinta via Biro Jodoh Online. Ladies pernahkan kalian mengamati istilah-istilah mesin pencari yang masuk ke blog kalian?, tiap hari saya rajin mengeceknya, dan saya seringkali tersenyum-senyum membacanya. Saya coba menggumpulkannya dalam 2 bulan belakangan ini, seperti ini ya :

    Perkawinan beda Negara, pacaran bule online tidak pernah ketemu, wanita indo ditipu pria asing dari situs online, pengalaman berumah tangga sama bule, percintaan dgn pria bule, bule benci salju, penipuan pria asing dengan modus cinta, penipuan modus cinta, cara penipuan bule, penipuan modus cinta di internet, penipuan cinta lewat fb, penipuan pria asing dengan modus cinta, penipuan modus cinta di internet, jangan pernah percaya cinta di dunia maya dengan bule, penipuan pria asing lewat facebook, no telp bule penipu, contoh pernikahan orang indonesia jerman.

    Istilah-istilah mesin pencari seperti diatas cukup menyumbangkan trafik ke blog saya. Selain itu banyak juga yang mengirim email ke saya, menanyakan bagaimana saya bertemu suami, bagaimana caranya mencari pasangan bule, apa suka dukanya menikah dengan orang beda bangsa, ribet ga mengurus surat-surat untuk menikah dan pindah ke negara lain, bagaimana penyesuaian di negara baru dan lain-lain. Oh ya bahkan banyak yang nitip minta dicarikan cowo bule hehehe.

    Tulisan Terkini

    Daripada tiap kali jawab email, mengulang jawaban yang sama (saya ketik ulang loh!), menurut saya lebih baik saya coba membuat beberapa judul dengan tema: Dimana berkenalan atau cari jodoh orang asing, bagaimana mengetahui bule yang serius atau cuma main-main saja, bagaimana menghindari penipuan cinta di dunia maya. Tema-tema lain mungkin akan menyusul ya. Jadinya tulisan-tulisan tersebut nantinya akan saya buat di profile saya misalnya.

    Untuk bahasan awal saya mau cerita:

    • Pertemuan awal
    • Ketemu di situs apa

    Saya bertemu (mulai kenalan dengan suami) melalui Biro Jodoh Online (dating online) pada awal Maret 2010. Nama situsnya asianeuro.com sekarang menjadi asiandating.com kalau buka keduanya sama saja. Situs tersebut khusus orang asing (Western) yang mencari pasangan asal Asia. Hayoo yang single langsung penasaran buka deh! 😉 .

    Saya mendaftar di situs tersebut dengan member gratisan, prinsip saya, pria yang harus keluar modal alias member berbayar haha.. Saat itu untungnya calon saya berpikiran sama dengan saya, jadi dia upgrade membershipnya sehingga kami bisa berkenalan lebih jauh melalui email. Kalau sama-sama member gratisan tidak bisa mengetahui email calon target kita dan tidak bisa berkomunikasi lebih lanjut, jadi hanya bisa kirim-kirim simbol suka “like” saja sampai salah satu upgrade member berbayar.

    Tapi ya, kalau kamu (cewe) mau upgrade member berbayar ya gpp juga ko, daripada target yang kamu lihat lewat begitu saja kan hehe, silakan coba 3 bulan member berbayar.

    Beberapa tahun sebelumnya, sebenarnya saya sudah pernah mendaftar ke situs online dating ini, namun tidak pernah beruntung. Jadi saya tutup keanggotaan saya. Nah penghujung tahun 2009 doa minta jodoh makin kenceng. Mintanya bule yang baik hati, yang tidak mempermainkan hati wanita, yang punya kerjaan bagus dan TIDAK MEROKOK!.

    Setiap hari hati saya terus menggerakkan saya untuk mendaftar kembali ke asianeuro.com. saya selalu menepis kata hati saya, “..dulu sudah pernah daftar tidak dapat yang baik”. Akhirnya awal bulan Januari 2010 saya mendaftar kembali.

    Saya buat profile saya sebaik mungkin, saya tuliskan kriteria seperti apa calon yang saya inginkan. Saya menuliskan kalau saya seorang yang rohani, saya guru sekolah minggu (saat itu), pokoknya saya tulis detail mungkin untuk menghindari para pria iseng yang hanya akan membuat patah hati.

    Situs tersebut juga meminta kita mengisi banyak data mengenai diri kita, memang agak mengesalkan, tapi hal ini berguna supaya mesinnya bisa mencocokkan dengan calon yang kriterianya mendekati pilihan kita. Kalau malas menjawab semua pertanyaannya bisa dicicil kerjain setiap hari.

    Pertanyaan-pertanyaannya di online dating untuk mencari calon yang sesuai dengan kriteria yang kita cari, antara lain:

    What is your favorite movie?
    What is your favourite book?
    What sort of food do you like?
    What sort of music do you like?
    How would you describe your dress sense and physical appearance?
    How would you describe your sense of humor?
    How would you describe your personality?
    What are your hobbies and interests?
    What countries have you traveled to (or where would you like to travel to)?
    How adaptative are you to having a partner from a different culture to your own?
    How would you spend a perfect romantic weekend?
    What sort of person would be your perfect match?

    Baca juga: WASPADA Trik Baru Scammer Bule Penipu Cinta di Instagram Tahun 2022

    Selama sebulan setelah join, ko ga nemu yang sreg, padahal semua bule ganteng sudah di dikasih jempol “likehahaha. Yang masuk ke inbox saya malah kebanyakan yang tidak benar semua!, alias bukan kriteria yang saya cari.

    Contohnya pria Perancis umur 50 an, meminta saya ke negaranya, katanya semua pengeluaran saya bayar sendiri dulu, setelah bertemu dia akan diganti. Parahnya si cowo cuma bisa bahasa Perancis gubrak.com deh.

    Ada lagi bule kerja di Jakarta, beberapa kali kita kirim-kirim pesan. Saya ga sreg ah karena statusnya duda, punya satu anak, bakalan di damprat nyokap kan haha. Ada lagi orang-orang kulit hitam agggrhhh para pria iseng apakah tidak baca profile saya yaa. Pokoknya harus sabar kalau join biro jodoh yaaa.

    Akhirnya pada bulan Maret 2010 (lupa awal atau akhir), ada pesan yang masuk ke inboxku, kalau bisa kirim pesan berarti member berbayar nih, asyikk. Ganteng bo! tapi ko rambutnya agak hitam, bule beneran ga ya 😛 ; tunggu jangan kegirangan dulu, coba cek profilenya, kerjaannya sebagai apa, pendidikan, agama, dll.

    Oke sepertinya profilenya cocok dengan yang saya cari. Akhirnya kita bisa saling kirim email, lalu chat di msn. Setelah beberapa waktu, saya sreg kasih no hp saya, lalu dia sering telp dan sms saya.

     

    untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

  • Legalisasi Akta Nikah Luar Negeri di KBRI

    Legalisasi Akta Nikah Luar Negeri di KBRI

    Legalisasi Akta Nikah Luar Negeri di KBRI . 6 September lalu, saya pergi bersama suami tercinta ke KBRI di Bern, Switzerland. Tujuannya untuk mengambil surat keterangan dari KBRI kalau saya sudah melaporkan pernikahan catatan sipil yang telah berlangsung di Thun, Swiss pada 20 Juli 2011.

    Selain surat keterangan tersebut saya juga mengambil akte nikah (bahasa Jerman) yang telah di terjemahkan ke Bahasa Indonesia dan telah dilegalisir oleh pihak terkait. Dengan berbekal kedua surat ini nantinya, jika saya ada kesempatan pulang ke Indonesia maka saya bisa ke catatan sipil di wilayah tempat tinggal saya dahulu untuk melaporkan pernikahan catatan sipil yang telah berlangsung di luar negeri (LN).

    Saat ini saya menetap di Jerman, namun karena saya melaksanakan pernikahannya di Switzerland, maka saya harus lapor dan minta surat keterangan (pengantar) dari Switzerland juga.

    Akte nikahnya saya antar ke KBRI di Bern, Switzerland pada 10 Agustus 2011 bulan lalu, saya dibantu oleh petugas KBRI bernama Lucy. Biaya untuk menterjemahkan akte nikah termasuk untuk legalisir ke instansi terkait di Swiss (the Chamber of Commerce) adalah 100 CHF per 10 Agustus 2011. Sebenarnya suratnya jika sudah selesai bisa dikirim per pos ke alamat saya, namun karena saya sudah pindah dari Swiss, petugasnya katakan saya bisa telp atau email KBRI untuk menanyakan jika suratnya sudah selesai, maka saya bisa ambil langsung ke KBRI.

    Ketika datang pertama kali ke KBRI saya harus mengisi biodata lapor diri dulu, padahal bisa dilakukan online untuk mempersingkat waktu, dasar saya malas saja menunda-nunda he-he-he.

    Paspor di stempel sudah lapor diri dan diberikan catatan nama saya ditambah dengan nama suami lalu di cap petugas KBRI 😉 .

     

    Tulisan Terkini:

  • Pengalaman Pusingnya Apply Long Stay Visa Jerman

    Pengalaman Pusingnya Apply Long Stay Visa Jerman. Karena sudah beres, jadi saat ini saya bisa cerita pengalaman saya dengan lega dan rileks ;-). Disini saya mau cerita tentang proses apply long stay visa Jerman. Pada 10 Agustus 2011, suami dan saya pergi ke kedubes Jerman di Bern, Switzerland, tujuannya untuk apply long stay visa Jerman (sebelumnya kami tinggal di Swiss, namun sekarang sudah menetap di Jerman), kondisinya Visa Swiss saya akan berakhir 12 September 2011 jadi harus segera mendapat visa yang baru (Jerman).

    Semua berkas-berkas yang diminta sudah dipersiapkan dengan baik, seperti paspor, visa Swiss, akte lahir dan surat nikah kami (suami dan saya) dan lain-lain. Sempat kuatir juga karena beberapa surat seperti akte lahir saya tidak dalam bahasa Jerman, oh ya kalau apply long stay visa dari Jakarta, Indonesia maka semua surat-surat sudah HARUS diterjemahkan ke bahasa Jerman dahulu baru pihak kedubes mau terima berkas, sedangkan kondisi saya saat itu adalah apply visa dari kedubes Jerman di Switzerland.

    Hari itu 10 Agustus 2011 kami berdua tiba tepat jam 9 pagi di depan kedubes Jerman di Swiss, ada petugas yang berjaga diluar, suami mengutarakan maksud kedatangan kami berdua, lalu kami berikan paspor kami berdua ke petugas tersebut, lalu petugas melihat isi tas kami, dan diperiksa dengan seksama seluruh badan dengan alat khusus metal detektor, kemudian kami diperbolehkan masuk.

    Menunggu beberapa saat, nama saya dipanggil, didepan loket sudah ada seorang petugas wanita. Dia lega sekali karena saya datang dengan seorang yang bisa berbahasa Jerman (suami). Karena nampaknya si petugas tidak bisa berbahasa Inggris?. Sambil memeriksa kelengkapan berkas surat-surat saya, petugas menanyakan sesuatu dalam bahasa Jerman “bagaimana saya bisa kenal suami (Frank)“ saya tatap suami saya (Frank) dan tanya, maksud si petugas apa? Saya takut salah tangkap artinya dan jawab hal yang salah. Namun yang saya lakukan malah membuat si petugas men“judge“ saya tidak mengerti bahasa Jerman sama sekali.

    Oh ya FYI (for your information), salah satu syarat paling penting kalau apply long stay visa Jerman adalah kita harus bisa mengerti bahasa Jerman tingkat dasar, paling tidak percakapan ringan untuk sehari-hari, dan ini harus dibuktikan dengan sertifikat bahasa Jerman yang kita peroleh setelah mengikuti ujian di Goethe Institut, syaratnya hanya sertifikat ujian tingkat dasar A1.

    Si petugas bilang proses pembuatan visa 6-8 minggu, dan jika sampai detik-detik tanggal 12 September 2011 visa Jerman saya belum selesai (keluar), maka saya HARUS kembali ke Jakarta, Indonesia untuk ambil visanya disana, karena visa Swiss (permit) saya akan berakhir jadi tidak boleh stay di Eropa. Wahhhh siapa yang ga sewot, cuma ambil selembar kertas (visa) harus pulang pergi Jerman – Jakarta – Jerman yang berarti harus keluar uang buat beli tiket yang bisa dibilang tidak murah, hiks 🙁 .

    Suami saya dan petugas saling bicara banyak hal untuk meyakinkan petugas kalau saya layak dapat visa dalam waktu secepat-cepatnya dan sesingkat-singkatnya tanpa proses berbelit-belit :D. Suami bilang saya sudah punya sertifikat level A1 dari Goethe Institut di Jakarta, suami punya pekerjaan yang baik dengan keuangan yang baik, punya rumah, punya asuransi, kalau di rumah, anggota keluarga di Jerman bicara banyak dalam bahasa Jerman, jadi saya bisa belajar bahasa ini. Nantinya setelah visa keluar saya pun akan lanjut kursus bahasa Jerman.

    Kemudian suami disuruh ke ruang sebelah untuk mengurus sesuatu, jadi si petugas bisa tes kemampuan bahasa Jerman saya, yang saya bisa jawab ya saya jawab, yang saya tidak mengerti pertanyaannya saya jawab “ Es tut mir leid, ich verstehe nicht“ :P. Pertanyaan petugas antara lain : Kapan tiba di Swiss ; bagaimana saya bisa kenal suami, apa kenal orang lain di Swiss selain suami ; apa punya keluarga yang tinggal di Jerman ; apa masih punya orangtua di Indonesia ; di Indonesia tinggal dengan siapa ; apa punya kerjaan di Indonesia.

     

    Tiap hari berdoa semoga ada mujizat …

     

    Baca juga: Catatan Tinggal di Jerman

  • Komunitas Kawin Campur Seluruh Dunia

    Komunitas Kawin Campur Seluruh Dunia

    Komunitas Kawin Campur Seluruh Dunia. Berikut ini saya informasikan tiga wadah perkumpulan bagi pelaku kawin campur warga Indonesia. Anda bisa bergabung dengan salah satu komunitas tersebut. Dengan adanya komunitas tersebut kita akan sangat terbantu sekali. Anda bisa saling berbagi informasi mengenai seluk beluk kawin campur, pengurusan surat-surat semacam visa, surat untuk persiapan menikah, informasi mengenai Imigrasi, informasi tentang UU Kewarganegaraan mengenai perkawinan campuran, anak-anak hasil kawin campur dan masih banyak lagi informasi lainnya.

    Organisasi perkumpulan wanita Indonesia yang menikah dengan non-Indonesia
    http://www.expat.or.id/orgs/srikandi.html

    Milis Komunitas Perkawinan Campuran – Melati Worldwide
    http://groups.yahoo.com/group/KPC-MELATI

    Website : http://www.kpcmelati.org

    MASYARAKAT PERKAWINAN CAMPURAN INDONESIA
    http://percaindonesia.com

    *ada iuran keanggotaan

    Forum KWI membernya banyak sekitar 10.000 jadi disini banyak yang punya pengalaman. KWI adalah forum Kekeluargaan Warga Indonesia di Luar Negeri. Forumnya di https://www.facebook.com/groups/KSCAPENS

     

    Baca juga: Kumpulan Postingan Mixed Marriage

error: Content is protected !!