Topi Orang Indonesia Bundar, Orang Jerman Segitiga

Topi Orang Indonesia Bundar, Orang Jerman Segitiga . Siapa yang masih ingat lagu topi saya bundar?. Sangking pendek liriknya pasti dong ingat? 😀 . Siapa tahu ada yang lupa begini liriknya :

Topi saya bundar.
Bundar topi saya.

Kalau tidak bundar,
bukan topi saya.

Lupa nadanya? kelewatan banget hehe. Ayo nyanyi sama-sama 😉

 

Saat membuat tulisan ini saya baru menyadari betapa lagu ciptaan Pak Kasur ini sangat amat pendek, namun bisa berdurasi 2 menitan karena diulang-ulang 😆 .

Und hätt er nicht drei Ecken
Dan kalau tidak punya 3 sudut (terjemahan)
Kalau tidak bundar (versi Indo)

so wär’s auch nicht mein Hut.
jadi bukan topi saya. (terjemahan)
bukan topi saya. (versi Indo)

Menurut wikipedia Jerman, lagu topi segitiga ini ada versi Swedia, Inggris, Belanda, Spanyol, Portugis, serta dalam bahasa Ibrani (dalam bahasa Indonesia ada juga ko, tapi topinya bundar 😛 ) .

Dalam budaya Yahudi, lagu topi segitiga sering dinyanyikan oleh anak-anak saat festival Purim (memperingati pembebasan kaum Yahudi dari kekaisaran Persia). Saya mengerti kenapa di Indonesia topinya jadi bundar, karena anti dengan bangsa Y tersebut (analisa konyol si emak Ben) 😆 .

Saya ralat perkataan saya diatas saya bilang kalau Lirik lagu anak bahasa Jerman panjang. Ternyata sama pendeknya ko seperti lagu anak bahasa Indonesia, karena diulang-ulang jadi keliatannya panjang .

Berikut gaya Benjamin saat pakai topi (bukan bundar dan bukan model segitiga 😆 )

 

Sumber :
http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia
http://de.wikipedia.org/wiki/Mein_Hut,_der_hat_drei_Ecken

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: