Tag: tanda akan melahirkan

  • Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar. Guten Morgen pembaca setia blogku ini, Cerita Melahirkan Anak Kedua ini adalah lanjutan ceritaku saat melahirkan di Jerman melahirkan Lisa Marie. Sabtu 4 Maret 2017 adalah HPL (Hari Perkiraan Lahir) namun karena saya belum merasakan kontraksi hebat saya menolak saat dokternya menyuruh saya menginap di rs. Hari tersebut dilakukan juga pemeriksan USG (Ultraschall), dokternya bilang berat janinnya sekitar 3,5 kg, kaget dong suami dan saya, karena sebulan sebelumnya berat janin 2,5 kg.

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar
    Didepan Ruang Bersalin. 2 hari setelah due date lahiran. Senyum kecut karena semalaman sudah sakit kontraksi. 6 Maret 2017

     

    Busyet dalam sebulan naik 1 kg, padahal saya makannya biasa saja loh, dan perut saya tidak sebesar saat hamilnya anak pertama dulu, kalau waktu hamilnya Benjamin jalan dan tidur susah karena keberatan perut haha. Yaelah untuk anak kedua bakalan disuruh operasi lagi nih pikir saya. Dokternya sih tidak menyinggung mengenai harus operasi untuk anak kedua ini.

    Senin 6 Maret 2017 dari rumah saya hanya makan sepotong roti dan segelas kopi susu, sama sekali tidak nafsu makan karena sakit kontraksi melulu. Setelah selesai pemeriksaan CTG (Cardiotokographie / Cardiotocography) datanglah 2 bu dokter, yang satu adalah dokter Rusia yang aneh yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya. Dokter satunya lagi adalah dr. Rosmarie beliau yang menghandle saya juga saat mau lahiran anak pertama 2,5 tahun lalu.

    Tulisan Terkini

    Dr. Rosmarie melakukan vaginale Untersuchung Pemeriksaan Vagina/ Pemeriksaan Dalam (VT/Vaginal Toucher) sebel saya kalau pemeriksaan jenis ini tidak nyaman banget! πŸ˜₯ . Beliau beberapa kali bilang β€žpantat jangan diangkat, rileks sajaβ€œ. Bicara mudah dok tapi saya sakit merasakannya kataku dalam hati saja hiks. Bu dokter bilang saya sudah bukaan dua, kaget dong karena sebulan sebelumnya waktu di dokter kandungan pemeriksaan rutin sudah dibilang bukaan dua. Lah sudah HPL dan sakit kontraksi 2 hari masih sama bukaannya saya kira sudah bukaan 5 aja haha. Kalau masih bukaan 2 masih harus nunggu lama dong sampai bukaan penuh (bukaan 10) pikir saya.

    Bu dokter (dr. Rosmarie) bilang bayi saya agak besar juga, dan dia menyarankan saya melahirkan melalui operasi sesar lagi. Iihh sebenarnya 3,5 kg tidak besar kan?, toh banyak ibu yang melahirkan normal dengan berat bayi 4 kg yaa. Kalau ingat waktu mau melahirkan Benjamin dulu, di bilang anakku juga besar sekitar 4 kg, nah pas keluar 3,7 kg, jadi nih untuk anak kedua kita hitung kasar ya bakalan 3,1 atau 3,2 kg kali yaa.

    Saya masih semangat mau lahiran normal, lalu dr. Rosmarie bilang: β€ž ya boleh aja kalau mau normal tapi kan normal sakit loh prosesnya..β€œ beliau nakutin kali ya haha. Intinya dr. Rosmarie lebih menyarankan saya lahiran sesar. Kenapa coba?, mungkin yaa karena kalau sesar kan bayarannya lebih mahal dan rs nya ya dapat duit lebih banyak dong dari asuransi haha πŸ˜› .

    Saya mikirnya kalau ibu yang melahirkan sesar akan lebih lama tinggal di rs nya. Kalau tidak ada komplikasi apapun 5 hari, sedangkan lahiran normal nginepnya 3 hari saja, duit lagi dong buat rs kalau pasiennya lebih lama nginap kan? haha. Setelah mikir panjang lebar termasuk dengan bapaknya Benjamin juga, akhirnya saya bilang: β€ž.. ya sudah deh sesar aja lagi yaaaβ€œ. Akhirnya saya pilih melahirkan sesar karena sudah 2 hari sakit kontraksi kalau masih harus nunggu sampai bukaan 10 tidak sabar (stres) lagi saya cemen ceritanya 😳 haha .

    Setelah pasti bilang saya mau di sesar, bu dokter nanya kapan terakhir saya makan. Saya bilang sekitar jam 7.30 – 8.00 sarapannya. Persiapan sesar dimulailah, kalau mengingat saat lahiran anak pertama ya bakalan sekitar 5-6 jam lagi operasinya sejak persiapan ini.

    Tahapan/proses yang saya lalui sebelum operasi (sama saja seperti operasi saat lahiran anak pertama dulu) Baca: Cerita Melahirkan Anak Pertama Melalui Operasi Caesar:

    β€’ Dokter menjelaskan mengenai proses operasi sesar, karena saya minta pakai anestesi epidural (PDA) sebagai penghilang rasa sakit maka dokter menjelaskan singkat (pakai gambar), detailnya akan dijelaskan dokter anestesi.
    β€’ Suami dan saya menandatangi beberapa lembar formulir, termasuk ada form yang menyatakan resiko proses operasi yang mungkin saja terjadi.
    β€’ Bagian atas tangan kiri dipasang jarum untuk ambil darah (3 tabung kecil), nantinya jarum ini untuk botol infus juga.
    β€’ Saat dilorong ruang operasi tangan dipasang jarum kedua, jadi ada 2 tabung (infus dan obat).
    β€’ Ke ruangan dokter anesti dijelaskan mengenai anestesi epidural (PDA) . Tidak lama diruang dokter karena kita sudah pernah pengalaman mendengar penjelasan dokter anestesi saat lahiran anak pertama.
    β€’ Pakai baju operas, lepas perhiasan dan jam tangan. Dari rumah saya sudah lepas anting karena sudah pengalaman (tahu) waktu lahirannya anak pertama.

    Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar. Gambar pemberian anestesi Spinal dan Peridural (PDA)
    Gambar pemberian anestesi Spinal dan Peridural

    Setelah beres dari ruang dokter anestesi, suami dan saya ke bagian kamar bersalin. Saya pakai baju operasi, lepas sepatu juga. Dipasang botol infusnya dengan alasan supaya tubuh saya tetap mendapat cairan karena proses operasinya masih sekitar 4-5 jam an lagi.

    Nyeri (kontraksi) makin sering terasa. Untuk mengatasi nyeri (kontraksi) yang datang saya tekan kedua telapak tangan saya ke meja, hal ini sudah saya lakukan (nemu cara buat diri sendiri) saat dirumah. Pas sudah di kamar bersalin saya disuruh berbaring di tempat tidur, saya tolak dong anjuran bidannya, saya bilang saya mau berdiri saja, soalnya kalau saya berbaring lalu datang kontraksi bagaimana meredakannya? Tidak bisa tekan meja kan haha πŸ˜† .

    Kami disuruh melihat kamar inap tempat saya dan bayiku nantinya, ya kami sambil naruh barang bawaan saya juga. Saya tidak mau berbaring di tempat tidur, jadi suami dan saya jalan kaki dan bidannya mendorong tempat tidur saya ke kamar inap. Suami dan saya balik lagi ke ruang kebidanan, eh ko darah banyak banget turun ke selang infus karena saya tidak angkat tangan saya tinggi. Setelah di cek ulang bidan, selangnya disentil-sentil supaya cairan infusnya cepat turun, saya peganglah tiang gantungan infusnya, supaya tangan saya tetap tinggi sehingga darah tidak turun lagi.

    Bidan menyuruh saya berbaring karena mau cek jantung janin lagi (CTG test), halahh horror deh buat saya, nanti kalau kontraksi datang bagaimana saya meredakan sakitnya?. Beneran kan begitu datang nyeri kontraksi tidak tahan deh sakitt banget!, walau hanya beberapa detik sunggu tidak nyaman!. 2-3 kali bapaknya Benjamin bilang: β€œsiap-siap ya bakalan datang kontraksi lagi nih” dan beneran dong saya tidak tahan ya akhirnya nangis-nangis saja karena tidak bisa menekan meja lagi kan haha buat menekan/meredakan sakit yang datang.

    Suamiku bisa kasih tahu kapan nyeri kontraksi datang karena di alat CTG itu ada informasinya juga mengenai kontraksi. Walau sudah dikasih tahu ya saya belum tahu cara meredakannya selain pasrah dan nangis histeris. 2 hari sebelumnya waktu kontrol pas due date, saya mendengar ada seorang ibu yang dalam proses melahirkan sampai 1 jam teriak-teriaknya saya jadi serem kan haha.

    Waktunya tiba ke ruang operasi ..

    Bidan dan suami mendorong ranjang operasi, kami sekali naik lift, lalu tibalah dilorong ruang operasi. Bapaknya Benjamin disuruh masuk ke kamar ganti pakaian dan disuruh tunggu instruksi selanjutanya sampai dipanggil masuk ke ruang operasi.

    Saya berada di lorong menuju ruang operasi. Oh Tuhan horror sekali saat sakit kontraksi datang!. Entah berapa lama ku harus menunggu jadwalku di lorong ini dan harus bertahan menahan sakit kontraksi pula hiks. Kulihat lumayan banyak petugas/ entah dokter atau perawat yang hilir mudik ke dalam dan ke luar ruang operasi dan juga lewat sampingku. Saya masih ingat ada seorang kakek yang marah-marah entah kakek ini akan dioperasi atau sudah selesai, yang saya dengar hanya dia bilang sakit dan memaki-maki para perawat didekatnya.

    15 menit berlalu, 20 menit, 30 menit gila pikirku lama sekali harus menunggu. Saat menunggu di lorong ruang operasi ini, kontraksi sudah kurasakan tiap 5 menit sekali. Saya melihat jam dinding di depan atas saya dan menghitung kapan kontraksi berikutnya.

    Puji Tuhan akhirnya kutemukan cara mengurangi/menghilangkan rasa sakit kontraksi, yakni dengan mengatur pernafasan. Hirup nafas panjang lalu saya keluarkan cepat dan pendek melalui mulut. Bidan yang disampingku bilang supaya saya keluarkan nafasnya pelan-pelan, ah saya ikuti nasehat beliau malah sakitnya tetap saja, makanya saya lakukan cara saya, saya keluarkan nafas cepat dan pendek-pendek.

    Saya luar biasa senang karena merasa ajaib dengan cara mengatur pernafasan ini sakit kontraksi seketika itu hilang. Oh Tuhan kenapa saya baru tahu cara ini?, kenapa tidak dari dulu cari tahu melalui internet, ah telat deh menyesalnya ..

    Bu bidan dan satu perawat disamping mereka asyik mengobrol sambil menunggu dipanggil ke ruang operasi. Awalnya bu bidan tidak tahu kalau saya sudah kontraksi, pas dia melihat saya melakukan pengaturan pernasafan barulah dia sadar, dan dia agak senewen kalau harus menunggu lebih lama lagi, karena kontraksiku akan semakin pendek durasinya.

    Saya pandangi lagi dan lagi jam dinding. Gilaa sudah 1 jam saya menunggu di lorong ini dan makin gila karena harus berdamai dengan kontraksi yang datang. Saya tahu dari internet kalau kontraksi tiap 5 menit berarti sudah bukaan 6.

    Ah seandainya saya bisa memutar waktu, lebih baik saya pilih lahiran normal saja karena menunggu 5-6 jam ternyata cepat sudah bukaan 6. Nah ini posisi saya sudah merasakan kontraksi yang sakit sekali mau mati rasanya lalu bakalan di belek juga perutku dan pastinya akan merasakan sakit lagi setelah oeprasi hiks dobel sakitnya.

    Setelah 1 jam menunggu akhirnya ranjangku di dorong memasuki ruangan berikutnya. Saya mau dipindah ke ranjang khusus untuk operasi. Bu bidan dan 1 perawat berusaha mengangkat/memindahkan saya. Saya diminta bergeser sedikit-sedikit untuk pindah ranjang.

    Saat kontraksi datang tentu saja saya tidak bisa berbuat apapun selain mengatur pernafasan supaya nyaman, lah ini malah saya disuruh geser-geser badan pindah tempat tidur. Saya sudah lemas dan stres karena kontraksi yang datang.

    Cerita horor dimulai ..

    Setelah dipindah ke ranjang operasi, didoronglah saya ke ruang berikutnya. Akhirnya kulihat lampu ruang operasi. Saya disuruh duduk supaya bisa diberikan suntikan PDA. Saya disuruh rileks. Suntikan pertama gagal, tidak masuk pada tempat yang diinginkan.

    Suntikan diulang kembali. Kedua tanganku rileks lemas kebawah lalu bu bidan merangkulku dengan erat, supaya saya tidak bergerak/kaget saat suntikan diberikan. Cairan sedingin es dioleskan di sekujur punggungku sebelum diberikan suntikan.

    Akhirnya tangis saya pecah karena harus bergumul dengan kontraksi yang datang dan mendengar instruksi perawat. Bagaimana saya bisa melakukan perintah, menjawab pertanyaan mereka saat kontraksi datang?. Gila teriak saya dalam hati, saya bilang β€žTunggu dulu!β€œ karena saya harus mengatur pernasafan untuk meredakan sakit kontraksi ini. Hanya bu bidan yang tahu kondisiku, dan setelah mereka para perawat ini tahu kalau kontraksi saya sudah tiap 5 menit ya mereka prihatin.

    Saat kontraksi datang saya tidak bisa berbuat banyak selain mengatur pernafasan, lah ini malah disuruh ini itu dan ditanya-tanya. Gemes saya mau cakar semua perawatnya! 😑 . Akhirnya suntikan kedua berhasil, PDA nya sudah masuk dan saya berbaring kembali. β€žTerasa kah ini?β€œ tanya Seorang perawat yang menyemprot cairan dingin ke lengan kiri dan paha kiriku.. β€žIyaβ€œ sahutku. Seorang perawat disisi kanan menarik rambut pubis (kemaluan) ku β€žTerasa tidak?β€œ. β€žIyaaa” teriak saya kesakitan. Gila dalam hatiku apa tidak cukup ya disemprot cairan dingin, ko malah menyiksa dengan hal berikutnya?.

    5 menit kemudian diulang kembali perawatnya menyemprotkan cairan dingin ke lengan kiri dan paha kiriku. β€žMasih Terasa kah ini?β€œ tanya perawatnya. β€žIyaaβ€œ sahutku. Saya disuruh gerakan kedua kaki saya, dan berhasil saya lakukan.

    Para perawatnya mulai hilang kesabaran, sudah ditunggu beberapa lama ko saya masih belum kebal juga, padahal PDA nya tadi sudah berhasil disuntikkan. Rambut pubis ku ditarik kembali untuk kedua kalinya β€žTerasa tidak?β€œ. Ini saya beneran marah besar, seandainya saya bisa putar waktu ke hari itu, saya tonjok deh orangnya 😑 . Masah tidak cukup disemprot cairan dingin?, toh saya sudah bilang saya masih merasakan, belum kebal. Bu Bidan mencoba menenangkan saya bilang β€œsudah .. sudah”.

    Mereka para petugas kesehatan ini berunding, aneh nih masah saya belum hilang rasa dari perut hingga kaki. Setelah ditunggu 10 menitan tidak ada perubahan, akhirnya mereka memutuskan saya akan dibius total saja, artinya bapaknya Benjamin tidak perlu masuk ke ruang operasi karena saya akan tidak sadar selama operasi berlangsung jadi tidak dibutuhkan kehadiran suami.

    Saya sempat shock juga karena tidak dikasih waktu berunding atau ketemu suami dulu. β€žkalau saya tidak bangun/sadar lagi setelah operasi bagaimana dong?β€œ kataku pada diri sendiri. Saya jadi takut karena belum pernah dibius total bagaimana kalau hal buruk terjadi? hiks πŸ˜₯ .

    Masker ditempelkan ke wajah saya dan itulah hal terakhir yang saya ingat ..

    untuk ke halaman berikutnya klik β‡’ Next/Lanjut

  • Lisa Marie Anak Keduaku

    Lisa Marie Anak Keduaku

    Lisa Marie Anak Keduaku. Halo pembaca setia blogku jadi ceritanya saya sudah melahirkan anak kedua, malah sudah sebulanan lebih usia anak keduaku πŸ˜€ . Saya tidak punya waktu buat cerita secepatnya karena merasakan menjadi ibu baru lagi repotnya bukan kepalang, ditambah malas tingkat tinggi juga berlama-lama didepan komputer hehe.

    Postingan ini telat sekali karena saya benar-benar tidak ada waktu sejak lahiran. Niat online pagi eh sampai sore kerjaan rumah tidak ada habisnya, giliran malam kedua bocah sudah tidur saya malah sudah habis tenaga dan malas mikir yang berat. Paling kalau nyalain komputer buat baca-baca sebentar lalu tidur πŸ˜€ .

    Due date lahiran/HPL (Hari Perkiraan Lahir) sudah saya ketahui sejak awal pemeriksaan kandungan yakni bakalan 4 Maret 2017. HPL ini ya perkiraan saja kenyataannya ada yang bisa lebih cepat atau malah lebih lambat lahirannya dari tanggal yang diperkirakan. Namanya juga perkiraan ya yang pastinya tahu hanya si bayi dalam perut bumil kan kapan dia siap melihat dunia πŸ˜‰ .

    Bapaknya Benjamin yang awalnya sudah oke bakalan cuti dari 1 Maret eh ternyata baru 3 maret mulai liburnya (kalau kerja sekali kerja 5 hari tidak pulang). 1-2 minggu sebelum HPL saya banyak bicara sama di kecil diperut saya supaya keluarnya pas bapaknya sudah libur, pusing jadinya kalau tidak ada suami dirumah lalu saya bakalan lahiran tengah malam nah si Benjamin bagaimana? masa mau ditinggal sendiri dirumah lalu saya pergi sendiri ke rs? kalau tetiba bocah bangun dini hari gawat kan. Setelah rembuk dengan emak mertua dan suami pokoknya kita sudah ketemu solusi terbaik deh.

    β€’ 2 Februari 2017 saya dirujuk untuk kontrol ke rs untuk nanya Chefarzt (kepala bagian) dokter kandungan yang dulu menghandle saya saat lahirannya Benjamin (anak pertama), apakah untuk anak kedua ini bakalan harus sesar lagi atau bisa lahiran normal seperti keinginan saya. Waktu 2 Februari berat janin 2,5 kg tidak besar kan, nah jadi dokter Schumacher Chefarzt nya bolehin saya untuk lahiran normal.

    Wah saya senang sekali karena kan dengar sana sini lahiran normal sakitnya tuh ya sebelum dan pas hari H saja, setelah bayinya keluar ya tidak sakit lagi, sedangkan lahiran sesar pertama dulu ampun dah 3 minggu baru benar-benar pulih bisa jalan cepat bahkan sudah bisa lari ngejar bus haha πŸ˜› . Saya ingin bisa langsung beraktifitas setelah lahiran karena sudah musim semi, tidak tidak sabar pengen berkebun. Saat lahiran sesar tuh pengalamanku mau bungkuk, jongkong ambil barang atau jalan saja bekas operasinya seperti kulit disilet sakitnya. Batuk, bersin, ketawa ngakak sakit juga πŸ˜₯ .

    Baca juga: Cerita Melahirkan Anak Pertama Melalui Operasi Caesar

    Dokter kandungan tempat saya memeriksakan kehamilan rutin menyuruh saya kalau sampai HPL belum melahirkan juga maka saya harus cek langsung ke rs. Kepala dokter kandungan rs juga mengatakan hal yang sama ke saya pada pemeriksaan 2 Februari tersebut.

    β€’ 1 dan 2 Maret saat bapaknya Benjamin kerja saya harap-harap cemas sambil doa dan berharap “please jangan keluar hari ini ya nak” haha πŸ˜€ . Saya sudah punya catatan no hp dan telp kantor emak mertua kalau tetiba kontraksi hebat ya emak mertua bakalan turun tangan jemput Benjamin.

    β€’ 3 Maret horee suami tercinta sudah cuti hari pertama, lega deh menanti si bayi mau keluar kapan saja ya saya tidak ada pikiran bercabang.

    β€’ 4 Maret 2017 ternyata si bayi masih betah di rahim saya dan belum ada tanda-tanda mau melihat dunia. 4 Maret itu hari Sabtu kepala dokter kandungan tidak kerja di akhir pekan dan biasanya sih kalau weekend gitu ya pelayanan rs tidak maksimal karena tenaga kesehatannya juga terbatas.

    Suami dan saya sudah sepakat kalau saya belum mules atau belum ada kontraksi hebat buat lahiran hari itu 4 maret bakalan pulang nunggu sampai kontraksinya datang dan akan kembali cek ke rs seninnya 6 Maret.

    Kami tidak tahu kalau anak-anak tidak diperbolehkan masuk ke ruang kebidanan padahal Benjamin kita bawa. Kami pikir hanya pemeriksaan singkat saja ya tidak masalah bawa si bocah yang tidak bisa diam ini, toh ketika kontrol 2 Februari Benjamin juga ikut.

    Akhirnya Benjamin dan bapaknya nunggu di luar ruangan kebidanan selama saya melakukan pemeriksaan. Saya bilang ke bidan kalau nanti saat dokter mau bicara dengan saya, saya ingin suami ada disamping saya karena saya mungkin tidak paham benar untuk istilah kedokteran dalam bahasa Jerman.

    Pemeriksaan denyut jantung bayi (ctg) berlangsung 45 menit, tadinya dibilang 30 menit saja, entah bidannya ada kerjaan lain kali ya atau si bayi tidur ya jadi diperpanjang ctg nya. Selama pemeriksaan ctg ini saya hanya sendirian di ruangan, bidannya hanya sesekali datang untuk mengecek alatnya kalau misal ada yang tidak beres.

    Pemeriksaan ctg selesai, saya disuruh ke toilet untuk ambil urin buat di periksa juga. Setelah itu saya boleh keluar sebentar ke ruang tunggu ketemu Benjamin dan bapaknya sambil kita nunggu dokter datang. Saya dipanggil masuk, ada bu dokter yang tadi kita lihat melewati ruang tunggu. Aneh nih bu dokter tidak menyapa kita, tidak kasih salam tangan seperti dokter di Jerman sini yang biasanya saya temui.

    Bu dokter bilang saya tidak boleh pulang lagi karena sudah HPL nya, kuatir akan melahirkan hari itu, jadi saya disuruh langsung nginep di rs. Saya bilang karena saya belum merasakan kontraksi hebat ngapain saya nginep di rs?, kalau mau santai atau tidur-tiduran bisa juga di rumah saya toh. Daripada saya stres dan bosan di rs nungguin bayi keluar, lebih baik saya nunggu di rumah kan? πŸ˜€ . Rencananya kalau bayi belum lahir juga 4 Maret saya mau beresin tanaman-tanaman di balkon rumah soalnya haha makanya saya tolak keras buat nginep hari itu di rs. Saya katakan senin 6 Maret saya akan kembali ke rs.

    Selesai bu dokter melakukan pemeriksaan usg (Ultraschall) dan melihat bayi di rahim saya baik-baik saja, akhirnya bu dokter membolehkan saya pulang dengan syarat saya mengisi form yang menyatakan kalau saya pulang atas kemauan sendiri. Entah form/berkas apa saja yang di isi bu dokter, selama dia sibuk nulis tuh membelakangi suami dan saya, dia ngomong tanpa kita lihat wajahnya. Beneran aneh deh dan saya tidak sabar pengen ngoceh panjang lebar sama suami mengenai tingkah dokter ini haha πŸ˜† .

    Waktu saya tanda tangan formnya, saya tidak baca detail isinya. Masah bu dokter belum isi formnya saya langsung disuruh tanda tangan?. Bapaknya Benjamin sempat berdiri menghampiri saya yang sudah berdiri disamping bu dokter, suamiku sekilas melihat formnya pas saya mau tanda tangan. Pas dirumah saya baru ngeh “ko tadi saya tanda tangan tuh dokter belum ngisi formnya ya?” bapaknya Benjamin juga lihat kalau formnya tuh belum diisi bu dokter. Pelajaran buat diri sendiri nih jangan asal tanda tangan apapun sebelum baca teliti.

    Tahu tidak sampai kita pamit pulang tuh bu dokter masih sibuk di mejanya nulis-nulis membelakangi kita, tidak kasih salam (tangan) cuma bilang tschüß (bye). Saya ketawa ngakak dalam hati, biasanya itu salam non formal, padahal status kita dokter dan pasien bukan teman atau keluarga.

    Pas diluar suami dan saya tidak tahan lah ngoceh panjang lebar mengenai tingkah bu dokter tersebut. Suamiku bilang bu dokter nya orang Rusia. “ya gitulah dokter-dokter Jerman banyak yang memilih kerja di Swiss, karena sedikit stres dan gaji jauh lebih baik. Giliran di Jerman nya banyak dokter asing dari Rusia dan negara lain yang tidak becus ngomong bahasa Jerman” begitulah komen suamiku πŸ˜€ .

    Sabtu 4 Maret tersebut saya bahagia dong boleh pulang. Sorenya Benjamin dan bapaknya pergi berdua ke rumah opanya Benjamin jadi saya punya “me time” πŸ˜‰ . Sesekali saya rasakan sakit perut. Ini kali ya yang namanya kontraksi? tanya saya pada diri sendiri. Durasi sakitnya masih belum teratur (kontraksi palsu), lagipula karena saya sibuk mondar mandir beberes macam-macam dirumah jadi tidak merasakan sakit yang luar biasa. Nah coba kalau hanya di rs santai-santai tiduran, mana mau cepat keluar kan bayinnya? πŸ˜€ . Banyak aktifitas malah lebih baik buat saya tidak stres nungguin bayi keluar.

    β€’ 5 Maret 2017 (hari minggu), usia kandungan 40 minggu, yang kurasakan:
    -Pertama kali merasakan sakit tulang ekor (terasa hangat lalu jadi panas).
    -seharian nyeri hilang timbul tapi waktunya tidak teratur kadang 1 jam sekali, 2 jam, tiap 30 menit, tiap 2 jam lagi (kalau belum teratur jedanya masih kontraksi palsu).
    -keluar lendir/bercak coklat (mucus), mirip seperti saat menstruasi.
    -karena sudah sering sakit hilang timbul saya merasa tidak nyaman lagi lalu saya mandi air hangat jam 21.30 setelahnya terasa enak sekali.
    -bayinya muter/gerak melulu, mungkin mencari jalan keluar.
    -rasa mules semakin sering dan makin sakit.
    -kepengen pup tapi pas duduk di kakus tidak keluar halahhh, bolak balik begini cape πŸ˜† . Saya browsing ternyata nih salah satu tanda sudah mau lahiran.
    -buang air kecil lebih sering, sejak malam sebelumnya (4 maret) bisa berkali-kali buang air kecil, alhasil tidur juga tidak nyenyak.

    Bapaknya Benjamin lihat saya sudah aneh kali ya haha sudah aduh aduh melulu, padahal masih bisa saya tahan ko sakitnya. Saya suapi makan malam Benjamin sambil aduh aduh an pas datang nyeri kontraksi haha. Pokoknya saya berusaha ada kegiatan supaya pikiran teralihkan dari rasa sakitnya. Nah suami tercinta bilang bagaimana kalau dia antar Benjamin ke rumah mama nya aja kali ya, kuatirnya ntar tengah malam atau dini hari bayinya mau lahir kan repot malah ngurus Benjaminnya. Saya masih mikir mau setuju pendapat suami atau tidak, nah saya tanya Benjamin dia mau tidak saat itu ke rumah oma nya. Puji Tuhan anaknya bilang mau, ya karena sudah agak lama juga Ben tidak lihat omanya jadi mungkin kangen.

    Jam 20.30 Benjamin di antar bapaknya deh, lalu saya yang niatnya mau santai tidak bisa karena sakit kerap kali datang. Saya mandilah dengan air hangat, lalu makan sambil nonton tv. Hampir jam 11 malam suamiku baru pulang. Dini hari saya pindah tidur ke kamar Benjamin daripada mengganggu suami dengan rintihan saya. Sudah tidak bisa tidur karena sering nyeri dan rasa pengen pup.

    β€’ 6 Maret 2017 (hari senin). Waktu 4 maret bu dokter menyuruh saya datang jam 8 pagi ke rs. Nah suamiku santai saja, padahal saya sudah siap ganti baju. Saya sudah jenuh dengan rasa nyeri jadi pengennya cepat ke rs dan mau tahu sudah bukaan berapa. Suamiku bilang tidak perlu datang tepat waktu, pas kontrol sebelumnya juga ngaret petugas kesehatannya πŸ˜› .

    Jam 9.30 barulah kita sampai di bagian kebidanan. Cek jantung bayi selama 30 menit. Oh ya kalau para bidan yang memeriksa saya ramah semua, saya berharap tidak bertemu dengan bu dokter yang aneh itu lagi. Halahh ternyata si dokter Rusia itu lagi yang datang bersama bu dokter yang pernah saya lihat waktu mau melahirkan Benjamin tahun 2014.

    CTG test dulu sebeum proses lahiran. Lisa Marie Anak Keduaku
    CTG test dulu sebelum proses lahiran. 6 Maret 2017. Sorry fotonya burem karena potret pakai hp

     

     

    Punya 2 anak kecil repot banget
    Foto 1. didepan kamar bersalin 06.03.2017, foto 2. abang Benjamin tidak mau kalah minta digendong juga, foto 3. Belum genap 1 bulan si bocah suka sekali gaya gendong begitu. Foto 4. Mama datang lagi dari Jakarta buat lihat kedua cucunya

     

    baby announcement cards. Lisa Marie Anak Keduaku
    Hai Lisa Marie namaku. Abang Benjamin selalu gregetan setiap kali melihatku, kalau aku nangis langsung abangku lari menghampiriku dan teriak baby.. baby ..

     

    Baca juga: Cerita Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Sesar

error: Content is protected !!