Tag: penerbangan Lufthansa

  • Tiga Bulan di Jerman, Saatnya Mama Kembali ke Tanah Air

    Tiga Bulan di Jerman, Saatnya Mama Kembali ke Tanah Air

    Tiga Bulan di Jerman, Saatnya Mama Kembali ke Tanah Air. Kamis 2 Oktober 2014 hari itu merupakan hari terakhir mama saya di Jerman. 90 hari sungguh tidak terasa berlalu begitu cepat. Mama menemani saya sebelum melahirkan hingga mengajari saya bagaimana mengurus Benjamin. Tiba saatnya mama harus kembali ke tanah air tercinta bertemu keluarga tercinta, keluarga di Jakarta senang sedangkan saya sedih hiks 🙁 .

    Sebenarnya sejak awal mama berada di Jerman, dan saya membayangkan kalau mama hanya tiga bulan saja bersama saya, wah saya langsung sedih dan akan nangis tersedu-sedu. Maka setiap kali pikiran tersebut lewat, saya alihkan dengan membayangkan hal lain yang membuat hati saya bahagia, toh tahun depan mama bisa datang kembali kan yaa. Kalau si mama datang lagi nanti, Benjamin pastinya sudah bisa lari-lari 😀 .

    Pada 2 Oktober tersebut saya masuk kursus, saya minta babenya Benjamin beli timbangan koper yang saat itu sedang dijual disalah satu supermarket. Mama sms saya :, “setelah pulang kursus langsung pulang ya jangan ngelayap ke toko-toko. Koper mama kelebihan 3 kg nih, jadi harus dibongkar atau dikeluarkan beberapa barang, pulanglah cepat supaya ada yang gendong Benjamin dulu”.

    Yaelah maaakk suruh babenya si Ben aja yang jaga kenapa? pasti main komputer deh dia ya” jawab saya dalam hati saja. Nyatanya saya masih sempat berlari ke salah satu toko tanaman, membeli sesuatu yang saya butuhkan, toh bus saya datangnya 10 menit lagi.

    Tiba di rumah, mama bilang, mama sedih sekali, tidak tahu kenapa ketika mengganti bajunya Benjamin jadi sedih dan menangis. “Wajarlah ma, aku aja sudah berhari-hari ini melow melulu, mewek melululah kalau kubayangkan mama akan kembali ke tanah air. Makanya udahlah kita pikirkan yang senang dan bahagia saja yaa, tahun depan mama kan bisa datang lagi” sahutku.

    Tulisan Terkini

    Ketika kami makan siang saya yang berdoa hari itu, dan suara saya tersendat ditenggorakkan dan tidak bisa keluar sangking sedihnya. Bukan hanya saya, mama juga menangis. Hahaha kalau saat ini kami berdua sudah bisa tertawa-tawa 😆 . Makanya saya baru bisa membuat tulisan ini. 1-2 minggu setelah mama kembali ke tanah air, baru saya menuliskan satu dua kalimat langsung menetes air mata saya, lebih baik saya pending ceritanya hingga perasaan saya sudah normal kembali.

    Di hari terakhir tersebut, mama memandikan Benjamin untuk terakhir kali. “Mak mandikanlah Benjamin, terakhir kali mak, nanti kangen loh ma dengan cucu mama tercinta ini” hehehe gaya bujuk rayu saya supaya mama mau memandikan Benjamin.

    Sejak Benjamin lahir hingga hari itu 02 Oktober, tidak pernah saya memandikan Ben. Saya selalu jadi asisten mama atau babenya Benjamin saat Ben dimandikan. Kalau ada mereka berdua kenapa saya harus turun tangan toh hehe. Sejak mama di tanah air, sayalah yang paling sering memandikan Ben.

    Slideshow foto-foto Opung dan Benjamin

    Pesawat mama LH782 berangkat 21:30 ; boarding time 20:45 . Saya sudah lakukan online check-in 24 jam sebelum keberangkatan, jadi boarding pass sudah keluar dan saya print lalu berikan ke mama.

    Benjamin sudah siap Mengantar opung ke Bandara
    Benjamin sudah siap Mengantar opung ke Bandara

     

    Niatnya kami akan berangkat jam 17.30 dan molor hingga hampir jam 18.30 salahkan saya hehe babenya Ben sih sudah mulai ngomel 😳 . Saya PD saja dua jam lebih cukuplah sampai ke bandara Frankfurt, toh biasanya butuh waktu tidak sampai 1,5 jam.

    Ternyata di beberapa tempat macet gilaa, mobil tidak benar-benar berhenti sih, tapi kalau cuma bisa melaju di kecepatan 50 km di jalan tol, ya jadi ketar-ketir juga, takut telatt. Awalnya kami masih ngobrol-ngobrol, lalu jadi hening karena deg-deg an mikirin bisa sampai tepat waktu ga ya 😥 .

    Puji Tuhan! tiba di bandara jam 8 malam. Boarding time 20 :45 dan jadwal pesawatnya berangkat 21:30. Saya deg-deg an lagi tuh, “jangan-jangan counter chek-in buat serahkan koper antriannya panjang” . Puji Tuhan lagi, ternyata counter check-in nya banyak ko, jadi penumpang tidak perlu antri lama.

    Diparkiran Bandara Frankfurt. 02 Oktober 2014 jam 8 malam
    Diparkiran Bandara Frankfurt. 02 Oktober 2014 jam 8 malam

     

    Model baru nih, jadi tidak ada petugasnya. Penumpang tinggal mendatangi mesin check-in, taruh koper diatas timbangan/ban berjalan, scan tiketnya ke mesin. Kalau berat koper tidak lebih beratnya akan keluar kertas laporan bagasi. Koper kecil untuk dibawa ke kabin tidak perlu ditimbang, karena pas babenya Benjamin taruh koper besar dan kecil, mesinnya tidak bereaksi ya artinya bawaan mama melewati berat yang diizinkan.

    Counter Check in otomatis tanpa petugas, tinggal taruh kopernya kalau berat tidak lebih akan keluar struk informasi, koper akan berjalan masuk
    Counter Check in otomatis tanpa petugas, tinggal taruh kopernya kalau berat tidak lebih akan keluar struk informasi, koper akan berjalan masuk

     

    Malam hari sebelum keberangkatan, ketika saya lakukan online check-in, saya coba minta (apply) supaya ada petugas yang menemani mama istilahnya special service. Soalnya mama saya kan hanya bisa bahasa Indonesia, saya kuatir mama nyasar menuju ke pesawatnya. Jadi ada beberapa pilihan, saya pilih option mama tidak bisa berjalan jauh sekali. Ujung-ujungnya keluar informasi supaya bawa kursi roda sendiri hahaha. Saya pikir ya sudahlah, saya toh cuma butuh petugasnya untuk menemani mama sampai ke pesawat.

    Pas mau masuk, ternyata kata petugasnya disuruh tanyain di lantai bawah. Babenya Ben lambreta pula, dan balik membawa kabar tidak baik. Katanya special service begitu harus bayar dan harus daftar ulang lagi. Yaelah beneran bikin kesal deh, wong di email yang saya terima tidak ada informasi yang menyatakan harus bayar ko.

    Daripada berdebat lagi, waktu semakin mepet untuk boarding, maka mama sudah mantap masuk tanpa pengawal. Saya bilang ke mama “setelah lewat pemeriksaan imigrasi lalu cari pintu Z52 ya maaa”. Kami masih bisa melihat mama sudah melalui loket imigrasi. Tahu ga sih si Mama loket imigrasinya pilih yang buat warga EU (Uni Eropa) hahaha. Mama pastinya tidak mengerti sih, yang penting sudah lolos dan petugas sudah cap paspor mama 😉 . Saya pesan ke mama kalau sudah diruang tunggu sms atau miss call saya, nanti saya telp mama buat ngobrol dulu sebelum masuk pesawat.

     

    Sebelum mama lewat gerbang perpisahan, gerbang dimana mama menuju ke loket imigrasi dan kami hanya bisa memandangi saja. Saat itu saya melihat ternyata ada seorang ibu asia juga yang akan pergi seorang diri. Si ibu diantar anak perempuannya dan menantunya bule. Saya curi-curi pandang sambil mikir apakah dia orang Indonesia?.

    Setelah mama saya berlalu, si wanita menghampiri saya dan bertanya apakah saya dari Filipin?. Heran setiap kali bertemu orang asia tidak ada satupun yang menebak saya orang Indonesia, apakah orang Indonesia sangat sedikit ya di Jerman sini ? 😀 . Saya selalu dikira orang Filipina atau dari Thailand.

     

    Mama sudah diruang tunggu (saya telp mama) :
    Mama : “kamu gimana sih Linnnn katanya pintu Z5, capeee mama jalan jauhhh sekali, tanya-tanya petugas dimana Z5, ditunjukin jauhh sekali. Lalu karena tidak ketemu, mama tunjukkinlah tiket mama, dibilang petugas pintunya Z52 dan petugasnya sambil nunjuk-nunjuk jam ”. (Pasti maksud petugasnya cepat sudah harus masuk ruang tunggu) .

    Saya : “Mamiii aku kan bilangnya pintu Z52, bukan Z5. Aku bilang dua kali loh!” sahut saya dengan nada pengen nangis dan ketawa ”.

    Jadi pelajaran nih, berikutnya mama harus diajarin baca tiket, kalau perlu digaris bawahi no pintu dan no bangku pesawat.

    Mama sudah dalam pesawat (saya telp mama):
    Mama (bicara sambil ngos-ngos an) : “kamu gimana sih Linnnn* bangkunya ko dipilih paling ujung pesawat, paling belakang ini, jauuhh masuknya. Mentok tidak ada bangku lainnya dibelakang. Ampunnn dah di ekor pesawat”.

    Saya (bengong sesaat) : “Maaa semalam kan mama disampingku waktu kita pilih no bangku pesawat mama. 26C tuh 1 bangku dekat pintu pesawat. Pintu tengah. Mama masuk dari pintu mana??? ”.

    Mama : “masuk lewat pintu depan, ngikutin orang-orang”.

    Saya: “yaelahhh makkk, kan sudah dikasih tahu masuk lewat pintu tengah”.

    Mama : “eh tunggu, ternyata masih banyak bangku dibelakang mama ko. Kirain paling ujung di ekor pesawat ”. (Mungkin ada semacam tembok pemisah jadi mama kira dia paling belakang)

    Saya : “Ya iyalah kan semalam kita sudah lihat denah bangku pesawatnya. Bangku mama di bagian tengah pesawat ko, dekat pintu tengah. Duduk di pinggir jalan, supaya mudah kalau mau ke luar, misalnya ke toilet kan tidak perlu permisi ke orang disebelah. Pokoknya sudah aku pilihkan yang terbaiklah ”.

    Mama : “duuuuhh mandi keringat nih Linnnn*, jaket kulit si Andre** mama pakai kan karena berat sekali tidak bisa masuk koper lagi. Trus tadi mama minum air setengah liter. Mama lupa minum air yang bawa dari rumahmu, tadinya mau minum dijalan. Lupaaa, eh pas pemeriksaan, ditahan petugas, dikeluarkan botol minum tupperware. Disuruh buang, mama ga mau, rugi bener, mahal tupperware!. Trus disuruh minum airnya, karena tidak boleh buang airnya saja ”.

    Saya : membayangkan petugas bicara dalam bahasa Jerman atau Inggris dan mama jawabnya bagaimana? Ini bikin saya ngakak makkk.

    Mama : “trus itu lagi, hp jadul mama, ampunn dah! tadi mama dibawa ke kantor petugas karena hp jadul tersebut kan tidak ada sim cardnya ”.

    Saya : mungkin dianggap sebagai alat pematik bom kali ya hehehe. Makanya lain kali kalau ada hp tanpa sim card, masukkan ke koper besar saja.

    Mama : “sudah dululah telpnya ya, mama cape banget, mandi keringat nih. Pulanglah kalian, nanti mahal bayar parkir bandara” .

    Saya : “Yaelah mama, masih sempatnya mikirin mahal parkiran hahaha. Yang penting mama sudah duduk dalam pesawat ya, aku tenang ma, bisa pulang”.

    *Nama saya Nella, tapi dikeluarga, nama panggilan saya Linang.
    **Andre adik saya paling kecil.

     

    Ketika mama transit di KL, mama telp saya. Hanya hampir 1,5 menit telp dengan no. Jerman ke hp saya kena 6 euro (sekitar rp.96.000) ya iyalah roaming memang mahal sekali. No hp Jerman mama hingga saat ini sudah sebulan lebih masih aktif. Lumayan saya bisa ngirit sms an ke mama, kena Rp.800 kalau dirupiahkan. Kalau mama sms saya dari simpati ke no Jerman, mama kena Rp.600.

    “Grandmother — a wonderful mother with lots of practice”. ~Author Unknown

     

    Baca juga:
    Cerita Mamaku Ngurus Visa Schengen Sendiri
    Cerita Mama ke Jerman Tanpa Pendamping
    Cerita Keseharian Mama 3 Bulan Bersamaku

  • Cerita Mama ke Jerman Tanpa Pendamping

    Cerita Mama ke Jerman Tanpa Pendamping

    Cerita Mama ke Jerman Tanpa Pendamping ini sebenarnya sudah basi, karena mama saya sudah berada di tanah air kembali. Saya berpikir ulang walau basi, mungkin saja ada yang memerlukan pengalaman mama saya kan yaa 😀 .

    Mama saya usia 58 tahun, pergi tanpa pendamping. Tujuan Jerman (bandara Frankfurt Am Main). Hanya bisa Bahasa Indonesia.

    Tiket mama sudah dibeli sejak akhir Januari 2014, rencana keberangkatan 5 Juli 2014. Mama datang dalam rangka saya mau lahiran, jadi supaya ada yang bantuin saya. Sebenarnya nekad ya beli tiket padahal visa belum diurus, kalau visa ditolak bagaimana? 😛 .

    Bulan Januari sedang ada promo tiket Lufthansa, saya bilang ke Frank nanti dululah saya pikir-pikir dulu. Nah tuh kelamaan mikir seminggu, pas sudah mantap harganya mahal jadi naik. Hari itu tidak pikir panjang lagi langsung beli tiketnya (secara online di web Lufthansa, bayar pakai kartu kredit).

    Berangkat 5 Juli 2014 dari bandara Sukarno Hatta, jam 19 :35 . Terminal 2 untuk keberangkatan luar negeri. Kelas ekonomi bagasi yang diperbolehkan 23 kg, bawaan ke kabin 7 kg. Transit di Kuala Lumpur sekitar 1,5 jam.

    Biasanya Lufthansa transitnya di Singapur, nah sepertinya ada rute baru, jadi tidak lagi transit di Singapura, melainkan di Kuala Lumpur (KL) entahlah kalau sekarang ya. Beruntung juga sih transit di KL kan masih rumpun melayu jadi kalau mama butuh bantuan mungkin masih ada orang yang bisa bahasa Indonesia, ketimbang kalau di Singapur, mama tidak bisa bahasa Inggris.

    Visa mama saya akhirnya keluar juga lap keringat baca Cerita Mamaku Ngurus Visa Schengen Sendiri. Saya sempat tidak bisa tidur mikirin tuh visa ko lama keluarnya. Akhirnya 9 hari sebelum keberangkatan visa diambil mama. Soalnya tiket sudah dibeli 6 bulan sebelumnya, kalau ditolak bagaimana nasib tiketnya? kalau disetujui kira-kira apakah 90 hari yang diminta disetujui? hanya punya waktu kurang dari 2 minggu untuk ubah tanggal keberangkatan kalau misal durasi tinggal di Jerman tidak sesuai permintaan. Puji Tuhan lancar, sesuai tanggal yang kami minta masa berlaku visa 90 hari (5 Juli sampai 2 Oktober 2014).

    24 jam sebelum keberangkatan saya lakukan online check-in jadi boarding pass mama sudah keluar, lalu saya email ke adik saya di Jakarta minta diprint dan kasih mama. Online check-in begini bisa menyingkat waktu, jadi tidak harus 2 jam sebelumnya check-in di bandara. Saya juga pilihkan (ubah) nomer bangku mama. Sebenarnya di tiket sudah tertera nomer bangku, namun kalau kita mau ganti masih bisa ketika online check-in. Saya pilih bangku yang dipinggir jalan, jadi mama mudah kalau mau keluar (misal ke toilet), kalau pas dapat bangku di tengah, repot minta permisi ke penumpang disebelah, apalagi kalau disampingnya bule halahh mama hanya bisa bahasa Indonesia.

    Hari H mama diantar kedua adik saya Roy dan Andre. Andre pakai baju seragam kantor (BUMN) karena dia minta izin petugas, akan masuk bantuin mama angkat koper sampai counter check-in. Sebenarnya pengantar dilarang ikut masuk, tapi coba pikir bagaimana mamaku harus angkat koper 25 kg dua kali? 🙁 .

    Repot ya bandara di Jakarta ini, masa pengantar tidak bisa ikut sampai meja check-in?. Bayangkan mereka yang sepuh (lanjut usia) kalau pergi seorang diri. Harus 2 kali angkat koper yang berat. Pertama pas masuk ruangan check-in, angkat koper ke ban berjalan, lalu angkat koper kedua kali di counter check in.

    Saya saja yang masih muda (ceilehh muda 😛 ) waktu pertama kali ke LN rasanya tulang remuk mengangkat koper lebih dari 20 kg seorang diri. Mau berlibur ko malah remuk tulang 😥 .

    Semoga kalau ada petugas bandara Soetta bandara tulisan saya ini. Mohon diubah sistem dibandara dong, supaya penumpang bisa diantar hingga ke counter check-in, atau paling tidak ada petugas yang bertugas angkat-angkat koper penumpang hingga ke meja check-in. Buat apa itu pajak Bandara Rp. 150.000??? kalau kenyataannya pelayanannya mengecewakan?.

    Di Eropa (Swiss, Belanda, Jerman saya baru pengalaman di sini) semua orang bebas berlalu lalang hingga ke counter check in. Toh nantinya ada loket/bagian imigrasi yang harus dilalui penumpang. Nah pengantar stop sampai di situ.

    Perlu diketahui ya, maskapai Lufthansa ini super ketat mengenai berat bawaan penumpang. Di tiket ditulis 23 kg (ekonomi) harus 23 kg tidak boleh lebih dan harus 1 koper. Bawaan ke kabin 7 kg. Kalau ada tentengan lain ke kabin silakan saja boleh ko, asal siap-siap repot nenteng 😛 .

    Koper mama 25 kg, setahu saya kalau dari Jakarta masih agak longgar, dikasih lebih, namun kalau berangkat dari Jerman jangan harap dikasih lebih, tidak boleh lebih sedikitpun. Pengalaman kedua sahabatku Maria dan Gini Oktober 2012 mau kembali ke tanah air, total kelebihan koper mereka berdua 24 kg. Jadi mereka 3 kali bongkar koper di bandara, mengeluarkan banyak barang supaya koper benar-benar pas 23 kg per orang. Makanya kalau jalan-jalan belanjanya jangan kalap ye 😛 . Hari itu Frank dan saya pulang dari bandara membawa banyak sekali barang-barang Maria dan Gini.

    Lanjut ke ceritanya mama (masih panjang nih, ambil kopi dulu gih atau cemilan hehe).

    Mama transit di KL selama 1,5 jam. Pesawat dari Jakarta hinga ke Jerman sama LH783 . Mama cerita, penumpang harus keluar dari pesawar dan membawa semua barang bawan dari kabin. Pengalaman saya dulu terbang dengan Malaysia air, transit di KL tidak turun ko. Ada penumpang turun ya silakan turun, ada yang naik ya ditunggui naik, yang mau lanjut ya tidak perlu turun, santai saja didalam pesawat.

    Ribet ya si Lufthansa, ngerepotin orang saja. Katanya sih pesawatnya mau dibersihkan. Lah memang pas di Jakarta tidak dibersihkan tuh pesawat?.

    Di jadwal mama tertera akan sampai bandara Frankfurt jam 06 :40 waktu Jerman tanggal 6 Juli. Jadi sehari ya naik pesawat hehe. Berangkat 5 Juli tibanya 6 Juli. Tepatnya terbang 14 jam, tepos dah pantat, panass 😛 . Kalau bisa bahasa Inggris asyik bisa nonton tv di depan bangku. Lah mama manyun deh, mikirin yang indah-indah aja kali ya pas sampai Jerman mau ngapain 😉 .

    6 Juli 2014 mama melangkahkan kaki di bandara Frankfurt untuk kedua kalinya. Pertama kali tahun 2012 mama datang ketika pemberkatan pernikahan saya datang bersama bapak dan adik saya Roy. Waktu itu bersama bapak dan adik saya datang menggunakan maskapai Qatar, jadi transitnya di timur tengah. Berhubung 2014 ini mama datang seorang diri saya tidak berani pilih maskapai timur tengah karena transitnya sangat amat merepotkan. Turun dari pesawat harus naik bus dan mencari counter check-in berikutnya pusing 🙁 . Selain itu biasannya transit dengan maskapai timur tengah tuh lama sekali, saya dulu pernah 5 jam transitnya.

    Saya sudah pesan ke mama “begitu orang-orang mulai keluar pesawat, harus ikutan ya, jangan pakai tunggu-tunggu. Pokoknya ikutan orang satu pesawat sampai lewat imigrasi dan ambil koper. Jangan ke toilet, jalan harus cepat ya. Coba kenali beberapa orang, syukur-syukur ada orang Indonesia jadi kan ada temannya”.

    Mama bilang tidak ada orang Indonesia, bule semua. Ah mama masah sih? 😛 . Pramugari pramugara Lufthansa bule juga bisa bahasa Indonesia.

    Mama tercinta saya bekali surat sakti dalam bahasa Jerman dan Inggris.

    Cerita Mama ke Jerman Tanpa Pendamping
    Catatan kecil ini berguna buat mama ketika di Bandara, karena mama hanya bisa Bahasa Indonesia, kalau ada yg tanya-tanya tinggal sodori kertas ini

     

    Setiap ada penumpang yang keluar saya perhatikan “ini si mama nyasar kemana yaa ko tidak juga keluar?”.

    Menunggu dan menunggu .. terus menunggu mama tercinta …

    Dari kejauhan saya melihat mama keluar, mendorong troley besar. Walahh dan bawaannya banyak banget. “.. makkk makkk” saya panggil-panggil tidak mendengar, terus saja si mama berjalan cepat mendorong troleynya. Akhirnya Frank yang mengejar, saya berdiri dan ikutan berlari kecil (saat itu saya hamil besar, sudah hari-hari menjelang lahiran).
    Langsung kupeluk si mama. Mata saya berkaca-kaca, antara kangen dua tahun tidak bertemu dan kasihan sekaligus pengen marah “maaakkk bawaannya ko banyak sekali. Bagaimana bawa seorang diri?. Sudah dibilang jangan bawa tentengan banyak!”. Gilee yaa ngomel-ngomellah saya dibandara hahaha.

    Jadi mama saya membawa satu koper besar, satu koper kecil yang dibawa ke kabin lalu tas punggung, masih ada plastik isi satu set bantal bayi untuk Benjamin dan jaket mama.

    Kalau koper besar pastinya masuk bagasi, jadi yang tentengan kecil-kecil itu yang bikin repot. Mana pas transit harus dibawa keluar pesawat. Mama bilang dia tidak berani naik tangga jalan karena tentengannya banyak takut jatuh, jadi naik tanggalah dia. Padahal tangga di bandara tuh tinggi banget 🙁 .

    Ibu dan menantu bule. Sudah 2 kali mama mendarat di Jerman. 5 Juli 2014
    Berfoto dululah mak ya supaya ada kenang-kenangan, sudah 2 kali mendarat di Jerman. 5 Juli 2014

     

    Sambil mencari jalan keluar, ngobrol-ngobrolah saya dengan mama. Frank yang mendorong troley mama. Mulailah saya introgasi si mama hahaha saya tanya-tanya bagaimana perjalanan mulai dari Jakarta, pas transit dan pas mendarat di Jerman.

    Mama cerita:
    • Di bandara Frankfurt, mama bilang nyasarlah dia. Katanya “mama sudah ngikutin orang-orang sepesawat keluar pesawat. Lah ko orang-orangnya kocar kacir ke segala arah” hahaha. Nanya ke orang dibilang kesana, nanya ke orang lain lagi ditunjukkin ke sana tuh.
    • Akhirnya ketemu loket imigrasi. tepok jidat dulu petugasnya menghambat langkah mama, coba yaa itu surat sakti dari saya pakai diteliti dulu, diperiksa kalimat-kalimatnya dan di koreksi penulisan huruf besar kecilnya. Ampuuunn dah bapak imigrasinya lagi tidak ada kerjaan kali ya?. Wong yang teks Jerman sudah dikoreksi Frank loh. Frank bilang “kenapa yang teks Englishnya tidak dikoreksi sekalian?” 😛 . Sayangnya kertasnya entah keselip dimana, tadinya saya mau scan hahaha.

    • Begitu mama keluar loket imigrasi jadi sekelilingnya sudah sepi, sudah sunyi senyap tidak ada lagi penumpang dilihat mama. Anehnya kenapa pula sih mama tidak sms saya, sms sayapun tidak dibalas. Padahal Frank dan saya sudah lama menunggu diluar “ko mama tidak keluar juga, banyak sekali penumpang sudah pada lewat”. Penumpang Lufthansa punya pintu keluar khusus.
    • Mama mau cari tempat ambil koper. Dia tanya-tanya orang (petugas) dengan menyodorkan surat sakti dari saya. Mama tiba di bagian pemeriksaan. Lah ini saya bingung dengan cerita mama, kalau lewat pemeriksaan kan yang mau berangkat ke LN ya, klo mau keluar sih tidak ada pemeriksaan lagi. Bawaan di taruh di ban berjalan, mama melewati metal detektor, tuh alat bunyi-bunyi melulu, ternyata mama ngantongin logam 2 euro 😛 . Sama petugas mama diminta keluarkan isi money belt, petugasnya sambil ketawa-ketawa bilang “mone .. money .. money”. Mama tidak bawa banyak uang cash ko, kalau tidak salah hanya sekitar 800 euro. Petugasnya tidak menghitung jumlah duitnya mama hanya dilihat saja. Ada aturannya sih kalau bawa banyak cash harus lapor.

    • Setelah tanya-tanya orang lagi, akhirnya mama sampai di tempat ambil koper, yang mana karena sih mama sudah lama sekali dalam bandara, jadi tuh koper mama sudah dipinggirin, jadi mama tinggal ambil sambil tunjukkin tiket ke petugasnya. Kata mama ada satu koper lain yang sudah dipinggirin, jangan-jangan pemiliknya nyasar juga 😛 .
    • Mama tidak mungkin angkat koper besar dong ya. Mama sudah tahu harus sewa troley. Jadi sebelum berangkat sudah saya bilang “jangan lupa bawa logam 2 euro untuk ambil troley”. Nah mata mama sudah tidak jelas lagi. Didepan mesin mau masukkan logam 2 euro, mama tidak jelas lihat lobang di mesinnya. Pas ada seorang bapak mau ambil troley juga, si mama kasih uang logamnya sambil tunjuk ke mesin, jadi si bapak mengerti mama mau ambil troley. Jadi ya body language berguna ko kalau bepergian kita tidak tahu bahasa setempat 😉 .

    Setelah bertemu Frank dan saya, dan kami sudah dekat parkiran maka troley akan kami kembalikan. Dorong troleynya ke tempatnya, nanti logam 2 euronya akan keluar dari mesin, kita ambil deh.

    Peminjaman troley di Bandara Frankfurt. 1 troley masukkan logam 2 euro
    Peminjaman troley di Bandara Frankfurt. 1 troley masukkan logam 2 euro

     

    Setelah itu bayar parkir. Tarif parkir bandara tuh emang gila-gilaan deh. Hampir 2 jam nih kena 9 euro (sekitar rp. 139.000 ) .

    Cerita baliknya ke tanah air bagaimana? tidak kalah serunya 😆 Huahaha. Misalnya sudah tahu kan bepergian dengan pesawat dilarang membawa cairan. Nah mama lupa minum air putih bawa dari rumah saya. Ketika di bagian pemeriksaan, mama tidak rela botol minum tupperwarenya disuruh petugas buang ke tong sampah “mahal bo” 😀 . Tidak boleh hanya buang isinya. Jadi di depan petugas mama minum hampir setengah liter air putih 😛 .

    Baca juga:
    Tiga Bulan di Jerman, Saatnya Mama Kembali ke Tanah Air
    Cerita Mamaku Ngurus Visa Schengen Sendiri
    Cerita Keseharian Mama 3 Bulan Bersamaku

error: Content is protected !!