Mangulosi Pada Pernikahan Batak

loading...

Mangulosi Pada Pernikahan Batak. Foto dibawah ini adalah ketika suami dan saya  melalui proses pemberkatan pernikahan di gereja Evang. Kirchengemeinde Bad Rappenau Jerman pada 20 April 2012.

Kedua orangtua saya datang khusus dari Jakarta untuk menghadiri pernikahan kami dan mangulosi suami dan saya.

Kedua Orantua Saya Mangulosi Suami dan Saya. Mangulosi, My Parents Giving Ulos at Our Wedding Day. (Foto dok. pribadi) . Mangulosi Pada Pernikahan Batak
Kedua Orantua Saya Mangulosi Suami dan Saya. Mangulosi, My Parents Giving Ulos at Our Wedding Day. (Foto dok. pribadi)

Dalam adat Batak seringkali kita mendengar istilah „Mangulosi“. Mangulosi artinya memberikan Ulos,  memberikan kehangatan  dan juga berkat.  Dalam hal mangulosi, ada aturan yang harus ditaati, yakni hanya yang dituakan yang bisa memberikan ulos, misal orangtua memberikan ulos buat anaknya, tapi anak tidak bisa (tidak boleh memberikan) mangulosi orangtuanya.

Menurut tata cara adat Batak, setiap orang akan menerima minimum tiga macam ulos sejak lahir hingga meninggal, hal ini disebut ulos “na marsintuhu” (ulos keharusan).

  1. Ketika seorang anak lahir, dia akan menerima ulos “parompa” dahulu dikenal sebagai ulos “paralo-alo tondi”.
  2. Diterima pada waktu memasuki ambang pernikahan disebut ulos „marjabu“ bagi kedua pengantin (saat ini disebut ulos „hela“).
  3. Ulos yang diterima sewaktu meninggal dunia disebut ulos „Saput“.

Pemberian ulos pengantin dimaksudkan agar ikatan batin kedua mempelai seperti rotan (hotang). Cara pemberiannya kepada kedua pengantin ialah diselempangkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan Iaki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan lalu disatukan ditengah dada seperti terikat.

Pada jaman dahulu rotan adalah tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Inilah yang dilambangkan oleh ragi (corak)  ulos pengantin.

Ulos Pernikahan Kami Bersulamkan Nama Kami Berdua (Foto dok. pribadi)
Ulos Pernikahan Kami Bersulamkan Nama Kami Berdua (Foto dok. pribadi)

Suami dan saya tidak melakukan pernikahan dengan adat Batak. Orangtua saya hanya mangulosi saja. Sebelum berangkat ke Jerman, ayah saya sudah menanyakan terlebih dahulu kepada tetua Batak, apakah kami (suami dan saya) bisa menerima ulos walaupun tidak melakukan pernikahan dengan adat Batak.

Kalau ada yang tertarik dengan pernikahan ala adat Batak silakan baca tulisannya Clara klik disini.

Tulisan ini saya ikutkan pada turnamen foto putaran 11 dengan tema  “Culture / Heritage”. Hostnya adalah Noni Khairani.

 

Sumber:

weslider.wordpress.com/category/tradional/ (link tidak aktif lagi. 02.09.2016 weslider.wordpress.com is no longer available.
This site has been archived or suspended for a violation of our Terms of Service )

http://tanobatak.wordpress.com/2008/02/18/mengenal-olos-batak/

 

Baca juga: Catatan Tinggal di Jerman

Advertisements

Emaknya Benjamin br. Silaen

Hi! I'm Nella a Bataknese. I currently live in Germany, however I'm originally from Jakarta, Indonesia. I'm a full-time-stay-at-home-mom. I have a lot of passions of gardening.

52 thoughts on “Mangulosi Pada Pernikahan Batak

  • January 22, 2013 at 11:02 pm
    Permalink

    bangga ngeliat tradisi indonesia dibawa kesana mbak. 🙂
    waktu kecil saya pernah juga menghadiri pemakaman ibu dari bude saya yang orang karo. semoga tradisi2 kayak gini gak hilang ya.

  • January 22, 2013 at 1:52 pm
    Permalink

    Wah suaminya orang Jerman ya ito, jadi marga apa? Salam kenal 🙂

    • January 22, 2013 at 4:35 pm
      Permalink

      Hai ito Max salam kenal juga ya :), iya suamiku orang Jerman.

  • January 22, 2013 at 7:03 am
    Permalink

    Wow, khazanah baru, pasti bagus2 deh kalo orang-orang Indonesia tetap menjaga warisan budayanya meskipun itu ada yang dimodifikasi disesuaikan dengan kondisi kekinian. Kadang miris lihat anak muda sekarang (khususnya siswa-siswa) mulai kehilangan jati dirinya dan lupa akan budaya ketimurannya yang luhur.

  • January 21, 2013 at 5:52 am
    Permalink

    Aku kayaknya gak diulosi karena gak diadati kak
    Tapi ya gpp… Udah jadi pilihan hidup sih. Ohya themenya baru ya kak

    • January 21, 2013 at 4:04 pm
      Permalink

      Gpp adat bisa menyusul ko nantinya :). Tema masih love bird cuma ganti latar belakangnya saja pakai gambar bunga sakura. Wahhh aku ngintip blog Eka sudah ada judul baru jalan-jalan ke New Zealand meluncur ahhh :).

  • January 20, 2013 at 2:06 pm
    Permalink

    Aku juga tahun ini akan menikah dan akan di adati juga… Tapi jujur aku masih bingung dengan adat batak… segala macam hal berbau adat, rasanya bikin pucink 🙁 apalagi semua itu perlu modal yang tidak sedikit… Baca postingan “eda” aku jadi tambah banyak pengetahuan. Semoga pernikahan “eda” semakin harmonis yah dan semoga “eda” menang ikut turnamen…. Good luck ^_^

  • January 20, 2013 at 12:34 am
    Permalink

    ea, ternyata kontes tho.. jangan lupa bagi-bagi hadiah kalo menang ya.. 😛

    Blog/url kejarduit.com dihapus karena sudah tidak aktif lagi. Update 22.12.2015.

  • January 19, 2013 at 2:26 pm
    Permalink

    menarik sekali mbak nella.
    dari beberapa kenalan saya yang berasal dari tanah batak, orang2 batak termasuk teguh dalam memelihara tradisinya.
    salut 🙂

  • January 19, 2013 at 1:59 pm
    Permalink

    Wahhh, seneng banget mba di negeri seberang bisa tetep jalanin adat, serruuuu 😀
    btw, sukses yah kontesnya 😀

  • January 19, 2013 at 12:03 pm
    Permalink

    asli keren ini mba nella 🙂 sukses selalu ya untuk kalian berdua

  • January 19, 2013 at 9:22 am
    Permalink

    ulos dan parompa sadun aku juga udah dapat Nel….
    good luck ya …

  • January 19, 2013 at 9:19 am
    Permalink

    Semoga langgeng seperti filosofi corak pada ulos pengantin itu

  • January 19, 2013 at 1:48 am
    Permalink

    Ohhh ini ceritanya. Aku penasaran hehe, makanya ada rencana tinggal agak lama di toba sekalian pengen tau n foto2 pembuat ulos di toba.

    • January 19, 2013 at 4:42 pm
      Permalink

      Di Toba banyak pembuat ulos, harganya juga dari yang murah sampai yang muahal. Nanti share di blog Noni ya setelah setelah foto-foto :).

  • January 18, 2013 at 4:52 pm
    Permalink

    jadi tahu soal adat batak, makasih mba…semoga menang yah 🙂

  • January 18, 2013 at 3:57 pm
    Permalink

    Jadi tahu ttg tradisi mangulosi nih mba…
    Usia pernikahan mba masih muda rupanya. Saya mah nikah bulan November 1990. Sekarang saya sudah beranak 3 dg yg terbesar kulian tingkat akhir di Bandung.
    Semoga berbahagia selalu dg suami tercinta ya mba.
    Salam persahabatan dari jauh,

  • January 18, 2013 at 12:37 pm
    Permalink

    wah, trims infonya, jadi memperkaya pengetahuan tentang adat istiadat di Indonesia. Ternyata nilai filosofisnya tinggi sekali, padahal selama ini saya hanya mengenal ulos sebagai kain khas dari Batak 🙂

  • January 18, 2013 at 9:49 am
    Permalink

    Waaah saya selalu suka sama adat Batak, kental dan keliatan keren (y)

  • January 18, 2013 at 8:21 am
    Permalink

    jadi tahu mbak tentang ulos ini hehe..
    sukses ya mbak kontesnyaa 😀

  • January 18, 2013 at 7:20 am
    Permalink

    Wah kalau ada laki-laki warga negara asing menikah dengan saya yang orang Bali beragama Hindu, upacara nya bakal lebih repot lagi. hehehehe

    • January 18, 2013 at 8:57 am
      Permalink

      Pasti itu. Setahu saya sih pernikahan secara adat beberapa suku Indonesia memang ribet ya :D.

  • January 18, 2013 at 5:12 am
    Permalink

    good luck ya buat kontes nya…. 🙂

  • January 18, 2013 at 5:01 am
    Permalink

    ini di jerman atau di INdonesia mbak?? wah keren…
    pengen juga ke Jermah mbak ^^ hhe… ceritanya menarik sekali….
    salm semangat untuk berbagi 🙂

Comments are closed.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: