Kisah Kawin Campur (Bagian 6 – Tamat)

Kawin dengan Suami Cacat

Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

HUIZEN- “Maaf kan saya, Mbak. Jeroen itu pikirannya memang pendek. Dia tidak normal, Mbak”, Endang berulang-ulang meminta maaf. Kenapa? Oh… perkara besar, suaminya Jeroen, tukang kebun amatiran, telah membabat habis tanaman perdu di halaman belakang rumahku. Aku marah dan kecewa. Tumbuhan yang telah tumbuh bertahun-tahun, kini lenyap dari permukaan tanah. Dibabat habis. Sebenarnya aku yang bersalah, karena perintah tidak jelas. Aku lupa Jeroen itu agak terbelakang. Aku tidak tahu apa alasannya sehingga Endang, perempuan asal Tasikmalaya itu mau menikah dengan Jeroen. Karena keterbelakangannya, Jeroen hanya bisa kerja yang ringan-ringan saja. Itulah sebabnya Jeroen hanya bisa menjadi tukang kebun amatir yang menerima panggilan.

Jeroen dan Endang tinggal di kota Huizen tak jauh dari Amsterdam. Mereka telah dikarunia seorang anak laki-laki, Imanuel, yang berusia 1 tahun. Menurut Endang, dia menerima lamaran Jeroen, karena tidak ada pilihan lain. Kehidupan di desanya yang seakan tidak berpengharapan membuat dia pasrah pada nasib. “Saya mau apa lagi, Mbak, biarlah nanti kalau Imanuel sudah bisa ditinggal, aku akan bekerja apa saja untuk membantu ibu saya di kampung,” katanya. Seperti gadis Sunda yang umumnya manis-manis dengan warna kulit kuning langsat, Endang juga tak kalah cantiknya.

Tubuhnya berisi dengan tinggi badan yang seimbang, membuat laki-laki akan menolehnya bila bertemu di jalan. Endang ke Belanda mengikuti program au pair yaitu menjadi pembantu untuk beberapa bulan di keluarga Belanda. Selama di Belanda, Endang berkenalan dengan Jeroen. Setelah membandingkan kehidupan di Indonesia dengan apa yang dialaminya di Belanda, sudah tentu Endang memilih tinggal di Belanda.

Usai kontrak, Endang tidak pulang ke Indonesia. Dia tinggal di Belanda dengan jaminan dari keluarga Jeroen, sampai akhirnya mereka menikah. Bagi keluarga Jeroen, perempuan ini diharapkan dapat menjadi pendamping sekaligus penolong Jeroen, anak yang handicap itu. Cacat Jeroen tidaklah terlalu parah, cuma ngomong kadang tidak nyambung. Endang pun dapat mengimbangi Jeroen. Hidup mereka kelihatannya tidak bermasalah. Kemudian lahirlah Imanuel.

Harga Diri Dikorbankan

Aku trenyuh melihat Endang yang menikah dengan laki-laki handicap. Karena ingin hidup lebih baik dari di Indonesia, harga diri dan perasaan harus dikorbankan. Jeroen sampai saat ini masih tetap bekerja sebagai tukang kebun amatir, sedangkan Endang sudah mulai bekerja sebagai petugas cleaning service di rumah-rumah orang. Perkawinan seperti Endang ini banyak terjadi di Belanda, dengan tingkat dan jenis handicap yang berbeda-beda. Tetapi mungkin kita bisa mengambil sisi positif dari perkawinan seperti ini. Asalkan si perempuan rela menerima keadaan suaminya yang handicap, dengan membesarkan hati dan sabar bila suaminya bertingkah yang mengecewakan atau memalukan.

Ini risiko yang harus ditanggung. Karena tidak ada yang menyuruh untuk menikah dengan orang yang cacat, apalagi cacat mental, walaupun masih dalam tingkat yang belum membahayakan. Biasakan berpikir bahwa tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Dan untung aku menikah dengan dia, aku bisa punya mobil dan menyetir sendiri. Mana mungkin aku bisa begini di Indonesia. Aku bisa melihat-lihat Negara lain. Ke Paris, Barcelona, Munich. Tetapi apakah seindah itu bila nurani yang berbicara, seperti yang dialami Sonia yang menikah dengan Karel, keluarga jauhnya.

Sonia sudah agak berumur. Sedangkan Karel adalah penyandang cacat mental ringan. Kedua keluarga itu berembug untuk mengawinkan Sonia dengan Karel. Keluarga Karel adalah warga negara Belanda keturunan Indonesia. Perkawinan itu terjadi. Sonia pindah ke Venendaal Belanda mengikuti Karel. Di tempat baru yang menurut banyak orang akan memberikan kecukupan materi, Sonia memulai kehidupannya sebagai istri Karel. Dan apa yang terjadi? Ternyata Karel sakit jiwa. “Mbak, walaupun aku ini perawan tua, tetapi ingin diperlakukan sebagai perempuan yang terhormat. Karel yang nampaknya handicap, ternyata di tempat tidur dia sangat menakutkan,” kata Sonia.

Ketakutan Sonia menjadi-jadi. Bila malam tiba Sonia menggigil ketakutan. Jiwanya ikut terganggu. Akhirnya Sonia harus dirawat di pusat rehabilitasi mental. Setelah sembuh Sonia minta cerai dan kembali ke Indonesia. Perempuan ini sekarang hidup sendiri di Jawa Tengah, membuka warung makan. Dia masih sering berhubungan dengan aku lewat kartu natal yang dikirimkannya tiap tahun.

“Mbak, pengalaman hidup di Belanda membuat aku trauma. Aku takut dan tidak ingin ke Belanda lagi,” kata Sonia ketika aku menghubungi lewat telepon saat aku berada di Jakarta. Sedangkan bagi Laura, yang tinggal di Amsterdam, menikah dengan Alfred yang sedikit lemah mental tidak membuatnya minder, malah over acting. Dia selalu menutup-nutupi keadaan suaminya. Berusaha supaya suaminya tampil prima. Laura bersandirwara, namun siapa pun yang melihatnya pasti akan menarik satu kesimpulan, bahwa Alfred itu tidak sempurna jiwanya.

Alfred sering dibodohin Laura. Soal uang, Alfred selalu menjadi korban. Bila berbicara dengan Alfred aku harus pasang telinga benar-benar. Sering apa yang dikatakannya aku tidak mengerti. Mungkin karena bahasa Belandaku juga kurang sempurna. Kami sering salah pengertian. Dari seluruh negara Eropa, Belanda paling pas untuk orang Indonesia. Bumbu – bumbu masakan Indonesia gampang diperoleh. Restoran Indonesia ada dimana-mana. Tercatat ada 1.200 restoran yang menyajikan masakan Indonesia. Bagi orang Indonesia dari negara Eropa lain, Belanda adalah surga kuliner Indonesia.

Toko-toko yang menjual keperluan dapur Indonesia tersebar di seluruh Belanda. Kalau dulu Belanda menjajah Indonesia karena rempah-rempahnya, kini Indonesia menjajah Belanda lewat makanan dengan rempah Indonesia. Pengalaman pahit ketiga perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki Belanda penyandang cacat itu sangat menggugah nuraniku sebagai perempuan Indonesia. Mencari kebahagiaan adalah hak setiap manusia, asalkan jangan sampai menjual martabat dan harga diri. Aku ingin berbuat banyak bagi mereka dengan memberikan solusi dengan cara apa saja, agar mereka itu mandiri sebagai manusia dan tidak tergantung pada orang lain yang tidak sempurna.

-Tamat-

Artikel sisi gelap Perkawinan Timur Barat  pernah di muat media online sinarharapan.co.id   sebagai tulisan bersambung, sayangnya linknya tidak bisa dibuka lagi yakni sinarharapan.co.id/berita/0507/19/sh09.html .Mengapa semua kisahnya di Belanda, ya karena Yuyu A.N. Krisna Mandagie sebagai penulis dan keluarganya dalam beberapa tahun tinggal di Belanda.

 

Bagian 1 Pramugari Garuda – Kisah Kawin Campur yang Tragis

Bagian 2 Rahasia Sebuah Lemari – Kisah-kisah Kawin Campur yang Tragis

Bagian 3 Aku Kesengsem pada Lelaki Itu – Pernikahan Beda Negara Cerita

Bagian 4 Mayat Nike Terpotong-potong – Kisah-kisah Kawin Campur yang Tragis

Bagian 5 Aku Hanya Alat Reproduksi- Kisah-kisah Kawin Campur yang Tragis

Advertisements

20 Comments

  1. Lia
  2. rifaa
  3. Fufu Christie

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: