Drama Bikin Pass Foto Paspor | Membuat Paspor Indonesia Anak di KJRI Frankfurt Jerman

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Drama Bikin Pass Foto Paspor | Membuat Paspor Indonesia Anak di KJRI Frankfurt JermanLayanan loket di KJRI Frankfurt bukanya tidak sampai sore. Senin– Kamis: 09:30 – 12:30 dan Jumat: 09:30 – 12:00. Kita datangnya hari rabu. Tiba di KJRI hampir jam 11. Tadinya mungkin kita bisa duluan, ternyata ada pasangan yang masuk lebih dahulu.

Drama Bikin Pass Foto Paspor | Membuat Paspor Indonesia Anak di KJRI Frankfurt Jerman

Pasangan ini prianya orang Indonesia, istrinya bule. Anak pertamanya perempuan seumuran Benjamin, dan anak keduanya masih bayi. Pas kita masuk ke ruang tunggu ternyata sudah ada beberapa orang yang sibuk dengan surat-surat mereka.

Baca juga: Bagian 1 Membuat Paspor Indonesia Anak untuk Kewarganegaraan Ganda via KJRI Frankfurt Jerman 

Menurutku sih mungkin mereka para mahasiswa Indonesia. Untuk urusan paspor anak hanya saya dan pasangan yang saya ceritakan diatas. Karena si bapak duluan ke loket, jadi duluan dipanggil untuk membuat foto anak bayinya.

Sambil menunggu dipanggil, sementara itu bapaknya Benjamin saya sodori lembaran kuesioner yang diberikan mba petugas KJRI. Isinya tentang berwisata ke Indonesia. Terakhir bapaknya Benjamin ke Indonesia sih Sudah lama kira-kira 8 tahun lalu sebelum kita menikah.

Saya minta suamiku yang bawa/meneman Lisa membuat pass foto keruangan lain. Eh ternyata Lisa bikin drama!, anaknya tidak mau duduk saat mau dipotret, disuruh berdiri juga tidak mau. Setelah Lisa hampir 10 menit teriak-teriak menolak dipotret, akhirnya saya yang gantian membawa Lisa untuk dipotret.

Ternyata dengan saya sama juga, Lisanya menolak dipotret!. Tiap kali mba KJRI mengarahkan kameranya ke arah putriku, si Lisa langsung teriak nein! (jangan!), padahal Lisanya saya gendong. Saya suruh duduk dengan menaruhnya dibangku yang disediakan anaknya menolak, langsung turun dan minta gendong, saya duduk dan pangku anaknya, dia juga menolak dipotret dan langsung ngumpetin mukanya dipundak saya.

Setiap kali dia melihat kamera diarahkan ke dirinya, si bocah langsung bikin drama teriak-teriak. Saya yang awalnya sempat bingung dengan keadaan tersebut jadi ingat, nih pasti si Lisa mengira kamera  dslr tersebut adalah alat untuk tes penglihatan.

Berdasarkan hasil nge-google nama alatnya autorefractor, digunakan untuk skrining penglihatan pada bayi dan balita.

 

Contoh skrining penglihatan pada anak menggunakan autorefractor

 

 

Di detik ke 19 terlihat alat autofrefactornya, yang di dokter kita kunjungi warna alat skriningnya hitam. Si anak harus menempelkan matanya ke bagian depan alatnya, nanti si anak melihat gambar bergerak, dan si dokter melihat bagian dalam mata/retina pasien.

Sedikitnya sudah 3 kali kita pernah ke dokter mata, Lisa ada masalah dengan matanya. Pemeriksaan dilakukan dengan alat tes yang bentuknya kotak. Alat tersebut harus menempel di wajah Lisa dan mata.

Sebenarnya kalau Lisanya tenang, dia bisa melihat ada gambar-gambar menarik, waktu alat tersebut menempel di wajahnya. Terakhir kali diperiksa yang paling trauma kali ya buat si Lisa, sampai saya dan asisten dokter pegangi, tapi Lisanya berontak, jadi dokter tidak bisa melihat retina si Lisa dengan tepat.

Waktu datang pertama kali, untuk anak 4 tahun seperti Benjamin sudah mengerti, tapi untuk anak dibawah 3 tahun, seperti Lisa terkahir kali ke dokter umur 1 tahun, dirayu bagaimanapun dia menolak!.

Kita disuruh balik lagi saat Lisa berusia 1,5 tahun. Saat ini Lisa sudah hampir 2 tahun kita belum balik lagi, bapaknya bilang nanti saja, kalau Lisa agak besar. Terbukti sih pas mau dipotret si Lisa masih mikir kalau kamera dslr adalah alat untuk tes penghilatan.

Balik ke soal foto untuk paspor…

 

Mbak KJRI dan saya sibuk bersamaan mencoba merayu Lisa, membuat Lisa tenang. Anaknya sudah tenang, tapi begitu melihat kamera diarahkan ke dia lagi (padahal agak jauh loh), Lisa langsung jerit-jerit nein (jangan).

Huu saya habis akal deh, padahal saya sudah menyertakan pass foto Lisa di berkas paspor, kenapa tidak pakai itu saja sih, hiks. Karena ada aturan baru harus foto di KJRI, katanya pembuatan fotonya terhubung dengan imigrasi di tanah air.

Kita coba alihkan perhatian Lisa ke pemandangan di luar, kasih unjuk ada tupai dipohon tetap tidak mempan. Mbak KJRI memberikan permen, si Lisa mau, tapi saat mau dipotret tetap disembunyikan wajahkan didibalik bahu saya.

Baca juga: Menjadi Ibu Rumah Tangga di Jerman

Ada 30 menitan kita coba merayu Lisa ..

Akhirnya mba KJRI bilang dia mau potret Lisa dengan posisi saya gendong Lisa, tapi wajah Lisa harus terlihat ke kamera. Setelah mengatur posisi, akhirnya bisa juga dipotret. Hanya dua kali jetpret, salah satunya yang hasilnya paling maksimal, terlihat jelas wajah Lisa, walau ujung baju saya terlihat sedikit di hasil fotonya.

Mbak KJRI bilang tidak masalah saya terlihat sedikit di hasil foto, karena untuk foto bayi memang anaknya dipangku orangtua si bayi.

Puji Tuhan drama bikin foto selesai, kita keluar ruangan. Mata Lisa sembab gara-gara nangis melulu. Kita duduk sebentar, lalu saya dipanggil, untuk mengecek beberapa data apakah benar tertulisnya. Saya nanya mba KJRI apa boleh minta kembali foto Lisa yang saya kirim, lumayan kan kalau ada urusan lain butuh foto juga, jadi kita tidak perlu ke foto studio lagi.

Semua fotonya dikasih kesaya, asyik!. Paspor akan dikirim via pos dalam seminggu ke alamat saya. Lisa masih dibawah umur, jadi untuk paspor anak tidak ada tanda tangan di bagian depan yang berisi informasi pemilik paspor.

Saat saya mempersiapkan anak-anak untuk kita pergi, saya pakaikan jaket dsbnya, eh ada yang negor saya, dia nanya apakah saya pemilik blog ..

Blog apa saya nanya balik? Sok ngetes hehe.. blog pursuingmydreams kata dia. Bener saya pemiliknya!. OMG pertama kali deh seingatku ada pembaca blogku yang kita ketemuan langsung.

Angela nama dia, katanya dulu sering baca blog saya waktu mau ke Jerman. Waktu saya panggil-panggil Benjamin yang iseng buka tutup pintu KJRI, Angela jadi ingat Benjamin anakku 😀 . Angela tinggal di Bad Homburg, pertama kali datang ke Jerman segaia au pair, sekarang kerja di NGO.

 

Huu sampai saat ini dia belum menghubungi saya lagi, kita tidak sempat tukar no. Hp karena saya senewen dengan tingkah Benjamin, jadi maunya cepat pergi dari KJRI. Saya bilang Angela cari blog saya di mesin pencari, trus email saya ya melalui form kontak blog.

Keluar dari KJRI saya mau potret anak-anak didepan gedung KJRI, eh malah si Benjamin manjat pagar KJRI, iih nih bocah memang tidak bisa diam haha.

Mau dipotret didepan pintu masuk, eh malah si bocah manjat pagar KJRI

Mau dipotret didepan pintu masuk, eh malah si bocah manjat pagar KJRI

Sebelum kita pergi ke KJRI, saya ngegoogle, kalau ada restoran Indonesia Namanya Wayang di Frankfurt, tidak terlalu jauh dari KJRI. Yaelah kita tidak jadi ke sana, karena belum jam bukanya, dan kita semua sudah kelaparan.

Karena lapar juga, kita tidak jadi ke Palmen garten Frakfurt. Katanya bapak anak-anak nati saja pas summer kalau mau jalan-jalan lagi ke Frankfurt, karena waktu itu cuacanya tidak mendukung, dingin sekali saat musim gugur.

Akhirnya kita naik U-bahn (kereta bawah tanah) langsung ke stasiun Frankfurt, rencananya cari makan siang disanapun tidak jadi, karena kereta kita segera datang. Didalam kereta kita makan biskuitnya anak-anak, sampai ludes!.

Lisa pas di U-bahn sudah tidur, 1,5 jam naik kereta juga masih lanjut tidur dia. Dari Frankfut naik kereta intercity (IC) yang bertingkat, nanti dari Heidelberg naik kereta biasa. Benjamin tidur pas pertengahan perjalanan. Kameraku kembali ngadat! Haha tidak bisa dipakai, jadilah tidak terlalu banyak rekam pemandangan luar kereta.

 

Video Pulang dari Frankfurt Naik Kereta ke Heidelberg Hbf

 

 

Paspor Lisa saya terima seminggu kemudian, ternyata warna sampul paspor Indonesia tidak lagi hijau, melainkan warna biru. Tebalnya 48 halaman, padahal kalau jarang bepergian keluar negeri sayang juga ya, maksudku buat apa tebal halamannya, kalau dalam 5 tahun hanya sekali pergi.

Waktu Benjamin dan saya membuat papsor ada yang 24 halaman, saat membuat paspor Lisa tidak ada lagi yang 24 halaman, melainkan hanya tersedia yang 48 halaman.

 

PursuingMyDreams - Emaknya Benjamin

↑ Grab this Headline Animator

Baca juga: Cerita dari Jerman – Living in Germany

Advertisements

11 Comments

  1. Tia

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: