Tag: cerita dari jerman

  • Gaya Pacaran di Jerman Tidak Malu Bermesraan ditempat Umum

    Gaya Pacaran di Jerman Tidak Malu Bermesraan ditempat Umum

    Gaya Pacaran di Jerman Tidak Malu Bermesraan ditempat Umum. Berciuman di ruang publik menjadi pemandangan biasa di Jerman. Misal ada yang mau berpisah lalu saling berciuman bibir beberapa detik menurutku tidak masalah, dan banyak pasangan yang melakukannya.

    Gaya Pacaran di Jerman Tidak Malu Bermesraan ditempat Umum

    Hal tidak biasa adalah bermesaraan kelewatan di tempat umum. Pernah suatu kali suami dan saya naik kereta, didepan kita ada abg yang bermesaraan kelewatan, sebenarnya dari sebelum naik kereta kita sudah melihat keduanya, ya ko sialnya ternyata mereka duduk di depan kita.

    Tulisan Terkini

    Kita di gerbong kereta kursi panjang yang saling berhadapan. Kaki si cewe naik ke paha cowoknya, keduanya saling berciuman dengan ganasnya haha … Melihatnya ku sangat risih, dan kita hanya bisa mengalihkan perhatian ke hal lain dalam hati ku kesal saja, kenapa mereka tidak sewa kamar buat melakukannya haha ..

    Kejadian berikutnya seperti di video dibawah ini, sepasang sejoli lama kuamati mereka dari balik jendela dapurku.

    Video Gaya Pacaran Jaman Now #shorts Di Jerman Biasa Begini

    Jumat 17 Juni 2022 kala itu ada festival musik di pusat kota tempat tinggal kita di Chemnitz. Banyak anak muda berdatangan bersama teman-temannya atau pasangannya. Acaranya kalau kata suami berlangsung sampai jam 11 malam saja.

    Dari siang musik gaduh sudah terdengar sampai kerumah kita. Jalan kaki ke pusat kota bisa kita tempuh 15 menit, dan saya lihat ada beberapa orang yang memarkir mobil mereka di jalanan depan rumah kita atau di parkiran supermarket seberang rumah. Rumah kita di depan jalan raya wah bising kalau jendela dibuka haha ..

    Ku lihat keseberangan jalan, di parkiran supermarket ada sepasang sejoli yang lagi asyik memadu kasih tanpa peduli sekelilingnya. Kalau saya sih ogah dilihatin orang sedang berduaan begitu haha, eh tapi emang ada orang yang peduli liatin kita lagi cipokan? Haha .. kalau di Indonesia ya bakalan jadi tontonan sih, iya gak sih?.

    Lama kuamati mereka, akhirnya kurekam dengan takut-takut (kuatir ketahuan) padahal antara parkiran dan dapurku ada jalan besar, kepikiran amat ketahuan lagipula mereka juga tidak peduli dilihat orang lain ..

    2 bulan pertama tinggal dirumah ini jendela tidak ada hordengnya, kesal saya tiap kali ada yang lewat kepo berhenti beberapa detik untuk melihat ada apa dibalik jendela rumah kita .. sampai sekarang ruang tamu belum ada hordengnya, pak suami tidak mengizinkan saya pasang paku atau bikin lubang di dinding, kuatir suruh benerin atau uang deposit sewa (1900 Euro) dipotong saat kita pindah rumah nantinya.. jadi hordeng di 2 jendela dapur saya jepit dibagian atasnya haha ..

    Baca juga: Beda dengan di Indonesia Bertamu di Jerman Tidak Lepas Sepatu Masuk Rumah

    Balik kepoin 2 sejoli, kuduga mereka akan ke festival musik nantinya, atau baru selesai dari sana?. Entahlah, masih terlalu dini kalau mau pulang. Keduanya asyik bermesaraan jamah menjamah dari ujung rambut sampai bagian bawah depan belakang.

    Keduanya mungkin lagi dimabuk asmara …

    Suamiku yang melihat tingkahku mulai mau komentar ..

    Lagi ngapain?“ .. tanya dia ..

    Lama ku berdiri di depan jendela sambil sesekali kubuka hordengnya agar bisa lihat jelas ..

    Mengamati 2 sejoli ..“ sahutku.

    Mereka ciuman lama, saling menjamah haha apa coba bahasanya, akhirnya dua anakku usia 7 dan 5 tahun jadi ikutan kepo dan mengibaskan hordeng agar bisa lihat jelas ..

    Hey turunin hordengnya!“ kataku ..

    Apain sih ma?“ Kata 2 bocah anakku ..

    Tidak ada apa-apa, hanya 2 orang sedang memadu kasih“ ..

    Tidak perlu dilihat, kalian belum cukup umur“, kataku ..

    Memang mempan anak-anak dibilang begitu?, malah mereka makin penasaran dan cekikan melihatnya..

    Hush turunin hordengnya, balik sana kerjain aktifitas kalian“, hardikku ..

    Kita sewa rumah diatas saja, agar kamu puas kepoin orang“ kata suamiku haha ..

    Akhirnya keduanya mau pergi, „ .. eh si cowo bawain tas si cewe nya loh..“, saya bicara ke suami sambil mulut monyong-moyong dan menyibak hordeng agar bisa lihat jelas, „ .. wah mesranya si cowo itu ku ngiri melihat mereka deh..“ ku goda pak suami lagi… muka lempeng saja pak suami haha .. emang mau mengharap apa sudah 11 tahun kita bersama, mungkin begitu suami mikir? Haha ..

    Sebelum dirumah ini rumah kontrakan kita diatas (9 tahun), ya saya puas kepoin banyak hal dari atas, sampai kejadian terakhir sebelum pindah rumah, ada kebakaran di seberang rumah, ternyata mesin cuci terbakar, korselt mungkin, dan datang 2 mobil pemadam kala itu.

    Yang kita tidak suka tinggal di atap tidak tahan panasnya saat summer, untunglah sekarang kita tinggal di lantai dasar, pindah ke rumah baru sejak Maret 2022.

    Pesanku buat ladies yang sedang pacaran, tips gaya pacaran yang sehat:

    • Mau sama lokal atau bule, jangan lakukan sentuhan fisik berlebihan seperti di video, sebatas gandengan tangan bolehlah. Kenapa sentuhan fisik berlebihan sebaiknya dihindari? karena kalau kalian berdua kesetrum haha ingin melakukan lebih jauh, sebaiknya sudah memikirkan akibatnya ya, misalnya hamil.
    • Pakai pengaman biar aman?. Yakin aman?, trus kalau cowoknya ninggalin kamu sebelum resmi, sebagai cewe cuma bisa gigit jari?. Ikuti budaya asia, tabu melakukan hubungan intim sebelum resmi.
    • Daripada ciuman (french kiss) kenapa gak kasih bunga, say it with flower gitu loh, namun kalau ada yang bilang „ga apa-apa nikah muda, lebih baik daripada zinah ..“, saya juga ko tidak setuju ya, karena banyak contohnya disekeliling baca dari internet atau kalau artis langsung banyak beritanya kan. Baru 1-2 tahun nikah akhirnya cerai karena usia muda masih sama-sama egois. Tidak suka kebiasaan pasangan, kesal sama tabiat pasangan gampang tinggalin, balik ke rumah ortu dsb nya, lalu anak bagaimana?.

    Di Jerman hal biasa ada anak abg punya anak. Dulu sekali saya mengikuti reality show wenn kinder kinder kriegen yang ditayangkan RTL, mungkin sampai sekarang masih ada program tersebut, saya tidak mengikuti lagi kalau nonton live, dulu bisa rekam tayangan favorit, sekarang pindah kota ganti alat rekaman harus beli yang lain haha ..

    Baca juga: Nasib Menjadi Ibu Rumah Tangga di Jerman

    Di acara reality show wenn kinder kinder kriegen tersebut meliput mengenai anak abg (gadis remaja) yang menjadi ibu. Sebagian besar dari mereka kewalahan oleh situasi dan harus berjuang dengan masalah sosial dan keuangan. Bayangkan saja remaja 14 tahun atau 16 tahun sudah harus merawat bayi, ada yang lanjut sekolah ada pula yang tidak mau sekolah lagi, bekerja juga tidak mau.

    Keuangan dibantu oleh badan tenaga kerja (arbeitsamt) dikasih uang sewa rumah, dapat tunjangan orangtua, uang tunjangan anak, kalau mau lanjut sekolah dibayarin. Sepanjang nonton acara tersebut kebanyakan emosi haha bikin kesal, apalagi kalau suami pas ada diruang tamu ngikut lihat sesekali ya komen sinis dia haha ..

    Contoh yang bikin kesal nonton acara tersebut, sudah tahu hamil si ibu muda ini merokok, minum alkohol. Punya bayi masih merokok, rumah berantakan masih okelah, tapi kondisi rumah tidak bersih, jorok! kita nonton juga sambil memaki haha.. punya bayi masih mau dugem, anak belum setahun sudah hamil lagi huaha .. lah siapa suruh dulu pacaran tidak pakai otak kan?, tidak pakai pengaman atau pacaran kelewat batas, ya tanggung akibatnya.

    Abg ini akan dipantau kehidupannya dalam merawat anak. Si ibu muda secara teratur mendapat pantauan (kunjungan) dari Jugendamt*. Kalau dipantau si ibu tidak dapat mengurus bayinya, maka anaknya akan diambil dan diurus oleh Jugendamt, ada juga keluarga yang merawat anak/ bayi yang diambil tersebut disebutnya Pflegefamilie (kelaurga angkat). *Jugendamt (Jerman: Kantor Pemuda) adalah lembaga lokal Jerman dan Austria yang dibentuk untuk mempromosikan kesejahteraan anak-anak. Setiap distrik (Kreis) atau kota bebas distrik (kreisfreie Stadt) memiliki Jugendamt sendiri.

    Cerita 2 sejoli diatas adalah kali kedua kejadian ku amati dari balik jendela dapur, kejadian pertama pernah ada adu jotos kurir dan wanita pemesannya. Saya bikin video juga curi-curi takut ketahuan, eh ternyata video saya itu dijadikan bukti saat suami diminta jadi saksi di kantor polisi.

    Lain kali saya ceritain di blog kalau ada yang penasaran bisa lihat video pendeknya disini ‼️Nasib Kurir Sepeda di Jerman 🇩🇪 Gara-gara Telat Datang.

    Demikianlah postingan saya kali ini mengenai Gaya Pacaran di Jerman Tidak Malu Bermesraan ditempat Umum. Kalau kamu baru pertama kali berkunjung ke blog saya dan suka tulisan ini silakan subscribe follow blog saya, supaya tidak ketinggalan postingan berikutnya, kolom berlangganan mengikuti blog ada dibagian kanan atas postingan.

     

    Baca disini semua judul kategori cerita tinggal di Jerman

  • Cerita Akhir Pekan lalu

    Cerita Akhir Pekan lalu

    Cerita Akhir Pekan lalu. Ada yang merasa ga ya kalau saya tidak beredar di dunia persilatan blogger akhir pekan lalu, hingga Senin kemarin? :lol:. Serasa saya orang penting gitu ya hehe. Terima kasih ya buat kalian yang sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya, mohon maaf belum sempat berkunjung balik ke blog para sahabat :oops:.

    Saya mau cerita nih ngapain saja dari Sabtu minggu lalu hingga hari Senin kemarin.

    Hari Sabtu

    Jam 10 pagi sudah cabut dari rumah. Frank dan saya ke Bad Rappenau, kami ada janji dengan orang yang akan bersihkan parkiran mobil kita. Jadi ceritanya selama setahun belakangan ini Frank sewa tempat parkir. Kenapa sewa tempat parkir, karena kalau musim dingin supaya mobil tidak kedinginan kena salju, hujan ga kehujanan, panas tidak kepanasan. Paling penting kalau pulang kerja Frank tidak dapat kereta ya bisa naik mobil pulang kerumah (tempat kerja Frank dan rumah beda kota dan Frank selalu kerja malam).

    Nah kira-kira 2 minggu sebelumnya, mobil kita bocor olinya, jadi tempat parkirnya ya blepotan oli di beberapa tempat. Mobil sudah dibawa ke bengkel biayanya amit-amit deh 500 Eur (sekitar 6,4 juta rupiah). Pemilik parkiran reseh banget, itu parkiran sudah Frank bersihkan, disikat pakai sabun dan cairan pembersih lantai, eh yang punya tidak puas. Padahal ya tempat parkiran yang lain digedung itu juga banyak blepotan oli ko, resehnya si pemilik parkiran cuma komplen yang punya kita saja 😮 .

    Jadi kita sewa orang yang benar-benar ahli dibidang bersih membersihkan.

    Sebelum dibersihkan begini lantainya

    Lantai Parkiran Mobil yang kena Bocoran Oli
    Lantai Parkiran Mobil yang kena Bocoran Oli

    2 orang bersihkan tuh parkiran mobil kita selama 2 jam dengan menggunakan alat khusus dan hasilnya ..

    Jrengggg Hasilnya Setelah di Bersihkan oleh Tenaga Ahli
    Jrengggg Hasilnya Setelah di Bersihkan oleh Tenaga Ahli

    Kita puas banget dengan hasilnya. Sebelumnya ditanyain nih, bayarnya mau resmi pakai pajak (19%) atau tidak?. Frank maunya yang resmi, karena mau kasih bukti ke yang punya parkiran. Kalau bayar tidak pakai pajak ya tidak pakai kertas tagihan. Kalau yang punya parkiran masih cerewet ya komplen langsung aja ke perusahaan pembersihnya. Biaya bersih-bersih ini 238 Eur (sekitar 3 juta rupiah).

    Jasa pembersihnya:

    Aciner Gebäudereinigung
    Am Römerturm 7
    74177 Bad Friedrichshall
    Telefon: +49 (0) 7136 830 38 38
    Fax: +49 (0) 711 96 992 695
    E-Mail: [email protected]

    Kami putusin tidak mau sewa tempat parkir disitu lagi. Sementara ini parkir di tempat gratisan saja, mungkin sampai awal musim dingin nanti.

    Hari Minggunya

    Frank dan saya berkunjung ke rumah teman kuliah Frank, ke arah Mannheim. Sekitar 45 menit naik mobil. Saya sudah wanti-wanti Frank, jangan lama-lama ngobrol-ngobrolnya ya, maksimal 2 jam bertamu. Ternyata kita disana 5 jam! dari 17.30 sampai jam 22.30 an. Untungnya saya sudah ngerti bahasa Jerman ya, kalau nga bisa bosan tingkat dewa deh! :mrgreen: .

    Teman kuliahnya Frank yang wanita, si ibu ini orang Turki. Sejak umur 12 tahun sudah menetap di Jerman, ikut ayahnya yang kerja di Jerman kala itu. Si wanita ini sudah berkeluarga, menikah dengan orang Turki juga dan memiliki 3 orang anak. Ini pertama kali saya berkunjung ke keluarga orang Turki. Bayangan saya sudah kemana-mana aja :grin:, ternyata mereka modern ko.

    Keluarga ini berbicara 99% dengan bahasa Jerman ke anak-anaknya, begitu pula anak-anak ke orangtua. Paling ada 1-2 kali si ibu bicara bahasa Turki kalau si anak ga nurut yang disuruh, misal disuruh kecilin suara TV kalau orang dewasa lagi bicara, eh si anak ngeyel, keluar tuh bahasa non Jerman si ibu.

    Kami makan malam bersama, bersama anak-anak mereka juga tentunya. Kami duduk semeja. makanan yang disajikan enak. Sayang sekali, ketika makanan pembuka (sup) saya terlalu banyak makan bersama roti gandum, alhasil pas makanan utama perut tidak kuat nampung 🙁 . Frank nambah supnya 2 kali haha doyan nih bocah, walaupun dia bilang supnya agak pedas rasanya enak sekali.

    Anak yang tertua perempuan usia 13 tahun, anak kedua si ibu tersebut mungkin umur 7 tahun dan paling kecil sekitar 3 atau 4 tahun. Anak paling besar yang mengerjakan hampir semua urusan beres-beres makanan dan pengaturan meja, selama orangtua bicara dengan kami. (Miriplah ya dengan keluarga di Indonesia dimana anak-anak juga bisa membantu dirumah).

    Ada salah satu kebiasaan makan orang Turki yang pernah saya baca di forum, yang waktu di rumah ibu ini saya perhatikan. Jadi salat yang disajikan di piring besar, diambil masing-masing kita menggunakan sendok garpu kita juga. Sendok garpu sudah masuk mulut, dipakai untuk ambil salat berikutnya. Saya belum terbiasa dengan hal ini, berhubung sudah kenyang juga saya tidak makan salatnya.

    Asyikk Pulang Bertamu dikasih Stroberi dan Cherry
    Asyikk Pulang Bertamu dikasih Stroberi dan Cherry

    Hari Senin 1 Juli 2013.

    Oh ya hari Minggu pulang bertamu kami di kasih sekantong buah cherry dan stroberi. Cherrynya dari pohon di taman keluarga orang Turki yang kami kunjungi, sedangkan stroberinya sepertinya beli dari ladang stroberi deh.

    Nah berhubung Frank berulang tahun, pas banget ada stroberi dan cherry sebagai hiasan kue ultah. Saya tidak beli kado, yang ultah ditanyain mau kado apa, dia bilang ga mau kado. Kalau saya beli kado juga pakai uang dia sih :lol:, jadi ya ga usah deh. Mau beli kue tart ogah ah, siapa yang makan nantinya. Niatnya mau bikin kue tart sendiri saja, mau cari resepnya dari internet eh ribet cara bikinnya 😐 . Jadi saya beli tepung kue saja, sudah ada cetakan kuenya juga. Saya pikir kan lebih simpel ya bikin dari tepung jadi, ternyata pakai acara adu mulut didapur buat bikin kuenya 🙄 haha.

    Orang Jermannya saja bilang bingung padahal resepnya bahasa Jerman, maksud resepnya bagaimana sih, diambil sesendok lalu dicampur ke cream, lalu tepung yang lainnya dibegini kan dibegitukan dll. Lah dia saja bingung bagaimana saya toh 😆 . Ya udah coba-coba sendiri aja. Saya sendirian deh didapur ngelanjutin bikin kuenya.

    Coba-coba Bikin Kue Tart Sendiri. Cerita Akhir Pekan lalu
    Coba-coba Bikin Kue Tart Sendiri

    Kue tartnya ukuran 18 cm, jadi ya tidak terlalu banyak buat kami makan berdua. Mengikuti resep penyajian, taruh kuenya dalam kulkas selama 2 jam.

     

    Seperti tahun-tahun sebelumnya. Pas Frank ulang tahun, kita selalu pergi ke Talmarkt di Bad Wimpfen. Ini seperti pasar malam gitu deh. Ada banyak permainan buat anak-anak, stand-stand makanan dan stand jualan segala macam barang. Kali ini saya tidak banyak potret-potret karena ya begitu suasanannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Malah letak stand-standnya sama loh seperti tahun lalu 😀 .

    Ke pasar malam begini, selain cuci mata, sudah pasti banyak jajannya deh. Untungnya kita masih berduaan ya, belum ada anak-anak hehe.

    Menuju ke parkiran mobil, kita lewat kota tua Bad Wimpfen. Saya tidak pernah bosan ke tempat ini. Selain rumah-rumah tuanya yang sedap dipandang mata, tiap musim beda-beda bunga-bunga yang bermekaran.

    Beberapa foto rumah-rumah di kota tua Bad Wimpfen:

    Bunga-bunga musim panas yang sudah bermekaran

    Nah sampai disini dulu cerita akhir pekan dan awal minggu saya. Bagaimana dengan cerita akhir pekan kamu?🙂

    Baca juga: Catatan Tinggal di Jerman

  • Lansia di Jerman

    Lansia di Jerman

    Lansia di Jerman. Status yang saya posting di salah satu media sosial yang saya ikuti : “30 November 2011, jam 8 pagi diluar masih gelap, dalam rumah aja tangan & kaki gemetaran karena dingin, apalagi diluar rumah :’( harus pergi sendiri pula, bagaimana ngomongnya nih wong masih blepotan, ah harus tetap SEMANGAT!! Demi sepotong roti. I’m sure God will help me 🙂 :)”

    Lansia di Jerman
    Tetap Bahagia di Masa Tua (Foto: gettyimages)

    Saya ada kerjaan lagi, kali ini hanya tiga jam saja bekerjanya. Dilokasi yang baru, yang membuat saya jadi was-was. Apalagi kalau bukan kendala bahasa Jerman saya yang ala kadarnya. Suami saya (Frank) meyakinkan, tidak perlu bicara banyak, sedikit berbicara dan sedikit mengerti bahasa Jerman sudah lebih dari cukup untuk tugas ini.

    Saya hanya perlu menemani seorang lansia (* wanita lanjut usia) selama tiga jam dirumahnya. Sebelum-sebelumnya saya sudah sering melakukannya. Ada dua lansia lain, pria dan wanita. Yang membuat saya sedikit kuatir kali ini adalah, saya belum mengetahui apa tugas yang harus saya lakukan, kalau dulu-dulu di rumah dua lansia lain, sebelum hari H, biasanya suami saya dan saya ke rumah lansianya dan kami diterangkan apa harus dilakukan pas hari H saya bekerja, harus buat sarapan, masak makan siang, kasih obat dan minum buat si lansia. Nah yang pagi ini tanpa pengarahan sehari sebelumnya.

    Malam sebelum hari H, Frank menunjukkan rute menuju ketempat saya bekerja. Jaraknya tidak jauh rumah, saya bisa jalan kaki kira-kira 10 menit. Malam itu pulsa HP (handphone) saya-pun diisi 30 EUR (sebelumnya sisa 13 cent :P) jaga-jaga kalau saya ada kendala ketika bekerja, jadi Frank bisa datang.

    Sebut saja nama si lansia ibu Anton. Saya tekan bel rumahnya, lalu pintu dibuka dan saya masuk, ada tangga marmer di samping kanan saya, “.. mana penghuninya ya..” disebelah kiri saya ada pintu lagi. Ooo saya mendengar suara dari atas, lalu saya melangkah naik, sudah lewat satu lingkaran tangga .. “.. lah mana pintunya nih ..” Hallo, Guten Morgen! sahut saya. Sambil terus melangkah menaiki tangga, wuihh banyak juga anak tangga yang saya lewati.

    Seorang wanita paruh baya, didepan pintu terbuka menyambut saya, “.. Guten Morgen, Ich bin Nella” kemudian saya disuruh masuk. Saya lepaskan jaket tebal dan juga sepatu saya, lalu saya diberikan sandal rumah. Wanita yang menyambut saya, sebut saja namanya ibu Eliz dia adalah anaknya ibu Anton. Ibu Eliz adalah rekan kerja suami saya, namun Frank bilang dia belum pernah bertugas menanggani ibu Anton.

    Kemudian saya diperkenalkan ke ibu Anton (sedang sarapan di meja makan dapur). Ibu Anton di kursi roda, setelah beberapa saat melihat, saya menduga ibu Anton pernah terkena stroke, karena beliau tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki sebelah kanan.

    Tugas saya adalah menemani ibu Anton selama ibu Eliz pergi untuk mengerjakan sesuatu. Ibu Eliz menginformasikan akan ada seorang terapis yang datang sekitar 9.30, saya disuruh buka pintu jika bel rumah berbunyi pada jam tersebut. Saya ditunjukkan bagaimana membuka pintunya. Di rumah-rumah disini (Jerman) ada seperti telepon dengan tombol untuk membuka pintu jika ada yang datang, dan kita juga bisa berbicara dengan orang diluar rumah, sebelum pintu dibuka melalui telepon tersebut. Ibu Eliz menunjukkan toilet dirumah tersebut, menunjukkan dua buah buku cerita berbahasa Jerman untuk saya berikan ke ibu Anton, jika dia ingin membacanya.

    Tiga jam tidak lama, waktu akan segera berlalu..” bisik saya dalam hati. Sebelum-sebelumnya saya bekerja 9 jam perhari menemani lansia. FYI (*for you information) ibu Anton hanya sedikit bisa berbahasa Jerman, fasihnya berbahasa Rusia. Gubrakkk.com saya juga hanya sedikit bisa berbahasa Jerman, tapi kalau Rusia angkat tangan deh he-he-he:P.

    Sebelum Ibu Eliz pergi, beliau juga mengatakan kalau ibunya biasanya tidak banyak bicara, jadi saya tidak perlu kuatir. Namun ternyata itu tidak sepenuhnya benar loh! Ibu Anton ternyata banyak berbicara (saya tidak mengerti artinya) dan beberapa kali ibu ini menangis. Saya berikan tissue yang ada di tas saya, ibu Anton menghapus airmatanya, lalu beliau bercerita lagi dan lagi sambil tangan kirinya ikut digerak-gerakkan menemani ceritanya. Oohhh Tuhan ..dalam hati saya. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang diceritakan ibu Anton, kalau dia berbicara bahasa Jerman pasti telinga saya bisa menangkap satu dua kata, tapi saya sama sekali asing mendengarnya kalimat-kalimatnya, maka saya menduga beliau berbicara bahasa Rusia :’(.

    Saya hanya bisa mengusap-usap lengan kanannya yang dibalut selendang wol, sambil mendengarkan ceritanya. Dua kali saya mengusap air matanya yang jatuh dari mata kanannya. Jam 9.40 bel rumah berbunyi, saya melangkah untuk menekan tombol supaya pintu depan rumah terbuka. Seorang lelaki kurus paruh baya dengan kepala hampir plontos, melangkah masuk dan mengucapkan salam. Saya menduga-duga ini petugas terapisnya atau teman ibu Anton ya? :D.

    Ibu Anton dan si pria berbicara sangat akrab, dan ibu Anton banyak tersenyum. Oke setelah saya lihat beberapa saat ternyata si pria ini adalah petugas terapinya ibu Anton. Ibu Anton diangkat, dari sofa tempat dia duduk dipindahkan ke kursi kayu. Si petugas terapi mulai melakukan tugasnya, dia mengurut-urut telapak tangan bagian kanan ibu Anton, kemudian ibu Anton disuruh menggerakkan jari-jari tangan kanannya sendiri tanpa bantuan. Ibu Anton berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan jari-jari kanannnya, berkali-kali tangan kirinya mau memberi bantuan selalu ditepis oleh si terapi, maksudnya adalah jari-jari kanan harus bisa digerakkan sendiri tanpa bantuan sama sekali.

    Karena seringkali tangan kiri ditepis si terapis, maka ibu Anton hanya bisa tersenyum-senyum simpul, sambil meledek si pria tersebut dengan menjulurkan lidahnya ketika si terapis menunduk, ibu Anton tersenyum menoleh kesaya, saya bisa melihat dengan jelas pola tingkahnya ketika meledek si terapis he-he-he

    Sesekali juga si terapis berbicara dengan saya, menanyakan nama saya (Nella, nama yang indah puji dia), apa saya betah tinggal di Jerman, kalau bicara dengan suami pakai bahasa apa? “Inggris dong!”sahut saya :D.

    Si terapis bilang dia harus bisa menguasai beberapa bahasa asing karena banyak pasiennya orang Turki, Polandia, Rusia, jadi dia bisa bahasa tersebut dan tentunya juga bisa berbahasa Jerman, tapi dia bilang belum bisa berbahasa Thailand dan Inggris. Dia berbicara bahasa Rusia dengan ibu Anton. Buat saya, hmm ketika si terapis dan ibu Anton saling berbicara dengan bahasa Rusia, kedengarannya seperti ketika saya mendengar orang-orang berdoa dengan bahasa lidah atau bahasa Roh. Sangat indah, walau saya tidak mengerti arti kalimatnya.

    Kali ini Ibu Anton meringis-ringis menahan sakit, dia tetap berusaha sekuatnya. Jika sudah berhasil si terapis memberikan tepuk tangan sambil berkata “JA, PRIMA!!” lalu Pause (istirahat sebentar), lama-lama terapinya makin menanjak, jadi semakin berat, tangan kanan diangkat si terapis setinggi kepala, maka ibu Anton sesekali menangis, begitu pula ketika kaki kanannya diberikan terapi beberapa kali ibu ini menangis menahan sakitnya. Saya juga berikan tepuk tangan ketika ibu Anton berhasil menyelesaikan terapinya.

    Jam 10.15 terapinya selesai, ibu Anton kembali dipindahkan ke sofa. Si terapis pamitan untuk pulang. Kembali saya lanjutkan membacakan cerita dari buku cerita berbahasa Jerman, bukunya bagus dengan gambar yang bagus pula, tapi jangan ditanya apa saya mengerti semua isi ceritanya, boro-boro deh! :D. Kemudian, saya menambahkan air minum ibu Anton ke gelasnya.

    Sesekali saya berhenti membaca dan mengamati ruang tamu tempat kami berada, saya bilang ke bu Anton, rumahnya bagus, diatas lemari ada 11 bouquet bunga plastik warna merah dan pink, ditata apik disepanjang atas lemari, kemudian diatas kusen pintu ke dapur tertata rapi patung-patung kecil anak-anak, lalu saya melangkah melihat 4 frame besar foto di dinding, foto keluarga ibu Anton, lalu ada 6 pot tanaman di pojokan rumah. Wah ada satu piagam penghargaan dalam frame ditandatangi oleh minister-president Baden Württemberg semacam kepala pemerintahan. Isi piagamnya adalah ucapan selamat karena bapak dan ibu Anton sudah melewati 50 tahun pernikahan (golden wedding anniversary).

    Menurut suami saya, di Jerman mereka yang melewati 50 dan 60 tahun pernikahan akan dapat piagam (penghargaan) dari pemerintah setempat, kalau baru melewati 25 tahun belum mendapat surat penghargaan. Oh ya oma dan opanya Frank juga sudah melewati 50 tahun pernikahan ;-).

    Apakah saya akan menghabiskan masa tua di Jerman? Saya belum bisa jawab, dari pengamatan saya selama hampir lima bulan disini, kaum lansia tinggal sendiri dirumah, terpisah dengan anak mantu dan cucu. Kalau masih bisa beraktifitas, keluar rumah, sehat, bisa jalan dengan baik itu sangat luar biasa, jadi tidak bosan hanya dirumah saja, namun kalau si lansia sudah ditinggal pasangannya (suami atau istri wafat duluan), ko sepi ya dirumah sendirian, apalagi kalau si lansia sudah tidak bisa jalan, atau bahkan hanya bisa berbaring ditempat tidur, sendirian pula tanpa ada yang menemani dirumah, ya ko saya mikir jadi sedih ya? Hmm belum bisa jawab sekarang, tapi kalau Frank maunya tinggal di Indonesia, di Lombok tepatnya hahahaha, kenapa? Lain kali akan saya ceritakan ya.

    Positifnya masa tua di Jerman adalah pelayanan kesehatan sangat amat diperhatikan, ada perawat-perawat yang datang tiap hari kerumah, mencek kesehatan, mengganti diapers (popok untuk orang dewasa) memandikan dll.

     

    Baca juga: Catatan Tinggal di Jerman

error: Content is protected !!