Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5)

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Jadi Objek Jiwa yang Sakit

Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

VEENDAM – Setiap manusia berhak untuk hidup bahagia. Negeri Belanda dengan sistem sosial yang baik, bagi sebagian orang luar termasuk orang Indonesia, dapat memberikan apa yang mereka butuhkan. Kecukupan materi, jaminan kesehatan, dan masa depan yang pasti tidak berkekurangan.

Di Belanda para “pengacara” (pengangguran banyak acara) pun mendapat tunjangan setiap bulan untuk hidup secara wajar dan cukup sandang, pangan dan papan. Siapa pun pasti akan memimpikan bisa tinggal di negeri seperti ini. Lalu apa alasan perempuan Indonesia menikah atau kawin dengan laki-laki Belanda?.

Yang normal adalah mereka benar-benar jatuh cinta dan ingin menempuh hidup bahagia. Susah atau senang sama-sama mereka jalani. Ada pula yang merasa bangga bisa menjadi istri orang asing, karena dia akan tampil beda. Tetapi ada juga yang ingin mengubah nasib, ingin hidup lebih baik.

Sementara ada pendapat yang belum tentu benar, yaitu bahwa perempuan Indonesia menikah dengan bule karena sulit mendapat pasangan laki-laki Indonesia, berhubung syarat untuk menjadi istri orang Indonesia sangat berat.

Harus perawan, pintar, cantik, dari keluarga baik-baik. Pokoknya bibit-bebet-bobot menjadi sangat penting bagi laki-laki Indonesia. Sedangkan laki-laki asing tidak banyak cincong. Kalau sudah cinta, kawin. Tidak ada syarat-syarat tertentu. Sebaliknya, perempuan Indonesia hampir tidak mempunyai kesempatan untuk menentukan syarat-syarat bagi suami idaman. Terima nasib saja.

Alasan terjadinya perkawinan antara perempuan Indonesia dan lelaki Belanda yang disorot dalam tulisan ini kebanyakan adalah untuk mengubah nasib. Perkawinan yang didasari pertimbangan untung sering menjerumuskan, menimbulkan masalah. Karena keberuntungan yang diharapkan sebelum perkawinan, tak kunjung datang. Mungkinkah perempuan seperti Lala ini adalah salah satu korban perkawinan berdasarkan perhitungan untung-rugi? Simaklah penuturannya.

Menikah Muda

Usai lulus Akademi Bahasa Asing jurusan Inggris, aku diterima bekerja di hotel berbintang di Medan. Aku menikmati pekerjaan ini. Bisa bertemu dengan tamu-tamu manca negara. Teman-temanku mengatakan aku cantik. Kulitku yang seperti tembaga, hidungku yang bangir menambah eksotis penampilanku. Ini kata mereka. Aku sih merasa biasa-biasa saja.

Aku lahir dari pasangan Ambon-Jawa. Ayahku Ambon, sedangkan ibu adalah wanita Jawa turunan Melayu. Karena kecantikanku, aku menjadi rebutan laki-laki di kota Medan. Aku menikah muda usia, dengan putera seorang pejabat di Sumatera Utara. Perkawinanku tidak berjalan mulus. Kami sama-sama muda, emosional, dan karena dasar kami cinta monyet. Akhirnya kami bercerai setelah putri kami, Viva, berumur tiga tahun. Aku masih terus bekerja di hotel itu.

Aku adalah anak gaul. Di hotel aku sangat dikenal baik oleh tamu-tamu maupun sesama karyawan. Banyak lelaki mendekati diriku tetapi hanya sebatas teman, tidak lebih. Ada juga yang iseng mengajak aku masuk kamar hotel. Tetapi aku bukan perempuan murahan atau perempuan gampangan. Aku adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga yang sangat religius. Kalau melihat penampilanku yang bebas, lepas dan seenaknya, orang menyangka aku perempuan yang bisa dibawa-bawa.

Maka mereka akan kecewa bila sudah mendekatiku. Karena aku adalah perempuan yang sangat hati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan. Aku beruntung memenangkan sayembara yang diadakan oleh sebuah perusahaan, hadiahnya adalah perjalanan gratis ke Eropa. Dalam kesempatan itu aku mengunjungi Belanda. Aku menginap di Groningen di Belanda Utara.

Di kota inilah aku berkenalan dengan David. Tahun berikut David ke Indonesia. Dia menginap di hotel tempat aku bekerja. Perkenalan kami di Belanda berlanjut di Medan. Di sini kami mulai akrab. Setelah mempertimbangkan untung-rugi, aku pun menerima lamaran David untuk menikah. Aku pikir di Belanda putriku Viva akan memperoleh pendidikan yang baik dan masa depan terjamin. Pernikahan kami berlangsung sederhana, antar keluarga saja. Kemudian aku dan Viva pindah ke Belanda membentuk keluarga baru bersama David di Veendam, kota kecil tak jauh dari Groningen.

Berpose Bugil

Ada peristiwa aneh yang tak dapat aku lupa sampai mati. Saat itu usia perkawinanku baru enam bulan. Malam itu aku dibangunkan oleh David. Kupikir David membutuhkan pelayananku sebagai istri, seperti malam-malam sebelumnya. Tetapi ternyata tidak, David hanya menyuruhku supaya duduk.

Tetapi bukan duduk sembarang duduk, tetapi aku harus dalam keadaan bugil. David tidak berbuat apa-apa. Tetapi aku harus ganti-ganti pose. Dia hanya memandang tubuhku sampai pagi. Sesudah David puas, aku boleh tidur kembali.

Aku terpukul dengan kejadian tersebut. David ternyata menderita kelainan jiwa. Sejak saat itu aku merasa hanya sebagai objek kepuasaan jiwa David yang aneh itu. Hampir dua tahun aku hidup bersama David. Ada malam-malam yang indah, tetapi ada juga malam-malam bugil yang menyiksa. Jiwaku ikut terganggu. Aku minta bantuan psikiater. Psikiater menganjurkan aku agar bercerai saja.

Pada sebuah pesta malam Indonesia di kota Apeldoorn, penulis berkenalan dengan Lala, perempuan Ambon-Jawa ini. Kesan pertama dia cantik, lincah. Dia menguasai berbagai jenis dansa, jive, waltz, calypso, cha-cha, hingga poco-poco. Lala berkibar di lantai dansa.

Saat makan malam kami bercakap-cakap tentang masyarakat Indonesia di Belanda, karena Lala termasuk orang baru dalam komunitas ini. Sesudah itu, Lala hampir setiap hari meneleponku, menuturkan semua deritanya. Ternyata di balik penampilannya yang begitu mempesona, ada ceritera lain.

Kisah seperti yang dialami Lala pernah ditangani oleh Kedutaan Besar RI di Den Haag beberapa tahun lalu. Perempuannya dikirim pulang ke Indonesia. “Mbak, aku menyesal menikah dengan David. Kami akan bercerai. Psikiater akan membantu proses izin tinggalku di Belanda. Kalau tidak, aku harus kembali ke Indonesia. Hal inilah yang meresahkanku”. Tiga bulan aku bertemu dengan Lala dalam keadaan hamil. Inikah yang membuat Lala resah?.

*****

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (9)

Jadi Istri Sekaligus Penjaga Cafe

untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

Advertisements

16 Comments

  1. wahyu widodo
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: