Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya. Saya ingat sekali seorang teman yang mengajak saya untuk menemani dia ikut kursus bahasa Turki di jakarta timur,  waktu itu saya tanya alasannya ikut kursus bahasa Turki apa? dia bilang karena impiannya  bisa menikah dengan pria Turki. Wow, dalam hati saya.Nikah Sama Bule Bukan Impian Saya

 

 

Jujur saja saya kurang tahu banyak tentang negara Turki, selain baca-baca cerita tentang İstanbul, dan pemimpin Turki yang banyak dikagumi orang di indonesia, hanya sebatas itu. Awalnya saya juga mengira kalau Turki itu berbahasa arab hehe, karena kedekatan kultur dengan timur tengah.

Dari si teman ini lah saya baru tahu kalau Turki memiliki bahasa sendiri yakni bahasa Turki. Si teman yang memiliki impian untuk menikah dengan WNA asal Turki dengan alasan karena seagama dan tinggal di luar negeri, di kota cantik İstanbul.

Teman saya ini banyak sekali memiliki teman facebook berasal dari Turki (niat banget demi impiannya) sementara saya berharap bertemu jodoh yang alim, soleh, anak masjid. Sederhana sekali, menikah dengan bule atau WNA dari negara asing tidak masuk dalam impian hidup saya.

Jauh dari orang tua dan kendala bahasa. Cukuplah saya menjadi penikmat cerita-cerita wanita indonesia yang bersuamikan orang asing, saya pengunjung setia blog-blog wanita yang bersuamikan WNA. Seru aja baca cerita keseharian mereka.

Tetapi kadang Tuhan punya rencana lain yang tidak terduga!. Lewat mutual friend dari si teman pengagum pria Turki ini di sosial media, ada satu nama pria Turki yang akhirnya datang dalam kehidupan saya. Singkat kata, kami berteman dan lalu  memulai percakapan via messenger.

Menanyakan apakah saya mau membantunya belajar bahasa indonesia. Sebatas teman chat, ngajarin bahasa indonesia, kadang saya suka iseng nanya aneh-aneh, karena mikir ga bakal ketemu sama orangnya, jadi lebih banyak saya kerjain selama ngajarin dia bahasa indonesia.

Hingga tidak terasa pertemanan sudah berjalan beberapa bulan, sampai ujungnya dia ‘nembak‘ saya, karena emang iseng, saya jawab: iya saja!, tanpa pikir panjang dan saya jadikan lelucon dengan teman di kantor. Tapi ternyata  dia serius menanggapi jawaban saya dan resmi ‘mengakui‘ kalau saya pacarnya, lho apa-apaan ini.

Dari perkenalan awal sampai menikah berjalan 1 tahun. Saya yang diawal ragu dan dia yang terus meyakinkan. saya bukan pejuang LDR yang tangguh. Males juga ngarep-ngarep gitu ketemu jodoh di internet, efek banyak baca tentang scammer cinta.

Apalagi saya juga tidak begitu mengenal tentang Turki, sekilas tentang Turki negara sekuler, yang ngaku beragama tapi juga hidupnya bebas. Lebih mendominasi dibanding sisi Turki yang reliji. Terus tiba-tiba diajak nikah sama pria Turki lewat internet pula, waduh saya gak tahu bakal jadi nyata.

Waktu dia ngajak serius, saya dengan tegas memberi waktu, sampai kapan hubungan LDR. Apa serius, apa cuma butuh teman ngobrol saja?. Waktu itu dia bilang serius dan beri waktu 3 tahun, kalau tidak ada perkembangan, pisah!. Ok, saya tipikal orang yang realistis juga, ngapain buang-buang waktu tanpa kejelasan dalam hubungan.

Dan waktu 3 tahun jadi dipersingkat 1 tahun, proses yang tidak bisa saya nalar kenapa bisa berjodoh dan akhirnya menikah haha. Buat saya ini tetap campur tangan Tuhan, kalau jodoh pasti bertemu.  Lebih detail tentang cerita saya dan suami bisa baca di : Awal cerita kami .

 

Akhirnya saya ‘makan‘ omongan sendiri, karena saya tidak terpikir akan hidup di negara asing dan menikah juga dengan pria asing. Satu hal yang membuat saya bisa mantap menikah dengan pria Turki ini, karena keseriusannya.

Saya melihat orang ini punya tekad kuat. Dan alasan dari sisi suami waktu itu dia bilang: karena pertama kalinya dia menangis didepan perempuan 😀 . Waktu itu dia gagal ujian tes PNS di negaranya, hampir frustasi. Saya membesarkan hatinya untuk bangkit dari kegagalan.

Berbagi beban, sampai akhirnya dia bekerja apa aja yang bisa dia lakukan setelah gagal ujian. Kerja jadi security pun dia jalani, dan saya tidak menganggap itu pekerjaan rendah, kami tetap berkomunikasi seperti biasa. Mau dia security, pengusaha, buat saya selagi pekerjaannya halal tidak masalah. Selepas menikah dengan dia, saya diboyong ke Turki. Tinggal di kota kecil, bukan kota secantik İstanbul, tapi sebuah desa yang senyap, jauh dari keramaian, penduduknya pun bisa dihitung jari.

Cerita tentang awal saya di Turki dan cerita desanya bisa baca: cerita dari desa Turki

Dari hiruk pikuk ibukota Jakarta lalu tinggal di kota kecil di Turki, apa saya mengalami culture shock? iya banget dan itu luar biasa. Hari pertama tinggal di desa, saya menangis, waduh mimpi apa saya tinggal jauh di luar negri tapi di kampung, sepi!.

Belum ditambah saya harus adaftasi makanan, adaptasi terberat. Pernah saya makan sup yoghurt untuk pertama kali nya, hampir saya muntahkan tapi harus saya tahan karena itu acara makan malam keluarga besar untuk mengenalkan saya sebagai menantu baru di keluarga suami.

Rasa plain yoghurt dengan taburan daun mint kering, yang saya rasakan di mulut: seperti makan pasta gigi beraroma mint yang di encerkan. Hiks, mau muntah malu. Akhirnya kepaksa ditahan dan saya telan. Kalau dipikir menu makan orang Turki sehari-hari kebab ya engga juga.

Menu rumahan orang Turki juga beragam, uniknya mereka memang memiliki perpaduan kultur di meja makan, saya menemukan makanan Turki yang dipengaruhi eropa seperti spagheti. Mereka menyebutnya makarna, dan menu-menu khas balkan. Atau makanan hasil perpaduan dengan budaya cina yakni Mantı, mirip dengan dimsum atau siomay tapi beda dicara penyajian saja, tidak ketinggalan perpaduan makanan timur tengah tentu saja, aneka kebab, menu serba daging, makanan serba manis seperti kunefe, baklava. Tak heran kalau negara ini mendapat julukan negeri transbenua, ada perpaduan kultur di meja makan. Dan benang merah dari semua kuliner Turki itu satu: salca-alias pasta tomat.

Baca juga: Bahan Masakan Turki yang Sering di Pakai

Apa pria Turki itu termasuk Bule?

Tergantung juga, dia keturunan dari ras mana. Lagi-lagi ini tentang perpaduan kultur dari negara transbenua, ada 6 suku besar di Turki, tiap suku juga memiliki karakteristik tersendiri, ada yang memang mereka (orang Turki) berkulit lebih putih dan cenderung bule seperti orang eropa umumnya, itu karena mereka  memiliki kedekatan ras terutama dengan daerah Balkan di eropa timur. Lalu sebelas-dua belas dengan orang arab, itu juga hasil kawin campur orang Turki di zaman dulunya dengan bangsa arab.  Ada yang mirip cina, mata sipit. Balik lagi ke sejarah awal bangsa Turki asli datang dari asia tengah.

Karena Turki bukan negara impian saya, tentu saya harus mulai belajar mengenal negara yang sekarang jadi rumah ke dua. Saya belajar tentang kultur Turki dengan banyak baca, banyak cari informasi dengan teman-teman yang sudah menikah duluan dengan pria Turki.

Ada sisi negatif maupun positif, kalau dari grup-grup perkumpulan perempuan Indonesia yang menikah dengan WNA, banyak juga cerita negatif tentang orang Turki terutama di Eropa. Iya saya tidak menutup mata tentang itu. Tidak semua juga orang Turki baik, yang bermasalah  juga banyak. Terkenal kasar, ringan tangan itu juga banyak, KDRT, sistem patriarkinya kuat. Lalu saya tegaskan, kalau TİDAK semua orang Turki juga seperti itu, selalu ada dua sisi ya kan!.

Apa saya menyesal menikah dengan Pria Turki?

Udahlah bukan bule eropa, ga banyak duit, pernah diajak susah juga tinggal di desa. Ga sesuai impian kebanyakan  perempuan indonesia yang punya mimpi nikah sama bule. Tentang tinggal dan hidup terjamin, apalagi tinggal di kota terkenal seperti İstanbul.

Ehm saya tetap bersyukur, saya tidak pernah menyesal dinikahi pria Turki yang awalnya kere. Waktu ngajak nikah aja dia malah resign dari kerjaannya, nekad banget gitu. Jadi saya nikahin pengangguran waktu itu hehe. Ya buat saya rezeki itu sudah di atur, masa sih Tuhan ngebiarin kita susah terus, padahal katanya salah satu pintu rezeki itu terbuka juga lewat pernikahan.

Tuhan itu Maha baik asal kita yakin dan tetap positif menjalani kehidupan. Tidak butuh waktu lama setelah menikah, tepatnya 3 bulan usai menikah, suami saya justru keterima jadi PNS. Beberapa kali tes ketika masih single, selalu gagal dites terakhir. Nasib baiknya baru terbuka ketika menikah (sampai dia mikir, beruntungnya dia nekad jauh-jauh nikahin perempuan indonesia, bawa rezeki) padahal menurut saya itu sih emang udah rezeki nya dia selepas menikah.

Kehidupan kami pun berubah. 8 bulan tinggal di desa jadi pengalaman berharga awal hidup di Turki, kemudian saya dan suami pindah ke İstanbul, memulai hidup baru dan mandiri. Karena pekerjaannya kami bisa tinggal di İstanbul, kota impian teman saya yang dulu terobsesi menikah sama pria Turki, tapi malah saya yang menikah.

Bahagia kah menikah dengan pria Turki?

Suami  sangat menghargai masukan dari saya, bukan tipe yang keras kepala layaknya label yang dicap kan ke pria Turki umumnya, jadi selepas menikah kita sudah membuat planning bagaimana menjalani rumah tangga, baik dari pekerjaan, rencana besar lainnya, kita rangkai satu persatu.

Meski orang Turki rata rata patriarkinya kuat, hal ini tidak berlaku buat saya dan suami, kami berdua sepakat menanggalkan kultur bawaan masing masing, mana yang lebih dominan, mana yang lebih baik tentang Indonesia atau Turki.

Buat saya dan suami, konsep rumah tangga yang kami bangun berdua, kamilah yang bertanggung jawab, aturan juga kita sepakati berdua. Mau seperti apa rumah tangga di jalani, hal apapun kami diskusikan terlebih dahulu.

Saya hargai kalau suami saya memang tidak seromantis pria Turki versi drama Turki yang banyak tayang di İndonesia. Bulan september ini kami 7 tahun menikah, belum pernah saya dikasih sebuket bunga yang cantik ala-ala drama romantis, yang ada dia pernah  minta bunga dari kebun tetangga rumah ibunya.

Banyak bunga Tulip di pekarangan rumah itu, dia petik satu lalu memberikan ke saya, tanpa modal. kemudian  pernah juga  ketika saya ulang tahun, dia kasih satu pot tanaman, katanya mending sama pot tanaman aja, biar kamu siram tiap hari, daripada bunga potong terus nanti mati, ya udahlah terserah, sayangnya nasip tragis terjadi, pot tanaman itu jatuh dari balkon apartemen kami.

Dia punya cara tersendiri menunjukan perhatiannya. Kehadiran dia dan perhatiannya yang cukup besar untuk keluarga cukuplah mencover semua kekurangannya. Melihat dia bersihin rumah, nyuci baju, mandiin anak, berbagi tugas rumah tangga, cukup membuat saya bahagia bersuamikan pria Turki jenis yang langka ini (karena rata-rata emang kultur Turki yang sangat dominan  patriarki nya-sudah jadi hal umum,kalau pria Turki lebih suka dilayani). 

Saya tidak memasukan list menikah dengan pria asing dalam impian hidup saya, karena pernah kecewa dengan pria Indonesia, engga!. Terobsesi tinggal di luar negeri juga tidak terpikir, saya cuma pernah berkhayal solo traveling ke negara-negara cantik tanpa berpikir tinggal di sana.

İndonesia bagaimanapun kondisinya adalah rumah saya sebenarnya.  Nasib membawa saya tinggal di Turki karena ikatan pernikahan, saya jalani segala konsekuensinya sebagai bagian cerita hidup saya. Mungkin sisi positifnya lewat pernikahan ini, bisa mengenalkan İndonesia sebenarnya.

Dulu karena tinggal di kota kecil, banyak juga orang Turki yang tidak begitu mengenal İndonesia, sampai dengan pede nya ada yang bilang: kalau indonesia salah satu provinsi di China, waduh, dengan sabar saya jelaskan ke si nenek yang mengira İndonesia masuk wilayah china-ya maklum orang tua – Kadang secara tidak sadar pernikahan beda bangsa membuat saya atau teman-teman lainnya juga, menjadi duta bangsa mengenalkan indonesia lebih dekat, dengan catatan: yang menikah dengan orang Asing tetap menunjukan ke indonesiaannya, bukan yang sampe beneran lupa bahasa dan asal usulnya, soalnya ada aja yang seperti itu ya kan 🙂 .

Marriage its not some Fairytale. İt is love. Seftlessness. Patience, Tolerance and Enduring the Hard Times together–darusalamquotes-

 


Tentang Penulis:

Rahma Balci seorang ibu rumah tangga, menikah dengan pria turki sejak 2011. Aktif menulis di Blog. Saat ini tinggal di İstanbul. Menulis keseharian hidup di Turki apa adanya.

web/blog: http://keluargapanda.com/

 

 

PursuingMyDreams - Emaknya Benjamin

↑ Grab this Headline Animator

 

Baca juga: Ke Jerman Modal Nekat? Bisa!

Advertisements
Advertisements

9 Comments

  1. Rahma balci September 15, 2018
  2. Rahma balci September 15, 2018
  3. Emaknya Benjamin br. Silaen September 15, 2018
  4. girindrapuspa September 14, 2018
  5. Key September 13, 2018
  6. Rahma balci September 13, 2018
  7. fiberti September 13, 2018

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: