Kisah Kawin Campur (Bagian 6 – Tamat)

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Hati-hati dengan Janji Juleha

Oleh: Yuyu A.N. Krisna Mandagie

BREDA – Aku juga ingin memperingatkan kaum perempuan Indonesia, agar jangan percaya dengan iklan-iklan atau janji-janji dari orang-orang yang dikenal ataupun tidak dikenal, yang akan memberikan pekerjaan atau menawarkan jodoh di Belanda. Itu sama sekali tidak benar.

Beberapa waktu lalu seorang perempuan Indonesia bernama Juleha, suaminya seorang Belanda, ditangkap polisi Belanda. Mereka terbukti “menjual” perempuan Indonesia ke Belanda. Menurut janji Juleha, mereka akan dijodohkan dengan laki-laki Belanda. Tapi ternyata bohong. Para korban sudah menyetor uang dalam jumlah cukup besar pada Juleha untuk ke Belanda, tapi ternyata setelah tiba di Belanda jodoh tidak dapat, malah mereka harus melayani laki-laki hidung belang. Akibat perbuatan tersebut, suami-istri ini dimasukkan ke penjara di Breda. Sedangkan korbannya enam perempuan Indonesia, dideportasi ke Indonesia.

Aku kenal dengan Juleha, perempuan hitam berbadan bongsor ini. Dia pernah datang ke rumahku untuk menginap, tetapi suamiku tidak mengizinkan. Waktu itu dia mengaku sebagai janda kaya di Indonesia, adik dari seorang jenderal. Rumahnya di Menteng dan Rawamangun. Dia menyebut dua alamat itu dengan jelas, berikut nomor telepon dimana bisa dihubungi di Jakarta.

Dengan rasa percaya diri Juleha mengungkapkan, dulu ia berpacaran dengan seorang pengusaha di Indonesia, bahkan hampir menikah. Juleha tidak tahu pengusaha ini aku kenal. Almarhumah istrinya adalah kawanku, yang meninggal karena ulah suaminya. Wah, aku pikir mungkin ini hanya ilusi Juleha. Juleha bertubuh gembrot kulit hitam dengan betis seperti pemain bola Ajax, Belanda Ronald Koeman. Make up sangat tebal. Mana mungkin si pengusaha yang kukenal itu mau memperistri perempuan seperti Juleha?.

Aku kenal pengusaha itu, seleranya mengenai wanita memang cukup tinggi. Juleha memang pintar memainkan lidahnya. Juga pintar bergaul dan mengambil hati lawan bicaranya. Kalau tidak hati-hati kita akan terkecoh. Pertama kali tiba di Belanda, Juleha berhubungan dekat dengan seorang duda, kawan dekatku. Lewat kawanku ini Juleha memasuki komunitas Indonesia di Belanda. Aku memperingatkan kawanku itu untuk berhati-hati.

Untung kawanku itu memperhatikan peringatanku dan segera memutuskan hubungannya dengan Juleha. Juleha datang ke rumahku mencurahkan isi hatinya gara-gara diputus oleh duda kawanku itu. Aku mendengar curhatnya dan menasihatinya agar pulang saja ke Indonesia. Setelah peristiwa curhat itu, hampir setahun aku tidak pernah bertemu dengan Juleha. Aku kira dia sudah kembali ke Indonesia. Tetapi pada salah satu acara di aula Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tobias Asserlaan Den Haag, aku bertemu dengan Juleha.

“Hei Mbak, apa kabar? Aku sudah menikah lho dengan Frans”, Juleha menegurku dan sekaligus memperkenalkan suaminya. “Kami baru menikah bulan lalu,” sambung Juleha. “Oh, selamat ya!” jawabku singkat untuk menutupi keterkejutanku. “Nekad juga perempuan Indonesia ini,” kataku dalam hati. Saat itu Juleha sudah bergaya seperti layaknya mevrouw Belanda. Sebuah topi lebar warna bertengger di kepalanya. Sepatu dan tas berwarna merah menyala, menjadikan Juleha pusat perhatian.

Masuk “Black List”

Bulan berikut tersiar kabar Juleha dan suami berikut komplotannya ditangkap. Aku berencana untuk menjenguk Juleha, tetapi karena kesibukanku, sampai Juleha dideportasi ke Indonesia, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Menurut ceritera, suami Juleha yang ikut menjadi korban, adalah orang baik-baik. Walaupun sudah berumur dia belum pernah menikah. Termakan oleh rayuan gombal, Frans akhirnya menikahi Juleha. Akhirnya Frans harus mendekam dalam penjara. Dia dipecat dari pekerjaan yang sudah ditekuni hampir 25 tahun. Delapan bulan Juleha, Frans and the gang menjadi penghuni hotel prodeo di Breda.

Kini Juleha masuk daftar hitam (black list) Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Dia tidak mungkin lagi masuk Belanda. Tetapi bagi manusia seperti Juleha, bukan tidak mungkin dia muncul dengan identitas baru. Maka kita harus berhati-hati dengan tawaran yang menggiurkan dan janji-janji dari orang-orang seperti Juleha. Itu semua bohong. Pemerintah Belanda tidak pernah memberikan peluang kerja bagi bangsa lain untuk bekerja hanya sebagai pekerja kasar.

 *****

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (12)

Paspor Belanda, Aku Tetap Indonesia

Oleh:  Yuyu A.N. Krisna Mandagie

TILBURG-Kota ini terletak di Belanda bagian Selatan. Pusat agama Katolik. Biara-biara besar terdapat di kota ini. Orang-orang Belanda di kota ini penganut Katolik yang sangat taat. Penyebaran agama Katolik ke Indonesia diatur oleh Gereja Katolik di kota ini. Pada tahun 1893, lebih seabad yang lalu, biarawan dan biarawati memulai misinya di Indonesia Timur.

Di Tilburg, tinggal Liani, Gert Jan dan kedua putri mereka yaitu Intan dan Kristal. Gert Jan, insinyur tamatan TU Delft, waktu berlibur ke Indonesia berkenalan dengan Liani, putri seorang pengusaha di Jakarta. Hubungan cinta mereka berjalan mulus melalui surat-menyurat dan telepon. Liani waktu itu kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Sebagai putri bungsu dari dua bersaudara, ia disayang dan sangat dimanja ayahnya. Tetapi karena ayahnya kawin lagi setelah ibunya meninggal, Liani tidak bisa menerima keadaan ini. Dia menjadi gadis pemurung yang terus menerus mengasihani dirinya sendiri.

Kehidupan Liani sangat mewah. Ke kuliah dia menyetir sendiri Honda Civic, yang awal tahun 1980-an sangat terkenal di Indonesia. Hotel Hilton adalah tempat mangkal Liani dan teman-teman dari golongan the haves. Saat berenang di kolam renang hotel ini Liani berkenalan dengan Gert Jan, yang kemudian menjadi tempat curahan hatinya.

Beberapa kali Gert Jan ke Jakarta karena tugas kantor, sekaligus wakuncar (wajib kunjung pacar). Ayah Liani setuju atas pilihan anak gadisnya. Setelah setahun berpacaran Liani dan Gert Jan menikah. Karena keduanya Katolik, mereka diberkati di Gereja Katedral di Lapangan Banteng, Jakarta, dihadiri keluarga kedua belah pihak. Ibu Gert Jan datang dari Amerika. Resepsi diselenggarakan di Hotel Hilton.

Liani sangat bahagia, karena dengan penikahan itu berarti Liani tidak lagi tinggal di rumah bersama ayah dan ibu tiri. Itu ceritera masa lalu. Kini ceritera Liani menjadi lain. Pertama kali di Belanda, Liani dan Gert Jan tinggal di Tilburg. Beberapa tahun mereka hidup bahagia hingga saat ibu mertua Liani memutuskan kembali ke Belanda setelah beberapa tahun di Amerika. Sejak itu hidup Liani mulai terganggu. Dia tidak mau ada orang lain dalam kehidupan Gert Jan, laki-laki yang sangat dicintainya. Sikap itu sama tatkala ayahnya menikah lagi. Liani tak rela ada orang lain dalam kehidupan ayahnya selain dia sendiri.

Direcoki Mertua

Ibu mertua Liani selalu mencampuri urusan rumah tangga mereka. Dan Gert Jan sangat memihak pada ibunya. Sementara usaha ayah Liani di Indonesia mengalami kerugian. Ini pukulan yang berat bagi Liani. Untunglah kehadiran kedua anak buah cinta dengan Gert Jan, Intan dan Kristal, menghidupkan semangat Liani. Tetapi ibu mertua merecoki cucu-cucunya dengan tata cara kehidupan barat. Mertuanya sering membandingkan Belanda dengan Indonesia, dan mengecilkan Indonesia. Liani tidak terima karena dia sangat mencintai Indonesia.

Gara-gara intervensi mertua makin gawat, mereka pindah ke Amsterdam, tetapi Gert Jan malah makin jauh dari Liani dan lebih dekat pada ibunya. Dan ini merisaukan Liani. Dia merasa berhadapan dengan kubu mertua dan suaminya. Liani sangat peduli pada Indonesia. Kegiatan apa saja yang menyangkut Indonesia, dia selalu hadir. Bayangkan saja, dalam sidang M. Said, pilot Garuda yang didakwa menyelundupkan ekstasi, di Pengadilan Amsterdam, dia selalu hadir. Perkembangan Indonesia selalu diikutinya lewat internet, televisi dan koran. Setiap berita miring tentang Indonesia selalu diprotes.

Pernah dia menelepon aku meminta pastor agar datang melayani dia. Aku memberikan nomor telepon pastor Indonesia. Dia menelepon pastor itu, tetapi pastor tidak merespon Liani. Liani marah besar padaku. “Apa aku dikira gila? Aku tidak gila. Aku ingin memperoleh hak untuk mendidik kedua anakku secara Indonesia, bukan tata cara barat seperti mertuaku dan suamiku. Kenapa kalian tidak dapat menolongku? Aku ini orang Indonesia walaupun pasporku Belanda,” kata Liani.

Akibat sikapnya ini Liani mencari jawaban dengan gonta-ganti gereja. Dari gereja Katolik pindah ke gereja Prostestan. Liani tidak menemukan apa yang dicarinya, lalu dia pindah ke gereja kharismatik.  Untunglah Intan dan Kristal tumbuh menjadi remaja yang manis dan pandai di sekolah. Ini satu-satunya hiburan dan harapan. Liani mengharapkan mereka dapat menjadi aktris sinetron di Jakarta. Rasanya sulit, karena mereka bukan warga negara Indonesia.

 *****

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (13)

Kawin dengan Suami Cacat

untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

Advertisements

20 Comments

  1. Lia
  2. rifaa
  3. Fufu Christie
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: