Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

freecodesource.com
loading...

Bagian 1 klik disini

Bagian 2 klik disini

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (3)

Aku Kesengsem pada Lelaki Itu

Oleh Yuyu A.N. Krisna Mandagie

loading...

UTRECHT – Kisah lain dialami oleh temanku, Amiatun. Setamat SMA di Pontianak, Kalimatan Barat, gadis cantik itu melanjutkan pendidikan ke sekolah tari di Bandung, Jawa Barat. Menjadi penari dan guru tari merupakan cita-cita gadis bertubuh semampai ini.

Di Bandung, Amiatun kos di rumah ibu Supinah, janda seorang Belanda pegawai perkebunan teh. Memang, janda ini hidup dari menyewakan kamar-kamar di rumahnya yang tergolong besar dan terletak di jalan kelas satu di Kota Bandung. Selain menerima kos, ibu Supinah juga menerima turis-turis dari manca negara. Tetapi karena ibu Supinah fasih berbahasa Belanda, maka kebanyakan turis yang menginap adalah orang-orang Belanda. Di suatu sore yang sejuk sepulang dari sekolah,

Amiatun melihat ada sebuah minibus di halaman rumah kosnya. Beberapa turis berkulit putih turun dari minibus dan berjalan memasuki rumah disambut ibu Supinah. Oleh ibu Supinah, Amiatun diperkenalkan dengan tamu-tamu asing itu. Mereka akan menginap selama tiga hari. Saat itu jantung Amiatun bergetar tatkala berjabat tangan dengan salah seorang laki-laki dari rombongan turis tersebut. “Gerard…,” kata lelaki itu.

Aduh Mbak, aku hampir pingsan“, ungkap Amiatun, melukiskan perasaannya ketika itu. Berikut ini ceritanya: Laki-laki seperti Gerard selalu ada dalam angan-anganku. Beberapa tahun yang silam, keluarga kami tinggal di salah satu kota dimana banyak orang asing. Tetangga kami adalah pasangan muda asal Prancis yang hidup begitu harmonis. Sang suami begitu romantis memperlakukan istrinya. Aku yang saat itu masih gadis kecil merekam di dalam benakku, semua yang kulihat semasa kecil.

Aku juga bermimpi kelak ingin bersuamikan laki-laki seperti laki-laki Prancis tetanggaku itu. Dan mimpi itu terbawa hingga saat aku berkenalan dengan Gerard. Mimpi-mimpiku seakan menjadi kenyataan. Laki-laki Prancis tetanggaku itu seakan-akan hidup di depanku. Aku kesengsem pada lelaki. Dan ternyata gayung bersambut. Gerard juga menyenangi aku. Maka kami berdua menjadi dekat. Dia begitu galant dan sopan. Namun tak terasa, rombongan Gerard akan berangkat ke Yogyakarta, lalu Bali dan langsung kembali ke Belanda. Maka hubungan kami dilanjutkan lewat surat dan kartu pos, juga lewat telepon. Perkenalan kami terjadi di bulan Agustus 1991, lalu aku dilamar dan langsung kawin pada bulan November tahun itu juga. Gerard mengikuti semua persyaratan yang diajukan keluargaku. Kami menikah dalam adat Jawa. Mungkin inilah pesta yang besar dan mewah yang pernah diadakan di kampungku.

Dua minggu usai perhelatan, Gerard harus segera kembali ke Belanda, karena dia hanya boleh cuti dua minggu. Sedangkan aku, baru menyusul dua bulan kemudian, karena harus mengurus surat-surat kepindahan ke Negeri Belanda. Bulan Januari 1992, saat musim dingin mencapai puncaknya, aku berangkat menyusul Gerard ke Negeri Belanda. Untuk itu, dua minggu sebelumnya aku sudah mengirimkan surat dengan pos kilat. Sebab hubungan telepon di rumah Gerard terputus sejak pernikahan kami, entah mengapa. Sehingga satu-satunya caraku untuk menghubungi Gerard hanyalah lewat surat.

Tiba di Schiphol Pagi-pagi buta pesawat KLM yang aku tumpangi mendarat di Bandara Schiphol. Hatiku berbunga-bunga membayangkan tak lama lagi akan bertemu dengan suami tercinta. Dari balik dinding kaca tembus pandang, aku melihat keluar. Di luar hari masih gelap. Aku baru tahu bahwa pada musim dingin matahari di belahan bumi Eropa menampakkan diri lebih lambat dari musim panas. Menurut ibu asal Ambon yang duduk di sebelahku dalam pesawat, matahari pada musim dingin muncul kira-kira jam 8 pagi.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan pabean, aku berjalan menuju pintu keluar dengan ditemani ibu yang baik itu. Tetapi di ruangan penjemput aku tidak melihat sosok Gerard. Aku melayangkan pandangan ke seluruh penjuru, namun Gerard tidak ada. Jantung tersentak, aku mulai panik. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Apakah surat kilat itu belum diterima. Tetapi itu tidak mungkin, karena sudah dua minggu surat aku kirimkan. Ibu Ambon yang baik hati itu menenangkan aku, karena kami sudah dua jam menunggu namun Gerard tak kunjung datang. Aku pun kemudian mampir ke rumah ibu Ambon di Amsterdam. Siang harinya dengan bantuan anak-anak ibu itu, aku berhasil menemukan nomor telepon baru milik Gerard.

Ternyata Gerard tidak begitu terkejut mengetahui istrinya sudah ada di Amsterdam, sebab dia pada pagi itu sudah menerima surat yang aku kirimkan. Cuma, dia bingung dimana aku berada. Lantas, aku dan Gerard pulang ke flat yang terletak di dekat kota Utrecht. Aku kembali terkejut untuk kedua kalinya, ketika memasuki flatnya yang hanya sebuah ruangan, tempat dimana Gerard makan, tidur dan menerima tamu.

Aku sulit dihadapkan dengan kondisi ini. Sebab di rumah orang tuaku di Kalimantan, walaupun sederhana, setiap kegiatan dilakukan di ruangan tersendiri. Rumah kami seperti lazimnya rumah-rumah di Indonesia. Ada ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, ruang kerja, ruang belajar, dll. Tapi di negeri yang maju ini, semua kegiatan dilakukan di satu ruangan. Rasanya aku belum dapat mengadaptasi keadaan ini. Selain itu, untuk mencapai ruangan dimana Gerard tinggal di lantai 3, aku harus menaiki anak tangga yang membuat napasku tersengal-sengal. Belum selesai rupanya keterkejutanku pada hari itu.

Hari semakin sore. Di musim dingin matahari cepat sekali masuk ke peraduan. Jam baru menunjukkan angka 4, tetapi di luar hari sudah gelap.

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (4)

loading...

Curi Uang Celengan untuk Beli Roti

untuk ke halaman berikutnya klik Next/Lanjut

About these ads
loading...

27 thoughts on “Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3 dan 4)

  1. Tri Handayani

    bagaimana ya dengan saya yang sedang mnjalin hubungan dengan seorang tentara AS dan berstatus duda ?????summer nanti dia berjanji akan datang mengunjungi saya dan membawa saya untuk diperkenalkan dengan keluarga……..

    1. Saya cuma bisa bilang jangan mau ya klo dia minta kirim uang atau transfer uang, entah dg alasan apapun juga.

  2. wahyu widodo

    Inilah belum banyak orang tidak tahu bahwa di belanda pengangguran diberi tunjangan pengangguran yang cukup. Bahkan kalau mau hidup irit utuk ditabung hasilnya bisa untuk dipakai melancong ke indonesia . Wooow. Kecele dah. Dapat suami turis belanda ternyata tuna karya. Pelajaran ini

  3. Gak semua bahagia ya kak…
    Gimana kabarnya Ibu Amiatun itu?
    Pengen peluks deh… 🙁

    1. Tidak ada kabarnya lagi :(.

  4. […] ← Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3) […]

  5. Menurut saya bukan cuma harus kenal keluarganya mbak, teman dan koleganya juga penting. Sebelum saya menikah, saya diajak ke kantor dan sekolahnya di Jerman (waktu itu ambil trainingship jadi dual sekolah+kerja), dikenalin ke sahabat dan teman2nya yang lain. Dari keluarganya, saya ketemu ibu, kakak-kakak, ipar dan keponakan.

    Tidak cuma berlaku untuk orang asing. Sewaktu sama mantan saya (sebelum suami skr), orang Indonesia, saya hanya ketemu keluarganya (LDR juga sih, saya di Singapur dia di Jkt). Ya jelas keluarganya hanya tahu dia “anak baik dan alim”……………

    1. Iya mbak Tami :). Harus kenal banyak kerabat calon kita dulu ya, baru bisa ambil keputusan :).

  6. Sedih. Lebih sedih dr cerita sebelumnya mba Nella

    1. Betul, aku ampek tarik nafas dalem2. Nel, kenapa ndak dibikin buku wae. bagus lho ceritanya

      1. Saya coba google penulisnya tidak ketemu, ya kalau di bikin buku bagus, bisa jadi pengalaman bagi orang lain :).

        1. Iya, betul banget. Sayang ya 🙁

  7. wah baru aja koment di bagian 2 langsung ada sambungan yang ketiga, yang ini tragis amat ya mbak, penasaan kelanjutannya, jadi pembelajaran untuk kita semua ya, betul juga tadi koment beberapa blogger diatas, perlu mengenal keluarga, rekan kerjanya bahkan kalau perlu telusuri dulu silsilahnya dan perlu saling kunjungan dua arah dulu kalaupun alasan biaya setidaknya perlu sekali ketemuan minimal dan harus melakukan investigasi juga, kalo aku suka ngecek history blognya sejak 2010 terus lihat sttus dan koment segala macamnya di FB sejak 2007 dan itu malah belum cukup perlu melihat nya dari sisi teman atau keluarga yang mengenalnhya dan sikapnya netral tak hanya sekedar mendengarkan info sepihak sih.Bahkan bisa crosscchek ke perusahaan tempat dia bekerja perlu juga loh Mbak. Serasa Stalker habis ya kalau kayak gini tapi demi keamanan dan kebahagian kita agar tak salah pilih.

    1. Sama mbak Siti, dulu saya juga ngecek biodata calon suami, ya cuma bisa car2 melalui internet toh, ternyata dia ga suka join2 sosial media, cari lagi lah kok ada nama yg sama persis tp sdh nikah & punya anak, tinggal di negara lain. Ternyata didunia ada bisa juga ada nama yg sama tp orangnya ya beda bangsa ;).

  8. ditunggu terusannya mbak 🙂

    salam
    /kayka

    1. Terusannya sore ini mbak, sudah saya jadwalkan ;).

      1. siiip… saya suka nih mbak nella true stroy spt ini.
        thanks sudah berbagi koleksinya ya.

        salam
        /kayka

  9. t3ph

    seharusnya sebelum memutuskan menikahi orang tersebut paling nggak kita harus berkunjung (kalo bisa beberapa kali), melihat rumahnya, bertemu keluarganya. Kalo tidak kita seperti memilih kucing dalam karung. Ga jelas asalusulnya, gatau latar belakang dan pekerjaannya, semua kepercayaannya hanya berdasar omongan si lelaki saja (yang seringnya bohong)

    1. Iya T3ph saya setuju sekali dengan kamu :). Kalau suami dan saya, dulu suami datang dua kali ke Indonesia yang kedua bersama adiknya, kemudian saya hanya satu kali ke negaranya, bertemu keluarganya dan teman-temannya, melihat pekerjaannya dll. Saya hanya satu kali berkunjung (karena biaya), kedua kali datang untuk menikah dan menetap.

Comments are closed.