Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis

loading...

Mencari si Belahan Jiwa (Foto gettyimages)
Mencari si Belahan Jiwa (Foto gettyimages)

A good marriage is one which allows for change and growth in the individuals and in the way they express their love.  Pearl Buck (1892 – 1973)

Sahabat blogger, apakah kalian lebih banyak mendengar kisah-kisah kawin campur yang bahagia atau malah lebih sering mendengar sisi negatifnya?.

Beberapa saat lalu, saya sedang bongkar-bongkar file-file di komputer saya. Membaca beberapa artikel, melihat banyak sekali koleksi foto-foto saya, dan kemudian saya menemukan satu file berisi kisah-kisah kawin campur yang ditulis oleh Yuyu A.N. Krisna-Mandagie.

Artikel ini pernah di media online sinarharapan.co.id   sayangnya linknya tidak bisa dibuka lagi yakni: sinarharapan.co.id/berita/0507/19/sh09.html *link sudah tidak aktif lagi 🙁 .

loading...

Saya ingin menampilkan artikelnya di blog saya ini, mungkin ada yang tertarik mengetahui sisi lain pernikahan campur. Ada 13 halaman kisahnya, namun sayangnya mungkin semuanya adalah kisah yang sedih. Selamat membaca ..

*****

Sisi Gelap Perkawinan Timur Barat (1)

Oleh Yuyu A.N. Krisna-Mandagie

Pengantar Redaksi:

Perkawinan adalah komitmen sakral legal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk rumah tangga. Tapi seringkali kenyataan berbeda dengan harapan. Contoh kasus, kisah tentang derita perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki Belanda.

Hubungan sejarah emosional antar kedua bangsa ini ternyata sering membawa dampak buruk dalam rumah tangga mereka.

Mulai hari ini Sinar Harapan menurunkan tulisan bersambung “Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat“.

Tulisan berikutnya, mulai Rabu (20/7), dimuat di halaman 10. Penulis dan keluarganya dalam beberapa tahun belakangan ini tinggal di Belanda.

AMSTERDAM- Perkawinan adalah komitmen sakral antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan cinta kasih mereka dalam satu kehidupan rumah tangga, baik suka maupun duka. Namun kadang apa yang diharapkan, diimpikan dan dicita-citakan sangat berbeda dengan yang apa yang dialami. Semoga pengalaman pahit yang dialami beberapa perempuan Indonesia yang bersuamikan Belanda seperti yang dituturkan dalam tulisan ini, menjadi pelajaran dan bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan untuk menikah dengan laki-laki

dari belahan bumi lain, khususnya Barat ini. Berikut adalah ungkapan-ungkapan sejumlah perempuan Indonesia yang bersamikan orang Belanda.

Yu, aku harus cuci darah lagi besok. Kesehatanku menurun benar minggu ini,” tutur Albertina, perempuan Kawanua berwajah Timur Tengah, mantan pramugari yang kini hidup di Lelystad, Belanda, menghitung hari-harinya. “Mbak, aku terpaksa mencuri uang celengan Gerard untuk membeli roti,” kata Amiatun, perempuan lain yang tinggal di Utrecht. “Aku tak tahan, Mbak. Aku harus pindah dari rumah itu. Simon memukul aku lagi. Bank pas-ku diambil,” ujar Naning, wanita lain lagi, saat aku membuka pintu rumahku di Hilversum, Belanda. Wajahnya sembab dan bengkak biru kehijau-hijauan. Sambil menggenggam kalungnya yang putus-putus, Naning menangis di pangkuanku. Naning kini tinggal di Hoofddorp, kota KLM dekat Schiphol.

Coba lemari es saja dikunci, Mbak,” keluh Anie, perempuan asal Karawang yang tinggal di Den Haag.

Pramugari Garuda

Cafe Majestic di samping toko serba ada Bijenkorf Amsterdam ramai, hampir tidak ada kursi yang kosong. Tempat ini memang populer sebagai tempat rendez vous kalangan tua dan muda. Duduk menikmati segelas ijs lemon tea, sinar matahari musim panas bulan Juli dan lalu-lalang manusia, mobil, trem, bus dan sepeda memberikan kenikmatan tersendiri bagi Albertina, perempuan kurus berkulit pucat dengan wajah Timur Tengah. Siang itu aku menemaninya sambil mendengar curahan hatinya. Begini ceritanya.

Aku adalah Albertina, lahir sebagai putri bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Kawanua baik-baik. Ayahku seorang pegawai, ambtenaar, yang berkedudukan cukup tinggi di daerah asal kami. Ibuku karena pengaruh lingkungan, sangat ke belanda-belandaan. Saudara-saudaraku yang berjumlah tujuh orang itu semuanya berhasil dalam kehidupannya berkat didikan yang keras dari kedua orang tua kami.

Tahun 1975 aku diterima oleh Garuda Indonesia Airways (GIA) sebagai pramugari. Waktu itu, untuk menjadi pramugari, persyaratannya cukup berat. Harus bisa berbahasa Inggris dengan baik. Postur tubuh harus seimbang antara tinggi dan berat badan. Harus menarik. Pokoknya sangat berat. Karena memang saat itu pramugari yang dibutuhkan masih sangat kecil jumlahnya. Jadi kami benar-benar pilihan. Aku sangat bangga dan menjadi sombong dengan pekerjaan ini. Tahun pertama hampir seluruh kota besar di Indonesia aku jelajahi. Tahun kedua, kota-kota besar di Asia menjadi tempat persinggahanku. Singapura, Bangkok, Tokyo, adalah kota-kota yang tidak asing bagiku. Sarapan pagi di Jakarta, makan siang di Tokyo.

Tahun ketiga, kota-kota besar di Eropa menjadi tempat yang tidak asing bagiku. Amsterdam, Frankfurt, Muenchen, Zurich, Roma, Paris, untuk sementara orang hanya sampai taraf memimpikan kota-kota itu, tapi bagiku kota-kota ini biasa aku kunjungi atau singgahi saat kerja maupun sekadar

berlibur. Saat itu mengoleksi barang-barang porselin Italia menjadi tren di kalangan ibu-ibu yang berduit. Aku memanfaatkan situasi ini, berdagang barang-barang tersebut, jambangan bunga, lampu, meja, cermin rias. Pokoknya beraneka ragam proselin produksi Italia menjadi bagian dari bisnisku sebagai pramugari.

Kehidupanku menjadi sangat jet set. Terbang kemana-mana. Singgah dimana-mana. Uang melimpah. Pergaulanku cukup luas. Aku memiliki kekasih anak keluarga Jawa yang terpandang. Pada saat itu aku adalah orang yang paling berbahagia. Kami sudah ditunangkan dengan laki-laki Jawa yang sangat aku cintai itu. Apalagi yang kurang dalam kehidupanku? Semuanya terpenuhi. Calon suami dari keluarga terpandang. Pekerjaannya pun bermasa depan yang cerah.

Tahun 1979 aku menghabiskan liburan tahunan di Amsterdam, Negeri Belanda. Saat itulah bencana menyinggahi kehidupan pribadiku. Malam itu bersama dua temanku sesama pramugari, aku diundang oleh salah satu keluarga dari salah seorang teman itu. Seusai makan malam, kami lanjutkan dengan minum-minum sambil ngobrol. Di tempat inilah aku berkenalan dengan seorang pria Belanda totok, sebut saja Eduard. Laki-laki ini cukup handsome dan memikat. Aku tidak tahu apakah ini hanya pengaruh wine.

Sejak malam itu dan malam-malam selanjutnya selama berlibur di Amsterdam menjadi malam kami berdua. Aku tidak ingat dan sadar bahwa aku sudah bertunangan. Kami ke Dusseldorf, kota belanja di Jerman. Eduard sangat royal membelanjakan uang bagiku. Dan aku menikmatinya. Apapun yang kuingini langsung dibeli.

loading...

Lanjutan (Bagian 2) klik disini.

 

Tulisan Terkini

About these ads
loading...

20 thoughts on “Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis

  1. sy jadi tertarik ingin beli novelnya .

    1. Sayangnya belum ada novelnya mbak.

  2. ELENT OCTAVIANTI S

    aduh,aduh so sweet dech makasih atas ksih taunya

    1. You’re welcome Elen ;).

  3. Koq ngeri ada pukul-pukul segala?
    Okay mari lanjut ke berikutnya

  4. […] ← Beberapa Kisah Kawin Campur yang Tragis […]

  5. kejadian di cerita itu udah lamaaaaa bgt ya mbak Nella… taun 1979 hihi 😀

    1. Lebih tua dari kita ya bunda hehehe. Mungkin tokoh kisahnya Albertina sudah jadi oma :D.

  6. Di tunggu sambungannya Nel, ndak sabar nich :p

    Terusterang aku jadi teringat novelnya NH Dini. Mirip2 gini nich ceritanya

    1. Oo mungkin ada beberapa novel diangkat dari kisah nyata ya mbak :).

      1. Mungkin juga. Tapi novel NH Dini khan novel jadul Nel

        1. Walau novel NH Dini jadul pastinya tetap baynak yang baca ya mbak Ika ;).

          1. Iya, biar jadul juga harganya mahal Nel

  7. Evi

    Hehehe..Masih bersambung ya Mbak..Menunggu kisah Albertina, kayaknya bakalan sedih ya..Lah iya lah judulnya saja sudah sisi gelap ya..:)

    1. Iya mbak Evi kisah sedih nih :(.

Comments are closed.