Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2)

loading...

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (1) klik disini

*****

Sisi Gelap Perkawinan Timur-Barat (2)

Rahasia Sebuah Lemari

Oleh : Yuyu A.N. Krisna Mandagie

A successful marriage requires falling in love many times, always with the same person.  Mignon McLaughlin
A successful marriage requires falling in love many times, always with the same person.
Mignon McLaughlin

AMSTERDAM-Waktu dua minggu terasa berlalu begitu cepat. Musim panas pun berakhir dan belahan Eropa memasuki musim gugur. Udara mulai dingin dan daun mulai berguguran. Tetapi aku belum mau beranjak dari pelukan laki-laki itu. Aku masih menginginkan kehangatannya.

Dua minggu telah mengubah seluruh kehidupanku. Aku jatuh cinta pada Eduard. Aku tak mau kembali ke Jakarta lagi. Aku putuskan hubungan pertunanganku. Cincin kukirimkan kembali ke Jakarta. Keluarga kami di Indonesia heboh besar. Baik di Jakarta, Semarang maupun Manado. Tetapi terus terang, keadaan ini sebenarnya yang dikehendaki ibuku yang sok ke belanda-belandaan. Aku benar-benar jatuh cinta, dan tanpa menyelidiki lebih jauh, siapa sebenarnya Eduard itu, aku menerima lamarannya.

Eduard mengaku bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang cukup ternama di Belanda. Kami pun menikah di Indonesia. Yang paling berbahagia adalah ibuku yang waktu itu sedang sakit, karena memang ibu menginginkan aku menikah dengan orang Belanda. Tak lama ibu meninggal dunia. Aku bersyukur pada Tuhan karena ibu tidak sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku usai pemberkatan nikah. Karena seandainya ibu masih hidup dan mendengar apa yang dialami oleh putri bungsunya ini, ibu pasti akan sedih. Maklum, ibu sangat mendukung perkawinan kami.

Selesai mengurusi surat-surat, dan setelah ibu dimakamkan, aku dan Eduard meninggalkan Jakarta menuju Amsterdam.  Lalu aku langsung menjadi warga negara Belanda. Aku memasuki dunia baru, kehidupan baru di Amsterdam. Sebagai keluarga baru, kami menempati flat dengan dua kamar tidur di pinggiran Amsterdam. Eduard begitu menyayangiku. Kemesraan pengantin baru benar-benar aku nikmati.

Suatu hari di bulan ketiga perkawinan, Eduard berkata kepadaku bahwa dia merencanakan akan mengganti semua perabotan di rumah, peninggalan istri tuanya. Eduard memang seorang duda. Kata Eduard, ia ingin semua perabotan baru, begitu pula mobil harus diganti baru. Aku kurang setuju dengan rencana tersebut. Sebab menurutku, biar saja kami memakai perabotan tua karena Eduard baru saja mengeluarkan banyak uang saat pernikahan kami di Jakarta.

Tetapi Eduard tetap pada keputusannya. Menurut Eduard, uang gampang dicari, kami bisa pinjam di bank dan dibayar dengan cicilan dari gaji. Dan hal ini lumrah di Belanda. Akhirnya aku menyetujui dan menandatangani pinjaman uang di bank bersama dengan Eduard. Jumlahnya cukup besar.

Enam bulan sesudah aku sah menjadi istri Eduard, aku dengan perasaan ingin tahu berhasil membuka lemari Eduard yang selalu dikunci rapat. Aku tidak pernah merencanakan untuk mencampuri urusan pribagi Eduard, karena dia selalu berkata privacy-nya jangan sampai diganggu oleh siapa pun, termasuk oleh istrinya. Dan ini komitmen kami berdua.

Rahasia Sebuah Lemari

Pada suatu pagi, entah mengapa Eduard pergi ke tempat kerja tanpa membawa kunci lemari. Kunci itu tergeletak di atas meja. Mungkin dia lupa. Aku sangat terdorong untuk membuka lemari tersebut. Maka kemudian aku pun membukanya.

Di dalam lemari itu ada sebuah kotak yang terkunci. Tetapi aku bisa membuka karena anak kunci ada dalam rangkaian kunci lemari itu. Kotak itu penuh dengan surat-surat. Dengan rasa ingin tahu aku mulai membaca surat itu satu per satu. Dan terbongkarlah begitu banyak rahasia mengenai siapa Eduard itu. Tetapi aku tak perlu membeberkannya.

Sebagai orang terpelajar, aku bisa memilah-milah persoalan. Aku tahu, mana masalah yang cukup untuk diriku sendiri saja, tetapi aku juga tahu mana masalah yang perlu kulaporkan pada polisi.

Namun yang paling mengejutkan, ternyata Eduard hanyalah seorang sopir di perusahaan penerbangan. Rupanya ia selama ini berbohong dengan mengaku sebagai seorang petugas mekanik pesawat terbang. Aku benar-benar kecewa. Pada masa mudaku, tidak sembarang orang bisa “datang” kepadaku. Tetapi kini aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang setiap malam aku tidur dengan seorang sopir bus.

Tetapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Bak’ nasi sudah menjadi bubur. Meski begitu, aku mencoba bertahan. Berusaha mengubah bubur itu menjadi bubur ayam. Setiap hari aku hanya bisa mengelus dada dan setiap malam menangis. Aku hidup dalam tekanan, kebohongan dan kemunafikan. Tetapi aku berprinsip bahwa keluargaku di Indonesia tidak boleh mengetahui cerita sedih ini.

Latar belakang budaya kami memang berbeda, kebiasaan-kebiasaan kami juga bertolak belakang. Ia kasar, pemabuk dan gemar pergi ke kasino. Ini menambah penderitaanku. Tetapi bila kami mulai berkasih-kasihan sebagai suami-istri, semua derita itu seakan sirna. Saat-saat itu Eduard sangat menyenangkan. Sesudah itu, aku kembali lagi pada penderitaan yang tak berujung. Keadaan ini berdampak negatif bagi jiwaku. Aku menghukum diriku sendiri dengan mengatakan diriku adalah perempuan rendahan sebab seks bisa membuatku lupa akan penderitaan. Betapa rendahnya seorang Albertina. Maka kepribadianku pun goyah, dan kesehatan merosot. Aku menjadi langganan dokter dan rumah sakit.

Setelah bertahan hidup sebagai istri Eduard selama dua tahun, aku tak sanggup lagi. Maka kami pun bercerai. Setelah bercerai, aku menyangka sebagian penderitaan akan berakhir. Tetapi ternyata derita itu semakin bertambah. Seperti yang kututurkan tadi, beberapa bulan setelah pernikahan, kami meminjam uang di bank. Aku ikut menandatangani formulir pinjaman itu. Nah, disinilah penderitaan itu bersambung. Aku berkewajiban melanjutkan pembayaran pinjaman itu, walaupun kami sudah bercerai. Usai perceraian, Eduard menghilang bak di telan bumi. Alamatnya tidak jelas. Dia menjadi buronan polisi. Mungkin dia telah pindah ke negara lain dengan identitas lain pula.

Dari tunjangan janda, aku dapat hidup dari hari ke hari sambil membayar cicilan pinjaman ke bank. Aku bersyukur pada Tuhan, di saat kejatuhanku, komunitas Indonesia yang ada di Belanda sangat membantu. Mereka menampungku secara cuma-cuma, setelah aku keluar dari flat karena Eduard tidak membayar uang sewanya. Kemudian dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik dan bahasa Belanda yang seadanya, aku diterima bekerja di sebuah bank asing. Hidupku mulai tenang.

Beberapa tahun kemudian setelah hidup menjanda, aku menerima lamaran seorang laki-laki Indonesia. Ia mengerti dan memaklumi keadaanku. Waktu itu aku tidak secantik dahulu ketika masih muda. Aku kini seorang wanita yang sakit-sakitan, tetapi Robert mau mendampingiku, menerima diriku apa adanya. Kami menikah dan kini mempunyai tiga anak laki-laki yang sehat. Tetapi penyakitku semakin parah. Aku tetap saja sakit-sakitan, seminggu sekali harus cuci darah.

Lanjutan bagian 3 klik disini.

Sahabat blogger, sebelum menikah dengan siapapun itu, dan dari bangsa manapun, kenali baik-baik calon pasanganmu. Apalagi kalau berencana menikah dengan orang asing, sebaiknya kita mengunjungi dahulu negara calon kita bermukin. Kenalan dengan keluarga dan teman-temannya, cari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai calon kita.

Tulisan Terkini

loading...

 

loading...

Tulisan Terkini

About these ads
loading...

52 thoughts on “Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 2)

  1. Bapakku bilang selidiki dulu bibit bebet bobotnya.
    Setiap anaknya mau menikah malah Bapakku kirim orang suruhan yang menyelidiki calon mantunya diam-diam (tentunya). Lulus fit and proper test bapak, baru tangan Bapak terbuka lebar.
    Agak senag juga Bapakku ribet begitu orangnya.

    Turut berduka buat Albertina.

    1. Bapakmu tentunya ingin memastikan calonnya adalah orang baik-baik untuk putri kesayangannya kan ;).

      1. Hihi iyalah pasti kak. Gak cuma ke aku, adekku yang cowok aja pacarnya diselidiki dulu hehe

  2. Ibnu Ch

    Widih..ngeri juga ya?? berati sebelum mengambil keputusan untuk masalah pernikahan musti di lihat seluk beluk dulu tentang pasangan nya.
    salam kenal.

    (ibnuch.com dihapus karena domain tidak aktif lagi. 09.07.2016 )

    1. Salam kenal juga sdr. Ibnu :). Yaa harus tahu latar belakang calon kita, supaya tidak menyesal di masa depan.

  3. ihhh sedih & seram juga bacanya, wah kalo aku untungnya udah setahun ini aku komunikasi sama ibu, dan adiknya dan juga temannya yang sekota dan baru ketemuan lagi di Jakarta kemarin, kadang parno juga makanya saya milih orang yang mau hijrah ke Indonesia jadinya nanti tetap akan lebih aman untuk saya, dan paling penting pre enuptial agreement sangat penting untuk pernikahan beda bangsa apalagi kalau tinggalnya di Indonesia, biar aset yang ada tetap aman dan mencegah hal -hal yang tak diinginkan dikemudian hari, semoga tak ada kasus yang seperti ini terjadi ya mbak, dan doakan biar nantinya kami semua lancar-lancar aja..

    1. Iya mbak Siti, kalau kita punya aset, sebelum menikah harus buat pre-nup supaya kita aman :).

  4. pelajaran yang sangat berharga 🙂

    1. Semoga berguna bagi yang membacanya ya :).

  5. Kasihan sekali, ternyata Eduard hanya seorang sopir … 🙁

    1. Kalau hidup hemat sebenarnya pekerjaan supir ga jelek2 banget ko penghasilannya.

  6. cutisyana

    Mbak, ceritanya sedih dan serem banget.. Intinya nikah sama siapapun itu harus hati2 dan diliat bibit, bebet, bobotnya dulu ya..

    1. Ya Yana, dan paling penting banyak berdoa juga ;).

  7. Kasian ya mbak, nyaris sama dengan kisahku 🙂
    Tapi namanya jodoh siapa yang tahu, tapi sebaik mungkin ada diteliti dulu asal usul calon suami 🙂

    1. Oo kamu ada kisah yang mirip2 toh, untungnya sekarang kamu bahagia ya Cha ;).

  8. aduh kak nella, miris ceritanya. semoga banyak hikmah yang diambil dari postingan ini apalagi kalau ini kisah real.
    aku pasti menunggu babak selanjutnya, gak sabar baca sepotong2 gini kak nella. kalau beneran buku, uda kutancap gas sampai abis begadang gak tidur. hahaha..

    1. Hahaha sabar aja ya Ren, soalnya aku sambil nyusun draft tulisan tentang tanaman2ku :).

  9. RY

    Kisah nyata yg tragis ya Mbak. Mana di negeri orang dengan segala keterbatasan, tapi alhamdulillah dia bisa mendapat gantinya yg lebih baik 🙂

    1. Ya yang ini happy ending ya :).

      1. RY

        Ikutan seneng klo pada akhirnya happy ending ya Mbak 🙂

        1. Iya RY saya senang yg selalu happy ending ;).

  10. Mba nellaaaaa koq sedih bgt hiks, serem aku bacanya

    1. Ya disini lebih serem lagi :D, yang bahagia juga banyak ko :).

      1. Yg disini? Masih bny yaa ceritanya hiks

        1. Ya masih, maunya hari ini aku akan posting semua ;).

          1. Duduk manis sambil nunggu *nyemilmaksutnya*

          2. Non ga jadi semua hari ini diposting 4 saja dulu. Totalnya ada 13 seri, menyusul minggu depan :).

          3. Uww ok mbaaa, udh seneng juga

  11. mau nambah sedikit peringatan yg kakak tulis dibawah: dan berdoalah kepada Tuhan minta petunjuknya. Tuhan itu ngak pernah bohong lho :). ditunggu sambungannya kak, aku baca dari awal barusan 🙂

    1. Ya itu paling penting, thanks Hotchocolate :). Nanti aku koreksi sedikit ;).

  12. Evi

    Kisah ini pasti sangat bermanfaat bagi gadis-gadis yang sedang mencari calon suami pria asing ya Mbak. Semoga mereka tidak terpeleset seperti Albertina. Semoga mereka dapat yg baik seperti Mbak Nella. Amin 🙂

    1. Ya mbak Evi, semoga yang sedang mencari tidak langsung bilang “I do” tapi harus mencari tahu dulu siapa yang akan jadi pasangan dia nantinya ;).

  13. wah mataku berkaca kaca :’)

  14. ini fiksi mba ??

    duhhh ia ya bener kata prinsif jawa qta harus mengenal bibit bebet bobotnya dulu heheheh

  15. untuk ada Robert yang mau menerima apaadanya…..

    1. Iya Mita, untunglah berakhir bahagia ya :).

      1. iya mbak,,, klu gak ketemu Robert, pasti akan kasihan banget….

  16. saya nunggu lanjutannya mbak ^_^

  17. ardika

    Hemm, keren banget nih kisahnya. Real story banget mbak

    1. Semoga tidak banyak real stroy yang sedih-sedih ;).

      1. ardika

        Iya, cukup yang sudah2 menjadi pelajaran.

  18. tragis sekali ceritanya Mbak Nella…
    semoga yg membaca bis mengambil pelajaran 🙂

    1. Iya mbak Okti, saya posting disini semoga ada yang bisa diambil benang merah dari kisahnya :).

Comments are closed.