Mobil Impianku

loading...

Entah mengapa setiap kali ditanya orang “..eh Nel, kamu suka merek mobil apa?” Jawaban saya sudah pasti: “Mercedes-Benz”!. Minggu lalu ketika dikelas bahasa Jerman, guru saya menanyakan hal yang sama, ya jawabannya, sudah pasti si Mercedes. Buat saya merek mobil itu menjadi mobil impian saya. Mobil Opa dan Oma nya Frank juga Mercedes, kerennnn! Lebih keren lagi kalau pas oma yang nyetir trus si opa duduk disamping oma, buat saya hebat aja kalau wanita yang menyetir ;-).

Frank, suamiku juga sudah tahu kalau saya nge-fansnya cuma merek Mercedes saja, tapi tau gak sih??? nyetir aja saya gak bisa hahahaha. Saya bilang ke Frank, “.. pokoknya kalau saya bisa nyetir belikan mobil merek Mercedes ya seperti punya oma tuh, keren bangettt kan? .. eh Frank bilang: “.. iya deh, ntar dibelikan pas kamu jadi oma ya!” yaeelllahhh berarti kalau umur saya sudah lewat 60 tahun dong hahahah.

Oh ya barusan baca tulisannya Andri Wongso tentang mobil transparan, coba lihat videonya dibawah ini.

Mercedes-Benz Transparan

loading...

Keren banget kan!. Menurut Andri Wongso: garis besarnya adalah, sebuah kamera video digital dipasang di sebelah kanan mobil yang akan menangkap objek di sisi kanan mobil. Sementara di sebelah kiri mobil ada ratusan mats LED yang akan memvisualkan data image yang ditangkap kamera digital itu secara real time. Akibatnya, apa pun yang ditangkap kamera selama mobil diam atau berjalan akan divisualkan pada LED di sisi kirinya sehingga orang yang melihat mobil di sebelah kiri akan melihat Mercedes-Benz yang transparan.

Fyi (for your information) merek mobil paling buanyakkk beredar di jalan raya di Jerman ini adalah AUDI, kemana-mana liatnya Audi melulu dengan berbagai seri. Seri biasa sampai seri paling mewah. Banyak sekali mobil mewah beredar di jalanan seperti merek Audi, Mercedes-Benz, Porsche, BMW dan lain-lain, sampai mobil sport pun kadang saya lihat dijalanan.

Jangan coba-coba melanggar batas kecepatan yang tertera, bisa-bisa Anda kena potret kamera di jalan, dan surat tilang di kirim ke alamat rumah. Kami pernah satu kali kena potret kamera di jalan (seumur-umur Frank belum pernah kena tilang). Ceritanya kami lewat jalanan yang belum pernah kami lalui sebelumnya, jalanan pemukiman penduduk. Tidak tertera plang batas kecepatan sebelum kamera, Frank menyetir dengan kecepatan hampir 50 KM/jam. Seperti biasa kalau ada kamera disisi jalan raya, kami berdua pasang aksi didepan kameranya mengacungkan jari ke arah kamera sambil bilang “peaceee!!!” trus sambil gaya-gaya aneh lainnya dan nyengir-nyengir.

Cenkrak cekrek .. cenkrak cekrek, kami berdua melihat blitz merah dari kamera di jalan tersebut. Ehhh gileee yaaa, eh kok ke potret sih, biasannya kan tidak ada blitz apapun???. Kami berdua saling bertanya-tanya. 200 meter dari kamera tersebut kami lihatlah plang “Batas kecepatan max. 30 km/jam”. Nasibbbb yaaa kena tilang deh, bayar berapa ya, 20, 30, 40, atau 50 Euro nih??. Dua minggu kemudian datanglah surat tilang ke rumah. Dilembaran surat tilang ada foto wajah Frank dan foto no. plat kendaraan kami. Disurat tilang diberitahukan no.rek Bank kemana kami harus mentransfer biaya tilang sebesar 15 Euro. Untung aja batas kecepatan tidak dilampaui jauh sekali, bisa-bisa tilangnya mencekik leher.

Kamera Pengintai di Jalan di Jerman. (Foto: dok. pribadi)

Oh ya balik lagi ke cerita mengenai merek mobil. Saya pernah beberapa kali tanya Frank, ..” hebat ya orang-orang di Jerman, mobilnya mewah-mewah dan keren-keren, catnya mengkilat, sampai lalat saja mungkin bisa kepleset kalau mendarat di atas mobilnya” hehehe. Frank bilang: iya mobilnya keren dan mewah, tapi rumahnya model kandang ayam. Hahaha saya tertawa dong, masa sih, kalau di Jakarta tuh kalau mobilnya sudah mewah, pasti rumahnya juga mewah. Ternyata kalau di Jerman semua-semua bisa dikredit. Kami berdua bukan termasuk yang suka dengan barang mewah kreditan, kuatir tidak bisa bayar bunganya, buat kami kalau tidak punya uang ya nabung dulu, dirumah aja tidak usah kebanyakan jalan, kalau punya uang ya baru dibeli sesuatu yang kami inginkan.

Suamiku bilang musim dingin 2012 nanti saya bisa mulai kursus teori untuk membuat sim mobil. Prakteknya bisa tahun berikutnya, saya sebenarnya masih mikir-mikir, karena biaya membuat sim di Jerman tuh ya mahal banget bo! Sekitar 2000 Euro (1 Euro Rp.12.000) dan disini tidak ada calo dan system nembak sim hehehe, jadi harus jujur deh, kalau tidak lulusan bisa berulang kali ikut tesnya, males banget kan, bayar 2.000 Euronya hanya sekali, tapi kalau tidak lulus dan mau ikutan tes lagi, ada biaya lain yang harus dipenuhi.

 

loading...

Tulisan Terkini

About these ads
loading...

6 thoughts on “Mobil Impianku

  1. Di Jakarta juga sudah diberlakukan kamera pengintai itu lho, kak. Di Sarinah, Jadi, kalau ada mobil atau motor melewati garis putih, akan ketangkep kamera, nomor polisinya ditemukan sekaligus alamat di pemilik atau pengendara mobil tersebut. Jadi ketahuan, deh, siapa yang bawa mobil itu. SIM internasional mahal beuneur

    1. Kalau di Jerman banyak kamera pengintainya. SIM di sini memang muahal banget 🙁 tapi berlaku seumur hidup dan berlaku di negara-negara anggota european union.

  2. maria

    Saya setuju banget dengan sistem tersebut, mbak. Jadi tidak sembarangan meluluskan orang buat punya SIM. Karena dengan syarat seberat seperti di atas, anak-anak di bawah umur nggak mungkin banget ‘disulap’ dapet SIM kan ya ?

    Pengalaman saya waktu belajar nyetir lewat biro, minimal belajar 5 kali pertemuan sudah bisa mengurus SIM lewat biro tersebut, dan dijamin lulus !! Siapa sih yang bisa jamin kemampuan kita mengendarai mobil hanya dalam 5 kali pertemuan ? Karena menurut saya dalam menyetir, bukan hanya sekedar bisa atau tidak mengendarai kendaraan, tapi juga pengetahuan kita tentang tanggung jawab berkendara dan ‘safety’.

    Makanya jangan heran kalau belakangan ini banyak sekali kasus kecelakaan bermobil di Indonesia. Bahkan sampai memakan korban jiwa. Terlepas faktor human error, persoalan ‘remeh’ macam kemudahan memperoleh SIM ikut jadi penyebabnya ( menurut saya ). Halah, kok jadi ke mana-mana ya ? hehehe…good luck with the dream car aja deh, mbak 🙂

    1. Hai Maria makasih sudah mampir, benar yang kamu bilang mungkin faktor kecelakaan ya karena ketika buat SIM pakai calo :D, kalau disini susah banget bisa bolak-balik testnya, dan ketika praktek dijalan raya ada petugas disamping kita yang mneilai apakah seseorang sudah layak dapat SIM. Kemudian kalau berkali-kali melanggar atau kena tilang SIM nya bisa di putus, so disini ketika mengendarai mobil harus hati-hati.

  3. hihihi sama say, disini sekitar 15 jutaan, muahal yaa, kalo udah punya sim internasional diindo bisa dipake, tapi cuma bisa 6 bulan saja, setelah itu mesti ditest ulang untuk dapat sim disini. disini aku baru liat ada mobil yang mereknya Skoda 😀 buatan Norway katanya

    1. Yoi muahal banget, harus nabung dulu deh buat bikin SIM ;-).

Comments are closed.