Lansia di Jerman

Tetap Bahagia di Masa Tua (Foto gettyimages)
loading...

Tetap Bahagia di Masa Tua (Foto: gettyimages)
Status yang saya posting di salah satu media sosial yang saya ikuti : “30 November 2011, jam 8 pagi diluar masih gelap, dalam rumah aja tangan & kaki gemetaran karena dingin, apalagi diluar rumah :’( harus pergi sendiri pula, bagaimana ngomongnya nih wong masih blepotan, ah harus tetap SEMANGAT!! Demi sepotong roti. I’m sure God will help me 🙂 :)”

Saya ada kerjaan lagi, kali ini hanya tiga jam saja bekerjanya. Dilokasi yang baru, yang membuat saya jadi was-was. Apalagi kalau bukan kendala bahasa Jerman saya yang ala kadarnya. Suami saya (Frank) meyakinkan, tidak perlu bicara banyak, sedikit berbicara dan sedikit mengerti bahasa Jerman sudah lebih dari cukup untuk tugas ini.

Saya hanya perlu menemani seorang lansia (* wanita lanjut usia) selama tiga jam dirumahnya. Sebelum-sebelumnya saya sudah sering melakukannya. Ada dua lansia lain, pria dan wanita. Yang membuat saya sedikit kuatir kali ini adalah, saya belum mengetahui apa tugas yang harus saya lakukan, kalau dulu-dulu di rumah dua lansia lain, sebelum hari H, biasanya suami saya dan saya ke rumah lansianya dan kami diterangkan apa harus dilakukan pas hari H saya bekerja, harus buat sarapan, masak makan siang, kasih obat dan minum buat si lansia. Nah yang pagi ini tanpa pengarahan sehari sebelumnya.

Malam sebelum hari H, Frank menunjukkan rute menuju ketempat saya bekerja. Jaraknya tidak jauh rumah, saya bisa jalan kaki kira-kira 10 menit. Malam itu pulsa HP (handphone) saya-pun diisi 30 EUR (sebelumnya sisa 13 cent :P) jaga-jaga kalau saya ada kendala ketika bekerja, jadi Frank bisa datang.

Sebut saja nama si lansia ibu Anton. Saya tekan bel rumahnya, lalu pintu dibuka dan saya masuk, ada tangga marmer di samping kanan saya, “.. mana penghuninya ya..” disebelah kiri saya ada pintu lagi. Ooo saya mendengar suara dari atas, lalu saya melangkah naik, sudah lewat satu lingkaran tangga .. “.. lah mana pintunya nih ..” Hallo, Guten Morgen! sahut saya. Sambil terus melangkah menaiki tangga, wuihh banyak juga anak tangga yang saya lewati.

Seorang wanita paruh baya, didepan pintu terbuka menyambut saya, “.. Guten Morgen, Ich bin Nella” kemudian saya disuruh masuk. Saya lepaskan jaket tebal dan juga sepatu saya, lalu saya diberikan sandal rumah. Wanita yang menyambut saya, sebut saja namanya ibu Eliz dia adalah anaknya ibu Anton. Ibu Eliz adalah rekan kerja suami saya, namun Frank bilang dia belum pernah bertugas menanggani ibu Anton.

Kemudian saya diperkenalkan ke ibu Anton (sedang sarapan di meja makan dapur). Ibu Anton di kursi roda, setelah beberapa saat melihat, saya menduga ibu Anton pernah terkena stroke, karena beliau tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki sebelah kanan.

Tugas saya adalah menemani ibu Anton selama ibu Eliz pergi untuk mengerjakan sesuatu. Ibu Eliz menginformasikan akan ada seorang terapis yang datang sekitar 9.30, saya disuruh buka pintu jika bel rumah berbunyi pada jam tersebut. Saya ditunjukkan bagaimana membuka pintunya. Di rumah-rumah disini (Jerman) ada seperti telepon dengan tombol untuk membuka pintu jika ada yang datang, dan kita juga bisa berbicara dengan orang diluar rumah, sebelum pintu dibuka melalui telepon tersebut. Ibu Eliz menunjukkan toilet dirumah tersebut, menunjukkan dua buah buku cerita berbahasa Jerman untuk saya berikan ke ibu Anton, jika dia ingin membacanya.

Tiga jam tidak lama, waktu akan segera berlalu..” bisik saya dalam hati. Sebelum-sebelumnya saya bekerja 9 jam perhari menemani lansia. FYI (*for you information) ibu Anton hanya sedikit bisa berbahasa Jerman, fasihnya berbahasa Rusia. Gubrakkk.com saya juga hanya sedikit bisa berbahasa Jerman, tapi kalau Rusia angkat tangan deh he-he-he:P.

Sebelum Ibu Eliz pergi, beliau juga mengatakan kalau ibunya biasanya tidak banyak bicara, jadi saya tidak perlu kuatir. Namun ternyata itu tidak sepenuhnya benar loh! Ibu Anton ternyata banyak berbicara (saya tidak mengerti artinya) dan beberapa kali ibu ini menangis. Saya berikan tissue yang ada di tas saya, ibu Anton menghapus airmatanya, lalu beliau bercerita lagi dan lagi sambil tangan kirinya ikut digerak-gerakkan menemani ceritanya. Oohhh Tuhan ..dalam hati saya. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang diceritakan ibu Anton, kalau dia berbicara bahasa Jerman pasti telinga saya bisa menangkap satu dua kata, tapi saya sama sekali asing mendengarnya kalimat-kalimatnya, maka saya menduga beliau berbicara bahasa Rusia :’(.

Saya hanya bisa mengusap-usap lengan kanannya yang dibalut selendang wol, sambil mendengarkan ceritanya. Dua kali saya mengusap air matanya yang jatuh dari mata kanannya. Jam 9.40 bel rumah berbunyi, saya melangkah untuk menekan tombol supaya pintu depan rumah terbuka. Seorang lelaki kurus paruh baya dengan kepala hampir plontos, melangkah masuk dan mengucapkan salam. Saya menduga-duga ini petugas terapisnya atau teman ibu Anton ya? :D.

loading...

Ibu Anton dan si pria berbicara sangat akrab, dan ibu Anton banyak tersenyum. Oke setelah saya lihat beberapa saat ternyata si pria ini adalah petugas terapinya ibu Anton. Ibu Anton diangkat, dari sofa tempat dia duduk dipindahkan ke kursi kayu. Si petugas terapi mulai melakukan tugasnya, dia mengurut-urut telapak tangan bagian kanan ibu Anton, kemudian ibu Anton disuruh menggerakkan jari-jari tangan kanannya sendiri tanpa bantuan. Ibu Anton berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan jari-jari kanannnya, berkali-kali tangan kirinya mau memberi bantuan selalu ditepis oleh si terapi, maksudnya adalah jari-jari kanan harus bisa digerakkan sendiri tanpa bantuan sama sekali.

Karena seringkali tangan kiri ditepis si terapis, maka ibu Anton hanya bisa tersenyum-senyum simpul, sambil meledek si pria tersebut dengan menjulurkan lidahnya ketika si terapis menunduk, ibu Anton tersenyum menoleh kesaya, saya bisa melihat dengan jelas pola tingkahnya ketika meledek si terapis he-he-he

Sesekali juga si terapis berbicara dengan saya, menanyakan nama saya (Nella, nama yang indah puji dia), apa saya betah tinggal di Jerman, kalau bicara dengan suami pakai bahasa apa? “Inggris dong!”sahut saya :D.

Si terapis bilang dia harus bisa menguasai beberapa bahasa asing karena banyak pasiennya orang Turki, Polandia, Rusia, jadi dia bisa bahasa tersebut dan tentunya juga bisa berbahasa Jerman, tapi dia bilang belum bisa berbahasa Thailand dan Inggris. Dia berbicara bahasa Rusia dengan ibu Anton. Buat saya, hmm ketika si terapis dan ibu Anton saling berbicara dengan bahasa Rusia, kedengarannya seperti ketika saya mendengar orang-orang berdoa dengan bahasa lidah atau bahasa Roh. Sangat indah, walau saya tidak mengerti arti kalimatnya.

Kali ini Ibu Anton meringis-ringis menahan sakit, dia tetap berusaha sekuatnya. Jika sudah berhasil si terapis memberikan tepuk tangan sambil berkata “JA, PRIMA!!” lalu Pause (istirahat sebentar), lama-lama terapinya makin menanjak, jadi semakin berat, tangan kanan diangkat si terapis setinggi kepala, maka ibu Anton sesekali menangis, begitu pula ketika kaki kanannya diberikan terapi beberapa kali ibu ini menangis menahan sakitnya. Saya juga berikan tepuk tangan ketika ibu Anton berhasil menyelesaikan terapinya.

Jam 10.15 terapinya selesai, ibu Anton kembali dipindahkan ke sofa. Si terapis pamitan untuk pulang. Kembali saya lanjutkan membacakan cerita dari buku cerita berbahasa Jerman, bukunya bagus dengan gambar yang bagus pula, tapi jangan ditanya apa saya mengerti semua isi ceritanya, boro-boro deh! :D. Kemudian, saya menambahkan air minum ibu Anton ke gelasnya.

Sesekali saya berhenti membaca dan mengamati ruang tamu tempat kami berada, saya bilang ke bu Anton, rumahnya bagus, diatas lemari ada 11 bouquet bunga plastik warna merah dan pink, ditata apik disepanjang atas lemari, kemudian diatas kusen pintu ke dapur tertata rapi patung-patung kecil anak-anak, lalu saya melangkah melihat 4 frame besar foto di dinding, foto keluarga ibu Anton, lalu ada 6 pot tanaman di pojokan rumah. Wah ada satu piagam penghargaan dalam frame ditandatangi oleh minister-president Baden Württemberg semacam kepala pemerintahan. Isi piagamnya adalah ucapan selamat karena bapak dan ibu Anton sudah melewati 50 tahun pernikahan (golden wedding anniversary).

Menurut suami saya, di Jerman mereka yang melewati 50 dan 60 tahun pernikahan akan dapat piagam (penghargaan) dari pemerintah setempat, kalau baru melewati 25 tahun belum mendapat surat penghargaan. Oh ya oma dan opanya Frank juga sudah melewati 50 tahun pernikahan ;-).

Apakah saya (Nella) akan menghabiskan masa tua di Jerman? Saya belum bisa jawab, dari pengamatan saya selama hampir lima bulan disini, kaum lansia tinggal sendiri dirumah, terpisah dengan anak mantu dan cucu. Kalau masih bisa beraktifitas, keluar rumah, sehat, bisa jalan dengan baik itu sangat luar biasa, jadi tidak bosan hanya dirumah saja, namun kalau si lansia sudah ditinggal pasangannya (suami atau istri wafat duluan), ko sepi ya dirumah sendirian, apalagi kalau si lansia sudah tidak bisa jalan, atau bahkan hanya bisa berbaring ditempat tidur, sendirian pula tanpa ada yang menemani dirumah, ya ko saya mikir jadi sedih ya? Hmm belum bisa jawab sekarang, tapi kalau Frank maunya tinggal di Indonesia, di Lombok tepatnya hahahaha, kenapa? Lain kali akan saya ceritakan ya.

Positifnya masa tua di Jerman adalah pelayanan kesehatan sangat amat diperhatikan, ada perawat-perawat yang datang tiap hari kerumah, mencek kesehatan, mengganti diapers (popok untuk orang dewasa) memandikan dll.

loading...

 

Tulisan Terkini

About these ads
loading...

2 thoughts on “Lansia di Jerman

  1. Dewi

    Mba’ Nella suaminya mau tinggal di Lombok ya??? bisa ketemu saya dong entar kalau jadi, saya juga dari Lombok…..

    1. Iya suamiku pengen nantinya tinggal di Lombok, tapi saya lebih suka di Jerman, adem cuacanya :D. Boleh suatu hari mungkin kita bisa ketemuan ya Dew :).

Comments are closed.